Translate :
 
 
 
 
 
 
 

JEJAK LETUSAN GUNUNG MERAPI
( Update 2010 dan sebelumnya )

 

            Gunung Merapi mencakup beberapa kabupaten yaitu Klaten, Boyolali, Magelang (Jawa Tengah), dan Sleman (DI Yogyakarta). Terletak pada koordinat 7°32’30? LS 110°26’30? BT. Letaknya cukup dekat dengan Kota Yogyakarta dan masih terdapat desa-desa di lerengnya sampai ketinggian 1700 m. Pada tahun 2010 Gunung Merapi yang berada di Provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta, Indonesia kembali menunjukkan taringnya dengan mengeluarkan awan panas ( " Wedus Gembel " ). Aktifitas Gunung Merapi tercatat mulai beraktifitas pada bulan Oktober 2010 dan Merapi meletus, pada 26 Oktober 2010. Letusan bersifat eksplosif yang cukup besar kembali terjadi pada 3 dan 4 November 2010. Memasuki hari ke-10, aktivitas vulkanik Gunung Merapi tetap tinggi, ditandai dengan gempa, tremor, guguran lava, dan awan panas yang terus berlanjut.

Sejak meletus pertama pada 26 Oktober hingga letusan besar berikutnya pada 5 November, Merapi telah memuntahkan sekitar 100 juta meter kubik material. Kirbani memperkirakan, jumlah itu hanya sepersepuluh dari material di dalam kantong magma yang mencapai 1 miliar meter kubik. Jika digunakan hitungan linier dengan asumsi letusan Merapi akan tetap seperti sekarang, diperkirakan butuh waktu 20 minggu atau lima bulan untuk mengeluarkan semua material yang masih tersisa.

Pada letusan pada tahun 2010 ini Badan Meteorologi dan Geofisika sampai pada bulan November telah menaikkan jarak aman dari 15 Km menjadi 25 Km dari puncak Gunung Merapi. Letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 ini termasuk letusan yang terbesar selama kurun waktu 20 tahun terakhir. Pada letusan Gunung Merapi tahun 2010 ini telah memakan korban harta benda dan korban nyawa adapun berdasarkan data yang berhasil dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana hingga Sabtu (13/11/2010) siang, sudah tercatat 240 orang meninggal.Termasuk diantaranya adalah Juru Kunci Merapi " Mbah Maridjan " . Secara lebih rinci, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memaparkan, dari 240 korban yang meninggal akibat letusan Gunung Merapi, jumlah terbanyak berasal dari Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, dengan jumlah 186 orang. Korban akibat luka bakar 157 orang dan non-luka bakar 29 orang.
Gambar: Letusan G.Merapi 2010
Korban-korban meninggal lainnya berasal dari Klaten, Boyolali, dan Magelang. Di Klaten, terdata lima orang meninggal akibat luka bakar dan 23 orang lainnya meninggal akibat non-luka bakar.
Sementara itu, tujuh orang meninggal di Boyolali dan 19 orang meninggal di Magelang. Semuanya adalah korban meninggal di kedua kabupaten tersebut dengan akibat non-luka bakar.
Saat ini ada 453 korban Merapi yang masih harus dirawat di rumah sakit yang tersebar di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pengungsi saat ini mencapai 396.407 orang dengan 637 titik pengungsian.

Gambar: Korban Letusan tahun 2010
Menurut pengamatan team SAR banyaknya korban pada letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 sebenarnya bisa di minimalisasi. Masyarakat yang menjadi korban Marapi kebanyakan adalah warga yang telah mengungsi dan pada malam harinya mereka kembali ke kampungnya dengan alasan keamanan harta bendanya ( rumah dan hewan ternaknya ) akibatnya saat terjadi hembusan Awan Panas mereka tidak dapat menghindarinya. Berdasarkan kejadian-kejadian tersebut pemerintah pusat ( Presiden Susilo Bambang Yoedonyono ) mengeluarkan pernyataan yang direliase melalu media elektronik bahwa Pemerintah akan membeli seluruh hewan ternak yang ada di lereng Gunung Merapi. Walaupun demikian masyarakat lereng merapi tidak percaya akan janji pemerintah tersebut. Itulah sebabnya masyarakat lereng Gunung Merapi yang masuk daerah tidak aman tetap kembali ke desanya terutama pada malam hari. Peristiwa ini hendaknya menjadi pelajaran bagi Pemerintah (Pemerintah Pusat dan Daerah) untuk mengantisipasi kembalinya warga masyarakat kekampungnya hanya untuk menjaga harta bendanya. Banyak pernyataan yang menyatakan bahwa mereka lebih peduli pada hewan ternaknya daripada nyawanya sendiri.

Bagi masyarakat disekitar Gunung Merapi, Gunung Merapi membawa berkah, sebagai tempat penambangan material pasir, sedangkan bagi pemerintah daerah, Gunung Merapi menjadi obyek wisata bagi para wisatawan sehingga saat ini gunung ini dijadikan kawasan Taman Nasional Gunung Merapi. Gunung Merapi memiliki ketinggian 2.968 m atau sekitar 9.737 kaki dan merupakan tipe gunung stratovulkano. Dampak positf dari letusan gunung merapi adalah debunya yang menyuburkan tanah dalam beberapa tahun kedepan. Apa saja yang ditanam oleh masyarakat lereng merapi dapat tumbuh dengan subur dan tentu menghasilkan bagi masyarakat petani. Demikian juga petani peternak juga diuntungkan karena melimpahnya pakan ternak. Masyarakat sekitar Gunung Merapi merasakan lebih banyak untungnya dibandingkan dengan kerugiannya. Bayangkan saja berdasarkan pengamatan beberapa tahun Gunung Merapi melakukan aktivitasnya pada siklus pendek setiap 2-5 tahun; anggap saja rata-rata 4 tahun. Maka masyarakat di sekitar lereng Gunung Merapi dapat memanfaatkan / mengeksploitasi hasil alam gunung merapi sekitar 3 tahun 8 bulan, dan waktu 2 bulan untuk mengungsi.
Sebenarnya kalau mau untung maka masyarakat lereng gunung merapi harusnya sadar akan hal ini. Lebih banyak untungnya dibandingkan dengan kerugiannya. Tetapi kenapa mereka tidak mau mengungsi hanya selama 2 bulan saja, atau boleh dibilang Gunung Merapi memberi kesempatan kepada masyarakat lereng merapi untuk menikmati hasilnya selama 3 tahun 8 bulan tersebut dengan rekreasi ( turun gunung ) selama 2 bulan.

Sebenarnya ini adalah sebuah solusi mengatasi menghadapi ganasnya Gunung Merapi. Andaikata pemerintah dapat membaca ini bukankah ini merupakan peluang usaha travel ..... he.... he, tetapi benar loo. Andai saja masyarakat mau mempelajarinya dengan memperhatikan siklus Gunung Merapi, tetapi paling tidak ada tanda-tanda pendahuluan. Masyarakat lereng gunung merapi bisa kemana saja, naik haji kali dalam masa -masa 2 bulan tersebut, atau ke pulau Bali bersama-sama, asik kan....... ( ini hanya usulan saja.... andai saja usulan ini diterima bukan kami yang menikmati tetapi masyarakat sekitar lereng merapi ). Atau paling tidak pemerintah bisa memfasilitasi.

 

JEJAK LETUSAN GUNUNG MERAPI

Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali. Padahal sesungguhnya, Gunung Merapi adalah yang termuda dalam kumpulan gunung berapi di bagian selatan Pulau Jawa. Tercatat Gunung Merapi mulai tampil sebagai gunung api sejak tahun 1006, ketika itu tercatat sebagai letusannya yang pertama (Data Dasar Guungapi Indonesia, 1979). Sampai Letusan Februari 2001, sudah tercatat meletus sebanyak 82 kejadian. Secara rata-rata Merapi meletus dalam siklus pendek yang terjadi setiap antara 2 – 5 tahun, sedangkan siklus menengah setiap 5 – 7 tahun. Siklus terpanjang pernah tercatat setelah mengalami istirahat selama >30 tahun, terutama pada masa awal keberadaannya sebagai gunungapi. Memasuki abad 16 catatan kegiatan Merapi mulai kontinyu dan terlihat bahwa, siklus terpanjang pernah dicapai selama 71 tahun ketika jeda antara tahun 1587 dan kegiatan 1658.

Gunung ini terletak di zona subduksi, dimana Lempeng Indo-Australia terus bergerak ke bawah Lempeng Eurasia. Letusan di daerah tersebut berlangsung sejak 400 tahun tahun lalu, dan sampai 10 ribu tahun lalu jenis letusannya adalah efusif. Setelah itu, letusannya menjadi eksplosif, dengan lava kental yang menimbulkan kubah-kubah lava.

Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar antara lain di tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930.

Merapi yang kita kenal adalah Merapi Baru karena sebenarnya proses pembentukan Merapi berlangsung ribuan tahun lalu. Diawali masa Pra-Merapi lebih kurang 400.000 tahun lalu yang disebut Gunung Bibi. Gunung Bibi berumur 700.000 tahun, terletak di lereng timur Merapi yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Boyolali. Masyarakat di sekitar Gunung Bibi meyakini, karena usia Gunung Bibi lebih tua dari Merapi, letusan Merapi tidak akan mengarah ke timur.

Pembentukan Merapi berlanjut dengan Merapi Pertengahan pada 8.000-20.000 tahun lalu, ditandai beberapa lelehan lava andesitik yang membentuk bukit Batu Lawang dan Gajah Mungkur. Pada fase ini aktivitas Merapi dicirikan dengan letusan efusif dan eksplosif, termasuk letusan eksplosif awan panas ke arah barat yang mengakibatkan terjadinya kawah Pasar Bubrah.

Merapi Baru terbentuk 2.000 tahun lalu hingga sekarang, ditandai dengan pembentukan kerucut Merapi di dalam kawah Pasar Bubrah. Selama periode Merapi baru, terjadi beberapa kali letusan eksplosif. Letusan besar Merapi diperkirakan pernah menutup Candi Sambisari di Kalasan, Yogyakarta, berjarak sekitar 23 km dari puncak gunung. Letusan Merapi bertipe plinian, dengan ciri tekanan gas sangat kuat karena pengaruh jenis magma yang kental dan bersifat asam, membentuk kolom letusan vertikal dengan ketinggian bisa mencapai 25 kilometer.

Letusan terbesar yang terdokumentasikan secara terbatas adalah pada tahun 1872. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Sukhyar menyamakan letusan tahun 2010 dengan letusan tahun 1872 ini dari sisi lama terjadinya letusan. Puncak erupsi tahun 1872 berlangsung nonstop selama lima hari (15-20 April). Suara letusan yang dikatakan terjadi tiba-tiba itu terdengar hingga Karawang (Jawa Barat) dan Pulau Madura (Jawa Timur). Volume muntahan material mencapai 100 juta meter kubik, dengan lontaran kolom asap setinggi 9 km.

Letusan tersebut menciptakan kawah berdimensi 480 x 600 x 500 meter, yang dinamai Mesjidanlama. Awan panas letusan menghancurkan seluruh desa di ketinggian di atas 1.000 meter dari permukaan laut. Tidak tercatat berapa jumlah korban jiwa saat itu.

Dari sisi kekuatan letusan, erupsi tahun ini masih kalah jauh daripada letusan tahun 1870. Indeks letusan vulkanik (volcanic explosivity index) Merapi kala itu mencapai skala 8, atau yang tertinggi untuk ukuran Merapi, sedangkan erupsi Merapi tahun 2010 ini masuk skala 4.

 

SEJARAH GEOLOGI GUNUNG MERAPI

Hasil penelitian stratigrafi menunjukkan sejarah terbentuknya Merapi sangat kompleks. Wirakusumah (1989) membagi Geologi Merapi menjadi 2 kelompok besar yaitu Merapi Muda dan Merapi Tua. Penelitian selanjutnya (Berthomier, 1990; Newhall & Bronto, 1995; Newhall et.al, 2000) menemukan unit-unit stratigrafi di Merapi yang semakin detil. Menurut Berthommier,1990 berdasarkan studi stratigrafi, sejarah Merapi dapat dibagi atas 4 bagian :

PRA MERAPI (+ 400.000 tahun lalu)

Disebut sebagai Gunung Bibi dengan magma andesit-basaltik berumur ± 700.000 tahun terletak di lereng timur Merapi termasuk Kabupaten Boyolali. Batuan gunung Bibi bersifat andesit-basaltik namun tidak mengandung orthopyroxen. Puncak Bibi mempunyai ketinggian sekitar 2050 m di atas muka laut dengan jarak datar antara puncak Bibi dan puncak Merapi sekarang sekitar 2.5 km. Karena umurnya yang sangat tua Gunung Bibi mengalami alterasi yang kuat sehingga contoh batuan segar sulit ditemukan.

MERAPI TUA (60.000 – 8000 tahun lalu)

Pada masa ini mulai lahir yang dikenal sebagai Gunung Merapi yang merupakan fase awal dari pembentukannya dengan kerucut belum sempurna. Ekstrusi awalnya berupa lava basaltik yang membentuk Gunung Turgo dan Plawangan berumur sekitar 40.000 tahun. Produk aktivitasnya terdiri dari batuan dengan komposisi andesit basaltic dari awanpanas, breksiasi lava dan lahar.

MERAPI PERTENGAHAN (8000 – 2000 tahun lalu)

Terjadi beberapa lelehan lava andesitik yang menyusun bukit Batulawang dan Gajahmungkur, yang saat ini nampak di lereng utara Merapi. Batuannya terdiri dari aliran lava, breksiasi lava dan awan panas. Aktivitas Merapi dicirikan dengan letusan efusif (lelehan) dan eksplosif. Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan “de¬bris-avalanche” ke arah barat yang meninggalkan morfologi tapal-kuda dengan panjang 7 km, lebar 1-2 km dengan beberapa bukit di lereng barat. Pada periode ini terbentuk Kawah Pasarbubar.

MERAPI BARU (2000 tahun lalu – sekarang)

Dalam kawah Pasarbubar terbentuk kerucut puncak Merapi yang saat ini disebut sebagai Gunung Anyar yang saat ini menjadi pusat aktivitas Merapi. Batuan dasar dari Merapi diperkirakan berumur Merapi Tua. Sedangkan Merapi yang sekarang ini berumur sekitar 2000 tahun. Letusan besar dari Merapi terjadi di masa lalu yang dalam sebaran materialnya telah menutupi Candi Sambisari yang terletak ± 23 km selatan dari Merapi. Studi stratigrafi yang dilakukan oleh Andreastuti (1999) telah menunjukkan bahwa beberapa letusan besar, dengan indek letusan (VEI) sekitar 4, tipe Plinian, telah terjadi di masa lalu.
Letusan besar terakhir dengan sebaran yang cukup luas menghasilkan Selokopo tephra yang terjadi sekitar sekitar 500 tahun yang lalu. Erupsi eksplosif yang lebih kecil teramati diperkirakan 250 tahun lalu yang menghasilkan Pasarbubar tephra. Skema penampang sejarah geologi Merapi menurut Berthommier, 1990

Sejarah letusan gunung Merapi mulai dicatat (tertulis) sejak tahun 1768. Namun demikian sejarah kronologi letusan yang lebih rinci baru ada pada akhir abad 19. Ada kecenderungan bahwa pada abad 20 letusan lebih sering dibanding pada abad 19. Hal ini dapat terjadi karenapencatatan suatu peristiwa pada abad 20 relatif lebih rinci. Pemantauan gunungapi juga baru mulai aktif dilakukan sejak awal abad 20. Selama abad 19 terjadi sekitar 20 letusan, yang berarti interval letusan Merapi secara rata-rata lima tahun sekali. Letusan tahun 1872 yang dianggap sebagai letusan terakhir dan terbesar pada abad 19 dan 20 telah menghasilkan Kawah Mesjidanlama dengan diameter antara 480-600m. Letusan berlangsung selama lima hari dan digolongkan dalam kelas D. Suara letusan terdengar sampai Kerawang, Madura dan Bawean. Awanpanas mengalir melalui hampir semua hulu sungai yang ada di puncak Merapi yaitu Apu, Trising, Senowo, Blongkeng, Batang, Woro, dan Gendol. Awanpanas dan material produk letusan menghancurkan seluruh desa-desa yang berada di atas elevasi 1000m. Pada saat itu bibir kawah yang terjadi mempunyai elevasi 2814m (;bandingkan dengan saat ini puncak Merapi terletak pada elevasi 2968m). Dari peristiwa-peristiwa letusan yang telah lampau, perubahan morfologi di tubuh Gunung dibentuk oleh lidah lava dan letusan yang relatif lebih besar. Gunung Merapi merupakan gunungapi muda. Beberapa tulisan sebelumnya menyebutkan bahwa sebelum ada Merapi, telah lebih dahuiu ada yaitu Gunung Bibi (2025m), lereng timurlaut gunung Merapi. Namun demikian tidak diketahui apakah saat itu aktivitas vulkanik berlangsung di gunung Bibi. Dari pengujian yang dilakukan, G. Bibi mempunyai umur sekitar 400.000 tahun artinya umur Merapi lebih muda dari 400.000 tahun. Setelah terbentuknya gunung Merapi, G. Bibi tertimbun sebagian sehingga saat ini hanya kelihatan sebagian puncaknya. Periode berikutnya yaitu pembentukan bukit Turgo dan Plawangan sebagai awal lahirnya gunung Merapi. Pengujian menunjukkan bahwa kedua bukit tersebut berumur sekitar maksimal 60.000 tahun (Berthomrnier, 1990). Kedua bukit mendominasi morfologi lereng selatan gunung Merapi.

Pada elevasi yang lebih tinggi lagi terdapat satuan-satuan lava yaitu bukit Gajahmungkur, Pusunglondon dan Batulawang yang terdapat di lereng bagian atas dari tubuh Merapi. Susunan bukit-bukit tersebut terbentuk paling lama pada, 6700 tahun yang lalu (Berthommier,1990). Data ini menunjukkan bahwa struktur tubuh gunung Merapi bagian atas baru terbentuk dalam orde ribuan tahun yang lalu. Kawah Pasarbubar adalah kawah aktif yang menjadi pusat aktivitas Merapi sebelum terbentuknya puncak.

Diperkirakan bahwa bagian puncak Merapi yang ada di atas Pasarbubar baru terbentuk mulai sekitar 2000 tahun lalu. Dengan demikian jelas bahwa tubuh gunung Merapi semakin lama semakin tinggi dan proses bertambahnya tinggi dengan cepat nampak baru beberapa ribu tahun lalu. Tubuh puncak gunung Merapi sebagai lokasi kawah aktif saat ini merupakan bagian yang paling muda dari gunung Merapi. Bukaan kawah yang terjadi pernah mengambil arah berbeda-beda dengan arah letusan yang bervariasi. Namun demikian sebagian letusan mengarah ke selatan, barat sampai utara. Pada puncak aktif ini kubah lava terbentuk dan kadangkala terhancurkan oleh letusan. Kawah aktif Merapi berubah-ubah dari waktu ke waktu sesuai dengan letusan yang terjadi. Pertumbuhan kubah lava selalu mengisi zona-zona lemah yang dapat berupa celah antara lava lama dan lava sebelumnya dalam kawah aktif Tumbuhnya kubah ini ciapat diawali dengan letusan ataupun juga sesudah letusan. Bila kasus ini yang terjadi, maka pembongkaran kubah lava lama dapat terjadi dengan membentuk kawah baru dan kubah lava baru tumbuh dalam kawah hasil letusan. Selain itu pengisian atau tumbuhnya kubah dapat terjadi pada tubuh kubah lava sebelumnya atau pada perbatasan antara dinding kawah lama dengan lava sebelumnya. Sehingga tidak mengherankan kawahkawah letusan di puncak Merapi bervariasi ukuran maupun lokasinya. Sebaran hasil letusan juga berpengaruh pada perubahan bentuk morfologi, terutama pada bibir kawah dan lereng bagian atas. Pusat longsoran yang terjadi di puncak Merapi, pada tubuh kubah lava biasanya pada bagian bawah yang merupakan akibat dari terdistribusikannya tekanan di bagian bawah karena bagian atas masih cukup kuat karena beban material.

Lain halnya dengan bagian bawah yang akibat dari desakan menimbulkan zona-zona lemah yang kemudian merupakan pusat-pusat guguran. Apabila pengisian celah baik oleh tumbuhnya kubah masih terbatas jumlahnya, maka arah guguran lava masih dapat terkendali dalam celah yang ada di sekitarnya. Namun apabila celah-celah sudah mulai penuh maka akan terjadi penyimpangan-penyimpangan tumbuhnya kubah. Sehingga pertumbuhan kubah lava yang sifat menyamping (misal, periode 1994 – 1998) akan mengakibatkan perubahan arah letusan. Perubahan ini juga dapat terjadi pada jangka waktu relatif pendek dan dari kubah lava yang sama. Pertumbuhan kubah lava ini berkembang dari simetris menjadi asimetris yang berbentuk lidah lava. Apabila pertumbuhan menerus dan kecepatannya tidak sama, maka lidah lava tersebut akan mulai membentuk morfologi bergelombang yang akhirnya menjadi sejajar satu sama lain namun masih dalam satu tubuh. Alur pertumbuhannya pada suatu saat akan mencapai titik kritis dan menyimpang menimbulkan guguran atau longsoran kubah. Kronologi semacam ini teramati pada th 1943 (April sampai Mei 1943).

enumpukan material baru di daerah puncak akibat dari pertumbuhan kubah terutama terlihat dari perubahan ketinggian maksimum dari puncak Merapi. Beberapa letusan yang dalam sejarah telah mengubah morfologi puncak antara lain letusan periode 1822-1823 yang menghasilkan kawah berdiameter 600m, periode 1846 – 1848 (200m), periode 1849 (250 – 400m), periode 1865 – 1871 (250m), 1872 – 1873 (480 – 600 m), 1930, 1961.

DATA PERISTIWA LETUSAN GUNUNG MERAPI

AKTIVITAS GUNUNG MERAPI
KETERANGAN
Oktober 2010 Letusan terbesar pada 26 Okober 2010 dan 3-4 November 2010
Jumlah korban meninggal 240 orang karena wedus gembel / awan panas
Jarak aman mencapai 25 Km dari puncak Gunung Merapi
Jumlah pengungsi mencapai 396.407 orang dengan 637 titik pengungsian
Akhir November keadaan normal dan kondusif
Pada bulan Desember 2010 dihebohkan oleh lahar dingin Merapi
19 Mei 2008 erupsi pada kawah
bersifat eksplosif
15 Mei 2006 Maret 2006
04 Juni 2006
erupsi pada kawah
eksplosif
aliran piroklastik
aliran lava
kubah lava mengalami ekstrusi
merusak lahan pertanian, perumahan warga
volume lava lebih dari 4 x 106 meter kubik
Korban Jiwa 2 orang
10 Februari 2001 Tidak ada korban jiwa
Gunung ini kembali mengeluarkan guguran kubah lava yang membentuk awan panas. Arah guguran pada waktu itu ke selatan-barat daya. Kepulan wedus gembel-nya terlihat dari Kecamatan Depok yang berjarak 25 kilometer dari puncak
22 November 1994 Merapi mengeluarkan wedus gembel-nya ke arah Kali Boyong, menelan 67 korban manusia
20 Januari 1992 Volume lava lebih dari 1,1 x 107 meter persegi
10 Oktober 1986 erupsi kawah
eksplosif
aliran lava
kubah lava mengalami ekstrusi
banjir lahar
Volume lava 6,8 X 106 meter kubik
1984 kubah lava jebol
banjir lahar dingin
6 Oktober 1972 Lava Volume: 3 x 107 m3
Tephra Volume: 2.1 x 107 m3
banjir lahar
longsoran material
Januari 1971 erupsi kawah
12 Januari 1967 Lava Volume: 1.1 x 107 m3
Tephra Volume: 1.3 x 107 m3
erupsi kawah, ekslosif
kawah eksentrik
11 April 1961 Aktivitas terhenti 28 Novermber 1961
erupsi bersifat ekslosif
ekstrusi kubah lava
banjir lahar
Lava Volume: 1.3 x 107 m3
Tephra Volume: 4.0 x 107 m3
2 Maret 1953 Aktivitas betul-betul berhenti pada Desember 1958
Lava Volume: 9.5 x 106 m3
Tephra Volume: 1.5 x 107 m3
Erupsi eksplosif
Ledakan preatik
ekstrusi kubah lava
banjir lahar
29 Sept 1948 Berakhir Desember 1948
Lava Volume: 1 x 106 m3
erupsi kawah, eksplosif
ekstrusi kubah lava
guguran lava
April sampai Mei 1943 Pertumbuhan kubah lava ini berkembang dari simetris menjadi asimetris yang berbentuk lidah lava. Apabila pertumbuhan menerus dan kecepatannya tidak sama, maka lidah lava tersebut akan mulai membentuk morfologi bergelombang yang akhirnya menjadi sejajar satu sama lain namun masih dalam satu tubuh. Alur pertumbuhannya pada suatu saat akan mencapai titik kritis dan menyimpang menimbulkan guguran atau longsoran kubah.
30 Mei 1942 Berakhir Mei 1945
Lava Volume: 4 x 106 m3
Tephra Volume: 1.7 x 106 m3
13 Des 1939 Berakhir September 1940
erupsi eksplosif
banjir lahar
Lava Volume: 4 x 106 m3
1 Okt 1933 Berakhir April 1935
erupsi ekspolosif
guguran lava
banjir lahar
25 Nov 1930

Berakhir September 1931
Lava Volume: 2.6 x 107 m3
Tephra Volume: 1.7 x 106 m3
letusan celah radial
guguran lava
banjir lahar
Letusan yang disebabkan hancurnya kubah lava dan memunculkan awan panas sejauh 13 kilometer juga terjadi pada 1930. Letusan ini mengubur 13 desa, merenggut jiwa 1.369 orang dan 2.100 ternak. Endapan lahar mencapai ketebalan 10 meter.

10 Sep 1924 Berakhir dua hari kemudian.
Erupsi biasa
Sep 1923 Berakhir November tahun yang sama
18 Februari 1922 Berakhir Agustus 1922
Lava Volume: 1 x 106 m3
Central vent eruption
Explosive eruption
Lava dome extrusion
Mudflow (lahar)
25 Juli 1920 Berakhir Februari 1921
Tephra Volume: 8.3 x 106 m3
Central vent eruption
Explosive eruption
Pyroclastic flow
Lava dome extrusion
Januari 1918 Central vent eruption
Explosive eruption
28 Maret 1951 Berakhir 15 Mei 1915
Central vent eruption
Explosive eruption
Lava dome extrusion
1911 terbentuk kubah barat
1 Februari 1909 Berakhir Mei 1913
Lava Volume: 8 x 106 m3
Terjadi di kubah barat
Central vent eruption
Explosive eruption
Pyroclastic flow
Lava flow
Lava dome extrusion
1908 Data tidak diketahui
26 Januari 1906 Berakhir 17 Februari 1907
Lava Volume: 1 x 107 m3
Tephra Volume: 5 x 106 m3
Pada sisi Merapi di ketinggian 2.600 m
Central vent eruption
Flank (excentric) vent
Explosive eruption
Pyroclastic flow
Lava flow
Lava dome extrusion
Desember 1902 Juni 1904
Lava Volume: 2.5 x 106 m3
Tephra Volume: 3.3 x 106 m3
Central vent eruption
Explosive eruption
Pyroclastic flow(s)
Lava flow(s)
Lava dome extrusion
Fatalities
Damage
Juli 1883-November 1884 terbentuk sebuah doma atau kubah. Bagian barat kubah tersebut kemudian dihancurkan pada tahun 1888.
1822 Jangkauan awan panas mencapai kawasan sejauh 10-15 kilometer, merata di Kali Blongkeng, Senowo, Apu, Trising, Gendol, dan Woro, termasuk wilayah yang sekarang menjadi Lapangan Golf Cangkringan.
1006

letusan-letusan dahsyat Merapi pada periode itu juga diyakini telah memaksa Kerajaan Mataram Hindu yang sebelumnya berpusat di Jawa Tengah-DI Yogyakarta pindah ke Jawa Timur. Reinout Willem van Bemmelen, ahli geologi Belanda, menyebutkan angka tahun 1006 sebagai tahun letusan besar Merapi yang mendorong perpindahan pusat Kerajaan Mataram Hindu. Bahkan, ia mengajukan hipotesis bahwa letusan itulah yang mengubur Candi Borobudur yang berjarak 30 kilometer di barat Merapi.
Walaupun Belakangan terdapat bukti bukti baru bahwa letusan Gunung merapi sekitar 1016 dan perpindahan Mataram ke Jawa Timur terjadi pada tahun 928 Masehi

Akibat letusan ini sebagian puncak runtuh dan longsor ke arah barat daya, tertahan oleh Perbukitan Menoreh, kemudian membentuk gundukan-gundukan bukit yang dikenal sebagai Gendol Hills.

3 Februari 1902 Central vent eruption
Explosive eruption
1890 Sebelum Masehi
(Tanggal berdasar teknik radiokarbon)
Central vent eruption
Explosive eruption
Pyroclastic flow
2910 Sebelum Masehi
(Tanggal berdasar teknik radiokarbon)
Central vent eruption
Explosive eruption
Pyroclastic flow
4690 Sebelum Masehi
(Tanggal berdasar teknik radiokarbon)
Central vent eruption
Explosive eruption
Pyroclastic flow
7310 Sebelum Masehi
(Tanggal berdasar teknik radiokarbon)
Central vent eruption
Explosive eruption
Pyroclastic flow
8780 Sebelum Masehi
(Tanggal berdasar teknik radiokarbon)
Letusan Merapi Tua pertama kali diketahui
Sumber: 1. National Museum of Natural History, Wikipedia
             2. Direktorat Vulkanologi Data Dasar Gunung api Indonesia 1979, B. Voight, R.Sukhyar dan A.D.                   Wirakusumah Journal of volcanology and geothermal research Volume 100, 2000, J.A. Katili,                    SupartoS. Pemantauan Gunungapi di Indonesia dan Filipina, 1995
             3. Semoga artikel ini bermanfaat.

 

salam
disarikan oleh

Dwi Hartoyo,SP

 

 

REFERENSI
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/bicara_fakta/2010/10/22/6/-Letusan-Merapi-Sepanjang-Zaman

http://ms.wikipedia.org/wiki/Gunung_Merapi_(Jawa_Tengah)

http://eka.web.id/sejarah-letusan-gunung-merapi.html

http://www.arthagrahapeduli.org/index.php?option=com_content&view=article&id=657%3Asejarah-letusan-merapi&catid=40%3Aumum&Itemid=54&lang=in

http://www.mail-archive.com/keluarga-islam@yahoogroups.com/msg06097.html

http://kikiwikiw.co.cc/2010/10/sejarah-letusan-gunung-merapi/

http://blogofgeo.wordpress.com/2010/10/25/tentang-gunung-merapi-dan-sejarah-letusannya/

http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Merapi

http://www.republika.co.id/berita/trendtek/sains/10/11/05/144806-inilah-letusanletusan-merapi-terheboh-dalam-sejarah

http://www.beritajatim.com/detailnews.php/8/Peristiwa/2010-11-05/82997/Inilah_Sejarah_Gunung_Merapi

http://bestfeed.co.cc/sejarah-gunung-merapi

http://unik.supericsun.com/11-letusan-gunung-berapi-paling-dahsyat-sepanjang-masa

http://bestfeed.co.cc/inilah-letusan-dasyat-merapi

http://regional.kompas.com/read/2010/11/12/11015698/Letusan.yang.Mengubah.Sejarah