Translate :
 
 
 
 
 
 
 

BUDIDAYA
BAWANG MERAH

Allium ascalonicum

 

Bawang merah ( Allium ascalonicum) merupakan komoditas hortikultura yang memiliki banyak manfaat dan bernilai ekonomis tinggi serta mempunyai prospek pasar yang menarik. Selama ini budidaya bawang merah diusahakan secara musiman (seasonal), yang pada umumnya dilakukan pada musim kemarau (April-Oktober), sehingga mengakibatkan produksi dan harganya berfluktuasi sepanjang tahun.

Untuk mencegah terjadinya fluktuasi produksi dan fluktuasi harga yang sering merugikan petani, maka perlu diupayakan budidaya yang dapat berlangsung sepanjang tahun antara lain melalui budidaya di luar musim (off season) serta pengaturan jumlah produksi dengan kebutuhan pasar ( jika produksi lebih banyak dari kebutuhan pasar maka harga juga akan rendah demikian juga sebaliknya ). Dengan melakukan budidaya di luar musim dan membatasi produksi pada saat bertanam normal sesuai dengan permintaan pasar, diharapkan produksi dan harga bawang merah dipasar akan lebih stabil. Tetapi dari segi petani bagaimana caranya tanaman bawang merah dapat tumbuh dengan baik sehingga dapat menghasilkan dengan hasil yang melimpah sehingga dapat mengatasi permasalahan harga yang sedang turun, maka petani masih bisa utung karena hasilnya melimpah, tetapi namanya usaha / bisnis petani juga harus memikirkan strategi yang tepat untuk bisa untung.

Bawang merah adalah tanaman semusim dan memiliki umbi yang berlapis. Tanaman mempunyai akar serabut, dengan daun berbentuk silinder berongga. Umbi terbentuk dari pangkal daun yang bersatu dan membentuk batang yang berubah bentuk dan fungsi, membesar dan membentuk umbi berlapis. Umbi bawang merah terbentuk dari lapisan-lapisan daun yang membesar dan bersatu. Umbi bawang merah bukan merupakan umbi sejati seperti kentang atau talas.

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan   : Plantae
Divisi         : Magnoliophyta
Kelas        : Liliopsida
Ordo         : Asparagales
Famili         : Alliaceae
Genus        : Allium
Spesies      : A. ascalonicum

Nama binomial
Allium ascalonicum L.


Foto : Bawang merah ( Allium ascalonicum )

 

Manfaat

Bawang goreng adalah bawang merah yang diiris tipis dan digoreng dengan minyak goreng yang banyak. Pada umumnya, masakan Indonesia berupa soto dan sup menggunakan bawang goreng sebagai penyedap sewaktu dihidangkan.

Bawang goreng merupakan bumbu yang paling sering di gunakan orang indonesia untuk membuat masakan dengan rasa yang gurih walaupun untuk sebagian orang tidak menyukainya dikarenakan bau yang menyengat, dan sebagian orang berpendapatan bahwa dengan makan bawang goreng akan menyebabkan bau badan. Hal ini masih perlu di buktikan secara ilmiah.

 

Senyawa umbi bawang merah menyebabkan keluarnya Air mata saat mengiris bawang merah

Umbi bawang merah dan bawang bombay dikenal dapat menginduksi keluarnya air mata apabila diiris. Hal ini disebabkan reaksi berantai yang terjadi dalam sel-sel umbinya. Apabila umbi lapis diiris, sel-selnya akan pecah dan melepaskan berbagai senyawa yang terkandung di dalamnya. Dua senyawa yang terlepas di antaranya adalah enzim allinase and asam amino.
Allinase yang bertemu dengan asam amino yang mengandung belerang (sulfoksida, yaitu sistein dan metionin) akan melepaskan asam sulfenat (R-SOH). Asam sulfenat bersifat tidak stabil dan segera berubah menjadi tiosulfinat [R-S(O)-S-R']. Tiosulfinatlah yang bertanggung jawab atas aroma khas bawang. Selain menjadi tiosulfinat, asam sulfenat yang bertemu dengan enzim lain, LF-sintase (LF singkatan dari lacrymatory factor: "faktor air mata"), akan diubah menjadi syn-propanethial-S-oxide yang berwujud gas. Apabila gas ini mengenai kornea mata, signal dikirim sebagai gangguan pada mata dan mata akan berkedip-kedip serta mengeluarkan air mata untuk "mengusir" pengganggu ini

 

Syarat Tumbuh Bawang Merah
Bawang Merah menyukai daerah yang beriklim kering dengan suhu agak panas dan mendapat sinar matahari lebih dari 12 jam. Bawang merah dapat tumbuh baik didataran rendah maupun dataran tinggi (0-900 mdpl) dengan curah hujan 300 – 2500 mm/th dan suhunya 25 derajat celcius – 32 derajat celcius.
Jenis tanah yang baik untuk budidaya bawang merah adalah regosol, grumosol, latosol, dan aluvial, dengan pH 5.5 – 7.

Pedoman Teknis Budidaya Bawang Merah

a. Pemilihan Bibit
Bibit bawang merah dipilih yang sehat : warna mengkilat, kompak/tidak keropos, kulit tidak luka dan telah disimpan 2-3 bulan setelah panen).
Kultivar atau varietas yang dianjurkan adalah : - Dataran rendah : Kuning, Bima Brebes, Bangkok, Kuning Gombong, Klon No. 33, Klon No. 86. - Dataran medium atau tinggi : Sumenep, Menteng, Klon No. 88, Klon No. 33, Bangkok2.

b. Kultur Teknis
Pembuatan bedengan untuk pertanaman bawang merah dilakukan sebagai berikut :
- Pada Lahan bekas sawah dibuat bedengan dengan lebar 1.50-1.75 m. Diantara bedengan dibuat parit dengan lebar 0.5 m dan kedalaman 0.5 m. Tanah di atas bedengan dicangkul sedalam 20 cm sampai gembur.
- Pada Lahan kering Tanah dicangkul atau dibajak sedalam 20 cm sampai gembur. Dibuat bedengan dengan lebar 1.20 m dan tinggi 25 cm.

Jarak tanam bawang merah pada musim kemarau 15x15 cm atau 15x20 cm, sedang pada musim hujan 15x20 cm atau 20x20 cm. Jika pH tanah kurang dari 5.6, dilakukan pengapuran dengan menggunakan Kaptan atau Dolomit minimal 2 minggu sebelum tanam dengan dosis 1-1.5 ton/ha.

c. Pemupukan
Pupuk dasar diberikan 1 minggu sebelum tanam yaitu 15-20 ton.ha pupuk kandang atau 5-10 ton/ha kompos matang ditambah 200 kg/ha TSP. Pupuk disebar dan diaduk rata sedalam lapisan olah.

Jika umur simpan bibit yang akan ditanam kurang dari 2 bulan, dilakukan pemogesan & quot; (pemotongan ujung umbi) kurang lebih 0.5 cm untuk memecahkan masa dormansi dan mempercepat pertumbuhan tunas tanaman. Kemudian umbi bibit ditanam dengan cara membenamkan seluruh bagian umbi. Metode ini mengandung resiko yaitu jika langsung ditanam saat luka masih basah maka akan sangat mudah mengalami pembusukan bibit, untuk itu lebih bijak jika jangan langsung ditanam setelah dilakukan pemogesan, atau tambahkan fungisida.

Penyiraman dilakukan sesuai dengan umur tanaman :
- umur 0-10 hari, 2 x/hari (pagi dan sore hari)
- umur 11-35 hari, 1 x/hari (pagi hari) - umur 36-50 hari, 1 x/hari (pagi atau sore hari)

Pemupukan susulan dilakukan pada umur 10-15 hari dan umur 30-35 hari setelah tanam.

Jenis dan dosis pupuk yang diberikan adalah : Urea 75-100 kg/ha, ZA 150-250 kg/ha, Kcl 75-100 kg/ha. Pupuk diaduk rata dan diberikan di sepanjang garitan tanaman. Penyiangan minimal dilakukan dua kali/musim, yaitu menjelang dilakukannya pemupukan susulan. 3.

Pemeliharaan
a. Penyiraman dapat menggunakan gembor atau sprinkler, atau dengan cara menggenangi air disekitar bedengan yang disebut      sistem leb/ di dereb. Pengairan dilakukan secara teratur sesuai dengan keperluan tanaman, terutama jika tidak ada hujan.      Bawang merah membutuhkan air tetapi tidak boleh berlebih karena akan menyebabkan pembusukan.

b. Pemupukan : Pupuk yang diberikan adalah pupuk kandang, dengan dosis 10 ton/ha, pupuk buatan dengan dosis urea 100      kg/Ha, ZA 200 kg/Ha, TSP/SP-36 250 kg/ha. KCI 150 kg/ha (sesuai dengan kesuburan tanah)

c. Penyulaman, dilakukan apabila dilapangan dijumpai tanaman yang mati. Biasanya dilakukan paling lambat 2 minggu setelah      tanam.

d. Pembumbunan dan penyiangan, dilakukan bersamaan pada saat tanaman berumur 21 hari.

e. Pengendalian OPT dilakukan tergantung pada serangan hama dan penyakit.
    Hama yang menyerang tanaman bawang merah adalah ulat tanah, ulat daun, ulat grayak, kutu daun dan Nematoda Akar.

Pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan)

Pengendalian Hama dilakukan dengan cara:
- Sanitasi dan pembuangan gulma
- Pengumpulan larva dan memusnahkan
- Pengolahan lahan untuk membongkar persembunyian ulat
- Penggunaan Insektisida
- Rotasi Tanaman

Penyakit yang sering menyerang bawang merah adalh Bercak Ungu, Embun Tepung, Busuk Leher Batang, Antraknose, Busuk Umbi, Layu Fusarium dan Busuk Basah.

Pengendalian penyakit dilakukan dengan cara:
- Sanitasi dan pembakaran sisa tanaman yang sakit
- Penggunaan benih yang sehat
- Penggunaan fungisida yang efektif

 

MACAM MACAM HAMA DAN PENYAKIT BAWANG MERAH SECARA UMUM ADALAH :

a. Hama ulat bawang (Spodoptera spp). Serangan hama ini ditandai dengan bercak putih transparan pada daun.
Pengendaliannya adalah :
- Telur dan ulat dikumpulkan lalu dimusnahkan
- Pasang perangkap ngengat (feromonoid seks) ulat bawang 40 buah/ha
- Jika intensitas kerusakan daun lebih besar atau sama dengan 5 % per rumpun atau telah ditemukan 1 paket telur/10 tanaman,    dilakukan penyemprotan dengan insektisida efektif, misalnya Hostathion 40 EC, Cascade 50 EC, Atabron 50 EC atau Florbac.

b. Hama trip (Thrips sp.) Gejala serangan hama thrip ditandai dengan adanya bercak putih beralur pada daun. Penanganannya     dengan penyemprotan insektisida efektif, misalnya Mesurol 50 WP atau Pegasus 500 EC.

c. Penyakit layu Fusarium. Ditandai dengan daun menguning, daun terpelintir dan pangkal batang membusuk. Jika ditemukan      gejala demikian, tanaman dicabut dan dimusnahkan, atau semprot dengan fungisida

d. Penyakit otomatis atau antraknose. Gejalanya : bercak putih pada daun, selanjutnya terbentuk lekukan pada bercak      tersebut yang menyebabkan daun patah atau terkulai. Untuk mengatasinya, semprot dengan fungisida Daconil 70 WP atau      Antracol 70 WP.

e. Penyakit trotol. Ditandai dengan bercak putih pada daun dengan titik pusat berwarna ungu. Gunakan fungisida efektif, antara     lain Antracol 70 WP, Daconil 70 WP, dll untuk membasminya.

 

Panen dan Pasca Panen

- Untuk bawang konsumsi, waktu panen ditandai dengan 60-70% daun telah rebah, sedangkan untuk bibit kerebahan daun lebih dari 90%. Panen dilakukan waktu udara cerah.
Pada waktu panen, bawang merah diikat dalam ikatan-ikatan kecil (1-1.5 kg/ikat), kemudian dijemur selama 5-7 hari).
- Setelah kering penjemuran 5-7 hari, 3-4 ikatan bawang merah diikat menjadi satu, kemudian bawang dijemur dengan posisi penjemuran bagian umbi di atas selama 3-4 hari.
Pada penjemuran tahap kedua dilakukan pembersihan umbi bawang dari tanah dan kotoran. Bila sudah cukup kering (kadar air kurang lebih 85 %), umbi bawang merah siap dipasarkan atau disimpan di gudang.Kemasan bawang

Panen
Panen dilakukan bila umbi sudah cukup umur sekitar 60 HST, ditandai daun mulai menguning, caranya mencabut seluruh tanaman dengan hati-hati supaya tidak ada umbi yang tertinggal atau lecet. Untuk 1 (satu) hektar pertanaman bawang merah yang diusahakan secara baik dapat dihasilkan 10-15 ton.

Pasca Panen
a. Pengeringan umbi dilakukan dengan cara dihamparkan merata diatas tikar atau digantung diatas para-para. Dalam keadaan cukup panas biasanya memakan waktu 4-7 hari. Bawang merah yang sudah agak kering diikat dalam bentuk ikatan.Proses pengeringan dihentikan apabila umbi telah mengkilap, lebih merah, leher umbi tampak keras dan bila terkena sentuhan terdengar Gemerisik.
b. Sortasi dilakukan setalh proses pengeringan
c. Ikatan bawang merah dapat disimpan dalam rak penyimpanan atau digantung dengan kadar air 80 (persen) – 85 (persen), ruang penyimpnan harus bersih, aerasi cukup baik, dan harus khusus tidak dicampur dengan komoditas lain.

Usahatani Bawang Merah

Penggunaan input pada usahatani bawang merah dilakukan secara intensif. Input tertinggi pada tenaga kerja (37% tinggi). Sedangkan input bibit (33%) menempati urutan kedua di dataran rendah dan kedua di dataran tinggi adalah input pestisida (15 %).

Kriteria kualitas yang dikehendaki oleh konsumen rumah tangga adalah :
- Umbi berukuran besar
- Bentuk umbi bulat
- Warna kulit merah keunguan
- Umbi kering askip

Sedangkan konsumen luar (untuk ekspor) yang dikehendaki adalah :
- Umbi berukuran besar
- Bentuk umbi bulat
- Warna kulit merah muda
- Umbi kering lokal

 

ASPEK ANALISA EKONOMI BUDI DAYA BAWANG MERAH

Aspek Pemasaran - Bawang Merah

A. Aspek Permintaan
* Dalam Negeri
Permintaan dalam negeri terhadap bawang merah datang dari berbagai sumber yaitu :
a. Dari pasar bawang merah segar untuk memenuhi permintaan keperluan rumah tangga. Bawang merah merupakan tanaman sayuran yang banyak digunakan oleh keluarga masyarakat Indonesia, terutama sebagai bumbu penyedap masakan. Selain itu juga sering dipakai sebagai bahan obat-obatan untuk penyakit tertentu;
b. Permintaan yang datang untuk memenuhi keperluan industri olah lanjut yang menggunakan bawang merah sebagai bahan baku misalnya untuk industri bawang goreng.

Besarnya jumlah permintaan tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain :
c. Harga bawang yang berlaku di pasar enceran;
d. Pendapatan rumah tangga;
e. Harga bawang yang berlaku di pasar enceran;
f. Harga barang komplemen yang lain;
g. Harga barang turunan dari produk bawang merah;
h. Hari-hari besar di mana permintaan terhadap bawang merah segar cendrung meningkat. Permintaan terhadap bawang merah selain untuk keperluan bawang merah segar juga diperlukan untuk keperluan industri olah lanjut yaitu industri bawang goreng.

* Luar Negeri
Besarnya permintaan terhadap bawang merah yang datang dari luar negeri dapat dilihat dari kecendrungan meningkatnya ekspor mata dagangan ini permintaan tersebut cenderung terus meningkat.
Permintaan ekspor tersebut sebenarnya cukup tinggi, tetapi kendala yang dihadapi oleh eksportir di Indonesia adalah pada kemampuan berproduksi yang kontinyu dalam jumlah besar.
Negara tujuan ekspor terbatas di Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Sedangkan impor bawang merah terutama dari Cina, Phlipina dan Vietnam.


B. Aspek Penawaran
Besarnya jumlah penawaran bawang merah sangat dipengaruhi oleh faktor sebagai berikut :
a. Ketersediaan lokasi yang sangat cocok untuk bercocok tanam bawang merah dan atau luas panen;
b. Iklim;
c. Teknologi budidaya;
d. Harga faktor produksi.

Besarnya penawaran bawang merah dapat dikaitkan dengan produksi bawang merah di Indonesia yang hampir tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Produk bawang merah mengalami kenaikan dengan trend yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 1990 produksi bawang merah Indonesia mencapai 495.183 ton dan meningkat menjadi 509.013 ton pada tahun 1991.
Daerah penghasil bawang merah terbesar adalah Pulau Jawa terutama Jawa Tengah dengan produksi 155.365 ton pada tahun 1991, disusul Jawa Timur sebesar 127. 190 ton dan Jawa Barat 87.680 ton pada tahun yang sama.
Daerah lain di pulau Jawa yaitu di Sumatera Utara (terutama di Pulau Samosir, danau Toba), Bali, Lombok, Lampung, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Aceh, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan daerah lain. Untuk tingkat Kabupaten, Brebes merupakan daerah penghasil terbanyak dengan jumlah 110.627 ton atau sekitar 22% dari total produksi seluruh Indonesia.
Permintaan terhadap bawang merah terbesar dari rumah tangga (keluarga, restoran, hotel dan lain-lain). Bilamana jumlah produksi bawang merah dalam negeri dianggap kurang memenuhi besarnya permintaan, kekurangan pasokan dimaksud dipenuhi oleh impor bawang merah dari luar negeri khususnya berasal dari (Filipina, Taiwan, China). Impor tersebut tidak saja untuk konsumsi, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan bibit.

Sebenarnya bagi Indonesia pasokan bawang merah bukan merupakan masalah, karena panen bawang merah setiap musimnya diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Yang menjadi masalah adalah bagaimana mengatur produksi bawang merah sehingga dalam setiap musim panen tidak sampai terjadi kelebihan pasokan yang dapat menjatuhkan harga di tingkat petani. Jatuhnya harga pada waktu-waktu panen raya dapat mengakibatkan para petani tidak memenuhi kewajban finansialnya baik untuk kepentingan keluarganya sendiri maupun untuk kepentingan usaha taninya di waktu-waktu berikutnya dan kewajiban finansial yang menyangkut ke bank. Dalam waktu musim langka produksi (off season) petani seringkali menghadapi kesulitan dalam menyediakan dana untuk memenuhi ke butuhan awal pekerjaan usaha taninya.



Pemasaran dalam Pola Kemitraan
Ketersediaan jaminan pasar dalam pola kemitraan antara usaha besar dan usaha kecil akan meransang petani untuk memproduksi bawang merah. Dalam usaha kemitraan yang dimaksud sejumlah petani bawang merah diposisikan sebagai mitra Usaha Kecilnya yang lazim disebut dengan Plasma. Salah satu kekuatan budidaya tanaman bawang merah dengan Pola Kemitraan ini adalah bahwa :
. Kepentingan petani terhadap keperluan produksi (bibit bawang merah, pupuk, biaya pengolahan tanah dan biaya pemeliharaan s/d waktu penen) dapat disediakan melalui keberadaan Usaha Besar;
a. Demikian pula di waktu panen, hasil panen petani plasma semuanya akan diserap Usaha Besar dengan tingkat harga yang sudah diperhitungkan sebelumnya sedemikian rupa sehingga setiap kali para petani plasma panen maka INTI akan membeli pada tingkat harga tertentu yang dapat menyebabkan dari hasil total penjualan ini, maka para petani plasma tetap dapat menikmati dari sebagian hasil penjualannya untuk :

1. Keperluan keluarganya,
2. Menanggung beban biaya biaya produksi berikutnya, Menanggung hutang yang lain mereka kepada INTI (kalau ada), dan
3. Tabungan keluarga serta
4. untuk pemupukan modal sendiri.

Mekanisme penjualan bawang merah melalui mekanisme kemitraan ini memang bertujuan pokok agar melalui kemitraan ini semua yang terlibat (INTI, bank, Petani/Plasma, Lembaga Penjaminan Kredit, dll) dalam program kemitraan ini mendapat keuntungan dan keamanan bagi usahanya. Bagi pengusaha besarnya keuntungan dari posisinya sebagai Inti dapat dari penjualan sarana produksi kepada plasmanya dan keuntungan lainnya adalah dari kemampuan perusahaan ini untuk menampung hasil panen bawang merah yang tinggi tersebut dan kemudian oleh lembaga ini produk bawang merah tersebut dikeringkan dan dibersihkan lebih dahulu untuk kemudian agar dapat disimpan lebih lama dan pada saat harga bawang merah kering cukup bagus, disalurkan ke pasar saat terjadi kelangkaan pasokan. Proses ini dapat berlangsung sampai masa dengan masa tanam bawang merah berikutnya. Perusahaan INTI akan mendapatkan keuntungan yang wajar dari fungsinya sebagai lembaga pemasar tersebut. Dengan demikian pola kemitraan ini diduga dapat mencegah terjadinya lonjakan-lonjakan harga bawang merah di pasar eceran.
Sehubungan dengan itu, MK PKT ini menawarkan suatu pola pendekatan terhadap kemungkinan pola tanam dan produksi bawang merah yang dilaksanakan dengan jumlah produksi yang dapat ditargetkan, benar-benar dikuasai/dikontrol sesuai dengan kemampuan daya serap pasar yang dilaksanakan oleh perusahaan INTI. Di pihak lain dengan perusahaan INTI. Di pihak lain dengan demikian para petani akan mendapatkan harga jual yang sesuai dengan kesepakatan dengan memperhitungkan bahwa total penjualan para petani plasma dalam setiap musim panen besar tidak akan sampai harganya jatuh sehingga pada gilirannya para petani peserta kemitraan masih mampu mengatasi beban-beban finansialnya baik untuk kepentingan intern petaninya sendiri maupun kepentingan pihak ketiga (kewajiban kepada bank).
Harga bawang merah di dalam merah negeri mengalami fluktuasi sesuai dengan kondisi penawaran dan permintaan pada saat itu. Tingginya nilai tukar dollar Amerika terhadap Rupiah memperngaruhi semua harga komodoti pertanian termasuk bawang merah. Pada saat sekarang, harga rata-rata bawang lokal di beberapa daerah produsen sekitar Rp. 6.000 - Rp. 8.000 per kg untuk bawang kering konsumsi. Sedangkan untuk bawang bibit berkisar Rp. 10.000 - 12.500 per kg. Harga ini bervariasi dari satu daerah ke daerah lain, sehingga arus perdagangan bawang merah dapat beralih dari Jawa ke Sumatera. Pergerakan bawang merah antar propinsi/pulau sesuai perbedaan harga ini juga dialami oleh komoditi lain terutama cabai merah.
Harga bawang ex. Impor untuk konsumsi di tingkat pedagang sebesar Rp. 6.400 per kg (ex. India), dan Rp. 8,750 per kg (ex. Vietnam). Bawang bibit ex. Philipina Rp. 15.000 kg, dan ex. Thailand Rp. 12.000 per kg. Para konsumen umumnya lebih memilih bawang lokal karena rasa dan aroma yang lebih tajam.
Untuk analisa keuangan dalam MK PKT ini akan digunakan harga di tingkat petani sebesar Rp. 4.000.kg bawang basah

 
 

salam tani
disarikan oleh

Dwi Hartoyo,SP

REFERENSI BUDIDAYA BAWANG MERAH
      a. http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-bawang-merah.html
      b. http://warintek.bantulkab.go.id/web.php?mod=basisdata&kat=1&sub=2&file=29
      c. http://www.litbang.deptan.go.id/download/one/21/
      d. http://www.deptan.go.id/teknologi/horti/tbw_merah.htm
      e.http://www.punden.org/index.
      f. http://sa4t1.wordpress.com/2006/10/07/budidaya-bawang-merah-di-luar-musim/
      g. http://www.dna-ku.info/2009/02/budidaya-bawang-merah.html