Translate :
 
 
 
 
 
 
 

BOXING - TINJU

 

Tinju adalah olahraga dan seni bela diri yang menampilkan dua orang partisipan dengan berat yang serupa bertanding satu sama lain dengan menggunakan tinju mereka dalam rangkaian pertandingan berinterval satu atau tiga menit yang disebut "ronde". Baik dalam Olimpiade ataupun olahraga profesional, kedua petarung (disebut petinju) menghindari pukulan lawan mereka sambil berupaya mendaratkan pukulan mereka sendiri ke lawannya.

Menurut WB Encyclopedia, box atau bertinju adalah olah raga berkelahi terampil dengan kepalan. Menurut WB Dictionary (The Worldbook Dictiornay, 1972, Field Enterprises Educational Corporation, Chicago),
box adalah pukulan (a blow) dengan tangan terbuka dan kepalan, yang ditujukan terutama pada telinga atau samping kepala. Jadi jelas bertinju adalah olah raga eksplosif, kekuatan besar diperlukan yang tiba-tiba diarahkan kepada lawan. Oleh karena itu, syarat petinju yang baik adalah mempunyai keberanian, kekuatan, kecepatan mata, kaki dan otak.

Nilai diberikan untuk pukulan yang bersih dan mantap ke bagian depan pinggang ke atas yang sah dari lawan, dengan pukulan ke kepala dan dada mendapat nilai lebih. Petinju dengan nilai yang lebih tinggi setelah sejumlah ronde yang direncanakan akan dinyatakan sebagai pemenang. Kemenangan juga dapat dicapai jika lawan dipukul jatuh dan tidak dapat bangkit sampai hitungan kesepuluh dari wasit (suatu Knockout atau KO) atau jika lawan dinyatakan tidak mampu melanjutkan pertandingan (suatu Technical Knockout atau TKO). Untuk keperluan rekor pertandingan, TKO dihitung sebagai KO.

Etimologi Kata Tinju / Boxing
Kata Tinju adalah terjemahan dari kata Inggris "boxing" atau "Pugilism". Kata Pugilism berasal dari kata latin, pugilatus atau pinjaman dari kata yunani Pugno, Pignis, Pugnare, yang menandakan segala sesuatu yang berbentuk kotak atau "Box" dalam bahasa Inggrisnya. Tinju Manusia, kalau terkepal, berbentuk seperti kotak. Kata Yunani pugno berarti tangan terkepal menjadi tinju, siap untuk pugnos, berkelahi, bertinju. Dalam mitologi, bapak dan Boxing adalah Poliux, saudara kembar dari Castor, putera legendaris dari Jupiter dan Leda.

 

Sejarah Tinju
Pertandingan tinju yang pertama tercatat dalam sejarah adalah antara lain melawan Abel. Kitab mahabrata juga mencatat pertandingan-pertandingan tinju, hal mana mendahului pencatatan cerita-cerita perkelahian di antara bangsa Yunani, Romawi, dan Mesir. Petinju terkenal pertama berkebangsaan Yunani bernama Theagenes dari Thaos yang menjadi juara Olympic Games 450 Masehi. Ia melakukan pertandingan sebanyak 1.406 kali dengan menggunakan cetus sarung tinju yang terbuat dari besi. Kebanyakan dari lawan-lawan itu tewas ketika bertarung melawannya. Meskipun boxing terkenal berabad-abad lamanya sebagai suatu bentuk hiburan, namun seorang Inggris yang bernama James Ping adalah James Broughton, juara britania, yang juga merupakan orang pertama yang menggunakan sarung tinju. Peraturan dan sarung tinju ini di perkenalkan pada tanggal 10 Agustus 1973.

Salah satu catatan kuno menyatakan bahwa tinju sudah dikenal sejak 5000 tahun yang lalu di Summeria (Irak sekarang) dan menyebar ke segala penjuru dunia kuno. Hal ini bisa dilihat misalnya dalam kitab perjanjian lama antara Kain lawan Abel, dan juga terungkap dalam peninggalan-peninggalan kuno yang diteliti oleh para arkeolog relief, patung-patung Mesir, Romawi, Yunani.

Tinju Pada Jaman Yunani
Pertandingan tinju Yunani Kuno adalah sejenis olah raga kuno dari setidaknya abad ke-8 SM (berdasarkan puisi Iliad karya Homer) yang dilaksanakan dalam berbagai konteks sosial di Yunani. Sebagian besar bahan sumber mengenai tinju Yunani Kuno yang diketahui ada berada dalam kondisi tidak lengkap atau sekadar legenda sehingga sulit untuk mengetahui peraturan pertandingan, adat dan sejarah olah raga ini dengan rinci. Meskipun begitu, jelas bahwa pertarungan tinju menggunakan sarung tangan tinju merupakan bagian penting dari kebudayaan atletik Yunani Kuno sepanjang zaman klasik awal.

Perlengkapan Tinju Kuno
Hingga sekitar 500 SM himantes digunakan sebagai pelindung buku jari dan tangan. Himantes merupakan tali kulit yang terbuat dari kulit lembu dengan panjang sekitar 3 hingga 3,7 meter yang membungkus mengelilingi tangan dan buku jari beberapa kali. Pada sekitar 400 SM sphairai mulai digunakan. Sphairai sangat mirip dengan himantes. Perbedaan terbesarnya adalah adanya bantalan di bagian dalam dan kulit di bagian luarnya lebih keras.

Tak lama setelah sphairai mulai digunakan, oxys juga diperkenalkan dalam tinju. Oxys terdiri dari beberapa balutan kulit tebal yang mengelilingi tangan, pergelangan tangan, dan lengan bawah. Bulu domba dikenakan di lengan bawah untuk menghapus keringat. Penahan yang terbuat dari kulit dikenakan hingga lengan bawah untuk memberikan dukungan yang lebih besar kala meninju dan buku jari juga diperkuat dengan kulit. Korykos adalah ekivalen dengan kantong tinju modern, digunakan untuk latihan di Palaestra dan diisi dengan pasir, tepung, atau padi-padian.

Peraturan Tinju Kuno
Petinju di kanan memberikan tanda menyerah dengan mengangkat tinggi tangannya. (sekitar 500 SM)
Peraturan tinju Yunani Kuno yang diterima sejarawan saat ini diketahui berdasarkan referensi dan gambar-gambar bersejarah. Sedikitnya sumber dan bahan referensi yang tersisa mengakibatkan peraturan-peraturan tersebut hanya bisa diduga.

  1. Tidak boleh merangkul atau bergulat
  2. Pukulan apapun menggunakan tangan diizinkan namun tidak boleh mencungkil menggunakan jari
  3. Ring tinju tidak digunakan
  4. Tidak ada ronde atau batasan waktu
  5. Kemenangan diputuskan ketika salah seorang petinju menyerah atau tak mampu melanjutkan pertandingan
  6. Tidak ada klasifikasi berat; lawan dipilih secara acak
  7. Para petinju boleh memilih untuk saling memukul tanpa boleh bertahan jika pertandingan berjalan terlalu lama

PERBEDAAN ANTARA TINJU MODERN DAN KUNO TINJU:
Ada perbedaan besar antara tinju hari ini dan tinju kuno. Langsung dari jalan perkelahian terjadi untuk pakaian dan aksesoris, tinju kuno ini benar-benar berbeda dibandingkan dengan tinju modern. Kuno petinju jelas tidak memiliki akses ke sarung tinju dan kepala dan telinga bantalan yang petinju modern memiliki hari ini. Pada kenyataannya, tinju tidak selalu dipanggil tinju. Di Yunani dan Romawi kuno times, olahraga bashing up gigi lawan selama fist pertempuran disebut pugilism.

Juga, aturan tinju kuno yang cukup berbeda dari tinju umum hari ini. Perkelahian tidak dibagi ke dalam putaran dan ada kekalahan tidak seperti. Pemenang pertandingan akan dinilai hanya oleh Knock Out dan dalam kasus ekstrim, kematian lawan. Tinju kuno juga cukup lebih brutal daripada tinju modern, dalam arti bahwa para petinju biasanya akan memiliki potongan-potongan kulit sekitar tinju dan jari-jari mereka, atau bahkan sarung tangan dengan paku, yang akan membantu mereka memberikan pukulan yang lebih mematikan daripada tinju modern.

KEBANGKITAN DAN KEJATUHAN TINJU:
Tinju akhirnya menjadi sangat populer di semua kelas masyarakat kemudian. Begitu populer menjadi, bahwa resmi diterima pada Olimpiade sekitar 688 SM. Juga ada kasus di mana penjahat dan budak digunakan untuk memenangkan kebebasan mereka atau membuktikan mereka tidak bersalah dengan pertandingan tinju. Tinju dilarang tiga kali dalam sejarah, sekali dengan Caesar Augustus, Theodosius Theodoric yang Agung.

Meskipun tinju hampir menghilang setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi, ada account liar orang perkelahian di seluruh dunia. Pertandingan tinju didokumentasikan lengkap pertama di zaman modern diadakan 1681. Juara tinju pertama, oleh karena itu, adalah James Figg, di tahun 1719. Sejak itu, tinju telah menjadi olahraga terkenal, didorong oleh jumlah besar uang dan pujian yang seorang petinju akan setelah ia telah berjalan keluar dari lingkaran persegi sebagai pemenang.

AVATAR MODERN TINJU:
Tinju modern ini jauh berbeda daripada tinju kuno. Berbagai aturan, peraturan dan tambahan dalam hiburan, olahraga, dan hiburan olahraga telah sangat mengurangi kemungkinan cedera kuburan seorang petinju. Hari ini, hal ini diperlukan untuk seorang petinju untuk memakai pelindung tutup kepala dan sarung tangan. Juga, aturan tidak mengizinkan tinju untuk pertandingan mematikan lagi.

Ada dua jenis tinju hari ini, tinju amatir dan profesional. Tinju amatir terutama ditemukan di sekolah atau perguruan tinggi acara olahraga dan Olimpiade. Tinju profesional jauh lebih serius daripada tinju amatir, dan banyak pembatasan keamanan dihapus dalam tinju profesional

TINJU AMATIR
Zaman romawi kuno, tinju dilakukan sebagai pelaksanaan hukuman atau eksekusi terhadap para narapidana atau tawanan perang. Para tawanan perang serta para narapidana tersebut sebelum diadu atau dipertarungkan satu dengan yang lainnya, diberikan latihan tentang cara untuk mengalahkan lawan. Pertarungan antara para tawanan perang dan para narapidana ini dikenal dengan sebutan gladiator atau manusia aduan, dan pertarungannya bersifat hidup atau mati artinya gladiator yang bertarung harus saling bunuh. Tercatat pada abad ke 5 sebelum masehi, gladiator bernama Theageanes dari Thaos menjuarai pertarungan dengan menggunakan cestus (sarung tinju besi). Menjelang kelahiran Nabi Isa as, Roma melarang pertandingan ini.

Pertarungan tinju ini menjadi kasar di Yunani. Pemuda-pemuda terkuat di Athena kuno berlomba dalam pertandingan tinju. Mereka duduk berhadapan dengan hidung saling menempel, dan dengan isyarat ini mereka mulai memukul dengan kepalannya. Pertandingan ini sangat kasar, tapi penonton cepat jenuh dan untuk itu agar lebih menambah kegemaran penonton diperintahkan menggunakan tali kulit yang dilekati kancing logam yang akhirnya diganti paku (Worldbook Encylopedia, 1972, field Enterprises Educational Corporation, Chicago).
Selanjutnya pada abad 17, tinju sudah merupakan cabang olah raga dan bukan lagi pertarungan hidup atau mati. Hal ini ditandai dengan adanya perebutan kejuaraan tinju dunia dengan tangan kosong pada tahun 1719.
James Figg (1699-1734) dari Inggris memulai mempelopori pertandingan tanpa sarung tinju. Figg juga dikenal sebagai guru tinju dan yang untuk pertama kali membuka sekolah tinju pada tahun 1919. Figg berpendapat,”Bahwa seseorang harus berkelahi sampai salah seorang jelas menang”. Sayang metode Figg tidak melengkapi dengan waktu istirahat atau waktu yang khusus.

Pada tahun 1743 petinju Jack Broughton membuat seperangkat peraturan pertandingan pada olahraga ini. Aturan ini dengan beberapa tambahan menjadi patokan untuk segala pertandingan pada tahun 1838, dan aturan
ini dikenal dengan nama London Price Ring Rules. Peraturan ini dirancang untuk mengurangi kekasaran dalam pertarungan memperebutkan hadiah. Disamping menciptakan peraturan, Jack Broughton juga menciptakan muflers
yang berarti sarung tinju, yang berguna untuk mencegah cidera para petinju. Muflers ini kemudian berkembang menjadi Skintight Glovers. Dan karena jasa-jasanya tersebut, maka Jack Broughton yang juara dunia tinju pada tahun 1750 itu dianggap sebagai bapak tinju.Kendati sudah dikenal muflers dan London Price Ring Code dalam abada ke 18 belum dikenal peraturan tentang lamanya rounde, lamanya istirahat, berat sarung tinju, ukuran ring, bagian-bagian mana yang boleh dipukul dan macamnya pelanggaran. Sehingga para petinju yang memasuki gelanggang pertandingan bebas baku hantam sampai salah satu petinju tidak bergerak. Sampai akhir tahun 1800-an petinju bertarung dengan kepalan tangan kosong sesuai dengan London Price Ring Code.

Baru pada abad ke-19 yaitu pada tahun 1867 seorang anggota Amatir Atletik Club Inggris bernama John Graham Chambers memperkenalkan Queensberry Rules, yaitu peraturan pertandingan tinju yang merupakan sumber dari peraturan pertandingan tinju moderen. Queenberry Rules adalah peraturan perbaikan bertinju yang diambil dari nama seorang olahragawan Inggris, Marquis of Queensberry yang telah mempelopori pertandingan tinju dengan menggunakan sarung tangan. Queensberry juga melengkapi peraturan bertinju dengan masa babak 3 menit, 1 menit istirahat dan 10 detik untuk hitungan KO. Walau demikian, peraturan Queensberry tidak diikuti sepenuhya dalam pertarungan sampai pada tahun 1872, ketika pertama kalinya pertarungan tinju menggunakan sarung tangan diadakan di London.

Pertarungan kejuaraan tanpa sarung tangan yang terakhir kali adalah pada tahun 1889 ketika Sullivan mengalahkan J. Kilrain di Richburg, Missisippi, AS. Tinju, pada masa itu dilarang di Amerika Serikat. Dibeberapa Negara bagian tinju adalah melanggar hukum dan polisi sering menghentikan pertarungan memperebutkan hadiah. Sullivan yang mempopulerkan tinju di AS mengamati bahwa polisi membiarkan pertarungan yang tunduk pada peraturan Queensberry. Kemudian Sullivan bergabung dengan kelompok Sandiwara dan mempertunjukkan pertarungan dengan sarung tangan sebagai bagian pertunjukan. Sullivan berkeliling Negara bagian sambil menawarkan $ 100 – $ 500 kepada penonton yang tahan bertarung dengannya selama 4 babak. Pertarungan ini menjadi terkenal dan menjadi olah raga tinju terkenal di seluruh Negara AS.

Tahun l896 New York mengesahkan tinju dan tahun 1900 dibatalkan, berikutnya UU memperbolehkan bertinju diperkumpulan pribadi-pribadi, akan tetapi tak lama kemudian juga dibatalkan. Selanjutnya pada tahun 1892 AS memperkenalkan alas ring lunak, tali dan pojok ring yang dilapisi atau dibalut dalam pengaman yang lebih lanjut. Pada tahun 1902 John Marks seorang dokter gigi yang juga seorang petinju amatir dari Inggris memperkenalkan pelindung gigi. Baru pada abad 20 diperkenalkan penggunaan Cup Protector dan Head Guard. Dan setelah itu pada tahun 1904 untuk pertama kalinya olahraga tinju amatir dipertandingkandalam Olimpic Games di St. Louis, AS yang menggunakan sarung tinju dan perlengkapan lainnya seperti yang kita kenal sampai sekarang ini. Pada tahun 1920 dengan UU Walker pertarungan memperebutkan hadiah diijinkan. Beberapa tahun kemudian beberapa Negara bagian lain mengesahkan olahraga tinju dan membentuk Komisi untuk mengatur olah raga tinju ini.

Dalam perkembangannya olah raga tinju ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu tinju amatir dan tinju professional (bayaran). Terdapat perbedaan peraturan permainan maupun persyaratan antara kedua jenis pembagian olahraga ini. Petinju amatir menggunakan sarung tinju yang beratnya 8-12 ounce ( 1 ounce = 28,35 gram), menggunakan head guard dari kulit. Sedang tinju professional (bayaran) menggunakan sarung tinju 6-8 ounce dan tidak memakai pelindung kepala kecuali untuk latihan. Petinju amatir bertarung 3 babak @menit (Belanda 4 babak, Belgia 3 babak), petinju professional bertarung maksimum 15 babak @ 3 menit (Belanda sedikitnya 6 babak, Belgia sedikitnya 8 babak).

PETINJU HEBAT
Sebagai olahraga, tinju telah diberikan dan orang-orang besar dunia olahragawan yang sangat baik. Ini telah orang-orang yang telah berjuang untuk keberanian dan kemuliaan. Tidak ada sejarah tinju artikel lengkap tanpa nama-nama ini.

Berikut adalah beberapa stalwarts tinju (dalam urutan tertentu):
Muhammad Ali: mungkin contoh berjalan mengapa tinju disebut olahraga yang mematikan. Muhammad Ali telah dihormati seluruh dunia sebagai salah satu petinju terbesar yang pernah. Sementara ia asli ‘Pindahkan seperti kupu-kupu dan menyengat seperti lebah’, hari ini ia menderita penyakit Parkinson dan berbagai luka-luka lainnya yang berhubungan dengan karier tinju.

Sugar Ray Robinson: Salah satu dari beberapa olahragawan yang memiliki perangko peringatan dalam nama mereka, ia dianggap sebagai salah satu petinju terbesar yang pernah memiliki menginjakkan kaki di dalam lingkaran persegi.

Mike Tyson: Sebagai seorang petinju, ada tidak ada pertanyaan bahwa Mike membuat daftar ini. Tapi, ia juga satu kasus klasik terlalu banyak eksposur dan pujian yang buruk bagi seseorang.

Ada banyak petinju yang telah dibuat dan ditulis ulang sejarah. Apakah orang-orang ini tahu tentang asal-usul tinju dapat diperdebatkan, tapi tak usah dikatakan bahwa mereka akan selalu memiliki tempat dalam sejarah tinju.

KELAS DALAM TINJU AMATIR ( AMATEUR BOXING )
Klasifikasi di bawah adalah batas-batas berat badan dan nama-nama kelas yang digunakan secara luas oleh AIBA ( Amateur International Boxing Association ).Klasifikasi ini juga dibedakan untuk tinju amatir pria, wanita dan junior. Demi alasan keamanan, petinju amatir tidak diperbolehkan untuk melawan petinju yang berada dalam kelas yang lebih tinggi darinya. Hal ini berbeda dengan aturan tinju profesional yang memperbolehkan seorang petinju untuk melawan lawan yang memiliki kelas di atasnya. Klasifikasi ini hanya digunakan pada tinju amatir.

Pria:
Tak terbatas - Super heavyweight (Kelas berat super)
81–91 Kg - Heavyweight (Kelas berat)
75–81 Kg - Light heavyweight (Kelas berat ringan)
69–75 Kg - Middleweight (Kelas menengah)
64–69 Kg - Welterweight (Kelas welter)
60–64 Kg - Light welterweight (Kelas welter ringan)
56–60 Kg - Lightweight (Kelas ringan)
52–56 Kg - Bantamweight (Kelas bantam)
49–52 Kg - Flyweight (Kelas terbang)
46–49 Kg - Light flyweight (Kelas terbang ringan)

Wanita:
Tak terbatas - Heavyweight (Kelas berat)
75–81 Kg - Light heavyweight (Kelas berat ringan)
69–75 Kg - Middleweight (Kelas menengah)
64–69 Kg - Welterweight (Kelas welter)
60–64 Kg - Light welterweight (Kelas welter ringan)
57–60 Kg - Lightweight (Kelas ringan)
54–57 Kg - Featherweight (Kelas bulu)
51-54 Kg - Bantamweight (Kelas bantam)
49–51 Kg - Flyweight (Kelas terbang)
46–49 Kg - Light flyweight (Kelas terbang ringan)

Junior:
Tak terbatas - Heavyweight (Kelas berat)
75–80 Kg - Light heavyweight (Kelas berat ringan)
70–75 Kg - Middleweight (Kelas menengah)
66–70 Kg - Light middleweight (Kelas menengah ringan)
63–66 Kg - Welterweight (Kelas welter)
60–63 Kg - Light welterweight (Kelas welter ringan)
57–60 Kg - Lightweight (Kelas ringan)
54–57 Kg - Featherweight (Kelas bulu)
52-54 Kg - Bantamweight (Kelas bantam)
48–50 Kg - Flyweight (Kelas terbang)
46–48 Kg - Light flyweight (Kelas terbang ringan)
44-46 Kg - Pinweight

Peraturan Tinju – Knockdown
Peraturan tinju dapat dijabarkan secara gamblang dalam beberapa halaman tulisan. Namun kali ini kita hanya akan membahas peraturan tinju mengenai knockdown.

Apakah yang dimaksud dengan knockdown? Istilah knockdown digunakan untuk mendeskripsikan keadaan seorang petinju yang terjatuh dikarenakan pukulan lawan. Petinju yang terjatuh ini diharapkan berhasil kembali bangkit untuk meneruskan pertandingan sebelum wasit menyelesaikan hitungan sampai 10.

Jika tidak dapat kembali bangkit, sang petinju yang terjatuh ini akan dinyatakan kalah atau yang lazimnya disebut K.O dalam peraturan tinju. Dalam peraturan tinju, seoarang petinju yang berhasil membuat lawan knockdown diharuskan segera menghentikan pukulan saat lawannya terpukul jatuh dan diharuskan menuju sudut putih yang ditentukan oleh wasit untuk berdiri di sana sampai lawan dapat kembali bangkit dan siap untuk melanjutkan pertandingan.

Wasit memiliki hak penuh untuk memberi peringatan atau bahkan men-diskualifikasi petinju yang tidak memenuhi peraturan, jika hal ini tidak dipatuhi.Istilah knockdown sendiri belum memilki padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia. Karenanya istilah ini tetap dipakai dalam peraturan tinju di Indonesia.

Knockdown ( K.O )
Wasit menghitung sampai delapan ketika salah seorang petinju mengalami knockdown
Knockdown adalah istilah dalam olahraga tinju yang mendefinisikan seorang petinju terjatuh akibat pukulan, namun berhasil bangkit dan meneruskan pertandingan, sebelum wasit menyelesaikan hitungan sampai 10. Istilah dalam bahasa Inggris ini belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia.
Petinju yang memukul jatuh lawannya hingga knockdown harus segera menghentikan pukulannya saat lawan terjatuh, dan wajib segera berdiri di sudut putih (sudut netral) yang ditentukan wasit. Jika kedua hal tersebut tidak dipatuhi, wasit berhak memberikan hukuman, dari berupa peringatan sampai dengan diskualifikasi.

Knockdown dalam tinju profesional
Wasit tidak perlu meneruskan hitungan jika petinju sudah mampu berdiri, dan langsung mengistruksikan kedua petinju meneruskan pertandingan jika petinju yang jatuh sudah siap bertanding kembali. Namun sesuai perkembangan terakhir, demi meningkatkan standar keamanan dalam tinju profesional, sebagian besar badan tinju profesional sudah mengenakan peraturan hitungan sampai delapan saat petinju mengalami knockdown.
Lazimnya tidak dikenal peraturan standing eight count, di mana petinju yang goyah karena terkena pukulan telak lawan, meskipun tidak jatuh, akan dianggap knockdown, dan wasit wajib menghitung sampai 8. Ada beberapa peraturan tergantung badan tinju yang meregulasi atau peraturan komisi tinju tempat dilangsungkannya pertandingan, 'standing eight count' dimungkinkan dalam pertandingan profesional, namun ini jarang terjadi.
Dalam tinju profesional, petinju yang terkena knockdown akan terkena pemotongan angka.

Knockdown dalam tinju amatir
wasit harus menyelesaikan hitungan sampai 8, meskipun sang petinju sudah siap bertanding kembali. Sampai hitungan ke delapan, wasit akan menanyakan apakah petinju siap bertanding kembali. Jika dia menyatakan siap, maka pertandingan diteruskan. Jika tidak ada respons, wasit akan menghitung sampai sepuluh, dan petinju tersebut dinyatakan kalah KO.
Dikenal peraturan standing eight count sebagai peraturan standar dari AIBA. Petinju yang terkena pukulan telak, meskipun tidak terjatuh, akan diberi hitungan sampai delapan oleh wasit. Jika petinju tersebut tidak merespons atau menjawab tegas pertanyaan wasit, maka dia akan dinyatakan kalah KO.
Petinju yang terpukul 'Knockdown' tidak akan dikenai pemotongan angka karena hitungan sampai 8 akibat knockdown dalam tinju amatir dimaksudkan sebagai masa pemulihan (recovery) petinju yang terjatuh atau terkena pukulan telak, bukan merupakan tujuan seperti dalam tinju profesional.

Ronde dalam Tinju
Ronde adalah ukuran pembagian waktu untuk sebuah pertandingan. Istilah ini umumnya digunakan untuk olahraga tinju, muay thai, atau bela diri satu lawan satu lainnya.

Durasi
Dalam 1 ronde, terdiri dari:
3 menit pertandingan + 1 menit istirahat (tinju profesional)
3 menit pertandingan + 1 menit istirahat, atau 2 menit pertandingan + 30 detik istirahat (tinju amatir).

Jumlah Ronde
Tinju profesional, jumlah ronde terbagi menjadi beberapa tingkatan:
- 4 ronde untuk tingkat pemula - 6 ronde untuk tingkat selanjutnya - 8 ronde untuk tingkat lebih tinggi - 10 ronde untuk tingkat mahir - 12 ronde untuk tingkat kajuaraan (baik dunia, regional maupun nasional). Meskipun jumlah ronde ini baku, tapi tidak ada peraturan yang mengikat, dan badan tinju di masing-masing negara boleh saja menentukan jumlah ronde sendiri.

Di masa lalu, jumlah ronde tidak dibatasi (pertandingan selesai jika salah satu petinju kalah KO, namun seiring dengan meningkatnya peraturan demi keselamatan petinju jumlah ronde mulai dibatasi hingga 24 ronde, 15 ronde dan kemudian terakhir 12 ronde, menyusul tewasnya petinju Duk-ko Kim atas Ray Mancini. Namun banyak pihak menyangsikan bahwa pengurangan jumlah ronde ini murni demi keselamatan petinju, melainkan karena tekanan stasiun televisi untuk menyesuaikan jam tayang dan keperluan komersial (iklan).
Saat ini ada wacana untuk membatasi jumlah ronde hingga 10 saja bagi kejuaraan nasional dan regional, namun sampai saat ini belum ada realisasinya.

Tinju Amatir:
Jumlah ronde bervariasi, ada 3 ronde, 4 ronde dan 6 ronde (semakin banyak jumlah ronde, durasi ronde akan berkurang).

RING TINJU
Ring Tinju – Walaupun arena tinju disebut ring yang dalam bahasa Inggris berarti cincin yang berbentuk bulat. Namun ring tinju sebenarnya berbentuk persegi empat. Pengambilan sebutan ring untuk arena tinju sebenarnya bukan merujuk pada bentuk ring tinju tersebut. Melainkan pada posisi penonton ketika sedang melihat pertandiangan tinju. Ketika tinju masih menjadi pertandingan yang ilegal. Penonton biasanya akan mengelingi ring tinju sehingga membentuk lingkaran menyerupai bentuk cincin.

Posisi penonton yang seperti itu akan memudahkan para petinju untuk melarikan diri ketika terjadi penggrebegan ditengah – tengah pertandingan. Dan julukan ring tinju terus melekat sampai sekarang, walaupun pada kenyataannya bentuk ring tinju lebih sering menggunakan bentuk segi empat yang memilki empat sudut.

Di mana masing – masing sudut ditempati oleh 2 orang petinju yang merupakan perwakilan dari sudut merah dan sudut biru. Serta 2 sudut putih atau netral yang menjadi hak milik dokter ring yang sedang betugas dan wasit ketika sedang waktu istirahat.

Sebagai olahraga yang sarat akan unsur kekerasan, menyebabkan banyaknya peristiwa kelam yang berkaitan dengan ring tinju. Seperti kerusuhan pada ring tinju, pemukulan oleh petinju yang dilakukan diluar pertandingan yang bisa berakhir pada penjara atau bahkan kematian. Serta beberapa skandal lainnya yang merujuk pada pemerasan, korupsi dan kecurangan – kecurangan lainnya, yang tidak hanya dilakukan oleh petinju tapi juga promotor dan IBF.

Perempuan Dalam Tinju Profesional: Sejak 1904 oleh: adrianadams
Tinju profesional adalah olahraga yang didominasi oleh laki-laki, tetapi beberapa wanita yang telah mendapatkan hak untuk berada di profesi juga. Petinju wanita telah ada sejak 1700 tetapi mereka benar-benar belum mendapat pengakuan yang layak. Nyata pertama identifikasi dengan tinju perempuan sebagai peristiwa yang sebenarnya terjadi pada tahun 1904 ketika menjadi sebuah peristiwa dalam Olimpiade. Namun konsep pertandingan tinju perempuan ditayangkan di televisi tidak terjadi sampai tahun 1954.

Dari 1975-1978 banyak perempuan diterapkan untuk lisensi tinju di berbagai negara di seluruh Amerika Serikat. Pada tahun 1977 banyak negara bagian yang mengizinkan wanita untuk mendapatkan izin tersebut dan telah resmi pertandingan tinju profesional. Jangka waktu untuk setiap putaran lebih pendek daripada laki-laki dan ada juga sedikit putaran. Mereka terbatas tidak lebih dari empat putaran. Pada tahun 1979 Shirley Tucker dan diperdebatkan petinju wanita lainnya yang berkuasa dan menang dengan bantuan dari Serikat Kebebasan Sipil Amerika.

Namun peraturan tinju perempuan masih tidak adil jika dibandingkan dengan orang-orang untuk laki-laki. Setelah bertahun-tahun tidak membuat banyak kemajuan perempuan petinju profesional memutuskan untuk mendapatkan perhatian media terfokus pada isu. Pada tahun 1987 Marian Trimiar melanjutkan aksi mogok makan untuk mengadvokasi petinju perempuan untuk mendapatkan diakui, mendapatkan uang lebih baik untuk pertandingan mereka, dan memiliki kondisi yang baik untuk pelatihan dan pertandingan mereka.

Namun, AS tidak Tinju resmi mengakui petinju wanita sebagai sesuatu yang lebih dari hal yang baru sampai 1993. Ini dilakukan sebagai hasil dari sebuah gugatan terhadap mereka di mana hakim memutuskan itu inkonstitusional untuk mencegah wanita dari tinju profesional karena gender mereka. Sebagai hasil dari Amerika Serikat yang berkuasa meskipun Tinju menerapkan aturan dan peraturan untuk tinju amatir wanita.

Tidak sampai tahun 1996 bahwa perempuan tinju profesional secara resmi diakui. Acara tengara bahwa perempuan mendapat tinju profesional di depan kamera adalah Pay Per View melawan ditawarkan oleh HBO. Christy Martin dan Deirdre Gogarty terlibat dalam enam putaran liar pertandingan tinju pada bulan Maret 1996. Publik menyukainya dan majalah populer Sports Illustrated berlari dengan konsep. Pada bulan Juli 1997 pertama Kejuaraan Nasional Perempuan terjadi.

Tinju profesional perempuan ditetapkan pada tahun 1999 pertama yang lain ketika peristiwa pertama di mana seorang pria menghadapi seorang wanita di atas ring terjadi. Ide ini tidak menyelesaikan dengan baik dengan tinju Amerika Serikat peraturan atau dengan penonton. Sementara beberapa laki-laki / wanita cocok telah terjadi selama bertahun-tahun itu bukan jenis aktivitas utama.

Banyak wanita di tinju profesional saat ini sebenarnya anak-anak perempuan laki-laki mantan petinju profesional. Laila Ali adalah putri dari Muhammad Ali. Ada banyak liputan media ketika ia menghadapi putri kaku ayahnya saingan Joe Frazier. Melawan khusus ini menarik Pay Per View rekor penjualan 100.000 untuk melawan.

Daftar juara tinju tahun 2009
Indonesia saat ini hanya menyisakan Chris Jon di daftar juara dunia tinju tahun 2009. Berikut daftar selengkapnya:

HEAVYWEIGHT - (unlimited)
WBC - Vitali Klitschko 37-2 (36 KOs)
WBA - Nicolay Valuev 50-1-0-1 NC (34 KOs)
IBF - Wladimir Klitschko 53-3 (47 KOs)
WBO - Wladimir Klitschko 53-3 (47 KOs)

CRUISERWEIGHT - (190 pounds)
WBC - Giacobbe Fragomeni 26-1-1 (10 KOs)
WBA - Guillermo Jones 36-3-2 (28 KOs)
IBF - Tomasz Adamek 37-1 (25 KOs)
WBO - Ola Afolabi 14-1-3 (6 KOs) / Victor Ramirez 15-1-1 NC (12 KOs)

LIGHT HEAVYWEIGHT - (175 pounds)
WBC - Jean Pascal 23-1 (15 KOs)
WBA - Gabriel Campillo 18-2-1 NC (6 KOs)
IBF - Chad Dawson 28-0-1 NC (17 KOs)
WBO - Zsolt Erdei 29-0 (17 KOs)

SUPER MIDDLEWEIGHT - (168 pounds)
WBC - Carl Froch 24-0 (19 KOs)
WBA - Mikkel Kessler 41-1 (31 KOs) / Anthony Mundine 32-3 (23 KOs)
IBF - Lucian Bute 23-0 (18 KOs)
WBO - Denis Inkin 34-0 (24 KOs)

MIDDLEWEIGHT - (160 pounds)
WBC - Kelly Pavlik 35-1 (31 KOs)
WBA - Felix Sturm 31-2-1 (13 KOs)
IBF - Arthur Abraham 30-0 (24 KOs)
WBO - Kelly Pavlik 35-1 (31 KOs)

JUNIOR MIDDLEWEIGHT - (154 pounds)
WBC - Vernon Forrest 41-3-0-1 (29 KOs) / Sergio Martinez 44-1-2 (24 KOs)
WBA - Daniel Santos 32-3-1-1 (23 KOs)
IBF - VACANT
WBO - Sergei Dzindziruk 36-0 (22 KOs) / Paul Williams 36-1 (27 KOs)

WELTERWEIGHT - (147 pounds)
WBC - Andrew Berto 25-0 (19 KOs)
WBA - Shane Mosley 46-5-1 (39 KOs) / Vyacheslav Senchenko 29-0 (20 KOs)
IBF - Joshua Clottey 34-2-0-1 (20 KOs)
WBO - Miguel Cotto 33-1 (27 KOs)

JUNIOR WELTERWEIGHT - (140 pounds)
WBC - Timothy Bradley 24-0 (11 KOs)
WBA - Andreas Kotelnik 31-2-1 (13 KOs)
IBF - Juan Urango 26-1-1 (16 KOs)
WBO - Timothy Bradley 24-0 (11 KOs)

LIGHTWEIGHT - (135 pounds)
WBC - Edwin Valero 25-0 (25 KOs)
WBA - Juan Manuel Marquez 50-4-1 (37 KOs) / Paulus Moses 24-0 (17 KOs)
IBF - VACANT
WBO - Juan Manuel Marquez 50-4-1 (37 KOs)

JUNIOR LIGHTWEIGHT - (130 pounds)
WBC - Humberto Soto 48-7-2-1 NC (31 KOs)
WBA - Jorge Linares 27-0 (18 KOs)
IBF - Malcolm Klassen 24-4-2 (15 KOs)
WBO - Roman Martinez 22-0-1 (13 KOs)

FEATHERWEIGHT - (126 pounds)
WBC - Takahiro Aoh 17-1-1 (8 KOs)
WBA - Chris John 42-0-2 (22 KOs) / Yuriorkis Gamboa 15-0 (13 KOs)
IBF - Cristobal Cruz 38-11-1-1 NC (23 KOs)
WBO - Steven Luevano 36-1-1 (15 KOs)

JUNIOR FEATHERWEIGHT - (122 pounds)
WBC - Israel Vazquez 43-4 (31 KOs) / Toshiaki Nishioka 34-4-3 (21 KOs)
WBA - Celestino Caballero 32-2 (22 KOs) / Bernard Dunne 28-1 (15 KOs) / Poonsawat Kratingdaenggym 38-1 (27 KOs)
IBF - Celestino Caballero 32-2 (22 KOs)
WBO - Juan Manuel Lopez 26-0 (24 KOs)

BANTAMWEIGHT - (118 pounds)
WBC - Hozumi Hasegawa 26-2 (10 KOs)
WBA - Anselmo Moreno 26-1-1 (8 KOs) / Nehomar Cermeno 17-0 (10 KOs)
IBF - Joseph Agbeko 26-1 (22 KOs)
WBO - Fernando Montiel 39-2-1 (29 KOs)

JUNIOR BANTAMWEIGHT - (115 pounds)
WBC - Vic Darchinyan 32-1-1 (26 KOs)
WBA - Vic Darchinyan 32-1-1 (26 KOs) / Nobuo Nashiro 13-1 (8 KOs)
IBF - Vic Darchinyan 32-1-1 (26 KOs)
WBO - Jose Lopez 39-7-2 (32 KOs)

FLYWEIGHT - (112 pounds)
WBC - Daisuke Naito 35-2-3 (22 KOs)
WBA - Denkaosan Kaovichit 47-1-1 (20 KOs)
IBF - Nonito Donaire 21-1 (14 KOs)
WBO - Omar Narvaez 30-0-2 (19 KOs)

JUNIOR FLYWEIGHT - (108 pounds)
WBC - Edgar Sosa 36-5 (20 KOs)
WBA - Brahim Asloum 23-2 (9 KOs) / Giovanni Segura 20-1-1 (16 KOs)
IBF - Brian Viloria 25-2-2 NC (15 KOs)
WBO - Ivan Calderon 31-0 (6 KOs)

STRAWWEIGHT - (105 pounds)
WBC - Oleydong Sithsamerchai 31-0 (12 KOs) / Juan Palacios 25-2-1 NC (20 KOs)
WBA - Roman Gonzalez 23-0 (20 KOs)
IBF - Raul Garcia 24-0-1 (15 KOs)
WBO - Donnie Nietes 24-1-3 (14 KOs) / Manuel Vargas 26-3-1 (11 KOs)

 

Salam,

Dwi Hartoyo, SP

REFERENSI
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Tinju
2. http://roysfiles.blogspot.com/2012/04/kelas-dalam-tinju-amatiramateur-boxing.html
3. http://indobeta.com/penjelasan-peraturan-tinju-knockdown/1745/
4. http://id.wikipedia.org/wiki/Pertandingan_tinju_Yunani_Kuno
5. http://id.wikipedia.org/wiki/Knockdown
6.http://id.wikipedia.org/wiki/Ronde
7.http://wartamalang.com/2012/01/sebuah-catatan-perjalanan-dan-perkembangan-tinju/
8. http://id.articlestreet.com/recreation-and-leisure/sports/women-in-professional-boxing-since-1904.html