Translate :
 
 
 
 

 

 
 
 

HARTA KARUN DI DASAR LAUT

 

Selama ribuan tahun telah banyak kapal kapal yang kandas dan tenggelam di dasar laut. Salah satunya adalah kapal kapal yang kandas di lautan Indonesia. Tidak sedikit kapal kapal karam tersebut memuat harta berharga yang nilainya bisa mencapai trilyunan rupiah. Jika ada kapal karam di suatu wilayah maka kapal beserta muatannya tersebut merupakan milik penguasa / pemerintahan tempat kapal tersebut karam. Itu jika kapal karam tersebut telah karam dalam waktu lama dan tidak ada yang memilikinya. Bagaimana undang undang melindungi aset negara terkait dengan hal tersebut. Berikut ini adalah ulasannya.

Ada setengah juta kapal karam di perairan Indonesia
Direktur Peninggalan Bawah Air Ditjen Sejarah dan Kepurbakalaan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Surya Helmi, Surya Helmi mengatakan, ada sekitar 500.000 kapal karam berada di sejumlah wilayah perairan laut Indonesia. Sementara di seluruh dunia, ada sekitar 5 juta kapal karam. "Menurut data UNESCO, setidaknya ada lima juta kapal karam di seluruh dunia dan 10 persennya ada di Indonesia," kata Surya Helmi di sela-sela Rapat Koordinasi Sinkronisasi Percepatan Pembangunan Museum Maritim di Tanjungpandan, Belitung, kemarin, seperti dilansir dari antara.

Helmi menjelaskan, Indonesia sangat kaya akan cagar budaya bawah laut yang harus dilindungi. "Berdasarkan Undang-Undang (UU) No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, pemerintah akan memberi sanksi berat bagi siapa saja yang melakukan tindak pidana pemindahan atau perusakan Cagar Budaya Indonesia," kata Helmi. Oleh sebab itu, Helmi meminta nelayan untuk tidak sembarangan mengambil benda-benda dari dalam laut tanpa lebih dulu melaporkannya pada pemerintah. Pelanggaran terhadap Undang-Undang tersebut akan dikenai sanksi pidana penjara paling lama lima tahun dan denda maksimal Rp1 miliar.

Sementara Sekretaris Dewan Kelautan Indonesia, Dedy H Sutisna menyebutkan, potensi ekonomi Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (BMKT) senilai USD 1,1 miliar. "Diperkirakan ada 700 hingga 800 titik potensi BMKT tapi baru 463 titik yang teridentifikasi," kata Dedy. Peneliti asal Jepang, Akifumi Iwabuchi mengatakan, Indonesia sangat berpotensi mengembangkan taman budaya bawah air karena banyak terdapat benda-benda bernilai arkeologis di laut. "Misalnya saja Belitung, ada dua buah kapal karam yang sangat berharga tapi sayangnya benda-benda arkeologisnya sudah dijarah yakni kapal dari dinasti Tang dan kapal Tek Sing," kata Akifumi.

Akifumi menjelaskan, dengan teknologi yang tepat penelitian lebih lanjut, taman budaya bawah air dapat dikembangkan di Indonesia.

 

Harta Karun Bernilai Rp413 Miliar di Laut Indonesia
Saat ini ada 463 titik peninggalan harta karun di Tanah Air. Tapi baru dilakukan sepuluh pengangkatan.

Porselen berwujud mangkuk, piring, dan cangkir yang diperkirakan berasal dari zaman Dinasti Ming di China ditemukan di laut Indonesia, di rute menuju Jakarta, pada tahun 2008. Tidak disebutkan lokasi spesifik penemuan ini, hanya disebutkan berjarak 150 kilometer dari pantai Ibu Kota di kedalaman 60 meter. Pada operasi pengangkatan di tahun 2010, ditemukan 38.000 porselen dan hingga sekarang tercatat ada 700.000 item yang ditemukan. Rencananya harta karun bernilai Rp413 miliar akan diangkat oleh perusahaan Portugal yang berbasis arkeologi bawah laut, Arqueonautas Worldwide SA (QOW). Melalui CEO-nya Nikolaus Graf Sandizell, QOW dikatakan akan mengambil harta ini tahun depan. Lamanya waktu pengangkatan karena izin yang sengaja ditunda oleh Pemerintah Indonesia.

Pengangkatan ini, dikatakan Sandizell, harus segera dilakukan untuk mencegah kehilangan. Berbagai faktor bisa memicunya, mulai dari jaring nelayan, eksplorasi minyak, pipa bawah laut, hingga tangan usil para penjarah. "Kami ingin menarik perhatian atas cepatnya harta karun ini menghilang. Dalam waktu sepuluh tahun, ini semua akan terlambat," ujar Sandizell seperti dilansir Bloomberg, Selasa (29/5). Biaya pengangkatan harta karun yang disebut cagar budaya oleh Pemerintah Indonesia ini memakan biaya yang tidak sedikit, sekitar Rp60,5 miliar. Ini belum ditambah biaya platform buatan di atas laut untuk penempatan sementara hasil yang baru diangkut.

Namun, menurut Sekretariat Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam (BMKT), pengangkatan ini belum mendapat izin. Karena BMKT masih menunggu Peraturan Pemerintah turunan dari UU No 11 2010 tentang cagar budaya, "Izin saat ini tidak keluarkan lagi, semuanya masih moratorium," kata Adria Yuki, salah satu anggota di Seksi BMKT saat berbincang dengan National Geographic Indonesia, Rabu (30/5). Pihak BMKT juga sudah mengenal Sandizell karena sempat melakukan presentasi untuk penelitian dan konservasi harta karun yang ditemukan di Indonesia pada April 2012. Jika memang ada sebagian dari harta ini yang dijual, maka hasilnya akan dibagi dua antara Pemerintah Indonesia dengan perusahaan yang mengambilnya. Hanya saja belum ada pembagian persentase barang yang belum dijual.

"Hasil pengangkatan ini tidak boleh dibawa ke luar negeri, hanya boleh dijual di Indonesia. Sebagian dana ini nantinya juga akan untuk penyelamatan cagar budaya Indonesia," kata Yuki lagi.Namun, belum adanya rambu-rambu perizinan bukan artinya cagar budaya Indonesia berupa harta karun ini aman dari penjarahan. Di tahun 1986, Michael Hatcher asal Australia dituding mengambil bernilai triliunan rupiah dari laut Indonesia. Hal ini berlanjut hingga tahun 1999 dan 2010 di mana ia dilaporkan mengambil harta karun di Subang, Jawa Barat.

Besarnya cakupan laut Indonesia, ditambah minimnya pengawasan jadi salah satu faktor kemudahan pencurian ini. Menurut data dari BMKT dan LIPI, saat ini ada 463 titik peninggalan harta karun di Tanah Air tapi baru dilakukan sepuluh pengangkatan. Data UNESCO menyebut, ada tiga juta kapal yang bangkainya teronggok di dasar lautan. 50.000 di antaranya mengandung harta bernilai yang berusia ribuan tahun.

Harta karun bertebaran di perairan Nusantara. Dulu, kira-kira seabad sebelum Bangsa Eropa berlomba-lomba menuju kawasan kaya rempah, wilayah yang kini menjadi Indonesia ini telah mahsyur di bidang perdagangan. Nusantara memiliki hubungan dagang dengan India dan Timur Tengah, lalu pada abad ke-4 dengan orang-orang Eropa.

Selama itulah, tak terhitung jumlah kapal yang hilang dan karam di wilayah Nusantara: kapal China yang mengangkut harta dan keramik berharga, 800 kapal Portugis yang hilang sejak tahun 1650 dalam pelayaran dari Portugal ke Atlantik selatan, melalui Samudra Hindia dan ke Asia Tenggara, lebih dari 7.000 kapal hilang yang didata English East India Company (EIC), juga VOC Belanda yang kehilangan 105 kapal yang berlayar antara tahun 1602 dan 1794. Semua kapal bermuatan barang berharga. Tak heran, perairan Nusantara menjadi incaran, baik oleh arkeolog bawah laut maupun para pemburu harta karun.
Salah satunya, Mamat. Dengan bersenjatakan selang kompresor dan peralatan seadanya, pemburu harta lokal asal Mentawai ini menyelami sebuah titik di Samudera Hindia. Tak lama menyelam, ia menemukan hamparan harta berupa barang pecah belah, jangkar kapal kuno, juga perunggu bertuliskan simbol perusahaan dagang Belanda, VOC.

Bencana alam tsunami yang menggulung Mentawai pada Senin 25 Oktober 2010 ikut menguak keberadaan sejumlah harta. Satu dari empat titik harta karun telah bocor ke telinga para nelayan. Namun, tak melulu para pemburu harta yang berorientasi duit. Ada juga pihak yang melakukan penyelaman untuk menyelamatkan artefak itu. Salah satunya Hardimansyah, yang memilih merahasiakan titik harta karun yang ia temukan dan melaporkannya ke pemerintah. "Angkat barang antik lalu jual, bagi saya tak seperti itu, seminggu paling uang habis. Untuk saya, sejarah tak bisa dipenggal," kata dia. Hingga saat ini, perdebatan soal hak milik harta karun yang ditemukan, baik di laut maupun perut bumi Nusantara tak kunjung berakhir. Lihat videonya dalam tautan ini.

 

Mengejar Harta Karun di Laut
Geografis Indonesia yang strategis yakni di antara dua benua, Asia dan Australia, dan di antara dua samudera India dan Pasifik, menjadikan wilayah perairan Indonesia sejak dahulu kala sebagai jalur lalu lintas pelayaran internasional yang ramai yang menghubungkan negara-negara di wilayah Eropa, Afrika, Timur tengah, Asia Selatan dan Asia Timur. Tidak mengherankan wilayah perairan Indonesia dikenal sebagai salah satu wilayah perairan yang dipenuhi ratusan hingga ribuan kapal karam, terutama di jalur pelintasan dan sekitar pusat-pusat perdagangan


Di antara kapal-kapal karam tersebut diperkirakan membawa benda-benda artefak berupa keramik, logam mulia (emas, perak, perunggu), batuan berharga dan benda lainnya yang diperkirakan memiliki nilai tinggi, sehingga banyak terjadi pencurian dan penjualan benda-benda asal kapal tenggelam secara ilegal.
Kapal-kapal karam berikut muatannya yang dikenal sebagai Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (BMKT) tersebut merupakan aset negara yang sangat berharga, baik ditinjau dari nilai ekonomi maupun nilai sejarah dan budaya, Pemerintah melalui Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (PANNAS BMKT) menyelenggarakan pengelolaan BMKT agar kekayaan laut tersebut dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk negara.

Kegiatan pengelolaan BMKT telah berhasil mengangkat BMKT sebanyak 12 (dua belas) dari beberapa lokasi kapal karam yang selanjutnya menjadi prioritas utama PANNAS BMKT untuk pemanfaatannya, dengan mempertimbangkan kepentingan pelestarian nilai-nilai sejarah, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan ekonomi.
Bedasarkan Data dari Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) sendiri menyebutkan bahwa ada sekitar 700 sampai 800 titik harta karun yang potensial untuk diangkat, namun yang teridenfikasi baru 463 titik. Sampai sekarang lebih kurang 46 titik yang sudah diangkat atau sekitar 10 persen. Tapi yang tejual melalui proses pelelangan dengan baik belum ada.
Direktur Institute for National Strategic Interest & Development (INSIDe) Muhammad Danial Nafis, mengatakan persoalan BMKT, merupakan persoalan yang sangat kompleks, dan membutuhkan penanganan secara khusus. Aktivitas terhadap kegiatan ini skalanya besar, yaitu meliputi proses penelitian, survei, pengangkatan, sampai pada lelang.

Untuk itu, kata Nafis, Pemerintah RI perlu membentuk lembaga yang legitimate dan mandiri yang bertanggungjawab langsung kepada presiden dan operasionalnya dibebankan melalui APBN. Lembaga yang terbentuk, tetap melakukan koordinasi dengan pejabat-pejabat terkait. Selain pengelola BMKT yang masih berbentuk panitia nasional, BMKT juga dikelola oleh perwakilan berbagai instansi. ”Sehingga itu akan menyulitkan dalam berkoordinasi,” kata Nafis kepada Indonesia Maritime Magazine Melanjutkan keterangannya, Nafis mengatakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga tidak memperlihatkan keseriusannya dalam mengelola BMKT. “Jadi, bagaimana mau menyelamatkan harta karun yang dibawah laut, di internal mereka saja masih banyak yang harus dibenahi.” Sindirinya.
Selain persoalan tersebut, BMKT juga tidak didasari dengan peraturan yang jelas. Menurutnya, Keppres yang sudah ada (Keppres no. 107 Tahun 2000) tidak memberikan aturan secara detil. ”Aturan itu hanya memberikan alokasi-alokasi general.”

Padahal, kata dia, jika BMKT itu mampu dikelola dengan baik. Maka, manfaat yang didapatkan Negara sangat besar. Tidak hanya sekadar keuntungan yang bersifat materi yang didapat, tapi juga keuntungan yang sifatnya nonmateri, seperti kebudaayan, pendidikan dan lainnya.
Menurutnya, keuntungan yang didapat dari satu kapal saja, mampu menembus angka Rp. 1.000.000.000.000 (satu triliun). Maka, tak jarang pencurian barang berharga di dalam laut menjadi incaran pra oknum yang tidak bertanggungjawab. “Yang sudah banyak di keruk di kawasan Bangka Belitung, dan laut utara Jawa.”
Karena itu, dia berharap agar pemerintah mampu memberikan ruang gerak dan consern terhadap BMKT. “Wajib ada badan tersendiri yang menangani BMKT dan langsung di bawah presiden serta ada alokasi pendanaan secara jelas”
Nafis menambahkan, diperlukan segera revisi terhadap peraturan perundang-undangan yang ada termasuk UU No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya maupun peraturan-peraturan dibawahnya yang berhubungan dengan kelangsungan pengelolaan BMKT.

”Perlu adanya sanksi bagi perusahaan-perusahaan yang tidak berkomitment terhadap pemeliharaan warisan budaya dengan mengedepankan kepentingan ekonomi. Hal ini penting mengingat, dari beberapa kapal.” tandas Nafis
Mengomentari itu, Sekjen Panas BMKT, Sudirmaan Saad mengatakan sesuai Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2007 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Yang Tenggelam (PANNAS BMKT), disebutkan bahwa salah satu tugas PANNAS BMKT adalah menyelenggarakan koordinasi kegiatan pemantauan, pengawasan, dan pengendalian atas proses survei, pengangkatan dan pemanfaatan BMKT.
“Khusus untuk menjaga keamanan laut Republik Indonesia, pemerintah telah membentuk Badan Koordinasi Keamanan Laut yang anggotanya lintas sektor di bidang keamanan laut seperti, TNI AL, Polisi Perairan, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kepala lembaga langsung bertanggung jawab kepada Presiden,” kata Sudirman Saad kepada Indonesia Maritim Magazine

Pengamanan di laut sendiri, Sudirman Saad mengakui masih sangat terkendala dengan sarana dan prasarana pendukung yang tidak seimbang antara luas laut dan jumlah armada untuk pengawasan di laut, khususnya BMKT. Sehingga, lanjut Sudirman Saad perlu dioptimalkan pengawasan yang melibatkan masyarakat, khususnya nelayan. “Saat ini Kementerian Kelautan dan Perikanan telah merintis kelompok pengawas masyarakat (POKWASMAS) di daerah pesisir di bawah pembinaan Direktorat Jenderal PSDKP,” tegasnya.
Disinggung mengenai kurang optimalnya Panas BMKT dalam melakukan penanganan, Sudriman biasa disapa dengan tegas membantahnya. Menurutnya, penanganan BMKT sudah dilkaukan serius dengan cara, proses perizinan survey dan perizinan pengangkatan harus melalui penilaian tim teknis dan harus disetujui instansi yang terkait. Kemudian telah dimiliki warehouse BMKT untuk penanganan BMKT hasil pengangkatan.

Tidak hanya itu, Sudirman juga mengakui telah dilakukan pendistribusian sebagian hasil pengangkatan ke 10 lembaga, khususnya lembaga pendidikan dan penelitian untuk tujuan pengkayaan koleksi dan menunjang ilmu pengetahuan. “Hasil pengangkatan BMKT sedang diproses pemanfaatannya melalui lelang/dijual dan kerjasama pengembangan museum maritime di Indonesia,” ujarnya tegas.
Ditanya mengenai masih markanya pencurian baik yang dilakukan oleh orang dalam sendiri maupun pihak asing, Sudirman mengatakan saat ini dirinya terus mengoptimalkan, pengawasan dan pengendalian yang didukung dengan sumberdaya yang memadai dari segi sarana, prasarana dan SDM. Kemudian pelibatan masyarakat dalam mengawasi BMKT.

Sementara mengenai revisi Keppres No 107/2000, Sudirman mengatakan Keppres No. 107/2000 sudah mengalami dua kali revisi sejak tahun 2007, yaitu Keppres No. 19 Tahun 2007 yang kemudian direvisi menjadi Keppres No 12/2009. Sudirman menambagkan, mengenai penggunaan kata harta karun, menurutnya perlu diklarifikasi, dimana penggunaan istilah harta karun kurang tepat. Mengingat, penggunaan istilah harta karun cenderung dikaitkan dengan aspek ekonomi yang nantinya akan menjadi incaran banyak para pemburu harta karun. “Harta karun yang dikelola PANNAS BMKT sendiri merupakan benda berharga asal muatan kapal yang tenggelam yang mengandung aspek sejarah, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan ekonomi,” tukasnya.

Sampai sejauh ini, Sudriman mengakui jika kegiatan pencurian BMKT di pantai Utara Jawa, dikarenakan di perairan tersebut banyak mengandung potensi kapal tenggelam yang mengandung BMKT. Dijelaskan olehnya, bahwa diwilayah perairan utara jawa tersebut sejak dahulu kala sudah ramai dilalui kapal-kapal baik dari Cina, Eropa, Spanyol, Portugis, VOC, yang membawa barang-barang berharga untuk kegiatan perdagangan dan pengangkutan dimana merupakan jalur pelayaran yang relative aman dari keganasan perairan. “Akan tetapi, dengan kharakteristiknya yang dangkal dengan kemampuan sarana navigasi banyak kapal-kapal tersebut yang karam di wilayah tersebut, sehingga tidak heran apabila banyak kegiatan pencurian BMKT di wilayah tersebut,” terangnya.

Menegnai proses penjualan BMKT itu sendiri, Sudirman mengatakan sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2007 pasal 1 angka 5. Untuk tahap pertama, dilakukan penjualan BMKT Cirebon yang diangkat dari Perairan Laut Jawa, 70 mil utara Cirebon pada koordinat 05o 14’ 55”LS dan 108o 58’ 39” BT, hasil pengangkatan sejak April 2004 sampai Oktober 2005, kurang lebih 271.834 artefak yang sebagian besar berupa keramik, gelas, logam mulia dan batuan berharga dari Abad ke X dari Lima Dinasti Cina (the Five Dynasties or Sung Dynasty), Sasanian Empire dan Fatimid Dynasty dari Timur Tengah dan Afrika

“Pelelangan BMKT Cirebon bersifat terbuka, dapat diikuti perseorangan atau lembaga baik dari dalam maupun luar negeri yang dilakukan dalam satu lot dengan harga limit US$ 80 juta. Peserta lelang harus menyetor uang jaminan penawaran lelang sebesar 20% dari harga limit atau US$ 16 juta,” pungkasnya.

 

Laut Indonesia Simpan Harta Karun Farmasi & Energi
Kepala Badan Litbang Kelautan dan Perikanan Rizald Max Rompas mengatakan dua sumber ekonomi kelautan yakni farmasi) dan energi laut belum diolah sama sekali di Indonesia. Dia mengatakan eksplorasi laut Indonesia baru ditujukan untuk transportasi, jasa kelautan, perikanan, mineral dan gas bumi, pariwisata bahari. “Padahal pharmaceutical bisa lebih menguntungkan dari sektor perikanan,” kata dia.

Pharmaceutical laut yang dimaksud Rompas adalah penyediaan bahan baku untuk membuat kosmetik atau obat-obatan. Menurutnya, selama ini Indonesia masih banyak mengimpor bahan baku dari luar.

“Alangkah baiknya kita buat sendiri bahan bakunya, lebih baik lagi jika kita memasarkannya sudah langsung barang jadi. Jadi nilai ekonominya lebih tinggi,” katanya.Hingga kini, menurut Rompas, Badan Litbang Kelautan dan Perikanan RI sudah dalam tahap melakukan penelitian mengenai pharmaceutical laut untuk bisa dikembangkan selanjutnya.

“Untuk sekarang masih tahap penelitian. Semua ‘kan harus berdasarkan hasil penelitian,” katanya.Selain sektor pharmaceutical, sektor penggunaan energi dari laut juga masih belum banyak digunakan.Prof Rompas menjelaskan ada tiga sumber energi laut yang bisa digunakan, yakni arus, ombak, dan angin. Namun kini, baru arus saja yang akan diuji coba.“Nanti 2014 akan diuji coba di Laratuka, NTT,” katanya. Untuk bisa menghasilkan energi dari arus, sebelumnya harus dilakukan observasi terhadap pola arus sehingga alat yang ditanam kelak terus bisa menghasilkan energi.

“Ini karena arus banyak dipengaruhi berbagai macam hal. Harus membuat alat (turbin) yang fleksibel,” katanya.Sedangkan untuk pendistribusian hasil energi laut, Rompas mengatakan bahwa hal tersebut bukan lagi ranah Badan Litbang Kelautan dan Perikanan.“Tapi kami akan bekerjasama dengan PLN agar energinya bisa dipakai oleh semua warga,” pungkasnya.(Antara/yri)

 

Akhirnya Harta Karun Laut Itu Dijual
Akhirnya artefak cagar budaya—yang populer disebut harta karun laut—dari Indonesia itu dijual di Singapura awal April 2012. Sebenarnya benda-benda tersebut pernah dilelang di Indonesia tahun 2010 dan menarik minat banyak negara.

Namun, adanya keharusan bahwa setiap peserta lelang menyetor uang jaminan sebesar 20 persen dari perkiraan penjualan minimal, yakni sebesar US$ 16 juta, membuat para peserta lelang menarik diri.
Apalagi penjualan hanya dilakukan satu lot, tidak dipilah-pilah sebagaimana lelang pada umumnya. Ketika itu diperkirakan hasil lelang akan mencapai US$ 80 juta. Lelang kedua dan ketiga berupa penawaran langsung kepada museum, juga tidak menarik peminat.

Benda-benda kuno tersebut berasal dari kapal kargo asal Tiongkok yang tenggelam pada abad ke-10 Masehi di perairan Cirebon, Jawa Barat. Sekitar 250.000 benda terdiri atas berbagai artefak itu, pertama kali ditemukan para nelayan pada sebuah bangkai kapal sedalam 57 meter di bawah laut. Di luar Tiongkok, benda-benda kuno lainnya berasal dari India dan wilayah Timur Tengah.
Sesuai kesepakatan dengan Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda-benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (Pannas BMKT), maka ditunjuk PT Paradigma Putra Sejahtera (PPS) untuk bekerja sama dengan Belgia Cosmix Underwater Research Ltd. Seluruh benda yang diangkat akan dibagi dua, yakni untuk perusahaan investor (eksplorer) dan pemerintah RI.

Dengan catatan, artefak-artefak yang langka dan unik diprioritaskan menjadi koleksi negara. Tercatat 991 artefak telah dipilih menjadi koleksi negara untuk ditempatkan dalam museum-museum yang ditunjuk.
Koleksi yang dijual di Singapura itu—dalam sebuah transaksi yang tidak dipublikasikan ke publik—mencakup rubi, mutiara, perhiasan emas, batu kristal dari dinasti Fatimiyah, gelas dari Iran, dan porselen kekaisaran Tiongkok.
Benda-benda tersebut dijual dalam satu batch sehingga dapat dibeli oleh kolektor atau museum yang berminat. Menurut Luc Heymans, pemimpin Belgia Cosmix Underwater Research Ltd, barang-barang itu merupakan temuan terbesar dari Asia Tenggara, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Kejanggalan
Disayangkan, penjualan benda-benda kuno di Singapura itu mengindikasikan kecurangan. Sebagai contoh adalah hulu pedang yang saat ditemukan berjumlah dua. Ketika itu kondisi yang satu masih bagus, sementara koleksi satunya lebih jelek. Menurut kesepakatan, seandainya ada dua barang, maka yang terbaik harus menjadi koleksi negara. Ironisnya, yang terjadi kebalikannya. Benda yang jelek malah jadi koleksi negara. Diperkirakan hulu pedang tersebut milik seorang pembesar yang turut dalam kapal.

Arkeolog Bambang Budi Utama dikutip mengatakan dirinya tidak tahu siapa yang mengambil keputusan pelelangan tersebut. Dia hanya bertugas memilih dengan segala kemampuan dan pertimbangan yang ada. Konon, artefak yang dipilih kemudian masuk dalam daftar lelang, ditukar dengan cetakan bertulisan asmaul husna. Padahal, sesungguhnya cetakan tersebut juga sudah termasuk yang dipilih untuk koleksi negara.
Menurut Bambang, kejanggalan lain adalah tim pemilih tidak diberi akses untuk menyeleksi perhiasan yang disimpan di safety box Bank Mandiri. Dalam safety box juga terdapat prasasti emas dari abad 9-10 M, sebagaimana terlihat pada foto.

Menurut dia, kejanggalan itu perlu ditelusuri dan diusut tuntas, sebab bagaimana mungkin barang sedemikian banyaknya bisa lolos sampai Singapura. Padahal, tidak pernah sekalipun ada perorangan atau instansi yang minta izin ke instansi Kebudayaan (Direktorat Peninggalan Bawah Air, sekarang Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman), apalagi instansi Kebudayaan tidak akan memberikan izin keluar barang-barang tersebut.
Sejarah Penemuan

Pada Februari 2003, sekitar 70 kilometer lepas pantai perairan Cirebon, jaring ikan nelayan setempat tersangkut beberapa benda keramik. Informasi ini kemudian ditindaklanjuti oleh PT Paradigma Putra Sejahtera (PPS) yang bekerja sama dengan Belgia Cosmix Underwater Research Ltd. Mereka mengajukan permohonan izin kepada Pannas BMKT untuk melakukan survei dan selanjutnya melakukan pengangkatan. Proses tersebut dimulai pada April 2004 dan berakhir Oktober 2005. Lebih dari 500.000 benda berhasil diangkat dari runtuhan kapal yang tenggelam itu. Sekitar 262.000 keramik dikembalikan lagi ke laut karena pecah. Benda-benda tersebut terbuat dari kayu, logam, kaca, keramik, batu, dan gading. Ada juga rempah-rempah dan kemenyan. Artefak berupa keramik paling menonjol, jumlahnya mencapai 90-an persen dari keseluruhan benda.
Keramik dari perairan Cirebon terdiri atas tiga jenis, yakni porselen, bahan batuan (stoneware), dan tembikar (earthenware). Temuan terbanyak berupa mangkuk, piring, guci, dan cepuk. Keramik-keramik tersebut diidentifikasi buatan Provinsi Zhejiang di Tiongkok dari masa Dinasti Lima yang memerintah mulai abad ke-9 Masehi (Widiati, 2007:16-25).

Di antara kepingan kapal juga ditemukan kayu. Diduga merupakan sisa-sisa runtuhan kapal. Temuan lain berupa gigi, gading, tanduk, kerajinan tangan, dadu, pion catur, dan buah kelapa. Penemuan tulang manusia sangat sedikit. Kemungkinan besar, para awak kapal mampu menyelamatkan diri ke daratan ketika terjadi musibah.
Ekskavasi Menurut Horst Liebner (Varuna, Jurnal Arkeologi Bawah Air, 2007), posisi tenggelamnya kapal menjadi kunci dalam menentukan trayek dan haluan pelayaran. Berhubung muatan yang diangkut berasal dari Tiongkok, India, Timur Tengah, dan Sumatera, kemungkinan kapal itu berlayar dari kawasan barat Nusantara ke arah timur.
Hampir seluruh artefak yang diangkat, bukan produk kerajaan di Nusantara. Khusus artefak yang beraksara Arab, merupakan nilai tambah untuk menafsirkan sejarah masuknya Islam ke Nusantara. Berdasarkan temuan ini, kemungkinan besar Islam masuk ke Indonesia bukan lagi awal abad ke-12, tetapi sekitar abad ke-9 Masehi melalui orang-orang yang berhubungan dagang dengan Nusantara.

Bambang Budi Utomo menduga, kapal yang tenggelam itu berasal dari Pelabuhan Kufah atau Basra yang sekarang termasuk wilayah Irak. Dalam pelayarannya ke arah timur, mungkin menuju Pelabuhan Kambangputih (Tuban), kapal itu sempat singgah di Sumatera. Setelah meneruskan perjalanan, kemudian tertimpa musibah di perairan Cirebon.
Tidak Serius Liebner menilai tidak ada keseriusan, baik pemerintah maupun ilmuwan Indonesia, dalam menangani temuan tersebut. Bertahun-tahun lamanya, yaitu sejak akhir 2005, semua benda temuan itu tersimpan begitu saja di sebuah gudang. “Contohnya adalah lembaran emas. Ketika membawanya ke darat, saya meminta agar dilakukan langkah-langkah konservasi lalu menerjemahkan tulisan yang ada di atasnya. Namun, petugas pengawasan memutuskan menyimpannya di safety box Bank Mandiri. Meski saya sudah buat foto mozaik dan rekonstruksi tulisannya kemudian membaginya ke beberapa orang, tiada seorang ilmuwan Indonesia pun yang tertarik menerjemahkannya,” kata Liebner.
“Setelah bertahun-tahun, akhirnya hanya teman dari EFEO baru-baru ini mau menganalisis foto mozaik tulisan itu. Nasib sampel-sampel lainnya lebih memprihatinkan, hanya membusuk di gudangnya,” cerita Liebner (5/4/2012).
Menurut Liebner, sebenarnya Indonesia sudah beberapa kali “menggudangkan” temuan-temuan serupa. Misalnya temuan kapal karam Intan dan Karawang yang berasal dari kurun waktu yang sama. “Sudah pernahkah ada informasi, terbitan, atau hasil penelitian tentang ini, selain yang dibuat oleh orang asing (bagi muatan Intan oleh M Flecker) atau pekerja lepas perusahaan salvage (bagi Karawang oleh sekelompok alumni arkeologi UI)?” kata Liebner.***

 

Indonesia Punya 5.000 Titik Harta Karun di Bawah Laut, Pemerintah Minta Bantuan Warga Amankan
Pemerintah terus berupaya mengajak masyarakat untuk berperan serta dalam melestarikan peninggalan bawah air yang ditengarai menyebar di ribuan titik. "Kalau pemerintah saja tentu tidak akan maksimal, sehingga peran serta masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian peninggalan bawah air sangat diharapkan," kata Direktur Peninggalan Bawah Air, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar) Surya Helmi, pada seminar sehari di Mataram,Seminar sehari itu mengedepankan peningkatan peran serta masyarakat terhadap pelestarian peninggalan bawah air. Surya mengatakan, peningkatan peran serta masyarakat nelayan terhadap peninggalan bawah air sangat relevan dengan berbagai keterbatasan yang dialami pemerintah dalam melestarikan kekayaan alam itu.

"Masyarakat harus ikut menjaga kekayaan itu dan kalau melihat pengangkatan ilegal, segera laporkan kepada aparat yang berwewenang seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata atau aparat kepolisian setempat, dan pasti akan ditindaklanjuti," ujarnya.Ia mengatakan, pengawasan terhadap keberadaan peninggalan bawah laut sudah harus ditingkatkan karena Pemerintah Indonesia sudah seringkali kecolongan. Sejak dulu, banyak kegiatan pelelangan barang antik hasil pengangkatan peninggalan bawah laut, yang digelar diluar negeri namun benda itu berasal dari perairan Indonesia.

"Kemarin saya mendapat laporan ada pelelangan di Singapura, itu bukti pelelangan peninggalan bawa laut yang banyak dilakukan di negara lain, namun kebanyakan merupakan hasil pengangkatan di Indonesia," ujarnya. Menurut Surya, benda antik peninggalan bawah laut Indponesia itu bisa sampai ke luar negeri, karena pengawasan dan peran serta masyarakat nelayan masih sangat kurang.Sementara potensi peninggalan bawah laut di hampir semua daerah di Indonesia cucup menjanjikan. Data Unesco, terdapat sekitar 5.000 titik kapal tenggelam di Asia Tenggara, yang diyakini berpotensi memiliki peninggalan bawah air. Dari 5.000 titik itu, sekitar 3.000

 

 

 

 

 

Salam,

Dwi Hartoyo, SP

REFERENSI
1. http://id.berita.yahoo.com/ada-setengah-juta-kapal-karam-di-perairan-indonesia-024231882.html
2. http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/05/harta-karun-bernilai-rp413-miliar-di-laut-indonesia
3. http://nasional.news.viva.co.id/news/read/301680-video--surga-harta-karun-di-laut-indonesia
4. http://nasional.news.viva.co.id/news/read/301680-video--surga-harta-karun-di-laut-indonesia
5. http://indomaritimeinstitute.org/?p=599
6.http://bisnis-jabar.com/index.php/berita/laut-indonesia-simpan-harta-karun-farmasi-energi
7. http://www.shnews.co/detile-915-akhirnya-harta-karun-laut-itu-dijual.html
8. http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/seni-budaya/11/03/24/171890-indonesia-punya-5-000-titik-harta-karun-di-bawah-laut-pemerintah-minta-bantuan-warga-amankan