Translate :
 
 
 
 
 
 
 

AMERICAN POLITICAL SCANDALS
( SKANDAL SKANDAL POLITIK AMERIKA )

 

Skandal Watergate
Skandal Watergate (1972-1974) (atau disebut langsung "Watergate") adalah skandal politik di Amerika Serikat yang mengakibatkan pengunduran diri Presiden Richard Nixon, hal ini mengakibatkan krisis konstitusi yang menghebohkan pada tahun 1970-an. Skandal tersebut dinamakan menurut nama sebuah hotel di Washington, D.C., tempat dimana skandal tersebut terjadi.
Peristiwa tersebut dimulai dengan penangkapan lima laki - laki yang berusaha masuk ke Komite Nasional Demokrat dan memasang alat penyadap. Insiden tersebut diselidiki dan ternyata dilakukan oleh kelompok pendukung Nixon, Komite untuk Pemilihan Kembali Presiden. Dua pencuri dan dua orang lain divonis bersalah, namun hakim yang memimpin sidang, John Sirica menduga adanya konspirasi politik dibalik kegiatan tersebut. Senat Amerika Serikat kemudian meluncurkan komite untuk melakukan penyidikan lebih lanjut. Presiden Nixon kemudian meluncurkan catatan pembicaraan yang direkam berkaitan dengan masalah watergate pada April 1974. Mahkamah Agung kemudian memerintahkan presiden Nixon untuk menyerahkan semua rekaman tersebut. Setelah itu, komite yang dibentuk oleh kongres mengeluarkan impeachment terhadap presiden. Presiden Nixon kemudian mengeluarkan pernyataan dan mengakui bahwa dirinya mengetahui adanya upaya untuk menutup-nutupi tidak lama setelah peristiwa Watergate dan bahwa dia mencoba menghentikan penyelidikan FBI. 8 Agustus 1974, Presiden Nixon akhirnya mengundurkan diri.

Pada tahun 1937 Presiden A.S Franklin D. Roosevelt tidak memperoleh persetujuan publik mengenai Coutt Packing Scheme, sebuah usulan untuk mereorganisasi pengadilan tinggi sebagai upaya untuk membuat badan ini menjadi lebih bersahabat dengan New Deal ( Perjanjian Baru ).

Irangate adalah kasus yang melibatkan anggota anggota senior dari administrasi presiden Ronald Reagan ( 1981 - 1989 ) yang menjual senjata kepada Iran meskipun seluruh dunia melarangnya.

Skandal Skandal yang membayang bayangi presiden Bill Clinton yang diduga sebagai bagian dari persekongkolan konservatif , berawal dari sebuah proyek investasi di Whitewater, sebuah proyek pengembangan lahan di Arkansas.

Sekretaris negara Albert Fall adalah pejabat kabinet Amerika pertama yang dipenjara ( 1922 ) dituduh menerima suap sebagai imbalan untuk kontrak minyak dalam skandal Teapot Dome.

Skandal Politik Indo Amerika; Dulang Suriah, Tangan Jakarta, Wajah Papua
Jakarta ikut memainkan politik karet gelang Amerika Serikat di Suriah. Nama pemerintah memang bisa baik. Tapi mereka mungkin lupa kalau Amerika bukan ‘trench mate’, kawan separit, yang amanah. Toh, tak ada yang bisa menjamin kalau perlawanan bersenjata yang disponsori asing seperti di Suriah saat ini, tak terulang di Papua suatu hari nanti.

Pekan lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Kementrian Luar Negeri memanggil pulang duta besar dari Damaskus, Suriah. Pemanggilan untuk “konsultasi” sekaligus antisipasi “hal-hal yang tidak diinginkan”, kata Kementrian singkat. Tapi bahkan dari yang sedikit dan terkesan misleading itu, seolah istri duta di sana tak bisa lagi ke salon karena peluru beterbangan di seantero Damaskus, orang dengan mudah menebak kalau Jakarta telah bergeser jauh dari poros politik bebas aktif yang diamanatkan undang-undang dan, ironisnya, justru sedang memberi angin pada proyek penggulingan rezim sebuah negara berdaulat.

Dalam lima bulan terakhir, Amerika Serikat – dengan dukungan Turki, Arab Saudi dan Uni Eropa – memang mengencangkan karet gelang tekanan pada rezim Bashar Assad. Mereka menggalang dukungan dari sana sini dan intinya ingin Assad berhenti keras kepala. Mereka ingin Suriah melepas dukungan pada Iran, Hizbullah dan Hamas; trio perlawanan yang sukses mengandaskan mimpi hegemoni Amerika di Timur Tengah.

Sejauh ini, mereka masih di atas angin. Musim Semi Revolusi Arab memuat mereka punya ruang manuver untuk memproyeksikan pemberontakan kawanan bersenjata di pinggiran Suriah, yang notabene mereka biaya sepenuhnya, sebagai “gerakan pro reformasi yang damai” dan rezim Assad yang mengirim tentara untuk memadamkan pemberontakan itu –persis seperti Jakarta mengirim tentara untuk menghentikan kawanan bersenjata di Papua –dengan mudahnya mereka cap sebagai tiran, haus darah, pelanggar hak asasi, barbar dan biadab.

“Assad harus pergi!” Itu kata Barack Obama, Presiden Amerika, yang dari lagak dan nada bicaranya mengesankan Suriah telah kocar kacir akibat ‘perlawanan rakyat’ – meski faktanya yang memberontak hanya sejumlah provinsi di pinggiran negeri.

Di Jakarta, sebagian kalangan mulai merasa kalau haluan IndoAmerika dalam politik luar negeri Presiden Susilo sebagai sesuatu yang mencengangkan, tak ubahnya pendadakan di medan terbuka.

Tidakkah di bulan-bulan yang lalu, presiden sendiri yang memberi restu ke seorang pangeran Arab Saudi yang datang ke Jakarta untuk mencari dukungan invasi Arab Saudi ke Bahrain; sebuah langkah kuda yang bertujuan menyokong tahta keropos Dinasti Al-Khalifa sekaligus memberangus jutaan demonstran yang menuntut perubahan politik hanya dengan modal takbir dan shalawat? Nah, jika presiden bisa mentolerir langkah brutal pasukan militer Saudi di Bahrain, kanapa pula presiden perlu ‘tersumbing’ saat Damaskus mengirim militer untuk menjawab pemberotakan bersenjata yang telah menewaskan ratusan polisi dan tentara Suriah?

Okelah jika yang jadi kepedulian presiden adalah “gelombang kekerasan sipil”, 1.700 orang yang mati sejauh ini, kabarnya, dan laku rezim yang keras seperti yang ditudingkan pejabat Eropa. Tapi jika memang itu sebabnya, kenapa pula kita di Jakarta sini tak pernah mendengar Kementrian Luar Negeri menarik duta besar dari Amerika, Inggris, Eropa, dan Australia mengingat mereka semua menginvasi Afghanistan dan Irak dalam satu dekade terakhir dan sebab itu ada dua juta orang penduduk sipil yang mati?

Di luar semua itu, tidakkah kita perlu berpikir kalau ada kemungkinan tangan-tangan sing mengencangkan gendang perlawanan kelompok bersenjata di Papua, dan Jakarta akhirnya terjepit di hadapan Amerika, persis seperti Suriah saat ini?

Skandal Seks, Warna Lain Politik Amerika
Eliot Spitzer adalah secuil cerita dari sekian puluh skandal seks yang melibatkan politisi AS, terutama dari Partai Demokrat. Membaca keterlibatan Spitzer dengan jaringan prostitusi kelas atas internasional bisa menggiring kita ke skandal-skandal seks yang sebelumnya menghiasi headline surat kabar dan liputan utama televisi di Negeri Paman Sam itu.

Skandal terbesar yang nyaris menjatuhkan seorang presiden adalah kisah asmara Bill Clinton dengan Monica Lewinsky. Pada 1998, Clinton mengakui punya hubungan fisik yang tidak pantas dengan Lewinsky saat perempuan itu menjadi sekretarisnya.

Begitu besarnya magnet skandal ini, sehingga lawan-lawan politik Clinton berupaya keras menjatuhkannya. Bahkan Clinton sempat menjalani impeachment, namun ia terlalu kuat untuk dijatuhkan. Selain, Lewinsky, sejumlah nama perempuan dikaitkan dengan Clinton, baik ketika ia menjabat gubernur Arkansas maupun presiden AS. Sebut saja di antaranya Gennifer Flowers, Paula Corbin Jones, Elizabeth Ward Gracen yang mantan Miss Arkansas, Sally Purdue yang juga mantan Miss Arkansas.


Selain itu ada beberapa perempuan yang namanya tidak terlalu menghentak publik, seperti Dolly Kyle Browning yang pernah lama menjadi pacar Bill Clinton, Juanita Broaddrick yang mengaku pernah diperkosa Clinton, dan Kathleen Willey yang mengaku diraba-raba politisi Demokrat itu.

Skandal seks lain menimpa Gary Hart saat ia menjadi calon terkuat Partai Demokrat dalam pemilu presiden 1988. Namun ia tidak punya pilihan lain selain mundur gara-gara beredarnya sebuah foto. Dalam foto itu ia terlihat mesra memangku seorang perempuan bernama Donna Rice di sebuah yatch mewah Monkey Business. Sebelumnya foto itu muncul, rumor bahwa ia punya selingkuhan sudah beredar luas, tetapi ia hanya menanggapi dengan santai. “Buntuti saja, saya tidak peduli. Jika seseorang ingin menguntit, saya maju terus. Mereka akan bosan dengan sendirinya,” katanya.


Namun rupanya media, khususnya Miami Herald, tidak mengenal kata bosan untuk urusan skandal seks politisi. Mereka terus mengejar perempuan selingkuhan Hart, sambil menurunkan laporan-laporan eksklusifnya yang terus dibantah Hart. sampai bisa membuntuti Hart dan Rice yang sedang berlibur di sebuah yatch mewah. Sampai kemudian muncul lah foto yang membuat Hart tersungkur, sebelum mendapat tiket maju ke Gedung Putih.


Skandal yang tak kalah terkenal adalah antara presiden John F Kennedy dengan Marilyn Monroe, artis yang dikenal sebagai tambang emas bagi industri film Hollywood dengan sebutan bom seks. Keduanya meninggal ketika karir mereka sedang ada di puncak. Kennedy ditembak, sedangkan Monroe overdosis obat.


Menurut salah satu teman Monroe, Jeanne Carmen, aktris itu juga dikabarkan punya affair dengan kakak John, Robert. Namun menurut Jeanne, Monroe hanya mencintai Roberts. Carmen yakin salah satu dari kedua Kennedy itu bertanggung jawab atas kematian Monroe. Sedangkan Joe DiMaggio, suami Monroe, selalu mengatakan kepada kedua anaknya bahwa keluarga Kennedy membunuh ibu mereka.

Schwarzenegger dan Gropegate

Skandal seks tidak hanya menyertai para politisi Partai Demokrat. Politisi Partai Republik, meski tidak terlalu menonjol, juga dikenal tidak bisa mengendalikan syahwat mereka. Salah satu contohnya adalah Gubernur California, Arnold Schwarzenegger. Kira-kira lima hari sebelum pemilihan gubernur, harian Los Angeles Times menurunkan tulisan tentang pernyataan enam perempuan yang mengaku mendapat serangan seksual dari bintang serial bioskop Terminator itu. Perlakuan itu mulai dari meraba dada hingga ditelanjangi. Skandal ini kemudian dikenal sebagai Gropegate.

Schwarzenegger mengakui bahwa ia pernah berperilaku buruk dan minta maaf. Namun ia juga menegaskan, banyak cerita di surat kabar itu tidak benar. Laporan Los Angeles Times itu muncul menyusul diangkatnya kembali sebuah wawancara majalah dewasa Oui pada 1977. Dalam wawancara itu Schwarzenegger mengaku kerap ikut dalam pesta seks dan mengisap ganja. Untuk soal ganja ini, Schwarzenegger punya alasan, “Ganja bukan drug, itu hanya daun.” Schwarzenegger tidak jatuh karenanya, dan berjaya hingga sekarang.( Kompas, Selasa, 11 Maret 2008 | 12:48 WIB)

Skandal Iran Contra
Skandal Iran-Contra adalah skandal Amerika Serikat di dunia intenasional yang cukup besar dan melibatkan orang-orang penting di dalam pemerintahan Amerika Serikat (AS) pada saat itu. Selain wilayah yang terlibat, juga membentuk poros kekacauan tersendiri yakni meliputi Nikaragua (Contra)-Iran-Panama-Amerika Serikat-Israel dan negara negara sekutu AS yang lain. ketika kasusnya sampai ke Publik lewat sebutan populer The October Surprise (kejutan Oktober) karena bagian utama skandal ini terjadi pada bulan Oktober 1980.


Pemilihan Presiden AS

Awalnya, kasus ini dimulai dengan adanya pemilihan presiden AS yang diikuti dua kandidat saat itu yakni Jimmy Carter dan Ronald Reagan, dua kandidat yang sama sama ingin menjadi American number One itu bersaing sangat ketat. Mengingat posisi dan kepopuleran Jimmy Carter lebih unggul, tim sukses Ronald Reagan yang saat itu dipimpin oleh George H.W. Bush perlu berusaha mencari celah.
Dan celah tersebut justru terbuka di Iran. Tatkala mereka sibuk untuk mempersiapkan kampanye, tersiar berita bahwa sejumlah warga AS disandera di Teheran. Tim sukses Reagan cukup tanggap dan diam diam membentuk konspirasi untuk sebisa mungkin membebaskan sandera sekaligus mengangkat pamor Ronald Reagan untuk memenangkan pemilu.
[sunting]Pendekatan dengan Iran

Langkah pertama yang dilakukan George H.W. Bush (direktur CIA saat itu) adalah berusaha mengadakan negosiasi dengan pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Khomeini. Rencana awal berjalan lancar karena Khomeini bersikap kooperatif. Ia mengirim langsung perdana menteri Bani Sadr ke Paris Perancis, tempat pertemuan rahasia yang disepakati kedua pihak. Selain Bush, ikut pula manajer kampanye Reagan lainnya, William Casey.

Dalam pembicaraan yang berlangsung di sebuah hotel, ternyata Iran bersedia membebaskan 52 sandera AS dengan syarat cukup mudah, yakni AS cukup mengirimkan senjata antitank ke Iran guna menghadapi Irak dalam perang Iran Irak. Tim Bush langsung setuju bahkan memberikan tambahan bonus sebesar 40 juta dolar AS. tetapi pinta mereka, para sandera dibebaskan menjelang usai pemilihan presiden. Kedua pihak setuju dan pamor Reagan melesat.
Pada Januari 1981, aktor Hollywood itu dilantik sebagai presiden AS. Pelantikan ini memukau rakyat Amerika Serikat karena pada hari yang sama ke-52 sandera tiba kembali di AS. Sebagai hadiah, Bush diangkat sebagai wakil presiden sementara Casey menjadi Direktur CIA.

Menghapus Jejak

Mengingat apa yang dilakukan tim sukses Reagan di Paris merupakan misi rahasia dan melibatkan CIA, mereka berusaha semaksimal mungkin agar konspirasi itu tidak terbongkar.
Salah satu cara yang dilakukan adalah memberikan kesan bahwa George H. Bush tidak pernah berada di Paris, yakni usai pertemuan, Bush segera diterbangkan dengan pesawat supersonik SR-71 Blackbird dengan kecepatan Mach 3 (sebagai perbandingan Concorde hanya berkecepatan maksumum mach 2.4) yang dipiloti Gunther Russbahcer dan mampu mencapai daratan AS dalam waktu kurang dari dua jam. Setiba di AS, Bush langsung menuju Hotel Hilton dan memberikan pidato kampanyenya untuk memberi kesan selama ini baik baik saja di rumah.
Akan tetapi pertemuan di Paris segera tercium publik melalui pers AS yang terkenal liberalnya itu. CIA segera bertindak dan seperti biasa melancarkan praktik tipu daya. Agen kepercayaan Bush di CIA, Frank Snepp, melakukan counter news dengan menulis artikel di surat kabar lokal Village Voice tentang perihal pilot SR-71. Dimana pada harian itu, Gunter Russbacher dikatakan tidak mampu menerbangkan pesawat itu karena tidak pernah mendapatkan latihan . Tetapi pers dan penyidik legal yang melakukan investigasi mendapatkan fakta bahwa Gunther pernah dilatih dan mampu menerbagkan pesawat tersebut.
Keadaan mulai runyam ketika para saksi yang meliha Bush di Paris buka suara. Diantaranya agen Mossad Israel yang terlibat penyaluran senjata AS ke Iran, Ari Ben Menashea yang tanpa diduga memberikan kesaksian, juga dokumen PM Iran, Bani Sadr yang mengindikasikan tentang kehadiran Bush. Memang ada satu agen CIA yang berusaha melakukan penyangkalan saat diperiksa tim penyidik, namun gagal dan tidak mampu membuktikan kebenaran alibinya pada saat test kebohongan (lie detector).
Kendati bukti dan fakta jelas-jelas menunjukkan keberadaan Bush di Paris, agen rahasia CIA berusaha keras melindungi Bush, bahkan dua agen rahasia memberikan keterangan bahwa mereka sedang mengawal Bush berlibur akhir pekan di Pennsylvania. Penyangkalan yang juga dilakukan para Secret Service ternyata cukup ampuh dan penyidikan terhadap Bush seolah menemui jalan buntu.
Kebuntuan semakin menjadi ketika Partai Republik (partainya Bush), Gedung Putih dan Senat AS menekan pihak penyidik untuk menutup investigasi kasus October Surprise. Apalagi sejumlah saksi kunci, pilot Russbacher memilih diam dan menyangkal segala tuduhan.
Memasuki tahun 1991 atau 10 tahun setelah peristiwa itu , tekad penyidik seolah habis dan kasus pun ditutup. Namun dua tahun kemudian kasus ini dibuka oleh Komite Penyelidik yang dipimpin oleh Lee Hamilton.

Perkembangan Kasus

Lewat investigasi yang ditempuh cukup keras, Komite penyelidik berhasil mengunkap satu persatu kasus ini. bahkan diambil kesimpulan bahwa perbuatan bush dan Reagan dianggap menjurus pada tindakan kriminal, terlebih telah melibatkan CIA dan Partai Republik dengan seluruh kegiatan yang dinyatakan ilegal. Bahkan dengan konsekwensi sanksi berupa impeachment kepada presiden. Untuk menanggapi hal tersebut, Reagan membuat pernyataan resmi kepresidenan tentang hubungan AS-Iran. Dikatakan tidak ada masalah apa pun dalam hubungan kedua negara. Negeri ini juga tidak lagi memberi indikasi teror yang mengancam AS.
Namun fakta lain menunjukkan bahwa skandal ini tidak hanya sekali terjadi. pada tahun 1984 ketika agen CIA yang menjadi kontak Iran di Timur Tengah, William Buckley diculik gerilyawan Hezbollah di Libanon, Reagan segera meminta National Security Council (NSC) untuk membebaskannya. Saat itu penculik tidak hanya menyandera William Buckly namun juga sejumlah warga Inggris dan Amerika yang bekerja sebagai peneliti dan pekerja sosial. Belakangan Buckley tewas ditembak, namun tim NSC berusaha mebebaskan sisanya. Tim NSC sendiri terdiri dari pejabat penting seperti wakil presiden (saat itu) George H. Bush, Menteri sekertaris Negara George Shultz, Menteri pertahanan Caspar Weinberger,Direktur CIA William Casey, Penasehat Keamanan Nasional Robert Mc Farlane dan Letnan Kolonel Oliver North yang bertugas di lapangan.
Mereka kembali melakukan negosiasi dengan pemerintah Iran guna membujuk Hezbollah untuk membebaskan sandera. Iran setuju dan meminta imbalan penjualan senjata AS dalam jumlah besar diantaranya ribuan rudal anti pesawat Hawk, rudal antitank dan suku cadang pesawat terbang (sejak Revolusi Iran, AS mengembargo persenjataan Iran yang umumnya buatan AS warisan Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi). Sebagian diantaranya diselundupkan lewat Israel dan hampir semua transaksi penjualan dilakukan oleh Letkol Oliver North.
Dari sinilah kasus ini mencuat dengan sebutan Iran-Contra. Rupanya, sebagian keuntungan penjualan senjata itu dikirim ke Nikaragua untuk membiayai operasi gerilyawan Contra melawan pemerintahan komunis Sandinista, Daniel Ortega. Sebagian untuk membayar broker senjata diantaranya pengusaha Arab Saudi, Adnan Kashoggi dan penyandera. Dan sisanya dimasukkan kedalam rekening perusahaan fiktif milik CIA melalui tangan Oliver North.
Namun untuk kasus yang kemudian dikenal sebagai Iranian Gate itu Reagan punya alasan tersendiri. Misi NSC dilakukan untuk membebaskan sandera bukan semata-mata menemui Ayatollah Khomeini yang dianggap musuh, melainkan juga menemui para kalangan moderat Iran yang memiliki pandangan positif terhadap AS. Dilain pihak, bantuan kucuran dana hasil penjualan senjata ke gerilyawan Contra Nikaragua disebutnya untuk misi sosial kemanusiaan bagi rakyat Nikaragua.
Penyelidikan yang dilakukan cukup lama terhadap Letkol Oliver North tidak sampai membuat jatuhnya pemerintahan Reagan. Namun kekebalan politik yang diberikan kepada North tidak mampu menyelamatkan dirinya. Ia akhirnya dinyatakan bersalah dan dipenjara. Banyak pihak mengatakan North dikorbankan untuk menyelamatkan Reagan dan pelaku lainnya dalam skandal itu. Baru ketika George H. Bush menjadi presiden (1988-1992) penyidikan itu berhenti. Perang Teluk I juga menggiring rakyat AS untuk melupakannya.

Memasuki tahun 1992 atau sebulan sebelum masa kepresidenan berakhir, Bush yang akan mencalonkan diri lagi ternyata berhasil diganjal rivalnya Bill Clinton. bush tidak berkutik ketika Bill Clinton sengaja memojokkan dirinya dengan mengungkit kembali kasus Iran-Contra. merasa tidak dapat menyaingi kembali Clinton, Bush memanfaatkan masa akhir jabatannya dengan mengampuni aktor Skandal tersebut. Pengampunan yang dilakukan bulan Desember 1991 itu diamini Kongres AS dan bersihlah nama Caspar Weinberger dan rekannya yang terlibat.
Di lain pihak untuk membuktikan bahwa Bush bersih dan tidak melakukn pelanggaran prosedur dalam kasus itu, Bush menantang lembaga hukum Griffin Bell's dan King & Spaulding untuk kembali melakukan penyelidikan. Hasilnya Bush memang bersih dan bisa melepas kursi kepresidenan tanpa pamor buruk, namun gagal menjadi presiden untuk kedua kali.
Semasa pemerintahan Bill Clinton, pengampunan terhadap pelaku skandal Iran-Contra sempat dilakukan secara massal seluruhnya mencapai 176 orang. Dengan demikian ketika George W. Bush menjabat presiden, dia tidak lagi dipusingkan dengan kasus ayahnya, bahkan mampu menduduki jabatan presiden AS kedua kalinya.

5 Skandal Seks Petinggi Amerika yang Menyita Perhatian
Oleh: Bintang Mian (Kontributor Uniknya)
[UNIKNYA.COM]: Setiap negara sangat mengharapkan para politisinya bersikap jujur demi kemajuan bangsa. Sayangnya tidak sedikit para politisi negara tercoreng namanya lantaran skandal politik yang dilakukannya. Berikut 5 skandal politik yang pernah menyita perhatian:

1. Bill Clinton
Mantan presiden Amerika Serikat ini pernah menjadi pusat perhatian dunia lantaran skandal yang dilakukannya dengan perempuan yang bekerja sampingan di Gedung Putih, Monica Lewinsky, pada 1998. Skandal orang nomor 1 di Amerika tersebut terungkap setelah teman terdekat Lewinsky, Linda Tripp, merekam percakapan keduanya pada Kennet Starr, pengacara terkenal yang saat itu juga seorang jaksa agung. Skandal perselingkuhan Clinton-Lewinsky ini dianggap sebagai skandal paling panas alias rangking satu.


2. Eliot Spitzer
Pada 10 Maret 2008, Gubernur, New York, Eliot Spitzer dituduh banyak terlibat skandal seks. Pengalamannya terjadi di kamar 871 Hotel Mayflower, Washington bersama seorang wanita bernama Kristen. Dikabarkan dalam melakukan pesta seks-nya, Eliot menghamburkan ribuan dolar. Dalam setiap aksi di hotel tersebut, Eliot memesan kamar atas nama George Fox, seorang investor yang juga temannya. Untuk mengungkap kasus tersebut, pemerintah federal menggunakan rekaman tersembunyi dalam melakukan penyidikan. Skandal ini terungkap setelah Nort Fork Bank melaporkan transaksi mencurigakan oleh Eliot. Atas skandal tersebut Eliot mengundurkan diri pada 17 Maret 2008 sebelum kasus ini semakin memanas.


3. Mark Sanford
Pada tahun 2009, Gubernur Carolina Selatan, Mark Sanford harus mundur dari jabatannya lantaran pengakuan telah menjalin skandal seks dengan wanita Argentina, Maria Belen Chapur. Saat itu Sanford merupakan gubernur ke-115, yang juga merupakan harapan Partai Republik untuk menjadi Presiden 2012. Tudahan skandal seks dan penyalahgunaan dana perjalanan negara memastikan harapannya menjadi presiden Amerika terkubur.


4. Mark Foley
Skandal Mark Foley, anggota kongres Partai Republik terkuak pada September 2006 dari pesan elektronik terhadap seorang pemuda yang isinya mengenai “Sexting”. Padahal Foley merupakan politisi konservatif terkemuka penentang anti-gay. Namun kejadian tersebut membawa Foley pada skandal sex gay. Skandal ini diyakini telah memberi kontribusi kerugian pada Partai Republik. Foley akhirnya mengundurkan diri dari partainya pada 29 September 2006. Kasusnya dibekukan pada 2008.


5. John Ensign
John Ensign, merupakan senator Amerika Serikat dari Nevada. John mengundurkan diri pada Mei 2011 saat tengah dilakukan penyelidikan atas pelanggaran etika. John yang juga merupakan anggota Partai Republik dan ketua Senat Komite Kebijakan Republik sebelumnya mengakui skandal perselingkuhannya dengan staf kampanyenya, Chintya Hampton, yang juga istri dari Douglas (asisten administrasi di kantor John). Skandal yang dilakukan John-Chintya terjadi pada 2007 hingga 2008. Setelah pengungkapan dan pengakuan John, hubungan gelapnya tidak lagi dibahas sementara Douglas tidak lagi bekerja pada John.

10 Skandal Seks Tokoh Dunia yang Paling Membuat Heboh

Berikut 10 skandal seks politisi paling menggemparkan dunia dan mengejutkan sepanjang sejarah :

1. The Profumo Affair -Affair Politisi dengan Agen Rahasia yang Menyebabkan Jatuhnya Pemerintahan
The Profumo Affair tahun 1963, skandal politik yang sangat menggerkan dunia pada masa itu. Sebutan itu sesuai nama pelaku skandal John Profumo, Sekretaris Negara untuk urusan Perang Inggris, berselingkuh dengan seorang mata-mata Rusia, Chritine Keeler yang menyamar menjadi gadis panggung.

Kasus memalukan ini kontan menjatuhkan reputasi John Profumo yang kemungkinan tidak tahu kalau wanita yang dikencaninya itu adalah mata-mata.

Namun di hadapan House of Commons, Profumo membantahnya abis-abisan. Ia berbohong kalau memiliki hubungan dengan wanita cantik itu.

Skandal ini membuat Perfumo dipaksa mengundurkan diri. Ikut menjadi ‘korban’ dari perbuatan Profumo ini adalah Perdana Menteri , yang ikut rusak reputasinya. Tahun berikutnya, Harold Macmillan pun mengundurkan diri dengan alasan sakit. “Korban” skandal ini merembet ke mana-mana, termasuk partai perdana menteri yang ikut terpuruk.

Skandal ini juga mengubah cara media dalam meliput skandal sex politik, di mana tidak ada lagi yang ditutup-tutupi, membongkar tuntas semuanya sekaligus menghancurkan integritas para politisi dan membawa jatuhnya pemerintahan.

2 – Mantan Presiden Israel Moshe Katsav dituduh memperkosa dan pelecehan pengadilan
Moshe Katsav (Qasab Musa), lahir 5 Desember 1945) adalah mantan Presiden Israel dan anggota Knesset. Kasus menghebohkan ini tergolong masih hangat dan masih diingat jelas oleh public, khususnya masyarakat Israel.Di ujung berakhirnya masa jabatan Presiden Moshe Katsav, dia dihantam tuduhan melakukan perkosaan terhadap karyawannya juga tuduhan pelecehan seks terhadap wanita lainnya. Kasus controversial ini meletus 25 Januari 2007 dan terus memanas sampai akhirnya ia mengundurkan diri pada 1 Juli 2007.

3 – Bill Clinton dan Monica Lewinsky
Reputasi Bill Clinton yang cemerlang akhirnya jatuh juga oleh perempuan. Semua pasti ingat kasus menghebohkan itu yang nyaris membuat Clinton tumbang dari kursi Kepresidenan. Wanita muda yang berhasil menggoyahkan iman Clinton adalah Monica Lewinsky, 22 tahun, pegawai magang Gedung Putih.

Kasus ini langsung menyebar dan menggegerkan bukan hanya Gedung Putih bahkan dunia. Maklum saja Clinton adalah Presiden Negara adhi kuasa. Hasil penyelidikan akhirnya mengarahkan digelarnya sidang Impeachment tahun 1998 oleh House of Representative AS, namun Clinton berhasil lolos.

Pada tahun 1995, Monica Lewinsky, lulusan dari Lewis & Clark College, dipekerjakan untuk bekerja sebagai magang di Gedung Putih pada masa jabatan pertama Clinton, dan memulai hubungan pribadi dengan dia tahun itu. Hubungan itu terus berlanjut sampat Lewinsky pindah bekerja di Pentagon. Kasus ini terbongkar karena curhatnya pada teman kerjanya di Pentagon, Linda Tripp, yang diam-diam ternyata merekam percakapan telpon mereka.

Rekaman Tripp inilah jadi bukti ketika Lewinsky menandatangani surat pernyataan dalam kasus Paula Jones yang menyankal hubungannya dengan Clinton. Tripp menyerahkan bukti kaset rekaman itu pada Kenneth Starr, Independent Counsel yangs edang menyelidiki sejumlah kasus yang melibatkan Clinton, termasuk skandal Whitewater, Filegate, dan Travelgate.

“Selama dewan juri kesaksian Clinton dijaga, dan berpendapat, “Tergantung pada apa arti kata tersebut adalah”. Pemberitaan kasus ini secara besar-besaran oleh pers mengundang kritik yang ditujukan ke pers yang dianggap terlalu memblow up, membesar-besarkan. Sebutan skandal ini pun bermacam-macam, antara lain; “Monicagate”, “Lewinskygate”, “Tailgate”, “Sexgate”, and “Zippergate”. Sebutan “gate” yang dibelakang nama kecil dari pelaku/subjek memang selalu popular dari masa ke masa.

4- Silvio Berlusconi, Perdana Menteri Italia
Skandal percintaan kerap mewarnai kehidupan Perdana Menteri Italy, Silvio Berlusconi, 72 tahun, taipan media yang juga orang terkaya ketiga di Italy.Affair dengan sejumlah model,artis-artis muda, presenter televisi, dll. Meskipun berbagai tuduhan seram ditujukan pada kehidupannya, toh posisi Berlusconi tetap ‘aman’ sebagai Perdana Menteri Italia.

Padahal konon ada bukti rekaman dia dengan wanita panggilan, dan lusinan wanita muda yang dibayar untuk datang di pesta-pesta yang diadakan di kediaman resmi, salah satunya, konon mendapat tawaran dari Berlusconi untuk kursi di parlemen Eropa.

Istrinya yang sudah tidak tahan dengan kelakuan liar Berlusconi pun akhirnya mengajukan gugatan cerai. “Saya tidak bisa tinggal dengan seorang pria yang sering pergi dengan anak di bawah umur (selingkuhan-selingkuhan Berlusconi umumnya cewe-cewe muda yang pantas sebagai anaknya).” Menanggapi hal itu Berlusconi hanya tertawa dan mengatakan, “Saya bukan orang suci.”

5 – Thomas Jefferson dan Sally Hemings
Nama Thomas Jefferson, tercatat sebagai salah satu Presiden AS paling sukses dalam memimpin Negara tersebut. Namanya tercatat dalam sejarah Amerika sebagai penulis dan peletak Deklarasi Kemerdekaan. Dialah Presiden Amerika paling cemerlang di masanya. Namun reputasinya yang gemilang itu sedikit tercoreng dengan isu skandalnya dengan seorang wanitay ang dihembuskan James Callender, saat Presiden AS ke-3 ini memulai periode pertama pemerintahannya.

Callender mengatakan, Thomas Jefferson telah menjadikan seorang budak bernama Sally Hemings sebagai selir, dan memiliki beberapa orang anak dengannya. Thomas Jefferson sendiri saat itu berstatus sebagai seorang duda. Meskipun hantaman gossip itu begitu keras, namun posisi Thomas Jefferson sebagai Presiden tetap tak tergoyahkan.

Mungkin juga Jefferson beruntung karena pada masa itu belum ada internet yang beroperasi 24 jam, di mana berbagai berita dengan mudah dan cepat beredar ke segala penjuru bahkan ke pelosok dunia.

6 – Jeremy Thorpe
John Jeremy Thorpe (lahir 29 April 1929) adalah seorang politikus Britania Raya, yang juga pemimpin Partai Liberal 1967-1976. Tapi ia kehilangan posisi itu, serta kursi di Parlemen, setelah ia dituduh berkomplot untuk membunuh seorang pria yang mengaku sebagai mantan kekasihnya.

7 – Gary Hart dan Donna Rice
Gary Hart adalah salah tokoh yang sangat difavoritkan dalam nominasi Partai Demokrat dalam pemilu 1987, sekalipun pada masa itu berhembus kabar tak sedap seputar perselingkuhan Gary Hart dengan seorang wanita, tapi Partai Demokrat sepertinya tetap mendukungnya.

Gary sendiri tak kalah meyakinkannya, ia bahkan menantang pers untuk terus mengikutinya. Dan (tanpa disuruhpun) pers sudah pasti ‘menyelidiki’ rumors tersebut.

Ternyata terbukti, seorang wanita tampak keluar dari kediamannya. Bukan hanya itu, pers berhasil mendapati foto Gary dengan wanita yang sama sedang duduk di pangkuan Gary dipublikasi. Sudah pasti geger! Tak butuh waktu lama, setelah foto-foto itu beredar, Gary pun dicopot dari daftar nominasi, dan Michael Dukakis salah satu pesaingnya pun melenggang bebas menjadi nominator satu-satunya. Skandal ini pun disebut sebut mengubah arah politik Amerika selama 20 tahun terakhir.

8 – Eliot Spitzer dan pelacur mahal
Ulah Eliot Spitzer ini bikin orang geleng-geleng kepala. Gubernur New York yang dikenal sangat pandai berpidato, dia mendengung-dengungkan akan menindak para pelaku korupsi, dan berjanji akan membangun reputasi yang baik serta menjaga kesucian keluarga, ternyata telah bertindak sebaliknya. Ironisnya, justru kasus korupsi penyimpangan keuangan justru melibatkan dirinya. Dalam penyelidikan yang dilakukan, ternyata telah terjadi penyimpangan keuangan dalam rekeningnya yang diberi tanda merah. Dia disebut munafik dan pembohong, dan karier politiknya pun langsung selesai!

9 – Larry Craig, tuduhan pencabulan di kamar mandi bandara
Skandal Larry Craig terjadi pada 11 Juni 2007. Mantan senator Partai Republik dari Idaho ini melakukan perbuatan memalukan yakni pencabulan di toilet pria di bandara internasional Minneapolis-St. Paul. Lalu Craig dinyatakan bersalah pada 8 Agustus. Tak lama kemudian dia pun mengumumkan pengunduran dirinya dari Senat dalam sebuah jumpa pers pada 1 September, yang efektif baru pada 30 September. Tapi entah bagaimana Craig menarik kembali pengakuan bersalahnya, namun gagal, bahkan dia juga merilis pernyataan bahwa dia menolak mengundurkan diri sebagai Senator dari Idaho.

10 – Mark Foley, tuduhan pencabulan dengan remaja laki-laki
Skandal Mark Foley, anggota Kongres Partai Republik dari Florida, ini sungguh memalukan. Kasus ini meletus pada 29 September 2006, gara-gara terbongkarnya pesan instan Foley kepada remaja laki-laki berusia 16 tahun yang baru lulus sekolah. Penyelidikan kasus ini ditutup oleh FLDE pada 19 September 2008, setelah mendapat sejumlah bukti. Lalu, Foley pun mengundurkan diri dari Kongres pada 29 Septembet 2006.
Sebagian pihak berpendapat skandal ini member konstribusi pada kejatuhan Partai Republik yang banyak kehilangan suara pada 7 Nov 2006, sehingga berakibat partai tersebut kehilangan control di DPR, posisi Ketua DPR yang sebelumnya dijabat Dennis Hastert dari Republik, pun hilang. Tidak hanya itu, dampak ikutan dari skandal tersebut juga memakan korban lain, yakni, pengunduran diri sejumlah pejabat Partai Republik.

-----------------------------------------------------

SKANDAL POLITIK AMERIKA-ISRAEL
(Teori Konspirasi AS terhadap Negara Muslim)

Ambisi Amerika untuk memerangi dan menguasai negara-negara muslim semakin brutal dan tak tahu malu. Sebagai negara adidaya semangat kolonialismenya menggarap ‘tanah orang lain’ tak pernah menemukan titik kepuasaan. Israel, negara Yahudi yang disinyalir sebagai “anak emas” AS manut mengikuti kebijaksanaan sang “bapak” membantai memporak-porandakan kawasan Timur Tengah dengan agresi yang memalukan nan irasional. Afganistan, Irak, Palestina, Iran, Libanon menjadi sasaran empuk praktek bejat AS dan sekutunya. Bersama Israel, AS –dan ini kebiasaannya- sering membasuh tangannya sendiri dengan darah orang lain menggunakan jargon yang telah gagal diterapkan di rumanya sendiri, teori Demokrasi dan Liberalisme.

Skenario AS
Tahun 2003 merupakan awal keseriusan Amerika menjalankan game politiknya. Dengan dalih memerangi terorisme serta dugaan senjata pemusnah masal, berhasil memporak-porandakan seluruh kawasan Irak. Tetapi ironisnya selama tiga tahun menduduki Irak, klaim justifikasi atas agresinya sama-sekali absurd. Irak tidak memiliki senjata pemusnah masal apapun. April 2006, Menlu Amerika Condoleezza Rice mengakui bahwa Amerika telah melakukan ribuan kesalahan besar di Irak.
Propaganda Bush kemudian terekam jelas dalam pernyataannya jika perang melawan Islam Militan diibaratkan sama seperti perang melawan Nazi dan Komunisme. Maka jika AS mundur dari Irak, sama artinya AS telah dikalahkan oleh musuh-musuh nomer wahidnya -sebuah arogansi untuk menyatan diri tak tertandingi. Beban AS setelah penyerangan ini berdampak besar bukan saja di bidang militer tetapi turut menimbulkan krisis kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya. Masyarakat dunia tentu menentang peperangan dengan alasan apapun terbukti dari demonstrasi yang terjadi di 300 kota pada 60 negara, yang melibatkan 10 juta orang, sebelum AS melancarkan aksinya di Irak.
Pengikut setia AS, Israel, pun tak kurang menjengkelkanya dari AS. Israel, kata Mahmud Ahmadiinejad -Preisden Iran- adalah kabilah yang tidak memiliki tanah. Pendudukannya disebagian Palestina adalah berkat dukungan Negara-negara Eropa sebagai penebusan dosa atas kekejaman yang dilakukan Nazi membantai jutaan umat Yahudi semasa Hitler. King Abdullah mengatakan “Jika demikian halnya kenapa bukan sebagian tanah Eropa atau AS yang dihadiahkan pada Israel. Kenapa Palestina yang harus menanggung dosa masa lalu Nazi?”. Berdasarkan kecurigaan politik inilah Ahmadiinejad mendukung penghapusan Negara Israel dari peta dunia. Tak ayal lagi pernyataannya ini membuat Israel geram.
Israel yang ingin keberadaannnya diakuai Negara Arab, mulai bergerak menguasai kawasan Timur Tengah. Dengan dalih melindungi dua serdadunya yang diculik kelompok Hizbullah, mereka pun menyerang Libanon. Israel mungkin saja berharap bisa membangun ‘rejim’nya di Libanon seperti yang diinginkan Ariel Sharon saat menginvansi Libanon tahun 1982 dengan membunuh sekitar 15 ribu sampai 20 ribu orang disana.

Konspirasi Amerika dan Israel belum lama ini ternyata keliru, tadinya mereka berhitung dapat melumpuhkan Hizbullah dalam hitungan hari, ternyata gagal. Israel pun menerima resolusi PBB ketika mengalami kehilangan terbesar dalam pertempurannya. Israel kehilangan 37 tank, 1 helicopter militer, dan 24 tentaranya. Kalau dijumlahkan dalam sebulan berarti mereka kehilangan 74 tank, 3 helicopter militer, 1 kapal perang, dan 116 tentara.
Perang yang terjadi di Libanon kali ini malah mendongkrak popularitas Hizbullah. Mereka mampu mengadakan perlawanan terhadap Israel selama 34 hari. Dalam perangnya Hizbullah tidak bergerak dengan tangan kosang. Hizbullah mendapat bantuan senjata dari Iran dan Suriah maskipun tidak sencanggih Israel. Israel memiliki kapal perang, helikopter militer, pesawat yang jumlahnya ribuan, tank, dan pasukan 168 personil, ini berbanding jauh dengan Hizbullah yang hanya mempunyai 3.000 personil, dengan persenjataan yang terbatas, dan kemampuan daya ledak yang sangat lemah, tetapi justru mampu mendesak Israel mundur dari Libanon.

Kekalahan yang diterima Israel dalam perang melawan Hizbullah membuat Amerika seolah kehilangan akal melumpuhkan Iran -objek utama AS dalam perang Israel-Hizbullah. Bebagai resolusi ditawarkan terkait percobaan nuklir Iran yang terus-menerus di tentang AS termasuk memberikan hak-hak surgawi bagi Iran jika Iran berkenan mengikuti petunjuk AS. Tapi rupanya Iran bukanlah sebuah negara yang mudah terbuai gombalisme politik ala AS, Dus tidak mudah lumpuh hanya dengan gertakan AS dan sekutunya.
Selain itu Kemengan pergolakan politik intern dalam dunia Islam sering di sambut berlebihan oleh AS. Sebut saja Hamas ketika kemenangannya dalam pemilu Palestina, AS menyambutnya dengan reaksi negatif. AS tidak akan melakukan negosiasi apapun jika Hamas terus menerus melakukan metode kekerasan terhadap Israel.
Didorong oleh politik exigency, pemerintah AS kurang sabar melihat proses demokrasi yang berlangsung di sejumlah negara hanya karena hasilnya kurang menguntungkan dilihat dari kepentingannya sendiri. Prosedur demokraik sendiri ternyata berkembang baik di Iran ketika Ahmadinejad terpilih menjadi presiden. Terpilihnya Ahmadinejad tentu tidak menyenangkan AS karena sikapnya (Ahmadinejad) yang amat konfrontatif

Iran dibawah kepempimpinan Mahmud Ahmadiinejad saat ini menjadi Negara paling berpengaruh di Timur Tengah. Belum lagi kemampuan pengembangan teori nuklirnya yang membuat barat ketar-ketir. Keinginan Iran dalam pengembangan nuklirnya murni untuk perdamaian, dan untuk pasokan listrik 60 juta warganya rupanya tidak diterima AS. Dengan kelicikannya AS berhasil mendesak PBB agar memberikan sangsi terhadap Iran jika masih bersikukuh dalam proyek nuklirnya. Meski negaranya mengahadapi sangsi PBB, Iran tidak menunjukan kekhawatiran sedikit pun, mereka tetap optimis dan yakin, sangsi PBB tidak akan berdampak buruk bagi perekonomian atau program nuklir yang menjadi kebanggaan Negara Iran.

Surat yang dilayangkan Ahmadiinejad terhadap Presiden AS merupakan bukti rasional atas mulut besarnya Bush berkenaan dengan kebijakan politik anehnya selama ini khususnya yang terjadi di timur tengah. Sebuah konfrensi pers di Teheran memberitakan; jika Presidan Iran ini menentang orang nomor satu AS untuk mengadakan debat publik terbuka di televisi dengan harapan dapat menemukan jalan keluar dari semua kemelut berkepanjangan ini. Ia juga meminta agar perdebatan itu tidak disensor demi kepentingan publik AS. Tetapi Gedung Putih sendiri menyatakan penolakan keinginan Ahmadiinejad pada Bush untuk melakukan debat terbuka di televisi.

Ketegasan Komunal
Apakah antara Barat (khususnya AS) dan Negara-negara Muslim memiliki kebuntuan negosiasi? Kita tidak bisa memprediksi. Tetapi mungkin kesadaran politik elegan dalam dunia Islam mampu merubah cara pandang yang prontal beralih pada perubahan taktik dan strategi yang dinamis.
AS tidak akan pernah puas dengan aksinya, posisi sentralnya di mata dunia memiliki kebijakan yang sulit dilawan sekalipun oleh institusi PBB. Dunia sudah malum dengan kedok AS beserta sekutunya tinggal ketegasan sikap negara Arab melakukan resitensi terhadap Amerika dan antek-anteknya. Jika dikehendaki sebenarnya mereka bisa melakukan embargo minyak, seperti yang pernah dilakukan Raja Faisal. Embargo ini sangat berpengaruh besar terhadap industri barat, bahkan mungkin bisa menyebabkan kelumpuhan. Iran ketika pemerintahanya di pegang Ayatullah Khomeini negaranya di embargo Eropa dan AS yang menyebabkan pendapatan perkapitanya menurun tetapi buktinya -dan hingga sekarang- Iran tetap survive bahkan keadaan ekonominya kembali stabil. Dengan kekacauan yang dilancarkan AS di beberapa negara muslim semestinya sudah menjadi pemicu rekonsiliasi antar negara Arab melawan Amerika.
Pemimpin dunia Islam untuk jangka panjang mungkin lebih membutuhkan sosok dengan visinya yang pragmatis. Bukan saja lebih terfokus pada masalah interen negaranya tetapi juga turut serta memeperbaiki citra di panggung internasional. Dunia Islam harus mampu bermain “politik cantik” jika mau membongkar kedok kemunafikan. Untuk saat ini Negara-negara Arab perlu sosok pemimpin yang memiliki wibawa untuk seluruh negri Arab.
Ketegasan politik dalam berdiplomasi tidak saja berlaku untuk negara-negara Arab mereka yang tau kelicikan negara adidaya ini hendaknya turut berperan aktif bersuara lantang di ruang international; saat ini hanya sedikit dari mereka yang telah berani menyatakan kebenaran tersebut. Dunia, kata Ahmadiinejad tidak lama lagi akan berbalik pada persatuan dan keadilan dan sesungguhnya Tuhan mampu menguasai segala sesuatu. Keselamatan bagi mereka yang mengikuti petunjuknya. Waulahu A`lam bi Shawab.(aprina)

 

 

Salam,

Dwi Hartoyo, SP

REFERENSI
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Skandal_Watergate
2. http://politik.kompasiana.com/2011/08/21/skandal-politik-indo-amerika-dulang-suriah-tangan-jakarta-wajah-papua/
3. http://www.muhsinlabib.com/kontroversi/skandal-seks-warna-lain-politik-amerika
4. http://id.wikipedia.org/wiki/Skandal_Iran_Contra
5. http://www.uniknya.com/2011/07/23/5-skandal-sex-petinggi-amerika-yang-menyita-perhatian/
6. http://www.beritaunik.net/top-10/10-skandal-seks-tokoh-dunia-yang-paling-membuat-heboh.html
7. http://supraptoe.wordpress.com/2007/03/24/skandal-politik-amerika-israel/