Translate :
 
 
 
 
 
 
 

BUDIDAYA
KACANG HIJAU
Vigna radiata L

 

Kacang hijau adalah sejenis tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas di daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan (Fabaceae) ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Kacang hijau di Indonesia menempati urutan ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah.

Bagian paling bernilai ekonomi adalah bijinya. Biji kacang hijau direbus hingga lunak dan dimakan sebagai bubur atau dimakan langsung. Biji matang yang digerus dan dijadikan sebagai isi onde-onde, bakpau, atau gandas turi. Kecambah kacang hijau menjadi sayuran yang umum dimakan di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara dan dikenal sebagai tauge. Kacang hijau bila direbus cukup lama akan pecah dan pati yang terkandung dalam bijinya akan keluar dan mengental, menjadi semacam bubur. Tepung biji kacang hijau, disebut di pasaran sebagai tepung hunkue, digunakan dalam pembuatan kue-kue ( isi onde-onde, dll ) dan cenderung membentuk gel. Tepung ini juga dapat diolah menjadi mi yang dikenal sebagai soun.

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan    : Plantae
Divisi          : Magnoliophyta
Kelas          : Magnoliopsida
Ordo          : Fabales
Famili         : Fabaceae
Genus        : Vigna
Spesies      : V. radiata

Nama binomial
Vigna radiata (L.) R. Wilczek

Sinonim
Phaeolus aureus Roxb.

Kacang hijau dapat di budidayakan pada ketinggian 5-700 meter dpl. Pada ketinggian 750 meter dpl peroduksi kacang hijau sudah berkurang.

1. Syarat Tumbuh

a. Tanah
Tekstur : Liat berlempung banyak mengandung bahan organik, aerasi dan drainase yang baik.
Struktur tanah gembur
Ph 5,8 7,0 optimal 6,7

b. Iklim
Curah hujan optimal 50 - 200 mm/bln
Temperatur 25o - 27o C dengan kelembaban udara 50 - 80% dan cukup mendapat sinar matahari.

 

2. Teknologi Budidaya

BenihVarietas

Varietas
Hasil

(1/ha)

Umur (hari)
Berat 100 biji (g)
Sifat Khusus
Murai 1,5 63 6 Tahan Penyakit bercak daun
Perkutut 1,64 60 5 Tahan penyakit embun tepung; agak tahan penyakit bercak daun
Kenari 1,64 60 - 65 6,7 Tahan terhadap penyakit bercak daun; toleran terhadap penyakit karat daun
Sriri 1,58 60 - 65 6 Tahan penyakit embun tepung

VARIETAS UNGGUL KACANG HIJAU

VARIETAS
KEUNGGULAN
Siwalik Umur 100 hari dan produksi 0,9 - 1, 2 ton per ha polong kering
Bhakti Umur 70 hari dan produksi 1,4 - 1,6 ton / ha
No 129 Umur 59 hari dan produksi 0,16 ton / ha
Merak Umur 60 - 65 hari, produksi 1,6 ton / ha
Betet Umur 58 - 60 hari dan produksi 1,47 ton / ha
Manyar Umur 51 hari , produksi 1,47ton/ ha dan tahan bercak coklat daun
Nuri Umur 51 hari , produksi 1,56 ton / ha dan tahan bercak coklat daun
Walet Umur 58 hari, produksi 1,6 ton / ha dan tahan terhadap bercak coklat daun
Parkit Umur 56 hari , produksi 1,35 ton / ha dan tahan embun tepung
Merpati umur 58 hari , produksi 1,58 ton / ha, tahan embun tepung dan tahan terhadap bercak coklat daun
Sriti Umur 60 - 65 hari , produksi 1,58 ton / ha tahan terhadap penyakit embun tepung dan penyakit bercak coklat daun
Murait Umur 63 hari, produksi 0,9-2,5 ton / ha dan tahan terhadap penyakit bercak daun Cercospora
Perkutut Umur 60 hari , produksi 0,7 - 2,2 ton / ha , tahan terhadap penyakit Embun Tepung dan agak tahan terhadap penyakit bercak daun
Kutilang Umur 60 - 67 hari, potensi Produksi 1,96 ton / ha, jumlah polong / tanaman 15 - 24 buah dan tahan terhadap penyakit Embun tepung
Fore Belu Umur 90 - 95 hari , potensi produksi 1,076 ton / ha, jumlah polong / tanaman 13-30 buah , tahan penyakit Karat, kualitas rebus biji baik, dan cukup tahan terhadap kekeringan.

 

Penyiapan Benih
Pilih biji yang berkualitas, tidak keriput, tidak berlubang, dan matang secara fisiologis . Kebutuhan benih sekitar 15 - 25 kg / ha.

Pengelolaan Tanah
Pada lahan sawah bekas tanaman padi tidak dilakukan pengolahan tanah ( TOT ). Penyiapan lahan yang baik dilakukan sebelum tanam.
Pada tanah bertekstur ringan tidak perlu dilakukan pengolahan tanah.
Pada lahan kering (tegalan) pengolahan tanah dilakukan intensif dibersihkan dari rumput, dicangkul hingga gembur (untuk tanah tegalan yang berat pembajakan dilakukan sedalam 15-20 cm), dibuat petakan 3-4 m.
Tanah tegalan bekas tanaman jagung, kedelai atau padi gogo perlu pengolahan tanah minimal.
Pemberian mulsa jerami sekitar 5 ton/ha agar dapat menekan pertumbuhan gulma, mencegah penguapan air dan perbaikan struktur tanah.


Penanaman
Waktu Tanam
Pada lahan sawah tanaman kacang hijau ditanam pada musim kemarau setelah padi. Sedangkan dilahan tegalan dilakukan pada awal musim hujan.
Cara Tanam
Benih ditanam dengan cara tugal, dengan jarak 40 cm x 10 cm atau 40 cm x 15 cm, tiap lubang diisi 2 biji.

Pemupukan
Pada lahan sawah bekas tanaman padi tidak perlu dilakukan pemupukan.
Pada lahan kering diperlukan pemupukan dengan NPK.
Pada tanah yang kurang subur dilakukan pemupukan 45 kg Urea + 45 - 90 kg TSP + 50 kg KCL/ha.
Penambahan pupuk organik seperti pupuk kompos, pupuk kandang dapat meningkat kapasitas menahan air didalam tanah.

Pengairan
Tanaman kacang hijau relatif tahan kering, namun tetap memerlukan pengairan terutama pada periode kritis pada waktu perkecambahan, menjelang berbungan dan pembentukan polong.

Penyiangan
Penyiangan dilakukan seawal mungkin karena kacang hijau tidak tahan bersaing dengan gulma. Penyiangan dilakukan 2 kali pada umur 2 dan 4 minggu.

Pengendalian hama dan penyakit kacang hijau
1. Hama Kacang Hijau
Hama yang sering menyerang adalah agromyza phaseolli (lalat kacang) meruca testualitis, spidoptera sp, Plusia chalsites (ulat) dan kutu trips.
Pengendalian hama dilakukan dengan menggunakan varietas unggul yang tahan hama penyakit.
Penggunaan pestisida dilakukan apabila serangan hama tidak dapat dikendalikan dengan cara biologi.

Lalat Kacang atau lalat Bibit ( Ophiomya phaseoli ) ; kerusakan terjadi karena lalat menggerek keping biji yang baru muncul diatas tanah dan daun pertama. Biasanya tanaman yang diserang pada umur 4- 10 hari akan mati.
Pengendalian dengan menggunakan Insektisida seperti Marshal 25 ST dan Furadan 3 G

Ulat Grayak ( Spodoptera litura ); kerusakan terjadi karena ulat menghabiskan seluruh daun sehingga biasanya hanya tersisi tulang daunnya saja hal ini mengakibatkan penurunan jumla produksi.
Pengendalian dilakukan dengan cara pengolahan tanah atau penggemburan tanah, pengendalian secara biologi dan penggunaan insektisida.

Kepik ( Nezara viridula ) ; merusak polong dan cairan biji sehingga terlihat ada bintik coklat pada kulit biji dan polong jika serangan terjadi ketikan membentuk biji maka akan menghasilkan polong hampa.
Pengendalian dilakukan dengan mengatur pola tanam, sanitasi, secara kimiawi dengan insektisaida pada saat tanaman berumur 45 HST.


2. Penyakit pada Kacang Hijau
Penyakit kacang hijau yang sering ditemui antara lain Scierotium rolfsii, Cercospora Canescens (bercak daun).
Pengendalian dilakukan dengan menanam varietas yang tahan penyakit atau dengan menggunakan fungisida.


Panen dan Pasca panen

a. Panen

Kacang hijau dipanen sesuai dengan umur varietas, Tanda-tandaq lain bahwa kacang hijau telah siap untuk di panen adalah berubahnya warna polong dari hijau menjadi hitam atau coklat dan kering. Keterlambatan panen dapat mengakibatkan polong pecah saat dilapangan. Panen dilakukan dengan cara dipetik. Panen dapat dilakukan satu, dua atau tiga kali tergantung varietas. Jarak antara panen kesatu dan ke dua 3-5 hari.

b. Pasca Panen

Pengeringan polong dilakukan selama 2-3 hari dibawah sinar matahari. Pembijian dilakukan secara manual yaitu dipukul-pukul dengan tongkat kayu. Pembijian dilakukan di dalam kantong atau karung untuk menghindari kehilangan hasil. Pembersihan niji dari kulit polong dilakukan dengan tampi. Sebelum disimpan biji kacang hijau di jemur kembali sampai mencapai kering simpan yaitu kadar air 8 - 10 % ( jika biji akan disimpan lama sekita 6 bulan ) tetapi jika di simpan sebentar maka kadar air 14 % sudah cukup.

Salam tani,
disarikan oleh

Dwi Hartoyo,SP

 

REFERENSI BUDIDAYA KACANG HIJAU
a. http://sulsel.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=143:budidaya-kacang-hijau&catid
b. http://id.wikipedia.org/wiki/Kacang_hijau