Translate :
 
 
 
 
 
 
 

KONSERVASI TANAH
oleh
Ir. Bambang Setiahadi

 

Tujuan dan Sasaran

Konservasi tanah adalah penempatan tiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Pemakaian istilah konservasi tanah sering diikuti dengan istilah konservasi air.Meskipun keduanya berbeda tetapi saling terkait.Ketika mempelajari masalah konservasi sering menggunakan kedua sudut pandang ilmu konservasi tanah dan konservasi air.Secara umum, tujuan konservasi tanah adalah meningkatkan produktivitas lahan secara maksimal, memperbaiki lahan yang rusak/kritis, dan melakukan upaya pencegahan kerusakan tanah akibat erosi.
Sasaran konservasi tanah meliputi keseluruhan sumber daya lahan, yang mencakup kelestarian produktivitas tanah dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mendukung keseimbangan ekosistem.

Teknik Konservasi Tanah

Teknik konservasi tanah di Indonesia diarahkan pada tiga prinsip utama yaitu perlindungan permukaan tanah terhadap pukulan butir-butir hujan, meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah seperti pemberian bahan organik atau dengan cara meningkatkan penyimpanan air,dan mengurangi laju aliran permukaan sehingga menghambat material tanah dan hara terhanyut (Agus et al., 1999).Manusia mempunyai keterbatasan dalam mengendalikan erosi sehingga perlu ditetapkan kriteria tertentu yang diperlukan dalam tindakan konservasi tanah.disertakan dalam merancang teknik konservasi tanah adalah nilai batas erosi yang masih dapat diabaikan (tolerable soil loss).
Ketiga teknik konservasi tanah secara vegetatif, mekanis dan kimia pada prinsipnya memiliki tujuan yang sama yaitu mengendalikan laju erosi, namun efektifitas, persyaratan dan kelayakan untuk diterapkan sangat berbeda. Oleh karena itu pemilihan teknik konservasi yang tepat sangat diperlukan.

Teknik konservasi tanah secara vegetatif adalah setiap pemanfaatan tanaman/vegetasi maupun sisa-sisa tanaman sebagai media pelindung tanah dari erosi, penghambat laju aliran permukaan,peningkatan kandungan lengas tanah, serta perbaikan sifat-sifat
tanah, baik sifat fisik, kimia maupun biologi.
Teknik konservasi tanah secara mekanis atau disebut juga sipil teknis adalah upaya menciptakan fisik lahan atau merekayasa bidang olah lahan pertanian hingga sesuai dengan prinsip konservasi tanah sekaligus konservasi air. Teknik ini meliputi: guludan, pembuatan teras gulud, teras bangku, teras individu, teras kredit, pematang kontur, teraskebun, barisan batu, dan teras batu. Khusus untuk tujuan pemanenan air, teknik konservasi secara mekanis meliputi pembuatan bangunan resapan air, rorak, dan embung (Agus et al., 1999).
Teknik konservasi tanah secara kimiawi adalah setiappenggunaan bahan-bahan kimia baik organik maupun anorganik,yang bertujuan untuk memperbaiki sifat tanah dan menekan laju erosi.Teknik ini jarang digunakan petani terutama karena keterbatasan
modal, sulit pengadaannya serta hasilnya tidak jauh beda denganpenggunaan bahan-bahan alami. Bahan kimiawi yang termasukdalam kategori ini adalah pembenah tanah (soil conditioner), bahan-bahan ini diaplikasikan ke tanah dengantujuan untuk memperbaiki struktur tanah melalui peningkatan stabilitasagregat tanah, sehingga tahan terhadap erosi.


KONSERVASI TANAH SECARA VEGETATIF

Pengertian
Pada dasarnya konservasi tanah secara vegetatif adalah segalabentuk pemanfaatan tanaman ataupun sisa-sisa tanaman untukmengurangi erosi. Tanaman ataupun sisa-sisa tanaman berfungsisebagai pelindung tanah terhadap daya pukulan butir air hujan
maupun terhadap daya angkut air aliran permukaan (runoff), sertameningkatkan peresapan air ke dalam tanah.

Kanopi berfungsi menahan laju butiran air hujan dan mengurangitenaga kinetik butiran air dan pelepasan partikel tanah sehinggapukulan butiran air dapat dikurangi. Air yang masuk di sela-sela kanopi(interception) sebagian akan kembali ke atmosfer akibat evaporasi.
Fungsi perlindungan permukaan tanah terhadap pukulan butir air hujanmerupakan hal yang sangat penting karena erosi yang terjadi diIndonesia penyebab utamanya adalah air hujan. Semakin rapatpenutupannya akan semakin kecil risiko hancurnya agregat tanah olehpukulan butiran air hujan.
Batang tanaman juga menjadi penahan erosi air hujan dengancara merembeskan aliran air dari tajuk melewati batang (stemflow)menuju permukaan tanah sehingga energi kinetiknya jauh berkurang.Batang juga berfungsi memecah dan menahan laju aliran permukaan.Jika energi kinetik aliran permukaan berkurang, maka daya angkutmaterialnya juga berkurang dan tanah mempunyai kesempatan yangrelatif tinggi untuk meresapkan air.Beberapa jenis tanaman yangditanam dengan jarak rapat, batangnya mampu membentuk pagarsehingga memecah aliran permukaan. Partikel tanah yang ikutbersama aliran air permukaan akan mengendap di bawah batangdan lama-kelamaan akan membentuk bidang penahan aliranpermukaan yang lebih stabil.

Keberadaan perakaran mampu memperbaiki kondisi sifat tanahyang disebabkan oleh penetrasi akar ke dalam tanah, menciptakanhabitat yang baik bagi organisme dalam tanah, sebagai sumberbahan organik bagi tanah dan memperkuat daya cengkeramterhadap tanah (Foth, 1995, Killham, 1994, Agus et al., 2002).Perakarantanaman juga membantu mengurangi air tanah yang jenuh oleh airhujan, memantapkan agregasi tanah sehingga lebih mendukungpertumbuhan tanaman dan mencegah erosi, sehingga tanah tidakmudah hanyut akibat aliran permukaan, meningkatkan infiltrasi, dankapasitas memegang air.

Jenis-Jenis Konservasi Tanah Secara Vegetatif
Teknik konservasi tanah secara vegetatif yang akan diuraikandalam monograf ini adalah: penghutanan kembali (reforestation),wanatani (agroforestry) termasuk didalamnya adalah pertanamanlorong (alley cropping), pertanaman menurut strip (strip cropping), striprumput (grass strip) barisan sisa tanaman, tanaman penutup tanah(cover crop), penerapan pola tanam termasuk di dalamnya adalahpergiliran tanaman (crop rotation), tumpang sari (intercropping), dantumpang gilir (relay cropping).

Dalam penerapannya, petani biasanya memodifikasi sendiriteknik-teknik tersebut sesuai dengan keinginan dan lingkunganagroekosistemnya sehingga teknik konservasi ini akan terusberkembang di lapangan. Keuntungan yang didapat dari system vegetatif ini adalah kemudahan dalam penerapannya, membantumelestarikan lingkungan, mencegah erosi dan menahan aliranpermukaan, dapat memperbaiki sifat tanah dari pengembalian bahanorganik tanaman, serta meningkatkan nilai tambah bagi petani darihasil sampingan tanaman konservasi tersebut.

1. Penghutanan kembali
Penghutanan kembali (reforestation) secara umum dimaksudkan untuk mengembalikan dan memperbaiki kondisi ekologi dan hidrologi suatu wilayah dengan tanaman pohon-pohonan. Penghutanan kembali juga berpotensi untuk peningkatan kadar bahan organic tanah dari serasah yang jauh di permukaan tanah dan sangat mendukung kesuburan tanah. Penghutanan kembali biasanya dilakukan pada lahan-lahan kritis yang diakibatkan oleh bencana alam misalnya kebakaran, erosi, abrasi, tanah longsor, dan aktivitas manusia seperti pertambangan, perladangan berpindah, dan penebangan hutan.
Hutan mempunyai fungsi tata air yang unik karena mampu menyimpan air dan meredam debit air pada saat musim penghujan dan menyediakan air secara terkendali pada saat musim kemarau (sponge effect). Penghutanan kembali dengan maksud untuk
mengembalikan fungsi tata air, efektif dilakukan pada lahan dengan kedalaman tanah >3 m. Tanah dengan kedalaman <3 m mempunyai aliran permukaan yang cukup tinggi karena keterbatasan kapasitas tanah dalam menyimpan air (Agus et al., 2002). Pengembalian fungsi hutan akan memakan waktu 20-50 tahun sampai tajuk terbentuk
sempurna. Jenis tanaman yang digunakan sebaiknya berasal dari jenis yang mudah beradaptasi terhadap lingkungan baru, cepat berkembang biak, mempunyai perakaran yang kuat, dan kanopi yang rapat/rindang.

Penelitian tentang kondisi biofisik lahan sangat penting untuk menentukan jenis tanaman yang akan dipergunakan dengan tujuan penghutanan kembali terutama untuk hutan monokultur. Beberapa tanaman tahunan mempunyai intersepsi dan evaporasi yang tinggi sehingga akan banyak mengkonsumsi air. Penelitian terhadaptanaman pinus (Pinus merkusii) yang dilakukan oleh Universitas GadjahMada/UGM, Institut Pertanian Bogor/IPB dan Universitas Brawijaya/Unibraw (Priyono dan Siswamartana, 2002), menyimpulkan bahwa tanaman pinus akan aman jika ditanam pada daerah yang
mempunyai curah hujan di atas 2.000 mm/tahun. Pada daerah yang mempunyai curah hujan 1.500-2.000 mm/tahun disarankan agar penanaman pinus dicampur dengan tanaman lain yang mempunyai intersepsi dan evaporasi lebih rendah misalnya Puspa atau Agatis.Sedangkan untuk daerah yang mempunyai curah hujan 1.500mm/tahun atau kurang disarankan untuk tidak menanam pinus karena akan menimbulkan kekurangan (deficit) air.

2. Wanatani
Wanatani (agroforestry) adalah salah satu bentuk usaha konservasi tanah yang menggabungkan antara tanaman pohon-pohonan,atau tanaman tahunan dengan tanaman komoditas lain yang ditanam secara bersama-sama ataupun bergantian.
Penggunaan tanaman tahunan mampu mengurangi erosi lebih baik daripada tanaman komoditas pertanian khususnya tanaman semusim.Tanaman tahunan mempunyai luas penutupan daun yang relatif lebih besar dalam menahan energi kinetik air hujan, sehingga air yang sampai ke tanah dalam bentuk aliran batang (stemflow) dan aliran
tembus (throughfall) tidak menghasilkan dampak erosi yang begitu besar. Sedangkan tanaman semusim mampu memberikan efek penutupan dan perlindungan tanah yang baik dari butiran hujan yangmempunyai energi perusak. Penggabungan keduanya diharapkan dapat memberi keuntungan ganda baik dari tanaman tahunan
maupun dari tanaman semusim.
Penerapan wanatani pada lahan dengan lereng curam atau agak curam mampu mengurangi tingkat erosi dan memperbaiki kualitas tanah, dibandingkan apabila lahan tersebut gundul atau hanya ditanami tanaman semusim.Pada Gambar 1 disajikan hubungan proporsi tanaman tahunan dan semusim yang ideal pada lereng yang berbeda pada sistem wanatani.Secara umum proporsi tanaman tahunan makin banyak pada lereng yang semakin curam demikian juga sebaliknya.
Tanaman semusim memerlukan pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman yang lebih intensif dibandingkan dengantanaman tahunan. Pengolahan tanah pada tanaman semusimbiasanya dilakukan dengan cara mencangkul, mengaduk tanah,maupun cara lain yang mengakibatkan hancurnya agregat tanah,sehingga tanah mudah tererosi. Semakin besar kelerengan suatulahan, maka risiko erosi akibat pengolahan tanah juga semakin besar.
Penanaman tanaman tahunan tidak memerlukan pengolahan tanahsecara intensif.Perakaran yang dalam dan penutupan tanah yangrapat mampu melindungi tanah dari erosi.Tanaman tahunan yang dipilih sebaiknya dari jenis yang dapatmemberikan nilai tambah bagi petani dari hasil buah maupunkayunya.Selain dapat menghasilkan keuntungan dengan lebih cepatdan lebih besar, wanatani ini juga merupakan sistem yang sangat baikdalam mencegah erosi tanah.

Sistem wanatani telah lama dikenal di masyarakat Indonesia danberkembang menjadi beberapa macam, yaitu pertanaman sela,pertanaman lorong, talun hutan rakyat, kebun campuran,pekarangan, tanaman pelindung/multistrata, dan silvipastura.


a. Pertanaman sela
Pertanaman sela adalah pertanaman campuran antaratanaman tahunan dengan tanaman semusim.Sistem ini banyak dijumpai di daerah hutan atau kebun yang dekat dengan lokasi permukiman.Tanaman sela juga banyak diterapkan di daerah perkebunan, pekarangan rumah tangga maupun usaha pertanian tanaman tahunan lainnya.Dari segi konservasi tanah, pertanaman sela bertujuan untuk meningkatkan intersepsi dan intensitas penutupan permukaan tanah terhadap terpaan butir-butir air hujan secara langsung sehingga memperkecil risiko tererosi.Sebelum kanopi tanaman tahunan menutupi tanah, lahan di antara tanaman tahunan tersebut digunakan untuk tanaman semusim.
Di beberapa wilayah hutan jati daerah Jawa Tengah, ketikapohon jati masih pendek dan belum terbentuk kanopi, sebagian lahannya ditanami dengan tanaman semusim berupa jagung, padigogo, kedelai, kacang-kacangan, dan empon-empon seperti jahe
(Zingiber officinale), temulawak (Curcuma xanthorrizha), kencur(Kaemtoria galanga), kunir (Curcuma longa), dan laos (Alpiniagalanga). Pilihan teknik konservasi ini sangat baik untuk diterapkan oleh petani karena mampu memberikan nilai tambah bagi petani,
mempertinggi intensitas penutupan lahan, membantu perawatan tanaman tahunan dan melindungi dari erosi.
Penanaman tanaman semusim bisa berkali-kali tergantung daripertumbuhan tanaman tahunan. Sebagai tanaman pupuk hijausebaiknya dipilih dari tanaman legum seperti Leucaena leucocephala,Glyricidia sepium, Cajanus cajan, Tephrosia candida, dan lainsebagainya. Jarak antara tanaman semusim dengan tanaman tahunansecara periodik dilebarkan (lahan tanaman semusim semakin sempit)dengan maksud untuk mencegah kompetisi hara, pengaruh allelopatidari tanaman tahunan, dan kontak penyakit.

b. Pertanaman lorong
Sistem pertanaman lorong atau alley cropping adalah suatu sistem dimana tanaman pagar pengontrol erosi berupa barisantanaman yang ditanam rapat mengikuti garis kontur, sehinggamembentuk lorong-lorong dan tanaman semusim berada di antaratanaman pagar tersebut (Gambar 2).Sistem ini sesuai untuk diterapkanpada lahan kering dengan kelerengan 3-40%. Dari hasil penelitianHaryati et al. (1995) tentang sistem budi daya tanaman lorong diUngaran pada tanah Typic Eutropepts, dilaporkan bahwa sistem inimerupakan teknik konservasi yang cukup murah dan efektif dalam
mengendalikan erosi dan aliran permukaan serta mampumempertahankan produktivitas tanah.
Penanaman tanaman pagar akan mengurangi 5-20% luas lahanefektif untuk budi daya tanaman sehingga untuk tanaman pagardipilih dari jenis tanaman yang memenuhi persyaratan di bawah ini(Agus et al., 1999):
#. Merupakan tanaman yang mampu mengembalikan unsurhara ke dalam tanah, misalnya tanaman penambat nitrogen(N2) dari udara.
#. Menghasilkan banyak bahan hijauan.
#. Tahan terhadap pemangkasan dan dapat tumbuh kembalisecara cepat sesudah pemangkasan.
#. Tingkat persaingan terhadap kebutuhan hara, air, sinarmatahari dan ruang tumbuh dengan tanaman lorong tidakbegitu tinggi.
#. Tidak bersifat alelopati (mengeluarkan zat beracun) bagitanaman utama.
#. Sebaiknya mempunyai manfaat ganda seperti untuk pakanternak, kayu bakar, dan penghasil buah sehingga mudahdiadopsi petani.

Penelitian-penelitian tentang pertanaman lorong menyimpulkan, bahwa sistem budi daya lorong merupakan salahsatu cara untuk mempertahankan produktivitas lahan kering yangmiskin hara dan mempunyai KTK yang rendah. Suwardjo et al. (1987)melaporkan bahwa kandungan bahan organik tanah Podsolik diJambi, Sumatera meningkat dari 1,8% menjadi 2,2% setelah 1 tahunditanami dengan tanaman lorong Flemingia. Pada tahun keduakandungan bahan organik semakin bertambah dengan nilai 2,8%.
Sistem pertanaman lorong juga dapat mempertahankan sifat fisiktanah (Tabel 3) dan hasil tanaman pangan dalam jangka panjang.
Dari hasil kajiannya pada penerapan pertanaman lorong (Alleycropping) di beberapa negara yang tergabung dalam ASIALANDsloping land project yang meliputi Indonesia, Phillipines, Laos danVietnam, Irawan (2002) melaporkan bahwa alley cropping mampu
mengurangi kehilangan hara akibat erosi senilai US $ 4,1-85,5/ha/tahun.
Flemingia mempunyai kemampuan yang tinggi untuk tumbuhdan bertunas sehingga menghasilkan hasil pangkasan yangcenderung terus meningkat.Hasil pangkasan ini merupakan sumberbahan organik yang sangat penting. Dari reklamasi yang dilaksanakanpada tahun 1970 dan evaluasinya pada tahun 1984 pada tanahberskeletal vulkanik Gunung Merapi di Kali Gesik, Jawa Tengah,Sukmana et al. (1985) melaporkan bahwa setelah 14 tahun direklamasidengan Flemingia congesta mampu menghasilkan serasah (keringudara) sebanyak 5,6 t/ha. Biomassa ini memberikan kontribusi terhadappeningkatan bahan organik tanah 2,65% yang sebelum direklamasitidak mengandung bahan organik. Dibandingkan dengan vegetasialami, Flemingia sangat besar kontribusinya dalam peningkatan bahanorganik tanah. Bahan organik ini sangat penting dalampeningkatan kapasitas tanah menahan air (water holding capacity)

Pada penelitian sistem pertanaman lorong menggunakan tigajenis legum yang ditanam dua strip tiap baris dilaporkan, bahwa padatahun kedua penanaman Flemingia congesta sudah terlihat adanyapembentukan teras alami dengan tinggi tampingan sekitar 25 cm,
lebih tinggi dibandingkan pada tanaman Calliandra calothyrsusmaupun Tephrosia volgelli. Hal ini disebabkan oleh pengaruhkerapatan tanaman serta produksi hijauan Flemingia congesta yangmampu menahan partikel tanah lebih baik dibandingkan Calliandramaupun Tephrosia (Rachman et al., 1990).

Sistem perakaran yang dalam dan hasil dari guguran daunataupun dari hasil pangkasan yang menumpuk akan membantuterbentuknya teras alami. Aliran permukaan akan menghanyutkanpartikel-partikel tanah dan mengendap di bawah tegakan legum.Endapan tersebut makin lama makin tinggi dan akhirnya membentuk
bidang olah menyerupai teras dengan tanaman legum sebagaipenguat tampingan. Hal ini merupakan cara pembuatan teras yangekonomis karena menurut Rachman et al. (1989), untuk pembuatanteras bangku pada kemiringan 15% membutuhkan tenaga kerjasebesar 607 HOK/ha, sedang untuk teras gulud sebesar 52 HOK/ha.

Bahan tanaman pagar tidak selalu tersedia di sekitar petanisehingga bantuan benih/bibit tanaman pagar akan sangat membantupenerapannya di lapangan. Analisis kebutuhan tenaga dalampenerapan sistem pertanaman lorong secara rinci adalah sebagaiberikut (Agus et al., 1999):
#. Penanaman dengan menggunakan bahan tanaman berupabibit (tanaman muda) dan rumput membutuhkan tenagakerja 100-200 HOK/ha tergantung kelerengan.Perawatannyahanya membutuhkan tenaga kerja antara 20-25 HOK/ha.Apabila memerlukan penanaman rumput akanmembutuhkan 20-40 HOK/ha.
#. Penanaman dengan menggunakan bahan tanaman berupastek membutuhkan tenaga kerja antara 20-40 HOK/hadengan kebutuhan perawatan per tahun mencapai 25-30HOK/ha.
#. Penanaman secara langsung hanya membutuhkan tenagakerja 6-12 HOK/ha dengan perawatan pertahun mencapai 25-30 HOK/ha.

Berbagai tanaman pagar yang umumnya adalah tanamanpohon telah diteliti dan diidentifikasi sifat-sifat pertumbuhannya.
Banyak tanaman mempunyai pertumbuhan yang cepat sepertiKaliandra dan Glirisidia yang sangat efektif untuk digunakan sebagai tanaman pagar.

c. Talun hutan rakyat
Talun adalah lahan di luar wilayah permukiman penduduk yangditanami tanaman tahunan yang dapat diambil kayu maupunbuahnya.Sistem ini tidak memerlukan perawatan intensif dan hanyadibiarkan begitu saja sampai saatnya panen.Karena tumbuh sendirisecara spontan, maka jarak tanam sering tidak seragam, jenistanaman sangat beragam dan kondisi umum lahan seperti hutanalami.Ditinjau dari segi konservasi tanah, talun hutan rakyat dengankanopi yang rapat dapat mencegah erosi secara maksimal jugasecara umum mempunyai fungsi seperti hutan.

d. Kebun campuran
Berbeda dengan talun hutan rakyat, kebun campuran lebihbanyak dirawat.Tanaman yang ditanam adalah tanaman tahunanyang dimanfaatkan hasil buah, daun, dan kayunya.Kadang-kadangjuga ditanam dengan tanaman semusim.Apabila proporsi tanamansemusim lebih besar daripada tanaman tahunan, maka lahan tersebutdisebut tegalan.Kebun campuran ini mampu mencegah erosi denganbaik karena kondisi penutupan tanah yang rapat sehingga butiran airhujan tidak langsung mengenai permukaan tanah.Kerapatantanaman juga mampu mengurangi laju aliran permukaan. Hasiltanaman lain di luar tanaman semusim mampu mengurangi risikoakibat gagal panen dan meningkatkan nilai tambah bagi petani.

e. Pekarangan
Pekarangan adalah kebun di sekitar rumah dengan berbagaijenis tanaman baik tanaman semusim maupun tanaman tahunan.Lahan tersebut mempunyai manfaat tambahan bagi keluarga petani,dan secara umum merupakan gambaran kemampuan suatu keluargadalam mendayagunakan potensi lahan secara optimal. Tanamanyang umumnya ditanam di lahan pekarangan petani adalah ubikayu, sayuran, tanaman buah-buahan seperti tomat, pepaya,tanaman obat-obatan seperti kunyit, temulawak, dan tanaman lainyang umumnya bersifat subsisten.

f. Tanaman pelindung
Tanaman pelindung adalah tanaman tahunan yang ditanam disela-sela tanaman pokok tahunan.Tanaman pelindung inidimaksudkan untuk mengurangi intensitas penyinaran matahari, dandapat melindungi tanaman pokok dari bahaya erosi terutama ketikatanaman pokok masih muda. Tanaman pelindung ini dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
#. Tanaman pelindung sejenis yang membentuk suatu system wanatani sederhana (simple agroforestry). Misalnya tanaman pokok berupa tanaman kopi dengan satu jenis tanaman pelindung misalnya: gamal (Gliricidia sepium), dadap(Erythrina subumbrans), lamtoro (Leucaena leucocephala)atau kayu manis (Cinnamomum burmanii).
#. Tanaman pelindung yang beraneka ragam dan membentukwanatani kompleks (complex agroforestry atau system multistrata). Misalnya tanaman pokok berupa tanaman kopidengan dua atau lebih tanaman pelindung misalnya: kemiri(Aleurites muluccana), jengkol (Pithecellobium jiringa), petai(Perkia speciosa), kayu manis, dadap, lamtoro, gamal, durian(Durio zibethinus), alpukat (Persea americana), nangka(Artocarpus heterophyllus), cempedak (Artocarpus integer),dan lain sebagainya.

Tajuk tanaman yang bertingkat menyebabkan sistem inimenyerupai hutan, yang mana hanya sebagian kecil air yanglangsung menerpa permukaan tanah.Produksi serasah yang banyakjuga menjadi keuntungan tersendiri dari sistem ini.

g. Silvipastura
Sistem silvipastura sebenarnya adalah bentuk lain dari system tumpang sari, tetapi yang ditanam di sela-sela tanaman tahunanbukan tanaman pangan melainkan tanaman pakan ternak sepertirumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput raja (Penniseitumpurpoides), dan lain-lain. Silvipastura umumnya berkembang di daerahyang mempunyai banyak hewan ruminansia.Hasil kotoran hewanternak tersebut dapat dipergunakan sebagai pupuk kandang,sementara hasil hijauannya dapat dimanfaatkan sebagai bahanpakan ternak.Sistem ini dapat dipakai untuk mengembangkanpeternakan sebagai komoditas unggulan di suatu daerah.

h. Pagar hidup
Pagar hidup adalah sistem pertanaman yang memanfaatkantanaman sebagai pagar untuk melindungi tanaman pokok. Manfaat tanaman pagar antara lain adalah melindungi lahan daribahaya erosi baik erosi air maupun angin. Tanaman pagar sebaiknyatanaman yang mempunyai akar dalam dan kuat, menghasilkan nilaitambah bagi petani baik dari hijauan, buah maupun dari kayubakarnya.


Untuk tanaman pagar dapat dipilih jenis pohon yang berfungsisebagai sumber pakan ternak, jenis tanaman yang dapatmenghasilkan kayu bakar, atau jenis-jenis lain yang memiliki manfaatganda. Tanaman-tanaman tersebut ditanam dengan jarak yang rapat
(< 10 cm). Karena tinggi tanaman bisa mencapai 1,5 – 2 m makapemangkasan sebaiknya dilakukan 1-2 kali setahun (Agus et al., 1999).

3. Strip rumput
Teknik konservasi dengan strip rumput (grass strip) biasanyamenggunakan rumput yang didatangkan dari luar areal lahan, yangdikelola dan sengaja ditanam secara strip menurut garis kontur untukmengurangi aliran permukaan dan sebagai sumber pakan ternak. Penelitian yang dilakukan oleh Suhardjo et al. (1997),Abdurachman et al. (1982), dan Abujamin (1978), membuktikan bahwauntuk lahan dengan lereng di bawah 20% sistem ini sangat efektifmenahan partikel tanah yang tererosi dan menahan aliran permukaan.Tetapi apabila lahan mempunyai lereng di atas 20% dibutuhkantindakan konservasi lainnya seperti alley cropping atau teras bangku.
Rumput yang ditanam sebaiknya dipilih dari jenis yang berdaun vertical sehingga tidak menghalangi kebutuhan sinar matahari bagi tanamanpokok, tidak banyak membutuhkan ruangan untuk pertumbuhanvegetatifnya, mempunyai perakaran kuat dan dalam, cepat tumbuh,tidak menjadi pesaing terhadap kebutuhan hara tanaman pokok danmampu memperbaiki sifat tanah.
Faktor tumbuh tanaman rumput, jarak tanam dalam satu strip,dan jarak antar-strip sangat menentukan efektifitas pengendalianerosi. Penelitian terhadap efektifitas berbagai macam strip rumputyang dilakukan Suhardjo et al. (1997), menunjukkan bahwa tingkaterosi pada tahun pertama masih tinggi karena rumput belum tumbuh
optimal. Pertumbuhan rumput yang lebih baik pada tahun keduamampu menekan jumlah tanah tererosi antara 30-60% padakemiringan di bawah 20%. Sedimen yang tertahan lama kelamaanakan mendekati bentuk datar sehingga menciptakan bidang terasalami. Abujamin et al. (1983) melaporkan bahwa setelah 4 tahun(1976/1977 sampai dengan 1979/1980) strip rumput bahiamenghasilkan teras alami hasil endapan partikel tanah terangkutdengan ketinggian sekitar 25-30 cm, sedangkan pada strip rumputbede sekitar 50-60 cm.

Strip rumput sangat bagus jika dikombinasikan dengan usahapeternakan. Penelitian yang dilakukan oleh Watung et al. (2003) danSubagyono et al. (2004) di sub-DAS Babon, Ungaran, Jawa Tengah,menunjukkan bahwa integrasi penanaman rumput baik secara stripmaupun ditanam pada sebagian bidang olah dengan penggemukansapi terbukti memberikan alternatif yang dapat ditempuh untukmewujudkan implementasi teknologi konservasi secara berkelanjutan.Hasil pangkasan strip dapat dimanfaatkan untuk pakan ternaksedangkan kotoran ternak dapat dimanfaatkan sebagai pupukkandang. Di wilayah sentra produksi peternakan, teknik ini mudahdiadopsi oleh peternak. Walaupun tingkat kebutuhan hijauan pakanternak lebih besar daripada kontribusi pupuk kandang ke lahanpertanian, kondisi ini dapat diatasi dengan penanaman rumput secarakhusus (padang rumput). Aspek keterjangkauan lahan dari
permukiman penduduk desa juga perlu dipertimbangkan karenaseringkali strip berupa pakan ternak tersebut dicuri.

Dalam upaya lebih meningkatkan efektifitasnya dalam menahanerosi, strip rumput dapat dikombinasikan dengan mulsa.Selain bertujuan untuk menahan erosi, sistem ini juga efektif dalammempertahankan kelengasan tanah.

Strip rumput dapat dikombinasikan dengan teknik konservasisecara mekanis seperti penerapan teras. Penanaman strip rumput dibibir teras sampai tampingan teras menghasilkan pengurangan tingkaterosi 30-50% dibandingkan bila strip rumput hanya ditanam di bibir terassaja. Menurut Suhardjo et al. (1997), pada tanah Inceptisols dengancurah hujan 1.441,8 mm/musim tanam maupun Entisols dengan curahhujan 1.625,5 mm/musim tanam, strip rumput yang ditanam di bibirteras saja ternyata masih menghasilkan erosi yang tinggi yaitu 20t/ha/musim tanam.

4. Mulsa
Dalam konteks umum, mulsa adalah bahan-bahan (sisatanaman, serasah, sampah, plastik atau bahan-bahan lain) yangdisebar atau menutup permukaan tanah untuk melindungi tanah darikehilangan air melalui evaporasi. Mulsa juga dapatdimanfaatkan untuk melindungi permukan tanah dari pukulanlangsung butiran hujan sehingga mengurangi terjadinya erosi percik(splash erosion), selain mengurangi laju dan volume limpasanpermukaan (Suwardjo, 1981). Bahan mulsa yang sudah melapuk akan
menambah kandungan bahan organik tanah dan hara. Mulsa mampumenjaga stabilitas suhu tanah pada kondisi yang baik untuk aktivitasmikroorganisma.Relatif rendahnya evaporasi, berimplikasi padastabilitas kelengasan tanah.Secara umum mulsa berperan dalamperbaikan sifat fisik tanah.Pemanfaatan mulsa di lahan pertanian jugadimaksudkan untuk menekan pertumbuhan gulma.

Dalam bahasan ini, mulsa sisa tanaman atau bahan-bahan laindari tanaman yang berfungsi untuk konservasi tanah dan air diuraikan.Peran mulsa dalam menekan laju erosi sangat ditentukan oleh bahanmulsa, persentase penutupan tanah, tebal lapisan mulsa, dan dayatahan mulsa terhadap dekomposisi (Abdurachman dan Sutono, 2002).
Menurut Suwardjo et al. (1989), dalam jangka panjang olah tanahminimum dan pemberian mulsa dapat menurunkan erosi hingga dibawah ambang batas yang dapat diabaikan (tolerable soil loss).
Sebaliknya pada tanah yang diolah dan tanpa diberi mulsa, erosi terjadi makin besar.

Hasil penelitian telah membuktikan bahwa pemberian mulsamampu meningkatkan laju infiltrasi.Lal (1978) melaporkan bahwapemberian mulsa sisa tanaman sebanyak 4-6 t/ha mampumempertahankan laju infiltrasi, serta menurunkan kecepatan aliranpermukaan dan erosi pada tingkat yang masih dapat diabaikan.
Menurut Kurnia et al. (1997), mulsa jerami ditambah denganmulsa dari sisa tanaman sangat efektif dalam mengurangi erosi sertamengurangi konsentrasi sedimen dan hara yang hilang akibat erosi. Erfandi et al. (1994) melaporkan, bahwa hasil pangkasan
rumput vetiver yang dijadikan mulsa pada tahun ketiga penelitiansebanyak 5-6 t/ha mampu meningkatkan kadar C dan N tanahmasing-masing sebesar 37-70%. Dari penelitian tentang mulsa danpupuk hijau Sonosiso (Dalbergia siso) yang dilakukan oleh Haryati et al.(1990) di Desa Gondanglegi, Kabupaten Boyolali dapat disimpulkanbahwa cara pemberian pupuk hijau dengan cara dimulsakan lebihefisien/menguntungkan dibandingkan dengan cara pembenaman kedalam tanah.

Mulsa yang diberikan sebaiknya berupa sisa tanaman yang tidakmudah terdekomposisi misalnya jerami padi dan jagung dengantakaran yang disarankan adalah 6 t/ha atau lebih.Bahan mulsasebaiknya dari bahan yang mudah diperoleh seperti sisa tanamanpada areal lahan masing-masing petani sehingga dapat menghematbiaya, mempermudah pembuangan limbah panen sekaligusmempertinggi produktivitas lahan.

5. Sistem penanaman menurut strip
Penanaman menurut strip (strip cropping) adalah system pertanaman, dimana dalam satu bidang lahan ditanami tanamandengan jarak tanam tertentu dan berselang-seling dengan jenistanaman lainnya searah kontur. Misalnya penanaman jagung dalamsatu strip searah kontur dengan lebar strip 3-5 m atau 5-10 mtergantung kemiringan lahan, di lereng bawahnya ditanam kacangtanah dengan sistem sama dengan penanaman jagung, strip rumputatau tanaman penutup tanah yang lain.

Semakin curam lereng, maka strip yang dibuat akan semakinsempit sehingga jenis tanaman yang berselang-seling tampak lebihrapat. Sistem ini sangat efektif dalam mengurangi erosi hingga 70-75%(FAO, 1976) dan vegetasi yang ditanam (dari jenis legum) akanmampu memperbaiki sifat tanah walaupun terjadi pengurangan luasareal tanaman utama sekitar 30-50%.

 

Sistem ini biasa diterapkan di daerah dengan topografi berbukitsampai bergunung dan biasanya dikombinasikan dengan teknikkonservasi lain seperti tanaman pagar, saluran pembuangan air, danlain-lain. Penanaman menurut strip merupakan usaha pengaturantanaman sehingga tidak memerlukan modal yang besar.

6. Barisan sisa tanaman
Pada dasarnya, sistem barisan sisa tanaman (trash line) ini samadengan sistem strip. Sistem ini adalah teknik konservasi tanah yangbersifat sementara dimana gulma/rumput/sisa tanaman yang disiangiditumpuk berbaris.Untuk daerah berlereng biasanyaditumpuk mengikuti garis kontur. Penumpukan ini selain dapat
megurangi erosi dan menahan laju aliran permukaan juga bias berfungsi sebagai mulsa.
Ketersediaan bahan sisa tanaman harus cukup banyaksehingga penumpukannya membentuk struktur yang lebih kuat. Sisatanaman tersebut lemah dalam menahan gaya erosi air dan akancepat terdekomposisi sehingga mudah hanyut. Penggunaan kayukayupancang diperlukan untuk memperkuat barisan sisa tanaman ini.

Sistem ini cukup bagus untuk mempertahankan ketersediaan haramelalui dekomposisi bahan organik dan melindungi tanah dari bahayaerosi sampai umur tanaman <5 bulan.


7. Tanaman penutup tanah
Tanaman penutup tanah (cover crop) adalah tanaman yangbiasa ditanam pada lahan kering dan dapat menutup seluruhpermukaan tanah (Gambar 12).Tanaman yang dipilih sebagaitanaman penutup tanah umumnya tanaman semusim/tahunan darijenis legum yang mampu tumbuh dengan cepat, tahan kekeringan,dapat memperbaiki sifat tanah (fisik, kimia, dan biologi) danmenghasilkan umbi, buah, dan daun.Sebagaimana dilaporkan Lal(1978), tanaman penutup tanah mampu meningkatkan laju infiltrasi.


Tanaman penutup tanah dibedakan menjadi empat (Agus et al.,1999), yaitu: (1) tanaman penutup tanah rendah seperti centrosema(Centrosema pubescens), pueraria (Pueraria javanica) dan benguk(Mucuna sp.); (2) tanaman penutup tanah sedang seperti lamtoro(Leucaena leucocephala) dan gamal (Gliricidia sepium); (3) tanamanpenutup tanah tinggi seperti sengon (Periserianthes falcataria); dan (4)belukar lokal.

Tanaman penutup tanah rendah, dapat ditanam bersamatanaman pokok maupun menjelang tanaman pokok ditanam.Tanaman penutup tanah sedang dan tinggi pada dasarnya sepertitanaman sela dimana tanaman pokok ditanam di sela-sela tanamanpenutup tanah.Dapat juga tanaman pokok ditanam setelah tanamanpenutup tanah dipanen.

Tanaman penutup tanah dimaksudkan untuk menambahpenghasilan petani dari hasil panennya, selain itu juga untukmemperbaiki sifat tanah karena mampu menambat N dari udara dansisa tanamannya dapat dijadikan sumber bahan organik.Sebagaicontoh tanaman penutup tanah dari jenis legum seperti Mucuna sp.sangat besar kontribusinya dalam memperbaiki produktivitas tanah.Selain mampu mengurangi pengaruh keracunan Al pada tanaman,Mucuna sp. juga merupakan sumber unsur hara bagi tanaman.
Kandungan hara Mucuna sp. sebagai berikut: N=2,32%; P=0,20%; danK=1,97% (Adiningsih dan Mulyadi, 1992). Ini berarti bahwa setiappengembalian 1 t biomassa kering Mucuna sp. sebagai mulsa, makaakan diperoleh sekitar 23 kg N; 2 kg P dan 20 kg K yang setara dengan52 kg urea; 10 kg TSP, dan 39 kg KCl. Hasil ini jelas akan memberikansumbangan yang tidak sedikit bagi petani dalam memenuhikebutuhan lahannya terhadap pupuk.

8. Penyiangan parsial
Penyiangan parsial merupakan teknik dimana lahan tidakdisiangi seluruhnya yaitu dengan cara menyisakan sebagian rumputalami maupun tanaman penutup tanah (lebar sekitar 20-30 cm)sehingga di sekitar batang tanaman pokok akan bersih dari gulma.
Tanaman penutup tanah yang tidak disiangi akan berfungsi sebagaipenahan erosi. Pada dasarnya teknik ini menyerupai strip rumputdimana vegetasi gulma mampu menahan aliran permukaan danmengendapkan material terangkut. Hasil tanaman yang disiangidikembalikan ke lahan atau ditumpuk sebagai barisan sisa tanamansehingga dapat menambah bahan organik bagi tanah danmemperbaiki sifat tanah.
Teknik penyiangan yang termasuk dalam penyiangan parsialadalah:

a. Strip tumbuhan alami (natural vegetative strips = NVS)
Pada dasarnya teknik ini adalah menyisakan sebagian lahanyang tidak disiangi dan tidak ditanami sehingga rumput alami tumbuhmembentuk strip yang kurang lebih sejajar dengan garis kontur. Teknikini banyak diterapkan untuk tanaman semusim dan sudahberkembang di Mindanao Utara, Filipina (Agus et al., 2002).Meskipunteknik ini efektif mengurangi erosi, tetapi teknik ini juga mengurangiareal produktif lahan pertanian sekitar 5-15%.

b. Penyiangan sekeliling batang tanaman pokok
Teknik ini dapat diterapkan pada penyiangan dimana tanahtertutupi oleh gulma rumput maupun tanaman penutup tanah lainyang sengaja ditanam. Penyiangan dilakukan di sekeliling batangtanaman pokok dengan diameter sekitar 120 cm.
Dengan memanfatkan teknik penyiangan ini pada areal tanaman kopiumur satu tahun dengan kemiringan lereng 60% dan curah hujansebesar 1.338 mm (selama 6 bulan dari tanggal 1 Mei sampai 30Oktober 1980) tingkat aliran permukaan hanya sebesar 1,8% dari curahhujan dan erosi sebesar 1,9 t/ha. Sedangkan pada tanaman kopi umur3 tahun dengan lereng 62-63% dan umur 16 tahun dengan kelerengan46-49%, curah hujan yang sama menghasilkan aliran permukaanberturut-turut sebesar 3,4% dan 6,3% dari jumlah curah hujan dan erosiyang dihasilkan berturut-turut sebesar 1,6 dan 1,3 t/ha (Gintings, 1982dalam Agus et al, 2002). Penyiangan sekeliling batang tanaman pokokini juga dimaksudkan, untuk mencegah hama dan penyakitmenyerang tanaman pokok dengan tetap memelihara keberadaantanaman penutup tanah.


9. Penerapan pola tanam
Pola tanam adalah sistem pengaturan waktu tanam dan jenistanaman sesuai dengan iklim, kesesuaian tanah dengan jenistanaman, luas lahan, ketersediaan tenaga, modal, dan pemasaran.
Pola tanam berfungsi meningkatkan intensitas penutupan tanah danmengurangi terjadinya erosi.Biasanya petani sudah mempunyaipengetahuan tentang pola tanam yang cocok dengan keadaanbiofisik dan sosial ekonomi keluarganya berdasarkan pengalaman dankebiasaan pendahulunya.Pengalaman menunjukkan bahwa dalamsuatu usaha tani, erosi masih terjadi.Pemilihan pola tanam yang tepatdapat meningkatkan keuntungan bagi petani dan meningkatkanpenutupan tanah sehingga erosi dapat dikurangi.Misalnyapenanaman padi gogo yang disisipi jagung pada awal musim hujan,setelah panen disusul penanaman kedelai dan pada saat beraditanami benguk (Mucuna sp.).Jenis tanaman dapat lebih bervariasitergantung keinginan petani dan daya dukung lahannya.
Pertanaman majemuk yang merupakan salah satu bagiandalam pola tanam pada dasarnya merupakan sistem dimana satubidang olah ditanami lebih dari satu jenis tanaman pangan.Misalnyadalam satu bidang olah ditanami sekaligus tanaman jagung, padigogo, mukuna (benguk), dan kedelai. Sistem ini bertujuan untukmempertinggi intensitas penggunaan lahan, dan dapat mengurangirisiko gagal panen untuk salah satu tanaman, meningkatkan nilaitambah bagi petani dan juga termasuk tindakan pengendalian hamadan pengendalian erosi. Pada tahun 1974, hasil penelitian IRRImembuktikan bahwa populasi hama penggerek jagung (Ostrinianubilalis) pada penanaman tumpang sari antara jagung dan kacangtanah berada dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan denganjumlah populasi hama tersebut pada saat jagung ditanam secaramonokultur.
Dengan penerapan pertanaman majemuk, penutupan tanahakan lebih rapat sehingga mampu melindungi tanah dari pukulan airhujan secara langsung dan menahan aliran permukaan. Sistempertanaman yang termasuk sistem pertanaman majemuk adalahsistem pergiliran tanaman (crop rotation), tumpang sari (intercropping), dan tumpang gilir (relay cropping).

a. Pergiliran tanaman
Pergiliran tanaman (crop rotation) adalah sistem bercocok tanamdimana sebidang lahan ditanami dengan beberapa jenis tanamansecara bergantian. Tujuan utama dari sistem ini adalah untukmemutuskan siklus hama dan penyakit tanaman dan untuk meragamkanhasil tanaman. Pergantian tanaman ada yang dilakukan secara intensif
dimana setelah panen tanaman pertama kemudian langsung ditanamitanaman kedua dan ada pula yang dibatasi periode bera. Daerah yangmemiliki musim kering (MK) <4 bulan sangat baik untuk menerapkan system ini.

Penggunaansistem pergiliran tanaman intensif secara berurutan, antara tanamanpertama yang disusul tanaman kedua dan seterusnya mampumenekan erosi secara nyata dibandingkan lahan yang hanya diolahtanpa ditanami. Pengaruh nyata tersebut dihasilkan dari fungsitanaman sebagai pengikat tanah (nilai C koefisien tanaman = 0,371)serta penambahan bahan organik dari sisa tanaman tersebut sebagaimulsa dan pembenah tanah sehingga tahan terhadap erosi.
Penggunaan sistem ini disarankan untuk tetap menggunakan pupukdan teknik konservasi tanah, sehingga hasil tanaman dapat maksimaldan lahan yang dipergunakan dapat terjaga produktivitasnya.Dari segi konservasi tanah, pergiliran tanaman memberikanpeluang untuk mempertahankan penutupan tanah, karena tanamankedua ditanam setelah tanaman pertama dipanen.Demikianseterusnya, sehingga sepanjang tahun intensitas penutupan tanahsenantiasa dipertahankan. Kondisi ini akan mengurangi risiko tanahtererosi akibat terpaan butir-butir air hujan dan aliran permukaan.

b. Tumpang sari
Tumpang sari (intercropping) adalah sistem bercocok tanamdengan menggunakan dua atau lebih jenis tanaman yang ditanamserentak/bersamaan pada sebidang tanah. Sistem tumpang sarisebagian besar dikelola pada pertanian lahan kering yang hanya
menggantungkan air hujan sebagai sumber air utama. Sistem tumpangsari adalah salah satu usaha konservasi tanah yang efektif dalammemanfaatkan luas lahan.Tanaman yang ditanam dapat berupajagung dengan kacang tanah, jagung dengan kedelai, dansebagainya.Tanaman tersebut dapat berupa tanaman penambatnitrogen, berperakaran dalam maupun dangkal yang pada prinsipnyasaling menguntungkan.


Kerapatan penutupan tanah akan sangat menguntungkan untukpencegahan erosi, mempertahankan kadar lengas tanah karenaevaporasi terhambat, memperbaiki kondisi tanah karena aktivitasperakaran mempertinggi bahan organik tanah. Hasil ganda yangdiperoleh dalam satu luasan lahan dapat meningkatkan pendapatanpetani. Setelah tanaman dalam tumpang sari tersebut dipanensebaiknya tanah langsung ditanami dengan tanaman pangan lainataupun tanaman penutup tanah yang mampu tumbuh cepat untukmelindungi tanah, sehingga erosi dapat dikurangi.

c. Tumpang gilir
Tumpang gilir (relay cropping) adalah cara bercocok tanamdimana satu bidang lahan ditanami dengan dua atau lebih jenistanaman dengan pengaturan waktu panen dan tanam. Pada system ini, tanaman kedua ditanam menjelang panen tanaman musimpertama.Contohnya adalah tumpang gilir antara tanaman jagungyang ditanam pada awal musim hujan dan kacang tanah yangditanam beberapa minggu sebelum panen jagung.Sistem iniditerapkan untuk mempertinggi intensitas penggunaan lahan.

Penanaman tanaman kedua sebelum tanaman pertama dipanendimaksudkan untuk mempercepat penanamannya dan masihmendapatkan air hujan yang cukup untuk pertumbuhan danproduksinya.Tanaman pertama tidak terlalu terpengaruh akibatkompetisi tanaman kedua karena tanaman pertama telah melewatifase pertumbuhan vegetatifnya.Begitu pula dengan tanaman keduayang mendapatkan air dan hara yang cukup sehingga dapatmemaksimalkan pertumbuhan vegetatifnya.

Dari segi konservasi, penutupan tanah yang rapat padatumpang gilir mempunyai pengaruh yang cukup baik dalam menahan erosi. Penerapan teknik ini perlu diiringi dengan penerapanteknik konservasi tanah yang lain seperti penambahan bahan organik,penutup tanah dan jika perlu diterapkan tindakan sipil teknis.
Mengingat intensitas tanaman yang tinggi, pemupukan juga perludilaksanakan. Penambahan sisa tanaman yang dijadikan mulsa akanmengoptimalkan kemampuan tanah dalam menahan erosi selainmenyediakan kebutuhan tanaman akan hara.

Pola tanam yang diintroduksikan harus mampu meningkatkanefektivitas penggunaan lahan dan penggunaan air melaluipertimbangan biofisik lahan dan sosial ekonomi suatu wilayah.
Perbedaan pola tanam menghasilkan komoditas serta intensitaspertanaman yang berbeda.Pola tanam juga diharapkan dapatmeningkatkan efisiensi penggunaan hara terutama jika pola tanamyang diintroduksi mencakup tanaman-tanaman dengan kedalamanperakaran yang berbeda.

 

 

Salam

Dwi Hartoyo,SP