MENGENDALIKAN
HAMA PADA TANAMAN PADI
SECARA TERPADU MENGGUNAKAN PRINSIP INTEGRATED
PEST MANAGEMEN
Memperhatikan berbagai efek
negatif yang terjadi dari penggunaan bahan kimia
dalam dunia pertanian, maka mulai diadakan penelitian-penelitian
yang mengarah kepada penggunaan jasad hidup
untuk penanggulangan kerusakan di dunia pertanian,
yang dikenal dengan pengendalian biologi (”Biologic
control”). Dalam metode ini dimanfaatkan
serangga dan mikro organisme yang bersifat predator,
parasitoid, dan peracun. Usaha untuk meningkatkan
hasil pertanian terus berlanjut dengan memperhatikan
aspek keamanan lingkungan, kesehatan manusia
dan ekonomi, maka muncul istilah ”integrated
pest control”, integrated pest control
dan selanjutnya menjadi integrated pest management
(IPM), yang dikenal dengan Pengendalian Hama
Terpadu (PHT) juga ada istilah Pengelolaan Tanaman
Terpadu (PTT).
Sebelum kami menjelaskan cara
pengendalian hama tanaman padi secara terpadu
maka sebelum membahasnya lebih lanjut kami menyarankan
untuk mempelajari " Managemen Pengendalian
Hama dan Penyakit Secara Terpadu " dengan
klik disini. Upaya -upaya
yang dilakukan adalah bagaimana caranya supaya
jumlah hasil produksi lahan-lahan pertanian
dapat meningkat dan tentu saja dengan biaya
produksi yang lebih sedikit sehingga keuntungan
yang diperoleh petani dapat meningkat. Untuk
alasan itulah artikel ini ada dan kami sajikan
kepada anda-anda sekalian.
HAMA
PADI
1.
Tikus
Tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan
spesies dominan pada pertanaman padi. Selain
itu, dapat pula ditemukan tikus semak R. Exulans.
Hama tikus perlu dikendalikan seawal mungkin,
mulai dari pengolahan tanah sampai tanaman dipanen.
Telah banyak cara pengendalian hama tikus sawah
yang dilakukan petani, namun ketepatan pemilihan
waktu pengendalian, sasaran habitat, dan teknologi
yang digunakan belum mencapai sasaran. Karena
itulah maka populasi tikus hampir disemua daerah
sentra pertanaman padi sawah semakin meningkat.
Beberapa komponen teknologi pengendalian hama
tikus sawah yang bisa dilakukan adalah:
a. Sanitasi
lingkungan dan manipulasi habitat
© Membersihkan dan memperbaiki lingkungan
di sekitar areal pertanaman padi, seperti: semak
belukar, tanggul- tanggul
saluran irigasi dan pematang sawah sehingga
tikus merasa tidak nyaman untuk berlindung dan
berkembang biak
© Memperkecil ukuran pematang sawah (tinggi
dan lebar + 30 cm) dapat menghambat perkembangan
populasi tikus karena
tikus tidak nyaman untuk membuat sarang
b. Kultur
teknis
Musim tanam yang teratur dan terjalinnya kebersamaan
antar petani dalam setiap kelompok tani serta
kebersamaan antar kelompok tani dalam satu hamparan
sehingga tumbuh kebiasaan bertanam serentak,
penanaman varietas yang sama setiap musim (waktu
panennya sama), pengaturan pola tanam, waktu
tanam, dan jarak tanam.
© Pengaturan pola tanam.
Pada lahan sawah irigasi dilakukan pergiliran
tanaman, seperti: padi-padi-palawija, padi- padi-
bera, padi-palawija ikan-padi. Ini akan mengakibatkan
terganggunya siklus hidup tikus akibat terbatasnya
ketersediaan makanan.
© Pengaturan waktu tanam. Penanaman padi
sawah yang serentak pada satu hamparan (minimal
100 hektar) dapat meminimalkan
kerusakan karena serangannya tidak terkonsentrasi
pada satu lokasi tetapi tersebar sehingga kerusakan
rata-rata akan lebih rendah
© Pengaturan jarak tanam. Bertujuan menciptakan
lingkungan terbuka sehingga tikus tidak merasa
puas dalam mencari makanan.
Penanaman padi agak jarang atau sistem tanam
jajar legowo (bershaf) kurang disukai oleh tikus
sawah
(suasana terang) karena
takut adanya musuh alami (predator).
c. Fisik
dan mekanis
Secara fisik dengan mengubah lingkungan fisik
seperti: suhu, kelembaban, cahaya, air, dll
sehingga tikus menjadi jera atau mengalami kematian
karena adanya perubahan faktor fisik. Secara
mekanis, dengan menangkap dan membunuh tikus
secara langsung atau menggunakan alat seperti
cangkul, kayu pemukul, alat perangkap, penyembur
api (solder) dan emposan atau fumigasi. Kelebihan
cara ini, yaitu:
(1) sederhana dan tidak memerlukan
alat yang mahal;
(2) Dapat menurunkan populasi tikus secara nyata;
dan
(3) meningkatkan kebersamaan petani.
Sedangkan kelemahan
cara ini, yaitu:
(1) memerlukan tenaga kerja relatif banyak;
(2) memerlukan kebersamaan antar petani; dan
(3) menimbulkan kerusakan lingkungan seperti
terbongkarnya pematang sawah, rusaknya saluran
irigasi, tanggul, dsb.
® Gropyokan massal atau
berburu tikus bersama. Mudah dilaksanakan, biaya
murah, dan efektif menurunkan populasi hama
tikus, tetapi membutuhkan kebersamaan.
® Alat perangkap. Bubu perangkap untuk menangkap
tikus dalam keadaan hidup, dan umpan beracun
untuk menangkap tikus
sampai tikus tersebut mati
® Solder dan emposan. Solder untuk menyeburkan
api dan udara panas ke dalam lubang atau sarang
tikus sehingga tikus
keluar atau mati dalam sarangnya. Untuk lebih
efektifnya alat ini dapat digunakan belerang
yang diletakkan pada
mulut sarang tikus sehingga hembusan asap belerang
yang panas dapat meracuni tikus yang ada dalam
sarang.
d. Biologis
Musuh alami tikus biasanya adalah: burung hantu,
ular, anjing, dan kucing. Numun, musuh alami
ini pada sawah irigasi sudah jarang ditemukan.
e.
Kimiawi
Petani sudah banyak mengetahui pengendalian
secara kimiawi ini, seperti rodentisida, fumigasi,
dll. Namun cara ini hanya dianjurkan bila populasi
tikus sangat tinggi dan cara lain sudah dilaksanakan.
f. Penerapan
sistem SPBL dan SPB
Penangkapan tikus terutama di daerah endemis
dapat dilakukan dengan sistem perangkap bubu
(SPB) atau Trap Barrier System (TBS). Tanaman
perangkap adalah padi yang ditanam pada lahan
berukuran 20x20 m atau 50x50 m di tengah hamparan.
Penanaman dilakukan 3 minggu lebih awal, pada
saat petani disekitarnya membuat pesemaian.
Tanaman perangkap dipagar dengan plastik setinggi
60 cm, disetiap sisi pagar ditaruh satu unit
perangkap bubu berukuran 25x25x60 cm. Perangkap
bubu dapat dibuat dari ram kawat atau kaleng
bekas minyak goreng. Di sekeliling tanaman perangkap
dibuat parit agar bagian bawah pagar selalu
tergenang air, sehingga tikus diharapkan tidak
dapat melubangi pagar atau menggali lubang di
bawah pagar. Perangkap bubu perlu diperksi setiap
hari sehingga tikus atau hewan lainnya yang
terperangkap tidak mati dalam bubu. Setiap SPB
mempunyai pengaruh sampai radius
200 m (hallo effect) sehingga satu unit SPB
diperkirakan mampu mengamankan pertanaman padi
seluas 10-15 ha dari serangan tikus.
Sistem perangkap bubu linier
(SPBL) atau LTBS (Linear Trap Barrier System)
digunakan untuk penangkapan tikus migran yang
berasal dari sekitar sawah bera, rel kereta
api, perkampungan atau saluran irigasi. Terdiri
dari pagar plastik setinggi 50 cm sepanjang
minimal 100 m dan pemasangan perangkap bubu
setiap jarak 20 m. SPBL
dipasang diantara pertanaman padi dengan habitat
tikus, untuk jangka waktu 3-5 hari. SPBL dapat
dipindahkan ke lokasi lain. Teknologi ini akan
berhasil jika dapat diterapkan pada hamparan
relatif luas dengan melibatkan beberapa petani
sehamparan. Keberhasilan pengendalian hama tikus
sangat tergantung pada kearifan memadukan komponen
teknologi tersebut. Pada Tabel 2 disajikan model
strategi pengendalian hama tikus terpadu yang
dapat disesuaikan dengan lingkungan spesifik.
TIPS
DAN TRIK MENGATASI HAMA TIKUS
Hama tikus adalah mahluk yang cerdas. Tikus
mempunyai karakterisitik sebagai berikut :
1. Tikus mudah jera, tikus tidak akan melakukan
hal yang sama apabila dia telah mempunyai pengalaman
buruk terhadap
satu hal. Dengan mengetahui sifat ini petani
akan mencari cara lain ketika cara sebelumnya
belum sukses menjerat
tikus.
2. Tikus selalu berhati-hati dalam memilih makanan.
Kebiasaan tikus dalam memakan sesuatu biasanya
dicicipi terlebih dahulu,
tikus tidak akan langsung memakan makanan yang
ada didepannya walaupun mereka lapar. Untuk
itu kepada para
petani hendaknya seminim mungkin racun yang
terkandung didalam jebakan memiliki rasa yang
tidak disukai
tikus.
3. Tikus mempunyai penciuman yang tajam. Sebelum
memakan umpan tikus akan menjilat dan mencium
calon makanannya,
apabila calon makanannya mengandung bau-bau
manusia maka jangan berharap umpannya dimakan
oleh tikus.
4. Tikus mempunyai kebiasaan melalui jalan yang
sama. Kebiasaan tikus yang satu ini dapat dimanfaatkan
oleh petani untuk menangkap
tikus karena jalur yang pernah dilalui oleh
tikus akan dilaluinya lagi. Sifat ini karena
tikus mempunyai wilayah
ekspansinya sendiri-sendiri dengan mencium bekas
bau badannya.
Berdasarkan pengalaman
penulis dengan prilaku ini, penulis pernah mencoba
memberi aroma parfum milik kami dan kami
semprotkan ke jalan tikus. Jalan itu kami ketahui
ketika kami sempat melihat sekelebatan ( tikus
rumah ). Pada waktu
yang berbeda memang kami sengaja mengamatinya
ternyata tikus menjadi kebingunan ketika mendekati
daerah yang kami semprot
dengan parfum tersebut dan berbalik arah kembali
ke jalannya semula dan tidak jadi melanjutkan
perjalanannya. Pengalaman kami ini sebenarnya
bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan tikus.Misalnya
dengan memilih pestisida
yang memiliki bau menyengat.
2.
Penggerek Batang Padi
Penggerek batang merusak tanaman padi pada berbagai
fase pertumbuhan, dan ditemukan pada padi sawah,
padi air dalam dan padi gogo. Empat jenis penggerek
batang padi yang umum ditemukan adalah; Penggerek
batang padi kuning (Tryporyza incertulas), penggerak
batang padi bergaris (Chilo suppressalis), penggerek
batang padi putih (Tryporyza innotata), dan
penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens).
Kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh semua
jenis hama penggerek batang adalah sama, yaitu
matinya pucuk tanaman pada stadia vegetatif
(sundep) dan malai yang keluar hampa pada stadia
generatif (beluk).
Pengendaliannya adalah:
® Panen padi sawah dengan cara memotong
tunggul jerami rendah supaya hidup larvanya
terganggu dimana larva yang ada dibagian bawah
tanaman tertinggal dan membusuk bersama jerami.
® Pengendalian mekanis
dapat dilakukan dengan mengambil kelompok telur
pada saat tanaman berumur 10-17 hari setelah
semai, karena hama penggerek batang sudah mulai
meletakkan telurnya pada tanaman padi sejak
di pesamaian.
® Harus diamati intensif
sejak semai sampai panen. Kalau populasi tinggi
dapat dikendalikan dengan insektisida butiran
(karbofuran, fipronil) dan insektisida cairan
(dimehipo, bensultap, amitraz, dan fipronil)
yang diaplikasikan bila
populasi tangkapan ngengat 100 ekor/minggu pada
perangkap feremon atau 300 ekor/minggu pada
perangkap lampu. Insektisida butiran diaplikasikan
bila genangan air dangkal dan insektisida cair
bila genangan air tinggi.
® Penangkapan massal ngengat
jantan dengan memasang perangkap feromon 9-
16 perangkap setiap hektar untuk mengamati spesies
dominan.
3.
Wereng coklat atau wereng punggung putih
Wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal.) memiliki
tingkat kemampuan reproduksi yang tinggi jika
keseimbangan populasinya terganggu oleh penanaman
varietas peka, perubahan iklim (curah hujan),
maupun kesalahan aplikasi insektisida yang menyebabkan
resurjensi hama. Wereng coklat mampu merusak
tanaman padi dalam skala luas pada waktu yang
relatif singkat. Wereng
coklat dan wereng punggung putih (Sogatella
furcifera H.) seringkali menyerang tanaman secara
bersamaan pada tanaman stadia vegetatif. Varietas
yang tahan wereng coklat belum tentu tahan wereng
punggung putih. Oleh karena itu, pengendalian
wereng coklat harus dimulai sebelum tanam. Pengendaliannya
adalah:
® Di daerah endemis wereng
coklat, pada musim hujan harus ditanam varietas
tahan wereng coklat.
® Gunakan berbagai cara pengendalian, mulai
dari penyiapan lahan, tanam jajar legowo, pengairaninttermitten,
takaran pupuk sesuai BWD.
® Monitor perkembangan hama wereng punggung
putih dan perimbangan populasi wereng coklat
dan musuh alami pada umur 2 minggu setelah tanam
sampai 2 minggu sebelum panen.
Pengambilan keputusan pengendalian
wereng coklat berdasarkan ambang kendali perlu
mempertimbangkan populasi musuh alami, dengan
cara:
- Lakukan pengamatan pada 20 rumpun
tanaman secara diagonal. Hitung jumlah
wereng coklat + wereng punggung putih, predator
(laba-laba, Opionea, Paedorus, dan Coccinella),
dan kepik Cyrtohinus. Hasil pengamatan kemudian
dijabarkan ke dalam rumus:
A
– (5B + 2C)
D = --------------------
20
Dimana:
A = Jumlah wereng coklat + wereng punggung putih
per 20 rumpun tanaman
B = Jumlah predator per 20 rumpun tanaman
C = Jumlah kepik Cyrthorinus per 20 rumpun tanaman
D = Jumlah wereng terkoreksi
- Penggunaan insektisida
didasarkan pada jumlah wereng terkoreksi dan
umur tanaman, yaitu bila: Nilai D >5
ekor pada saat tanaman berumur <40 HST, atau
>20 ekor umur 40 HST
- Insektisida yang
dianjurkan adalah fipronil (untuk biotipe
1 atau 2) dan imidakloprid (untuk biotipe 1,
2, 3, dan 4), atau insektisida rekomendasi setempat.
- Bila populasi hama
dibawah ambang ekonomi, gunakan insektisida
botani atau jamur ento-mopatogenik (Metarhizium
annisopliae atau Beauveria bassiana)
PERKEMBANGAN
WERENG COKLAT BIOTIPE 4
Biotipe didefinisikan sebagai suatu populasi
atau individu yang dapat dibedakan dari populasi
atau individu lain bukan karena sifat morfologi,
tetapi didasarkan kepada kemampuan adaptasi,
perkembangan pada tanaman inang tertentu, daya
tarik untuk makan, dan meletakkan telur.
Dari pengalaman yang panjang, yakni sejak munculnya
serangan wereng coklat di Indonesia yang pertama
kali pada tahun 1930 (: 77 tahun), wereng coklat
terbukti mampu beradaptasi secara terus menerus
bila dipelihara pada suatu varietas dan mampu
mematahkan ketahanan varietas serta menghilangkan
daya seleksi varietas yang ditempatinya.
Oleh karena itu, dalam mengendalikan
wereng coklat perlu adanya pergiliran varietas.
Hal ini dilakukan untuk menunda seleksi terarah
yaitu untuk menunda seleksi terarah yaitu untuk
menunda terjadinya biotipe baru. Yang dimaksud,
pergiliran varietas adalah bagian dari pergiliran
tanaman, tetapi dengan tanaman sejenis yang
berbeda ketahanannya.
Sejak diketahuinya ada wereng coklat pada 1930
(biotipe nol), baru timbul wereng coklat biotipe
1 pada tahun 1971. Pada Tahun 1967 diintroduksi
varietas padi unggul ajaib IR5 dan IR8 yang
tidak mempunyai gen ketahanan terhadap wereng
coklat, namun berproduksi tinggi yaitu lebih
dari 2 kali lipat produksi padi yang telah ada
saat ini. Hanya saja nasinya berasa pera. Lalu,
pada tahun 1971 dilepas varietas Pelita I/1
yang tidak mempunyai gen ketahanan terhadap
wereng coklat dengan rasa nasi enak dan pulen.
Tetapi pada tahun 1972 terjadi ledakan serangan
werengt coklat pada varietas-varietas tersebut,
hal ini karena ada perubahan biotipe wereng
coklat biotipe nol menjadi wereng coklat biotipe
1.
Pada tahun 1975, untuk menghadapi wereng biotipe
1 telah diintroduksi varietas IR26 (gen tahan
Bph 1) dari IRRI. Namun demikian, pada tahun
1976 terjadi ledakan wereng coklat yang hebat
dibeberapa daerah sentral produksi padi. Hal
ini karena ada perubahan wereng coklat biotipe
1 ke wereng coklat biotipe 2.
Pada tahun 1980, untuk menghadapi
wereng biotipe 2 diintroduksi lagi varietas
IR42 (gen tahan bph2) dari IRRI. Varietas baru
ini mampu bertahan dilapangan, namun pada perbesar
MP 1981 / 1982 dilaporkan dari kabupaten Simalunggun
– Sumatera Utara bahwa IR42 telah terserang
wereng coklat. Wereng coklat tersebut diuji
dilaboratorium reaksinya terhadap varietas diferensial
menyimpang dari sifat biotipe yang etlah diketahui,
sehingga wereng tersebut dimasukkan sebagai
wreng coklat IR 42 SU (Deli Serdang).
Wereng coklat yang meledak di Sumatera Utara
hampir mirip dengan wereng coklat populasi asia
selatan (SAA) yang terdapat di India dan Srilangka.
Pengujian biotipe terus dilanjutkan dan akhirnya
diketahui bahwa wereng yang menyerang IR42 di
Sumut adalah wereng coklat biotipe 3.
Untuk menghadapi wereng coklat biotipe 3 telah
diintroduksikan varietas padi IR 56 (gen tahan
Bph3) pada 1983 dan IR64 (gen tahan Bph1+) tahun
1986. Ternyata varietas IR64 ini menyelamatkan
bangsa, karena mempunyai rasa nasi enak, produksi
tinggi, dan tahan wereng coklat biotipe 3, sehingga
petani menjadi tenang bila menanam varietas
tersebut. Sejak itu banyak varietas padi buatan
bangsa Indonesia yang dilepas untuk menghadapi
wereng coklat di pertanaman, namun varietas
baru tersebut dilepas sebagai keturunan dari
IR64. Dilain pihak varietas IR56 kurang beruntung
karena tak banyak disukai petani.
Antisipasi
dini
Selanjutnya sebagai antisipasi dini kemungkinan
terjadinya serangan wereng coklat biotipe 4
maka pada tahun 1991 diintroduksi varitas IR74
(gen tahan Bph3) untuk mempertinggi keragaman
genetik pertanaman mozaik. Namun demikian varietas
IR74 yang mempunyai rasa nasi pera tidak bisa
ditanam petani.
Pada 2005 beredar isu nasional karena terjadi
serangan wereng coklat pada tanaman padi di
Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat terhadap
varietas IR64 dan beberapa varietas populer
lainnya yang telah patah ketahanannya dari uji
ketahanan varietas lanjutan menunjukkan bahwa
varietas IR42 (Bph2) sudah patah ketahananya
terhadap wereng coklat asal Patih dan Demak
dengan reaksi agak peka sampai peka, sedangkan
Cisadane dan Ciliwung dan Tukad Petanu berekasi
agak tahan sampai agak peka. Varietas IR64,
IR6, Cisadane, Sri Putih, Sri Putih Jateng,
Ciherang, Bondoyudo, Kalimas dan membramo berekasi
agak tahan terhadap wereng coklat asal Patih
dan Demak.
Pada 2005 teridentifikasi bahwa
pada wereng coklat diPatih masih tetap merupakan
biotipe 3 yang mulai berkembang sejak tahun
1995, sedangkan yang di Demak berunah dari wereng
coklat biotipe 2 pada 1985 menjadi wereng coklat
biotipe 3 pada tahun 2005.
Kestabilan wereng coklat biotipe nol bertahan
selama 41 tahun sebelum menjadi wereng coklat
biotipe 1. perubahan wereng coklat biotipe 1
ke wereng coklat biotipe 2 hanya dalam waktu
4 tahun, dan perubahan wereng coklat biotipe
2 ke wereng coklat bitipe 3 hanya dalam kurun
waktu 5 tahun. Setelah terjadi wereng coklat
biotipe ke 3 sampai 2005 sudah 25 tahun sejak
terjadinya wereng coklat biotipe 2 masih tetap
didominasi wereng coklat biotipe 3, namun pada
2006 seudah mulai ada wereng coklat biotipe
4 di Asahan, Sumatera Utara.
Keberadaan wereng coklat biotipe 3 yang cukup
lama, disebabkan adanya varietas IR64 (Bph 1
+) yang merupakan varietas Durable resistance
sebagai penyangga perubahan wereng coklat di
biotipe yang lebih tinggi, juga disebabkan tidak
berkembangnya varietas IR74 (Bph3) yang akan
menyulut terbentuknya biotipe baru.
Untuk keperluan manajemen pengendalian wereng
coklat diperlukan data tingkat biotipe dari
seluruh sentra produksi padi dan data ketahanan
galur / varietas terhadap wereng coklat biotipe
1, 2, 3 dan 4. Identifikasi wereng coklat untuk
menentukan tingkat biotipenya terus dilanjutkan
terutama pada daerah-daerah yang varietas IR64
telah patah ketahanannya.
4.
Siput murbei atau keong mas (Pomace canaliculata
Lamarck)
Merupakan hama baru yang penyebarannya cukup
luas. Kerusakan terjadi ketika tanaman masih
muda. Petani harus menyulam atau menanam ulang
pada daerah dengan populasi siput yang tinggi
sehingga biaya produksi meningkat.
Pengendaliannya adalah:
® Mencegah introduksi keong mas pada areal
baru. Bila keong mas masuk ke
dalam areal sawah baru akan berkembang
cepat terutama pada lahan
yang selalu tergenang dan akan sukar dikendalikan.
® Pengendalian harus berkesinambungan, walaupun
tanaman sudah berumur 30
HST, pengendalian harus tetap dilakukan untuk
mencegah serangan pada
pertanaman berikutnya.
® Secara mekanis dapat dilakukan dengan
mengambil dan memusnahkan telur
dan keong mas baik dipesemaian atau di pertanaman
secara bersama-sama,
membersihkan saluran air dari tanaman air seperti
kangkung, dan mengembalakan
itik setelah panen. Untuk mengurangi kegagalan
panen, harus menyiapkan benih lebih banyak.
® Keong Mas dapat dimakan, maka belajarlah
cara memasak keong mas. Penulis pernah memakan
keong mas ini dan rasanya
mirip dengan bekicot hanya saja apabila kurang
mengerti cara memasaknya maka akan ada rasa
tanah setelah dimasak.
Apabila ini dimanfaatkan untuk menu makanan
maka kami menjamin keong mas nantinya bukan
lagi hama tetapi akan
dibudidayakan. He.... he..... mudah -mudahan
" kabul kajate"
Pengendalain pada stadia vegetatif,
dapat dilakukan dengan :
(1) pemupukan P dan K sebelum tanam;
(2) menanam bibit yang agak tua (>21 Hari)
dan jumlah bibit lebih banyak;
(3) mengeringkan sawah sampai 7 HST;
(4) tidak mengaplikasikan herbisida sampai 7
HST;
(5) mengambil keong mas atau telur dan memusnahkan;
(6) memasang saringan pada pemasukan air untuk
menjaring siput;
(7) mengumpan dengan menggunakan daun talas
atau daun pepaya;
(8) Aplikasi pestisida anorganik atau nabati
seperti saponin dan rerak sebanyak 20-50 kg/ha
5.
Hama ganjur (Orseolia oryzae Wood Mason)
Sering terjadi pada musim hujan terutama pada
tanaman padi yang terlambat tanam.
Pengendaliannya adalah:
® Penanaman varietas tahan, seperti: Tajum
dll.
® Pengamatan tiap minggu, bila tingkat serangan
mencapai 2% maka aplikasikan insektisida karbofuran
dengan takaran
0,5 kg bahan aktif/ha.
® Lakukan pola pengairan yang terkadang
tanaman padi diairi- kemudian dikeringkan selama
beberapa hari dan tentu saja
dengan memperhatikan vasi tumbuh tanaman. Orseolia
sp membutuhkan media air untuk berpindah dari
tanaman satu ke tanaman
yang lainnya dan akan mati apabila tidak ada
air selama beberapa hari.
6.
Lembing batu (Scotinopora coarctata) atau black
bugs
Berkembang dengan cepat sejak tanaman berumur
30 HST dan perkembangannya terhambat bila sawah
dalam keadaan tergenang. Pengendalian dapat
dilakukan pada stadia vegetatif dan generatif.
Jika populasi rata-rata telah
mencapai >5 ekor/rumpun maka perlu diaplikasikan
insektisida seperti: etripole dan alfametrin
7.
Ulat tentara (Mythimna separata)
Menyerang tanaman secara tidak terduga baik
stadia vegetaif maupun generatif. Pengendalian
dilakukan bila telah terjadi serangan. Dan silahkan
baca tips-tips memilih dan menggunakan pestisida
pada artikel sebelumnya dengan klik
disini .
8.
Walang sangit (Leptocorisa spp.)
Hanya menyerang tanaman yang sudah berbulir.
Pengendaliannya adalah dengan prangkap bangkai,
walang sangit akan tertarik dengan aroma-aroma
yang tidak sedap seperti aroma bangkai. Kami
menganjurkan menggunakan bangkai yuyu ( bletang
( bahasa madura )) yang banyak tersedia di persawahan.
Pengendalian dengan insektisida dilakukan jika
populasinya melebih ambang kendali yaitu pada
saat setelah stadia pembungaan ditemukan rata-rata
>10 ekor/rumpun.
ARTIKEL TERKAIT
1. Managemen mengendalikan
Hama dan Penyakit Secara Terpadu dan Berkesinambungan.
2. Mengendalikan
Penyakit Pada Tanaman Padi Secara Terpadu
Salam tani
disarikan oleh
Dwi
Hartoyo,SP
REFERENSI
1. Horsfall, J. G. And Ellis, B. C. 1977. Plant
disease an advanced treatise. How disease is
managed. Vol I. Academic Press
New York, San Francisco, London.
2. Makarim, A.K., I.N. Widiarta, Hendarsih,
S., dan S. Abdulrachman. 2003. Petunjuk Teknis
Pengelolaan Hara dan Pengendalian
Hama Penyakit Tanaman Padi Secara Terpadu. Departemen
Pertanian;
3. Semangun H. 1990. Penyakit-penyakit tanaman
pangan di Indonesia. Gadjah Mada University
Press
4. http://visualsunlimited.photoshelter.com/image/I00001SGrN.azp2E
5. http://www.nesmd.com/shtml/22294.shtml
6. http://openpdf.com/ebook/musuh-alami-agrotis-ipsilon-pdf.html
7. Prof. Dr. Ir. Baehaki SE- Penulis adalah
peneliti di Balai Besar Penelitian Padi -Dimuat
pada Tabloid Sinar Tani, 1 Agustus 2007
|