Translate :
 
 
 
 
 
 
 

PETANI TEMBAKAU
BETAPA MALANG NASIBMU.......

 

Terispirasi oleh pemberitaan di Kompas.com pada 2 Desember 2010 ( edisi liputan khusus ) yang menggugah keprihatinan kami terhadap nasib petani tembakau di negeri ini ( negeri Indonesia ).

Konservasi Rasa Kopi Tumpang Sari


Kawasan lereng Sindoro-Sumbing, kata Ismanto, adalah kawasan tanah kering. Di musim kemarau yang bertahan hidup hanya tembakau dan kopi. Maka, seandainya kawasan-kawasan itu memiliki simpanan air seperti di daerah Kendal, petani tak perlu khawatir menanam apapun selain tembakau sebagai selingan

M. Latief

Memanen kopi habis panen atau kopi basah, lanjut Ismanto, sangat menguntungkan ketimbang tembakau yang dipenuhi proses panjang dalam tata niaganya.

KOMPAS.com - WAJAH Ismanto (55) masih dirundung bimbang. Panen tembakaunya tahun ini gagal. Modal tanam dari hasil jerih payah panennya tahun 2009 lalu habis tanpa hasil. Tahun depan, ia mungkin tak lagi menanam tembakau, kecuali hanya mengurusi tanaman kopinya sebagai harapan masa depan.


Faizal dan Wahid, dua orang petani yang datang dari Dusun Serang Gedem Kecamatan Kejajar, Wonosobo, membawa ratusan rigen itu dengan sebuah mobil bak terbuka. Perjalanan sekitar satu jam ditempuh, demi menjemur tembakau yang baru saja dipanen.

Menanam tembakau, tutur Ismano, modalnya tahun ini kurang lebih Rp 31 juta, uang hasil panen tahun lalunya itu. Sebanyak Rp 30 juta dia gunakan sebagai produksi tembakau seluas satu hektar yang dibagi menjadi dua lahan. Sisanya ia gunakan untuk ongkos panen. Mulai proses pemetikan sampai pengemasan keranjang, Ismanto menghabiskan sekitar Rp 350 ribu per keranjang. Karena untuk kerja panen tersebut yang membantunya sekitar 14 orang, sehingga kalau ditotal pengeluarannya sebesar Rp 1.050.000.

Hasilnya? Nihil. Ismanto memprediksi, 70 persen panennya tahun ini sudah hilang dihantam hujan. Dari satu hektar lahan yang ia bagi dua, biasanya, satu bagian lahan bisa mendapatkan 3 kwintal tembakau kering. Tapi, tahun ini Ismanto cuma mendapat 92 kilo atau tiga keranjang.

Satu bagian lagi juga begitu. Jika biasanya ia dapat 7 kwintal sekali panen, sekarang ini hasil panennya cuma 2 kwintal. Itupun, yang seharusnya dihargai Rp 100 ribu pada saat kemarau panjang, tahun ini hanya sampai grade 4 atau D. Dengan kualitas D itu harga jual tembakau hanya berkisar antara Rp 35.000 sampai Rp 50.000.

Jelas, dari hasil panen itu Ismanto tak dapat uang banyak. Jangankan berlebih, balik modal pun tidak. Karena uang hasil panen 2 kwintal hanya laku Rp 35 ribu per kilo, yang jika dikali 2 kwintal hanya menjadi Rp 7 juta. Sementara untuk yang tiga keranjang (92 kilo) dihargai Rp 50 ribu per kilo dan hanya mencapai angka Rp 4,5 juta.

“Terhitung total saya panen tahun 2010 ini hanya dapat Rp 11, 5 juta. Jadi, yang hilang Rp 18, 5 juta,” kata Ismanto.

Kopi lebih untung

KINI, harapan satu-satunya bagi Ismanto tinggallah kopi arabika. Tanaman ini ditanamnya secara tumpang sari di antara pohon-pohon tembakau yang tumbuh di kedua lahannya yang seluas 1 hektare itu. Untungnya, kata Ismanto, dengan sistem konservasi berupa tumpang sari kopi di sela-sela tanaman tembakau, ia dan teman-teman petani Desa Tlahab bisa memanen kopi lebih dulu ketimbang tembakau.

“Sementara ini kami memang lebih banyak menanam tembakau, karena kopi di sini masih bersifat tumpang sari, belum monokultur. Dengan tumpang sari di samping tembakau itu kami bisa memanen kopi duluan, setidaknya sedikit lebih membantu,” tutur pria kelahiran Tlahab, Temanggung, Jawa Tengah, 10 Oktober 1955, itu.

Di tengah perkebunan tumpang sari tembakau-kopi miliknya di lereng Gunung Sindoro, di siang yang dingin sehabis disiram hujan deras pada pertengahan September lalu, Ismanto mengajak berkeliling dengan sepeda motor otomatiknya. Jalan menuju perkebunan mulus antara kerikil bercampur tanah. Rumput-rumput tertata rapi di sepanjang jalan perkebunan itu.

Ismanto mengatakan, dengan cara tumpang sari, populasi tanam yang dilakukannya tidak terlalu banyak. Tiap dua meter ia tanami tembakau dan lima meter berselangnya ditanami kopi, begitulah seterusnya.

“Memang masih tumpang sari, tapi hasil atau panennya merata dari tahun ke tahun. Kopi habis panen itu antara 3.000 sampai 3.500 perkilo,” tutur bapak tiga anak ini.

Memanen kopi habis panen atau kopi basah, lanjut Ismanto, sangat menguntungkan ketimbang tembakau yang dipenuhi proses panjang dalam tata niaganya. Dibawa dari kebun seusai panen, saat ini harga kopi gelondong basah Rp 3.500 per kilo. Harga tersebut stabil dari tahun ke tahun.

Semisal, lanjut Ismanto, seorang petani menanam tembakau di lahan seluas 1 hektar bisa mendapatkan uang Rp 80 juta. Jika petani tersebut menanam kopi di lahan dengan luas yang sama sebanyak 3.000 batang kopi, mungkin hasilnya bisa lebih dari itu.

“Kalau satu batang bisa menghasilkan 10 kilogram kopi basah, kemudian dikali 3.000 batang bisa mencapai 30 ton. Lalu, 30 ton itu dikalikan Rp 3.000 rupiah, sudah berapa? Rp 90 juta, jelas lebih untung,” kata Ismanto.

“Bayangkan, petani datang ke pengepul itu langsung bawa pulang uang dan petani tahu harganya dengan pasti. Artinya, mereka sadar, semakin banyak tanam kan semakin untung,” ucap Ismanto.

Ismanto mengaku, dari waktu ke waktu ia pun sebetulnya terus melangkah mundur dari pertanian tembakau. Ia yakin, banyak petani di Desa Tlahab tempat tinggalnya itu masih terpengaruh “dunia luar” soal untungnya menanam tembakau. Walhasil, banyak petani yang masih menanam tembakau.

“Kalau anggota saya sendiri sudah mulai mikir-mikir, mereka pelan-pelan mulai melakukan tumpang sari seperti saya,” tuturnya.

Ismanto mencontohkan adiknya sendiri, yang diakui sukses sebagai petani kopi. Kalau satu bidang lahan ditanami tembakau biasa memeroleh Rp 2,5 juta, adiknya itu, karena sudah melalukan monokultur kopi, bisa meraup Rp 6 juta sekali panen.

“Padahal, uang sebanyak itu hanya untuk 0,4 hektar,” ujarnya.

Ditentang APTI

BICARA kopi, Ismanto adalah petani yang bukan sekadar main-main dan coba-coba. Menurut populasi di Desa Tlahab tersebut, saat ini terdapat 285 hektar lahan garapan dengan jumlah kepala keluarga (KK) mencapai 1.025. Sebagai Ketua Kelompok Tani Margorahayu, Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Temanggung, Jawa Tengah, Ismanto punya 490 petani binaan yang bersama-samanya membudayakan cara tumpang sari kopi di lahan tembakau masing-masing.

Kali pertama, pada 2000, Ismanto dan teman-temannya menanam kopi pada lahan seluas 50 hektar. Selang setahun, luas lahan bertambah sampai 150 hektar. Terhitung, saat itu sudah 200 hektar yang sudah ia upayakan dengan tumpang sari.

“ Saat ini sekitar ini 250 hektare sudah didiversifikasi dari 285 hektare lahan yang ada," ujarnya.

Untuk lebih solid dan memudahkan koordinasi sesama petani, pada 2002 ia dan teman-temannya mendirikan Asosiasi Petani Kopi Indonesia (Apeki) Cabang Tlahab. Hasilnya terus positif. Banyak petani mulai tertular “virus” tumpang sari Ismanto.

“Tapi, sekali lagi, saya hanya memberi contoh, bukan meminta mereka harus tanam kopi. Kopi ini menguntungkan, tapi semua saya kembalikan ke mereka, saya tidak mau ada complain, tak mau ada ribut-ribut,” ujarnya.

Ia akui, melakukan budaya kopi bukan semata soal keuntungan. Menanam kopi dengan tumpang sari di sela-sela tembakau, kata Ismanto, adalah upaya konservasi menyelamatkan lahan pertanian yang semakin buruk dihantam erosi akibat terus-menerus ditanami tembakau.

Ismanto menjamin, siapapun petani tidak perlu risau akan kehilangan tembakau dari bumi Temanggung. Hanya saja, petani harus memikirkan nilai-nilai keselamatan lingkungannya.

Kawasan lereng Sindoro-Sumbing, kata Ismanto, adalah kawasan tanah kering. Di musim kemarau yang bertahan hidup hanya tembakau dan kopi. Maka, kata dia, seandainya kawasan-kawasan itu memiliki simpanan air seperti di daerah Kendal yang punya embung, petani tak perlu khawatir menanam apapun selain tembakau sebagai selingan. Karena dengan begitulah, di musim kemarau seusai panen tembakau, para petani bisa menanam tanaman lain macam palawija.

Lambat laun, lanjut Ismanto, lereng-lereng Sindoro-Sumbing akan semakin rusak akibat erosi. Kawasan itu akan semakin tak mampu menyimpan banyak air saat musim hujan datang karena terus-menerus ditanami tembakau tanpa dipikirkan cara mengolah dan menyuburkannya dengan tanaman lain.

Untuk itulah, Ismanto meminta Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah untuk membuatkan embung seperti di Kendal. Ia dijanjikan, embung akan dibangun pada 2011 nanti dengan ketentuan panjang 90, lebar 80, serta kedalaman 3 meter.

Toh, kata Ismanto, upaya konservasi itupun bukan tanpa tantangan. Selain kurang kuatnya dukungan pemerintah setempat, potensi benturan horisontal antarpetani pun bisa terjadi jika dirinya tidak bijaksana mengambil sikap dan tindakan, terutama terkait adanya Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) di Temanggung.

“Di sini ada APTI, dan saya sendiri pengurus APEKI. Karena keduanya muncul dari masyarakat, saya tidak mau ada ribut-ribut,” ujar Ismanto.

Dia akui, upaya konservasi melalui diversifikasi kopi beberapa kali ditentang oleh APTI. Pihak APTI menanyakan, kata Ismanto, apakah dirinya akan menggantikan tembakau dengan kopi. Karena jika itu dilakukan dan menggantikan komoditas asli Temanggung, APTI tidak akan bertanggung jawab.

“Saya bilang tidak. Saya katakan kalau saya hanya ingin memperbaiki tanah-tanah di sini dengan tumpang sari. Ini kan diversifikasi pertanian, ini ilmu pengetahuan,” kata Ismanto.

Selain itu, lanjut Ismanto, jika petani hanya mengandalkan satu komoditas akan sulit. Sebab usai petani memanen tembakau, petani yang juga menanam kopi akan mendapatkan penghasilan dari panen kopi, demikian pula dengan menanam dan lain-lainnya.

“Ini kan sebetulnya membantu petani. Kalau petani sejahtera, mau apalagi? Kan itu tujuan yang semestinya dicapai. Kalau petani miskin terus, siapa yang bertanggung jawab? Mestinya, dari masyarakat untuk masyarakat kesejahteraan itu bisa tercapai,” tegas Ismanto.

Diversifikasi tanaman, seperti yang dipahami Ismanto, ini kiranya sebagai satu langkah strategis, yaitu konservasi dan ekonomi. Dinamika pasar tembakau terus bergejolak, sementara ongkos produksi makin lama semakin membengkak. Cuaca, sebagai faktor penentu, juga kian tidak menentu sehingga kualitas tembakau sulit dijaga. Lalu, masihkah petani tembakau tetap bertahan pada satu komoditas?

-------------------------------------------------------------------------------------------

**** TAMAT *****

Disarikan oleh

Dwi Hartoyo ,SP