Translate :
 
 
 
 
 
 
 

SEPUTAR KETELA POHON
TEKNIK BUDIDAYA KETELA POHON
(Manihot utilissima Pohl.)

 

Terima kasih untuk sahabat kami " Pratomo " yang telah menyarankan kepada kami untuk membuat artikel mengenai tanaman Ketela Pohon; semoga tulisan ini dapat bermanfaat.
Kabupaten Bondowoso dengan produk unggulannya adalah tape. Bahan baku utama tape adalah ketela pohon ( Manihot utilissima Pohl ). Berdasarkan topo grafi dan ketinggian Kota Bondowoso sangat sesuai untuk ditanami ketela pohon. Apabila anda kebetulan singgah atau mampir ke Kabupaten Bondowoso maka jangan lupa membawa oleh oleh tape.


Gambar Hamparan Tanaman Ketela Pohon

Harga bahan bakar minyak (BBM) di pasar dunia terus naik dan akhir-akhir ini melambung cukup tinggi. Bagi Indonesia, kenaikan harga BBM akan menguras lebih banyak devisa karena sebagian besar kebutuhan BBM nasional dipenuhi dari impor. Untuk menekan laju impor BBM, pemerintah telah men canangkan program pemanfaatan sumber energi alternatif.
Kebijakan ini antara lain tertuang dalam Peraturan Presiden No. 5 tahun 2006 tentang konsumsi energi biofuel lebih dari 5% pada tahun 2025, dan Instruksi Presiden No.1 tahun 2006 kepada Menteri Pertanian tentang percepatan penyediaan bahan baku biofuel atau lebih dikenal dengan nama Bio Ethanol. Di antara beberapa jenis BBM, premium cukup dominan penggunaannya sebagai bahan bakar transportasi nasional. Berbagai penelitian menunjukkan penggunaan untuk bahan campuran premium hingga kandungan 20% oktannya 10% lebih tinggi dibandingkan dengan premium murni dan tidak mempengaruhi kinerja mesin kenderaan. Dari beberapa sumber bioethanol, ubikayu potensial digunakan sebagai bakan baku karena dapat diproduksi dalam jumlah yang besar di berbagai agroekosistem.

1. SEJARAH SINGKAT
Ubi jalar atau ketela rambat atau "sweet potato" diduga berasal dari Benua Amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi jalar adalah Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika bagian tengah. Nikolai Ivanovich Vavilov, seorang ahli botani Soviet, memastikan daerah sentrum primer asal tanaman ubi jalar adalah Amerika Tengah. Ubi jalar mulai menyebar ke seluruh dunia, terutama negara-negara beriklim tropika pada abad ke-16. Orang-orang Spanyol menyebarkan ubi jalar ke kawasan Asia, terutama Filipina, Jepang, dan Indonesia.

Ketela pohon merupakan tanaman pangan berupa perdu dengan nama lain ubi kayu, singkong atau kasape. Ketela pohon berasal dari benua Amerika, tepatnya dari negara Brazil. Penyebarannya hampir ke seluruh dunia, antara lain: Afrika, Madagaskar, India, Tiongkok. Ketela pohon berkembang di negara-negara yang terkenal wilayah pertaniannya dan masuk ke Indonesia pada sekitar tahun 1852.

2. JENIS TANAMAN
Klasifikasi tanaman ketela pohon adalah sebagai berikut:
Kingdom       : Plantae atau tumbuh-tumbuhan
Divisi             : Spermatophyta atau tumbuhan berbiji
Sub divisi       : Angiospermae atau berbiji tertutup
Kelas             : Dicotyledoneae atau biji berkeping dua
Ordo              : Euphorbiales
Famili             : Euphorbiaceae
Genus             : Manihot
Spesies           : Manihot utilissima Pohl.; Manihot esculenta Crantz sin.

VARIETAS UNGGUL
Kriteria varietas ubikayu yang sesuai untuk bahan baku bioethanol adalah:
(1) berkadar pati tinggi,
(2) potensi hasil tinggi,
(3) tahan cekaman biotik dan abiotik,
(4) fleksibel dalam usahatani dan umur panen.

Dari 16 varietas unggul ubikayu yang telah dilepas oleh Departemen Pertanian hingga saat ini, Adira-4, Malang-6, UJ-
3, dan UJ-5 memiliki karakter yang sesuai dengan kriteria tersebut dan Varietas-varietas ketela pohon unggul yang biasa ditanam untuk konsumsi , antara lain: Valenca, Mangi, Betawi, Basiorao, Bogor, SPP, Muara, Mentega, Andira 1, Gading, Andira 2, Malang 1, Malang 2, dan Andira 4

Krakteristik empat varietas unggul ubikayu yang sesuai untuk bahan baku bioethanol

VARIETAS UMUR ( Bulan ) Hasil ( Ton / ha ) Kadar Pati ( % ) Ketahanan Terhadap Hama dan Penyakit
Adira-4
Malang-6
UJ-3
UJ-5
8
9
8
9-10
25-40
36,4
30-40
25-38
25-30
25-32
25-30
20-30
Tahan penyakit layu
Agak tahan hama kutu merah
Tahan Penyakit Bakteri
Tahan Penyakit Bakteri

Varietas Adira-4 telah meluas pengembangannya di beberapa sentra produksi ubikayu. Di Kediri Jawa Timur hasil Adira-4 berkisar antara 26-34 ton/ha dan di Lampung 30-41 ton/ha. Selain berdaya hasil dan berkadar pati tinggi, Adira-4 juga lebih genjah, tahan terhadap penyakit layu yang merupakan penyakit penting ubikayu, dan sesuai dikembangkan dalam pola tumpangsari. Varietas Adira-1 dengan sifat utama rasa enak dan warna daging
ubi kuning telah berkembang pula di daerah pertanian sekitar perkotaan, baik untuk konsumsi olahan langsung maupun setelah melalui proses fermentasi menjadi tape. Varietas Malang-6 agak tahan terhadap hama kutu merah. UJ-3 dan UJ-5 tahan terhadap bakteri hawar daun. Sifat penting lainnya dari keempat varietas adalah: (1) daun tidak cepat gugur, (2) adaptif pada tanah ber-pH tinggi dan rendah, (3) adaptif pada kondisi populasi tinggi sehingga dapat menekan pertumbuhan gulma, dan (4) dapat dikembangkan dalam pola tumpangsari.


gambar : Varietas UJ -3 ; Adira 4 ; UJ 5 dan Malang 6

Pada tingkat hasil 15-19 ton/ha, ubikayu yang diusahakan pada lahan kering memiliki keunggulan komparatif ibandingkan
dengan padi gogo atau palawija lainnya (Wargiono 2001). Di beberapa provinsi sentra produksi, produktivitas ubikayu berkisar antara 14,3-18,8 ton/ha (BPS 2005). Dengan pengelolaan yang lebih baik, varietas unggul yang tersedia saat ini mampu berproduksi 30-40 ton/ha. Potensi hasil ini menjadi salah satu faktor pendorong pengembangan industri bioethanol berbahan baku ubikayu.

Sentra PenanamanPada tahun 1960-an penanaman ubi jalar sudah meluas ke seluruh provinsi di Indonesia. Pada tahun 1968 Indonesia merupakan negara penghasil ubi jalar nomor empat di dunia. Sentra produksi ubi jalar adalah Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Irian Jaya, dan Sumatra Utara.

Jenis Tanaman Ketela
Plasma nutfah (sumber genetik) tanaman ubi jalar yang tumbuh di dunia diperkirakan berjumlah lebih dari 1000 jenis, namun baru 142 jenis yang diidentifikasi oleh para peneliti. Lembaga penelitian yang menangani ubi jalar, antara lain: International Potato centre (IPC) dan Centro International de La Papa (CIP). Di Indonesia, penelitian dan pengembangan ubi jalar ditangani oleh Pusat Peneliltian dan Pengembangan Tanaman Pangan atau Balai Penelitian Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian (Balitkabi), Departemen Pertanian.
Varietas atau kultivar atau klon ubi jalar yang ditanam di berbagai daerah jumlahnya cukup banyak, antara lain: lampeneng, sawo, cilembu, rambo, SQ-27, jahe, kleneng, gedang, tumpuk, georgia, layang-layang, karya, daya, borobudur, prambanan, mendut, dan kalasan.

Varietas yang digolongkan sebagai varietas unggul harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:a) Berdaya hasil tinggi, di atas 30 ton/hektar.b) Berumur pendek (genjah) antara 3-4 bulan.c) Rasa ubi enak dan manis.d) Tahan terhadap hama penggerek ubi (Cylas sp.)dan penyakit kudis oleh cendawan Elsinoe sp.e) Kadar karotin tinggi di atas 10 mg/100 gram.f) Keadaan serat ubi relatif rendah.

3. MANFAAT TANAMAN
Di Indonesia, ketela pohon menjadi makanan bahan pangan pokok setelah beras dan jagung. Manfaat daun ketela pohon sebagai bahan sayuran memiliki protein cukup tinggi, atau untuk keperluan yang lain seperti bahan obat-obatan. Kayunya bisa digunakan sebagai pagar kebun atau di desa-desa sering digunakan sebagai kayu bakar untuk memasak. Dengan perkembangan teknologi, ketela pohon dijadikan bahan dasar pada industri makanan dan bahan baku industri pakan. Selain itu digunakan pula pada industri obat-obatan.

4. SENTRA PENANAMAN
Di dunia ketela pohon merupakan komoditi perdagangan yang potensial. Negara-negara sentra ketela pohon adalah Thailand dan Suriname. Sedangkan sentra utama ketela pohon di Indonesia di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

5. SYARAT PETUMBUHAN
Iklim
a) Curah hujan yang sesuai untuk tanaman ketela pohon antara 1.500-2.500 mm/tahun.
b) Suhu udara minimal bagi tumbuhnya ketela kohon sekitar 10 derajat C. Bila suhunya di bawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.
c) Kelembaban udara optimal untuk tanaman ketela pohon antara 60-65%.
d) Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ketela pohon sekitar 10 jam/hari terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya.

Untuk dapat berproduksi optimal, ubikayu memerlukan curah hujan 150-200 mm pada umur 1-3 bulan, 250-300 mm pada umur 4-7 bulan, dan 100-150 mm pada fase menjelang dan saat panen. Berdasarkan karakteristik iklim di Indonesia dan kebutuhan air tersebut, ubikayu dapat dikembangkan di hampir semua kawasan, baik di daerah beriklim basah maupun beriklim kering sepanjang air tersedia sesuai dengan kebutuhan tanaman tiap fase per tumbuhan.

Media Tanam
a) Tanah yang paling sesuai untuk ketela pohon adalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak terlalu liat dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organik. Tanah dengan struktur remah mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah. Untuk pertumbuhan tanaman ketela pohon yang lebih baik, tanah harus subur dan kaya bahan organik baik unsur makro maupun mikronya.
b) Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon adalah jenis aluvial latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol.
c) Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ketela pohon berkisar antara 4,5-8,0 dengan pH ideal 5,8. Pada umumnya tanah di Indonesia ber-pH rendah (asam), yaitu berkisar 4,0-5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya tanaman ketela pohon.
5.3. Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat yang baik dan ideal untuk tanaman ketela pohon antara 10–700 m dpl, sedangkan toleransinya antara 10–1.500 m dpl. Jenis ketela pohon tertentu dapat ditanam pada ketinggian tempat tertentu untuk dapat tumbuh optimal.

Jenis lahan di sentra produksi ubikayu umumnya didominasi oleh tanah alkalin dan tanah masam. Oleh karena itu varietas
unggul yang akan dikembangkan perlu memiliki sifat toleran kekeringan, toleran lahan pH rendah dan tinggi, toleran keracunan Al dan efektif memanfaatkan hara P yang terikat oleh Al dan Ca. Sifat-sifat tersebut dimiliki oleh varietas Adira-4, Malang-6, UJ3, dan UJ5.

6. PEDOMAN BUDIDAYA
Pembibitan

1. Persyaratan Bibit
Bibit yang baik untuk bertanam ketela pohon harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a) Ketela pohon berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan).
b) Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya yang normal dan sehat serta seragam.
c) Batangnya telah berkayu dan berdiameter + 2,5 cm lurus.
d) Belum tumbuh tunas-tunas baru.

2. Penyiapan Bibit
Penyiapan bibit ketela pohon meliputi hal-hal sebagai berikut:
a) Bibit berupa stek batang.
b) Sebagai stek pilih batang bagian bawah sampai tengah.
c) Setelah stek terpilih kemudian diikat, masing-masing ikatan berjumlah antara 25–30 batang stek.
d) Semua ikatan stek yang dibutuhkan, kemudian diangkut ke lokasi penanaman. Setelah direndam dengan
ABG-Daun dengan dosis 2 cc/L selama kurang lebih 30 menit sebelum di tanam.

Pengolahan Media Tanam
Persiapan

Kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pengolahan lahan adalah:
a) Pengukuran pH tanah dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus, pH meter dan cairan pH tester.
b) Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel tanah yang akan ditanami untuk mengetahui ketersediaan unsur hara, kandungan bahan organik.
c) Penetapan jadwal/waktu tanam berkaitan erat dengan saat panen. Hal ini perlu diperhitungkan dengan asumsi waktu tanam bersamaan dengan tanamanlainnya (tumpang sari), sehingga sekaligus dapat memproduksi beberapa variasi tanaman yang sejenis.
d) Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan kebutuhan setiap petani ketela pohon. Pengaturan volume produksi penting juga diperhitungkan karena berkaitan erat dengan perkiraan harga pada saat panen dan pasar. Apabila pada saat panen nantinya harga akan anjlok karena di daerah sentra penanaman terjadi panen raya maka volume produksi diatur seminimal mungkin.
Pembukaan dan Pembersihan Lahan
Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan lahan untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada. Pembajakan dilakukan dengan hewan ternak, seperti kerbau, sapi, atau pun dengan mesin traktor. Pencangkulan dilakukan pada sisi-sisi yang sulit dijangkau, pada tanah tegalan yang arealnya relatif lebih sempit oleh alat bajak dan alat garu sampai tanah siap untuk ditanami.
Pembentukan Bedengan


Gambar : 1-3 mata tunas untuk bibit

Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian. Bedengan atau pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan/larikan ditujukan untuk memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti pembersihan tanaman liar maupun sehatnya pertumbuhan tanaman.
Pengapuran
Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam/tanah gembut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan (CaCO3). Dosis yang biasa digunakan untuk pengapuran adalah 1-2,5 ton/ha. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau pada saat pembentukan bedengan kasar bersamaan dengan pemberian pupuk kandang.

Pengolahan Tanah
Tujuan utama pengolahan tanah adalah (1) memperbaiki struktur tanah, (2) menekan pertumbuhan gulma, dan (3) menerapkan sistem konservasi tanah untuk memperkecil peluang terjadinya erosi. Tanah yang baik untuk budidaya ubikayu memiliki struktur remah atau gembur yang dapat bertahan sejak fase awal pertumbuhan sampai panen. Kondisi tersebut dapat menjamin sirkulasi O2 dan CO2 di dalam tanah, terutama pada lapisan olah, sehingga aktivitas jasad renik dan fungsi akar optimal dalam penyerapan hara. Kondisi ini dapat memacu pertumbuhan daun dan batang sebagai sumber energi untuk tumbuh (source) dan menghasilkan fotosintat secara maksimal untuk ditranslokasikan ke ubi (sink). Translokasi fotosintat secara maksimal teraktualisasi dalam bentuk hasil yang tinggi. Pada lahan miring atau peka erosi, tanah perlu dikelola dengan sistem konservasi, yaitu (1) tanpa olah tanah, (2) pengolahan minimal, dan (3) pengolahan sempurna sistem guludan kontur. Pengolahan minimal (secara larik atau individual) efektif mengendalikan erosi, tetapi hasil ubikayu seringkali rendah dan biaya pengendalian gulma relatif tinggi. Pengolahan sempurna didasarkan kepada pencapaian hasil yang tinggi, biaya pengolahan tanah dan pengendalian gulmanya rendah, dan tingkat erosi minimal. Dalam hal ini tanah dibajak (dengan traktor 3-7 singkal piring atau hewan tradisional) dua kali atau satu kali yang diikuti oleh pembuatan guludan (ridging). Untuk lahan peka erosi, guludan juga berperan sebagai pengendali erosi, sehingga guludan dibuat searah kontur.

Penyiapan Bibit
Hasil yang tinggi dapat diperoleh bila tanaman tumbuh optimal dan seragam dengan populasi yang penuh. Kondisi tersebut dapat dicapai bila bibit yang digunakan memenuhi kriteria tujuh tepat (tepat varietas, mutu, jumlah, waktu, harga, tempat, dan kontinuitas). Faktor penghambat penyediaan bibit dengan kriteria tersebut adalah: (1) varietas unggul ubikayu sulit berkembang karena mahalnya biaya transportasi bibit, (2) tingkat penggandaan bibit rendah sehingga insentif bagi penangkar juga rendah, (3) daya tumbuh bibit cepat turun bila masa penyimpanannya lama, dan (4) sebagian besar petani belum memerlukan bibit berlabel dari penangkar benih. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan sistem penangkaran bibit secara in situ, baik yang dikelola kelompok tani maupun petani secara individu. Dalam pembibitan tradisional, dari satu batang bibit ubikayu hanya diperoleh 10-20 stek, sehingga luas areal pembibitan minimal 20% dari luas areal yang akan ditanami ubikayu. Pembibitan tradisional tersebut akan menyita banyak tempat dan menghambat pengembangan varietas ungul baru. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah menggunakan stek pendek dengan dua-tiga mata tunas. Pembibitan dengan cara ini disebut rapid multiplication atau penangkaran bibit secara cepat. Keuntungan dari pembibitan stek pendek adalah jumlah bibit yang dapat dihasilkan dari satu batang ubikayu 100-200 kali lebih banyak dibandingkan dengan pembibitan secara tradisional.
Langkah penangkaran bibit secara cepat adalah: (1) penyemaian bibit, (2) pemindahan bibit, (3) pemeliharaan, dan (4) panen.

Penyemaian Bibit
Bibit yang disemai berupa stek yang terdiri atas satu, dua, dan tiga mata tunas, masing-masing akan menghasilkan 5-10 stek, 10-20 stek, dan 15-30 stek. Media pesemaian adalah bak plastik dengan bingkai kayu dengan panjang dan lebar disesuaikan dengan ukuran bak plastik yang tersedia, sedangkan jumlah bak disesuaikan dengan jumlah stek yang akan disemai. Bak tersebut diisi dengan larutan pupuk NPK setara dengan 6 g urea + 6 g SP36 + 6 g KCl/stek, dan di atas permukaan larutan tersebut dihamparkan kertas koran. Stek yang akan disemai diletakkan pada hamparan kertas tersebut dengan posisi vertikal. Agar tidak tenggelam dalam larutan, kertas disangga dengan anyaman bambu atau penyangga lainnya. Kertas dipertahankan dalam keadaan basah selama 7-14 hari agar stek terhindar dari kekeringan.
Setelah berumur 10-14 hari (Gambar 3), bibit dipindahkan kelahan pembibitan yang telah diolah. Pada saat penanaman bibit, tanah dalam kondisi basah (kapasitas lapang). Stek dengan 2-3 mata tunas dapat juga langsung ditanam (tanpa melalui pesemaian) namun kelembaban tanah perlu dijaga dan posisi stek tidak berubah. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 75 cm x 80 cm, baik untuk stek yang telah disemai maupun yang langsung ditanam.

Pemeliharaan Bibit
Pemeliharaan bibit mencakup pemupukan, pengendalian gulma, hama, dan penyakit tanaman. Tanaman dipupuk dengan takaran 150-200 kg urea + 100 kg SP36 + 100 kg KCl/ha. Pupuk diberikan secara bertahap, yaitu 50% urea, seluruh SP36 dan KCl pada saat bibir berumur 2 minggu dan 50% urea pada umur 12 minggu.

Panen Bibit
Panen bibit dimulai pada saat tanaman berumur 7 bulan sampai 12 bulan, dengan cara memotong batang sekitar 10 cm dari pangkal batang, dan membuang batang bagian pucuk yang belum berkayu. Batang bibit tersebut dikumpulkan dan diikat (10-20 batang/ikat) untuk diangkut ke areal pengembangan. Panen dilakukan pada saat bibit akan ditanam atau maksimal 1 bulan sebelum bibit ditanam. Tanaman yang telah dipanen tersebut (hanya batangnya yang diambil) dapat dijadikan tanaman pembibitan ke-2, dengan cara membiarkan dua tunas tumbuh dan dipelihara seperti pada pembibitan ke-1. Kualitas bibit dari pembibitan ke-2 tidak berbeda dengan pembibitan ke-1. Asal stek, diameter bibit, ukuran stek dan lama penyimpanan bibit berpengaruh terhadap daya tumbuh dan hasil ubikayu . Bibit yang dianjurkan untuk ditanam adalah stek dari batang bagian tengah dengan diameter 2-3 cm, panjang 15-20 cm, dan tanpa penyimpanan.

Teknik Penanaman
Penentuan Pola Tanam
Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah penanaman padi. Jarak tanam yang umum digunakan pada pola monokultur ada beberapa alternatif, yaitu 100 X 100 cm, 100 X 60 cm atau 100 X 40 cm. Bila pola tanam dengan sistem tumpang sari bisa dengan jarak tanam 150 X 100 cm atau 300 X 150 cm.

Populasi Tanaman dan Jarak Tanam Tanaman dapat memanfaatkan hara dan cahaya surya (matahari) secara maksimal bila indeks luas daun mencapai 3,5 m2 /m2 lahan. Angka ini dapat dicapai pada populasi tanaman dan jarak
tanam yang optimal. Kondisi optimal tersebut berbeda untuk setiap tingkat kesuburan tanah, sistem tanam, dan tipe kanopi tanaman. Perbedaan hasil yang disebabkan oleh perbedaan jarak tanam pada populasi tanaman yang sama mengindikasikan intersepsi sinar matahari dapat ditingkatkan melalui pengaturan populasi dan jarak tanam.

Oleh karena itu, populasi tanaman lebih dari 10.000 batang/ha tidak meningkatkan hasil ubikayu pada tanah yang subur, baik untuk varietas tipe bercabang maupun tidak bercabang. Hal ini disebabkan oleh adanya kompetisi antartanaman dalam mendapatkan sinar matahari dan hara pada populasi lebih dari 10.000 tanaman/ha.

Cara Penanaman
Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek ketela pohon kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja.

Penanaman stek ubikayu disarankan pada saat tanah dalam kondisi yang gembur dan lembab atau ketersediaan air pada
lapisan olah sekitar 80% dari kapasitas lapang. Tanah dengan kondisi tersebut akan dapat menjamin kelancaran sirkulasi O2 dan CO2 serta meningkatkan aktivitas mikroba tanah, sehingga dapat memacu pertumbuhan daun untuk menghasilkan fotosintat secara maksimal dan ditranslokasikan ke dalam ubi secara maksimal pula.

Perbedaan posisi stek di tanah dan bagian stek yang tertanam di lapisan olah dapat mempengaruhi hasil ubikayu. Stek yang ditanam dengan posisi miring atau horizontal akarnya tidak terdistribusi secara merata, seperti stek yang ditanam vertikal pada kedalaman 15 cm, dan kepadatannya rendah. Pertumbuhan akar ubikayu juga dipengaruhi oleh permukaan pangkal stek. Jika pangkal stek dipotong rata atau runcing, pertumbuhan akar lebih merata dibandingkan dengan yang dipotong miring. Untuk mendapatkan hasil yang tinggi, panjang stek yang tertanam di tanah berkisar antara 10-15 cm, sehingga panjang stek yang diperlukan adalah 20-25 cm.

Pola Tanam
Ubikayu dapat ditanam secara monokultur dan tumpangsari. Pola monokultur umumnya dikembangkan dalam usahatani komersial atau usahatani alternatif pada lahan marjinal dimana komoditas lain tidak produktif atau usahatani input minimal bagi petani yang modalnya terbatas. Pola tumpangsari diusahakan oleh petani berlahan sempit, baik secara komersial maupun subsisten. Pola tumpangsari memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangannya adalah: (1) terjadinya kompetisi pengambilan hara dan cahaya matahari antartanaman, (2) curahan tenaga kerja yang lebih banyak. Kelebihannya adalah: (1) efektif mengendalikan erosi, (2) meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, (3) meningkatkan pendapatan bersih/tahun dan terdistribusi secara merata, (4) meningkatkan efisiensi penggunaan hara, (5) memenuhi kebutuhan pangan sesuai dengan angka kecukupan gizi (AKG), dan (6) memperbaiki fisik dan kimia tanah (Tonglum 2001, Wargiono 2004).
Pada lahan peka erosi dianjurkan menggunakan pola tumpangsari ubikayu dengan padi gogo dan aneka kacang. Jarak
tanam untuk tanaman sela yang efektif mengendalikan erosi dan produktivitasnya tinggi adalah 40 cm antara barisan dan 10-15 cm dalam barisan

Selain efektif mengendalikan erosi, pola tanam ini juga dapat memperbaiki fisik dan kimia tanah jika limbah panen tanaman sela dikembalikan ke tanah. Pada lahan yang tidak peka erosi, ubikayu dapat ditumpangsarikan dengan jagung.
Pola tumpangsari mampu menghasilkan 25 ton ubi segar/ha bila populasi tanaman dan pengelolaannya optimal. Populasi
optimal ubikayu dalam pola tumpangsari adalah 10.000 tanaman/ ha. Pengelolaan optimal meliputi pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dan pemupukan sesuai dengan kebutuhan tanaman ubikayu dan tanaman sela.

Hasil analisis menunjukkan kelayakan finansial pola monokultur maupun pola tumpangsari ubikayu tidak berbeda nyata . Dengan demikian kedua pola tanam tersebut dapat dikembangkan dalam program aksi penyediaan bahan baku industri bioethanol yang bersumber dari ubikayu. Data survei di Indonesia, Filipina, dan Vietnam menunjukkan bahwa kelayakan usahatani ubikayu dengan pola monokultur maupun tumpangsari bergantung pula pada harga ubi di tingkat petani. Jika harga ubi segar kurang dari 30 dolar Amerika Serikat per ton, B/C rasionya berkisar antara 0,21-0,57, dan B/C rasio menjadi 0,71-1,30 apabila harga ubi di tingkat petani 30 dolar per ton, serta B/C rasio meningkat lagi menjadi 0,85-2,50 jika harga ubi 35 dolar per ton. Hasil analisis juga menunjukkan teknologi produksi dengan produktivitas ubikayu 15-25 ton/ha layak dikembangkan bila harga ubi segar di tingkat petani Rp 320/kg (Howeler 2001).

Pemeliharaan Tanaman
Penyiangan

Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis rumput/ tanaman liar/pengganggu (gulma) yang hidup di sekitar tanaman. Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2 (dua) kali penyiangan.

Pembubunan
Cara pembubunan dilakukan dengan menggemburkan tanah di sekitar tanaman dan setelah itu dibuat seperti guludan. Waktu pembubunan dapat bersamaan dengan waktu penyiangan, hal ini dapat menghemat biaya. Apabila tanah sekitar tanaman Ketela pohon terkikis karena hujan atau terkena air siraman sehingga perlu dilakukan pembubunan/di tutup dengan tanah agar akar tidak kelihatan.

Perempalan/Pemangkasan
Pada tanaman Ketela pohon perlu dilakukan pemangkasan/pembuangan tunas karena minimal setiap pohon harus mempunyai cabang 2 atau 3 cabang. Hal ini agar batang pohon tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi di musim tanam mendatang.

Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan sistem pemupukan berimbang antara N, P, K dengan dosis Urea=133–200 kg; TSP=60–100 kg dan KCl=120–200 kg. Pupuk tersebut diberikan pada saat tanam dengan dosis N:P:K= 1/3 : 1 : 1/3 (pemupukan dasar) dan pada saat tanaman berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N:P:K= 2/3 : 0 : 2/3.
Dengan ABG-Daun dengan dosis 4 cc/L disemprotkan setiap 20-30 hari sekali dengan pemberian pupuk kimia dikurangi 20-30% dari dosis biasa.
Setelah umur 5 bulan untuk pengisian umbi disemprot dengan ABG-Bunga&Buah dengan dosis 4 cc/L disemprotkan atau disiramkan setiap 20-30 hari sekali sampai siap panen.
Untuk mencegah penyakit pada tanaman ketela sebaiknya dilakukan pencegahan setiap satu bulan sekali dengan cara:
ABG-BIO dengan cara melarutkan (1–2) bungkus ABG-BIO + 1 kg dedak + 2 kg ABG-Bios + (5–10) tutup ABG-B, dalam (50-100) liter air, aduk secara merata, dan biarkan sekitar (2-4) jam. Kemudian siramkan sebanyak (25–50) cc/tanaman pada perakaran tanaman dengan interval 1 bulan sekali

Pengairan dan Penyiraman
Kondisi lahan Ketela pohon dari awal tanam sampai umur + 4–5 bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab, tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. Sistem yang baik digunakan adalah sistem genangan sehingga air dapat sampai ke daerah perakaran secara resapan. Pengairan dengan sistem genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan.

Pengendalian Gulma
Pertumbuhan ubikayu yang lambat selama tiga bulan pertama menyebabkan tanah di antara tanaman tidak tertutup secara
sempurna oleh kanopi . Hal ini menyebabkan tingginya intensitas cahaya matahari di antara tanaman, sehingga memacu pertumbuhan gulma. Pada kondisi tersebut tanaman ubikayu tidak mampu berkompetisi dengan gulma, sehingga pertumbuhannya terhambat dan hasilnya dapat menurun hingga 75%. Pengendalian gulma secara manual lebih murah 35% dibandingkan dengan cara kimia dan mempunyai beberapa kelebihan, yaitu (1) memperbaiki struktur tanah, (2) tidak selektif terhadap spesies/kelompok jenis gulma, (3) tidak mencemari lingkungan, dan (4) dapat dilakukan oleh tenaga kerja keluarga. Pada bulan ke-4 kanopi ubikayu mulai menutup permukaan tanah, sehingga pertumbuhan gulma mulai tertekan karena kecilnya penetrasi sinar matahari di antara tanaman ubikayu. Olehkarena itu kondisi bebas gulma atau penyiangan pada bulan ke- 4 tidak diperlukan ). Kondisi bebas gulma hanya diperlukan selama tiga bulan pertama (fase awal pertumbuhan) da menjelang panen. Kondisi bebas gulma pada saat panen dapat menurunkan tingkat kesulitan panen, sehingga kehilangan hasil dapat dicegah. Kondisi bebas gulma pada fase tersebut juga dapat mempermudah pengolahan tanah dan mengurangi populasi gulma pada musim tanam berikutnya. Dalam usahatani komersial, sebagian besar petani melakukan pengendalian gulma secara kimiawi 2-3 minggu sebelum panen.

Waktu Penyemprotan Pestisida
Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Penyemprotan pestisida paling baik dilakukan pada pagi hari setelah embun hilang atau pada sore hari. Dosis pestisida disesuaikan dengan serangan hama dan penyakit, baca dengan baik penggunaan dosis pada label merk obat yang digunakan. Apabila hama dan penyakit menyerang dengan ganas maka dosis pestisida harus lebih akan tetapi penggunaannya harus hati-hati karena serangga yang menguntungkan dapat ikut mati.

Berdasarkan umur panen tanaman, varietas ubikayu di kelompokkan menjadi tiga, yaitu umur genjah, sedang, dan dalam
yang masing-masing dipanen pada fase kadar pati optimal, mulai umur 7 bulan, 8 bulan, dan 9 bulan (Hozyo 1984, Tonglum 2001).
Kadar pati ubikayu tidak menurun meski panen ditunda beberapa bulan setelah fase kadar pati optimal, bahkan hasil pati meningkat karena bobot ubi cenderung meningkat dengan bertambahnya umur tanaman. Hal ini merupakan nilai tambah bagi usahatani ubikayu dalam konteks pengembangan industri bioethanol karena waktu panennya dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri.

Hama dan Penyakit

Pengendalian Hama dan Penyakit
Bakteri layu dan hawar daun adalah penyakit utama ubikayu. Varietas Adira-4, Malang-6, UJ-3, dan UJ-5 tahan terhadap kedua penyakit tersebut. Hama utama ubikayu adalah tungau merah (Tetranychus bimaculatus). Kerusakan tanaman oleh hama ini sering bersifat opsional pada luasan sempit, sehingga kerugiannya relatif rendah. Dengan demikian pengendalian hama dan penyakit belum diperlukan dalam pengembangan ubikayu yang menggunakan varietas unggul tersebut.


Hama KETELA POHON
Penggerek Batang Ubi Jalar
Stadium hama yang merusak tanaman ubi jalar adalah larva (ulat).
Cirinya adalah membuat lubang kecil memanjang (korek) pada batang hingga ke bagian ubi. Di dalam lubang tersebut dapat ditemukan larva (ulat).
Gejala: terjadi pembengkakan batang, beberapa bagian batang mudah patah, daun-daun menjadi layu, dan akhirnya cabang-cabang tanaman akan mati.
Pengendalian: (1) rotasi tanaman untuk memutus daur atau siklus hama; (2) pengamatan tanaman pada stadium umur muda terhadap gejala serangan hama: bila serangan hama >5 %, perlu dilakukan pengendalian secara kimiawi; (3) pemotongan dan pemusnahan bagian tanaman yang terserang berat; (4) penyemprotan insektisida yang mangkus dan sangkil, seperti Curacron 500 EC atau Matador 25 dengan konsentrasi yang dianjurkan.

Hama Boleng atau Lanas
Serangga dewasa hama ini (Cylas formicarius Fabr.) berupa kumbang kecil yang bagian sayap dan moncongnya berwarna biru, namun toraknya berwarna merah. Kumbang betina dewasa hidup pada permukaan daun sambil meletakkan telur di tempat yang terlindung (ternaungi). Telur menetas menjadi larva (ulat), selanjutnya ulat akan membuat gerekan (lubang kecil) pada batang atau ubi yang terdapat di permukaan tanah terbuka.
Gejala: terdapat lubang-lubang kecil bekas gerekan yang tertutup oleh kotoran berwarna hijau dan berbau menyengat. Hama ini biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang sudah berubi. Bila hama terbawa oleh ubi ke gudang penyimpanan, sering merusak ubi hingga menurunkan kuantitas dan kualitas produksi secara nyata.
Pengendalian: (1) pergiliran atau rotasi tanaman dengan jenis tanaman yang tidak sefamili dengan ubi jalar, misalnya padi-ubi jalar-padi; (2) pembumbunan atau penimbunan guludan untuk menutup ubi yang terbuka; (3) pengambilan dan pemusnahan ubi yang terserang hama cukup berat; (4) pengamatan/monitoring hama di pertanaman ubi jalar secara periodik: bila ditemukan tingkat serangan > 5 %, segera dilakukan tindakan pengendalian hama secara kimiawi; (5) penyemprotan insektisida yang mangkus dan sangkil, seperti Decis 2,5 EC atau Monitor 200 LC dengan konsentrasi yang dianjurkan; (6) penanaman jenis ubi jalar yang berkulit tebal dan bergetah banyak; (7) pemanenan tidak terlambat untuk mengurangi tingkat kerusakan yang lebih berat.

Tikus (Rattus rattus sp)
Hama tikus biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang berumur cukup tua atau sudah pada stadium membentuk ubi. Hama Ini menyerang ubi dengan cara mengerat dan memakan daging ubi hingga menjadi rusak secara tidak beraturan. Bekas gigitan tikus menyebabkan infeksi pada ubi dan kadang-kadang diikuti dengan gejala pembusukan ubi. Pengendalian: (1) sistem gerepyokan untuk menangkap tikus dan langsung dibunuh; (2) penyiangan dilakukan sebaik mungkin agar tidak banyak sarang tikus disekitar ubi jalar; (3) pemasangan umpan beracun, seperti Ramortal atau Klerat.

Uret (Xylenthropus)
Ciri: berada dalam akar dari tanaman.
Gejala: tanaman mati pada yg usia muda, karena akar batang dan umbi dirusak.
Pengendalian: bersihkan sisa-sisa bahan organik pada saat tanam dan atau mencampur sevin pada saat pengolahan lahan.

Tungau merah (Tetranychus bimaculatus)
Ciri: menyerang pada permukaan bawah daun dengan menghisap cairan daun tersebut.
Gejala: daun akan menjadi kering.
Pengendalian: menanam varietas toleran dan menyemprotkan air yang banyak.


Gambar : Kekurangan K ( kalium ) dan terserang Bakteri

Penyakit
Kudis atau Scab
Penyebab: cendawan Elsinoe batatas.
Gejala: adanya benjolan pada tangkai sereta urat daun, dan daun-daun berkerut seperti kerupuk. Tingkat serangan yang berat menyebabkan daun tidak produktif dalam melakukan fotosintesis sehingga hasil ubi menurun bahkan tidak menghasilkan sama sekali.
Pengendalian: (1) pergiliran/rotasi tanaman untuk memutus siklus hidup penyakit; (2) penanaman ubi jalar bervarietas tahan penyakit kudis, seperti daya dan gedang; (3) kultur teknik budi daya secara intensif; (4) penggunaan bahan tanaman (bibit) yang sehat.

Layu fusarium
Penyebab: jamur Fusarium oxysporum f. batatas.
Gejala: tanaman tampak lemas, urat daun menguning, layu, dan akhirnya mati. Cendawan fusarium dapat bertahan selama beberapa tahun dalam tanah. Penularan penyakit dapat terjadi melalui tanah, udara, air, dan terbawa oleh bibit. Pengendalian: (1) penggunaan bibit yang sehat (bebas penyakit); (2) pergiliran /rotasi tanaman yang serasi di suatu daerah dengan tanaman yang bukan famili; (3) penanaman jenis atau varietas ubi jalar yang tahan terhadap penyakit Fusarium.

Bercak daun bakteri
Penyebab: Xanthomonas manihotis atau Cassava Bacterial Blight/CBG .
Gejala: bercak-bercak bersudut pada daun lalu bergerak dan mengakibatkan pada daun kering dan akhirnya mati. Pengendalian: menanam varietas yang tahan, memotong atau memusnahkan bagian tanaman yang sakit, melakukan pergiliran tanaman dan sanitasi kebun

Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum E.F. Smith)
Ciri: hidup di daun, akar dan batang.
Gejala: daun yang mendadak jadi layu seperti tersiram air panas. Akar, batang dan umbi langsung membusuk. Pengendalian: melakukan pergiliran tanaman, menanam varietas yang tahan seperti Adira 1, Adira 2 dan Muara, melakukan pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sakit berat.

Bercak daun coklat (Cercospora heningsii)
Penyebab: cendawan yang hidup di dalam daun. Gejala: daun bercak-bercak coklat, mengering, lubang-lubang bulat kecil dan jaringan daun mati. Pengendalian: melakukan pelebaran jarak tanam, penanaman varietas yang tahan, pemangkasan

Virus
Beberapa jenis virus yang ditemukan menyerang tanaman ubi jalar adalah Internal Cork, Chlorotic Leaf Spot, Yellow Dwarf.
Gejala: pertumbuhan batang dan daun tidak normal, ukuran tanaman kecil dengan tata letak daun bergerombol di bagian puncak, dan warna daun klorosis atau hijau kekuning-kuningan. Pada tingkat serangan yang berat, tanaman ubi jalar tidak menghasilkan.
Pengendalian: (1) penggunaan bibit yang sehat dan bebas virus; (2) pergiliran/rotasi tanaman selama beberapa tahun, terutama di daerah basis (endemis) virus; (3) pembongkaran/eradikasi tanaman untuk dimusnahkan.
Penyakit Lain-lainPenyakit-penyakit yang lain adalah, misalnya, bercak daun cercospora oleh jamur Cercospora batatas Zimmermann, busuk basah akar dan ubi oleh jamur Rhizopus nigricans Ehrenberg, dan klorosis daun oleh jamur Albugo ipomeae pandurata Schweinitz.
Pengendalian: dilakukan secara terpadu, meliputi perbaikan kultur teknik budi daya, penggunaan bibit yang sehat, sortasi dan seleksi ubi di gudang, dan penggunaan pestisida selektif.

Panen
Kriteria utama umur panen ubikayu adalah kadar pati optimal, yaitu pada saat tanaman berumur 7-9 bulan. Bobot ubi meningkat dengan bertambahnya umur tanaman, sedangkan kadar pati cenderung stabil pada umur 7-9 bulan (Gambar 9). Hal ini menunjukkan bahwa umur panen ubikayu fleksibel, tanaman dapat dipanen pada umur 7 bulan atau ditunda sampai berumur lebih dari 12 bulan. Fleksibilitas umur panen tersebut memberi peluang bagi keberlanjutan penyediaan ubikayu untuk bahan baku bioethanol.
Penundaan umur panen hanya dapat dilakukan di daerah beriklim basah dan tidak sesuai di daerah beriklim kering karena
pertumbuhan tanaman pada pertanaman April-Mei akan terhambat dan hasilnya rendah jika terjadi cekaman kekeringan atau curah hujan <25 mm/10 hari selama tiga bulan pertama (Wargiono 2001). Untuk menghindari cekaman kekeringan, sebagian besar petani melakukan penanaman serentak pada awal musim hujan dan panen juga serentak, sehingga 80% dari produksi ubikayu terkonsentrasi pada musim kemarau (BPS 2004). Kondisi ini tidak sesuai untuk pengembangan industri bioethanol karena sebaran produksi bulanan tidak merata sesuai dengan kebutuhan bahanbaku industri. Langkah antisipatif adalah dengan pewilayahan waktu tanam pada awal musim hujan hingga bulan ke-4 selama musim hujan dan panen bervariasi antara umur 7-12 bulan . Hasil ubikayu pada umur panen berbeda dari tanaman yang ditanam pada awal musim hujan tidak mengalami kekeringan sampai 6 bulan dan hasilnya tinggi.

Penundaan umur panen dapat meningkatkan hasil pati sepanjang tidak terjadi anomali iklim dan gangguan organisme
pengganggu. Meskipun umur panen ubikayu bersifat fleksibel, namun penurunan kadar pati akibat anomali iklim dan gangguan hama penyakit tanaman dapat terjadi bila penundaan panen relatif lama. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah penanaman multivarietas (varietas umur genjah, sedang, dan dalam) secara periodik pada suatu wilayah pengembangan, sehingga panen dapat pula dilakukan secara periodik. Varietas berumur genjah, misalnya, dipanen pada umur 7-9 bulan, varietas berumur sedang pada umur 8-11 bulan, dan varietas berumur dalam pada umur 10-12 bulan. Dengan cara ini dapat dirancang pembagian wilayah pengembangan ubikayu berdasarkan waktu tanam dan umur panen, sesuai dengan kebutuhan industri bioethanol di daerah setempat, misalnya wilayah pengembangan ubikayu untuk umur panen 7 bulan, 8 bulan, 9 bulan, 10 bulan, 11 bulan, dan 12 bulan. Luas setiap wilayah pengembangan berdasarkan kriteria umur panen setara dengan kebutuhan harian ubikayu untuk industri bioethanol. Di beberapa daerah, ubikayu ditumpangsarikan dengan tanaman pangan lainnya. Hasil varietas Adira-4 yang ditumpangsarikan dengan kacang tanah dan jagung mencapai 31,0 ton/ha di Bogor dan 39,2 ton/ha di Lampung. Dengan tersedianya varietas unggul berkadar pati dan berdaya hasil tinggi serta mampu beradaptasi dalam pola tumpangsari maka ubikayu dapat dikembangkan dengan pola monokultur dan tumpangsari, baik secara subsisten maupun komersial. Dalam usahatani komersial, ubikayu harus menghasilkan 20-25 t/ha agar menguntungkan, yaitu dengan B/C rasio lebih dari 1,0. Angka ini dapat dicapai jika harga ubi di tingkat petani Rp250-300/kg, baik untuk ubikayu yang ditanam secara monokultur maupun tumpangsari.

Cara Panen
Tata cara panen ubi jalar melalui tahapan sebagai berikut:
Tentukan pertanaman ubi jalar yang telah siap dipanen.
Potong (pangkas) batang ubi jalar dengan menggunakan parang atau sabit, kemudian batang-batangnya disingkirkan ke luar petakan sambil dikumpulkan.
Galilah guludan dengan cangkul hingga terkuak ubi-ubinya.
Ambil dan kumpulkan ubi jalar di suatu tempat pengumpulan hasil.
Bersihkan ubi dari tanah atau kotoran dan akar yang masih menempel.
Lakukan seleksi dan sortasi ubi berdasarkan ukuran besar dan kecil ubi secara terpisah dan warna kulit ubi yang seragam. Pisahkan ubi utuh dari ubi terluka ataupun terserang oleh hama atau penyakit.
Masukkan ke dalam wadah atau karung goni, lalu angkut ke tempat penampungan (pengumpulan) hasil.

Prakiraan ProduksiTanaman ubi jalar yang tumbuhnya baik dan tidak mendapat serangan hama penyakit yang berarti (berat) dapat menghasilkan lebih dari 25 ton ubi basah per hektar. Varietas unggul seperti borobudur dapat menghasilkan 25 ton, prambanan 28 ton, dan kalasan antara 31,2-47,5 ton per hektar.

Pascapanen
PengumpulanHasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah dijangkau oleh angkutan.
Penyortiran dan Penggolongan
Pemilihan atau penyortiran ubi jalar sebenarnya dapat dilakukan pada saat pencabutan berlangsung. Akan tetapi penyortiran ubi jalar dapat dilakukan setelah semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan untuk memilih umbi yang berwarna bersih terlihat dari kulit umbi yang segar serta yang cacat terutama terlihat dari ukuran besarnya umbi serta bercak hitam/garis-garis pada daging umbi.

Penyimpanan
Penanganan pascapanen ubi jalar biasanya ditujukan untuk mempertahankan daya simpan. Penyimpanan ubi yang paling baik dilakukan dalam pasir atau abu. Tata cara penyimpanan ubi jalar dalam pasir atau abu adalah sebagai berikut:a) Angin-anginkan ubi yang baru dipanen di tempat yang berlantai kering selama 2-3 hari.b) Siapkan tempat penyimpanan berupa ruangan khusus atau gudang yang kering, sejuk, dan peredaran udaranya baik.c) Tumpukkan ubi di lantai gudang, kemudian timbun dengan pasir kering atau abu setebal 20-30 cm hingga semua permukaan ubi tertutup.
Cara penyimpanan ini dapat mempertahankan daya simpan ubi sampai 5 bulan. Ubi jalar yang mengalami proses penyimpanan dengan baik biasanya akan menghasilkan rasa ubi yang manis dan enak bila dibandingkan dengan ubi yang baru dipanen.

Hal yang penting dilakukan dalam penyimpanan ubi jalar adalah melakukan pemilihan ubi yang baik, tidak ada yang rusak atau terluka, dan tempat (ruang) penyimpanan bersuhu rendah antara 27-30 derajat C (suhu kamar) dengan kelembapan udara antara 85-90 %.

 

 

Salam

Dwi Hartoyo,SP

 

REFERENSI
http://bumipertiwiextrem.blogspot.com/2011/03/budidaya-ketela-pohon.html
http://cybex.deptan.go.id/lokalita/budidaya-ketela-pohonsingkong-mekarmanik
http://www.unida.ac.id/mahasiswa/index.php?option=com_content&view=article&id=164:budidaya-pertanian-manihot-utilissima-pohl-&catid=70:himatip&Itemid=94
http://www.scribd.com/doc/12648232/Budidaya-Ketela-Pohon-Terbaru
http://hendridunan.blog.com/2009/12/21/hama-dan-penyakit-pada-tanaman-singkong-cassava/
http://malamindah.wordpress.com/2008/08/30/budidaya-ketela-pohon-manihot-utilissima-pohl/
http://anahkngcity-artikel.blogspot.com/2008/01/ubi-jalarketela-pohon-ipomoea-batatas.html
http://www.agromaret.com/artikel/624/hama_dan_penyakit_ketela_pohon_singkong