BUDIDAYA
CABE
( CABE MERAH DAN CABE RAWIT )
Capsicum sp
Cabai atau cabe merah atau
lombok (bahasa Jawa) adalah buah dan tumbuhan
anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan
sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana
digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang
pedas sangat populer di Asia Tenggara sebagai
penguat rasa makanan.
Cabe merupakan tanaman
perdu dari famili terong-terongan yang memiliki
nama ilmiah Capsicum sp. Cabe berasal dari
benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar
ke negara-negara benua Amerika, Eropa dan
Asia termasuk Negara Indonesia.
Tanaman cabe banyak ragam tipe pertumbuhan
dan bentuk buahnya. 
Diperkirakan terdapat 20 spesies yang sebagian
besar hidup di Negara asalnya. Masyarakat
pada umumnya hanya mengenal beberapa jenis
saja, yakni Cabe besar, cabe keriting, cabe
rawit dan paprika.
Secara umum cabe memiliki banyak kandungan
gizi dan vitamin. Diantaranya Kalori, Protein,
Lemak, Kabohidarat, Kalsium, Vitamin A,
B1 dan Vitamin C.
Selain digunakan untuk keperluan rumah tangga,
cabe juga dapat digunakan untuk keperluan
industri diantaranya, Industri bumbu masakan,
industri makanan dan industri obat-obatan
atau jamu.
Dewasa ini bertani cabai
hibrida sistem mulsa plastik hitam
perak (MPHP) banyak dipraktekkan
pada cabai Hot Beauty, Hero, Long Chili, Ever-Flavor
dan cabai Paprika. Dimungkinkan pula pada
usahatani cabai keriting hibrida maupun cabai
kecil (rawit, cengek) hibrida. Alasan utama
sistem MPHP digunakan pada cabai-cabai hibrida
adalah untuk mengimbangi biaya pengadaan MPHP
dari peningkatan hasil cabai yang lebih tinggi
daripada cabai biasa, sehingga secara ekonomis
menguntungkan. Budidaya cabai hibrida dengan
sistem MPHP merupakan perbaikan kultur teknik
ke arah yang intensif. Pada umumnya sistem
budidaya cabai di sentra-sentra produksi cabai
masih menggunakan benih lokal dan populasi
tanaman per hektarnya tinggi. Populasi yang
sangat rapat ini dapat mengakibatkan penangkapan
sinar matahari setiap tanaman berkurang dan
kelembaban udara di sekitar kebun menjadi
tinggi. Kelembaban yang tinggi seringkali
dapat meningkatkan serangan hama dan penyakit.
Perbaikan kultur teknik budidaya cabai secara
intensif untuk meningkatkan produksi maupun
kualitas hasil, diantaranya adalah penggunaan
benih unggul dari varietas hibrida yang bermutu
tinggi, penerapan MPHP, pemupukan berimbang,
pengendalian hama dan penyakit, serta cara-cara
lain yang khas seperti pemasangan turus dan
perempelan tunas ataupun daun.
Manfaat
Cabe
Cabai merah Besar (Capsicum
annuum L.) merupakan salah satu jenis sayuran
yang memilki nilai ekonomi yanng tinggi. Cabai
mengandung berbagai macam senyawa yang berguna
bagi kesehatan manusia.
[1]. Sun et al. (2007) melaporkan cabai mengandung
antioksidan yang berfungsi untuk menjaga tubuh
dari serangan radikal bebas. Kandungan terbesar
antioksidan ini adalah pada cabai hijau.
Cabai juga mengandung Lasparaginase dan Capsaicin
yang berperan sebagai zat anti kanker (Kilham
2006; Bano & Sivaramakrishnan 1980). Cabai
(Capsicum annum L) merupakan salah satu komoditas
sayuran yang banyak dibudidayakan oleh petani
di Indonesia karena memiliki harga jual yang
tinggi
[2] dan memiliki beberapa manfaat kesehatan
yang salah satunya adalah zat capsaicin yang
berfungsi dalam mengendalikan penyakit kanker.
Cabe (Capsicum Annum varlongum) merupakan
salah satu komoditas hortikultura
yang memiliki nilai ekonomi
penting di Indonesia. Tingginya
harga jual dan beli cabai merah besar( Capsium
annum Var Longum) beberapa tahun terakhir
yang sampai pada kisaran Rp 20 ribu - Rp 40
ribu pada bulan Juli - Agustus tahun 2010,
menyebabkan tanaman tersebut masuk dalam agenda
pembicaraan nasional.
Betapa tidak! Dimusim hujan, harga cabai cenderung
melambung, dengan pengelolaan tanaman secara
tradisionil sulit diharapkan hasilnya yang
optimal, sebab pada musim hujan serangan hama
dan penyakit sangat hebat dan resiko kebanjiran,
ternyata selain itu, Cabai ternyata mampu
sebagai penyebab tingginya laju inflasi nasional
tersebut, mununjukkan bahwa cabai benar-benar
merupakan komoditas sayuran yang sangat dibutuhkan
dalam kehidupan sehari-hari. Selain untuk
memenuhi kebutuhan rumah tangga, permintaan
akan cabai oleh industri dari hari ke hari
terus meningkat, seiring dengan makin maraknya
industri pengolahan bahan makanan menggunakan
cabai sebagai bahan baku utamanya, misalkan
sambal, saus, dan mie instan.
Demikian dikatakan H Nukman Harahap, Kepala
kantor Informasi penyuluhan pertanian(KIPP)
Labuhanbatu, melalui Rajimin dan Makmur Sentosa
Rambe, Kelompok Jabatan fungsional(KJF) KIPP
Labuhanbatu, Senin(3/9) di kantornya di kawasan
jalan HM Said, Rantauprapat.
Budidaya tanaman cabai, menurutnya sangat
menjanjikan dalam nilai ekonomi, sebab, potensi
pasar yang kian cerah juga ditopang oleh kian
mudahnya dalam membudidayakannya, seiring
terus dilakukannya penelitian-penelitian dalam
pengembangannya. “KIPP sendiri telah
banyak melakukan ujicoba penanaman berbagai
jenis cabai di beberapa tempat di Labuhanbatu,
serta dari pengalaman tersebut kepada masyarakat
yang membutuhkan informasi dapat memperolehnya
di KIPP. Karena, KIPP sendiri sebagai wahana
yang bertujuan meningkatkan SDM para petani/kebun
dan nelayan dalam menguasai teknologi pertanian,”
urainya.
Banyak pilihan varietas cabai apabila hendak
membudidayakan komoditi tersebut, pasalnya,
ada beberapa varietas cabai, seperti varietas
lokal yakni Tit Super Lv, merupakan cabai
dataran rendah yang cocok ditanam sepanjang
tahun pada musim hujan. Panjang buahnya mencapai
12-14 cm, diameter 1,5 cm dan umur panen adalah
90 hari setelah semai. Produksinya mencapai
20 ton perhektar. “Kemudian jenis keriting
lokal yang tahan tanam dimusim hujan antara
lain, varietas lokal daerah Kudus, Rembang,
Lampung, sumatera Barat, Karo, Garut dan varietas
lokal daerah yang benihnya telah diseleksi
oleh perusahaan benih, seperti jenis Laris
yang dapat ditanam pada ketinggian 0-700 mdpl(meter
dari permukaan laut), dimana panjang buahnya
mencapai 16-18 cm dan rasanya sangat pedas,
produksinya 18 ton perhektar. Selain itu varietas
cabai jenis Cemeti yang dinilai sangat tahan
terhadap penyakit, sesuai ditanam dimusim
hujan.Bentuk buahnya panjang, dapat dipanen
pada umur 65-85 hari setelah tanam, produksinya
perhektar mencapai 16-18 ton,” ujarnya.
Kalaupun hendak mempergunakan
varietas lainnya, tersedia jenis unggul/hibrida
yang terdiri dari Hot Beauty(457), varietas
ini tahan terhadap penyakit dimusim hujan,
panjang buah 13 cm, diameter 1,4 cm, berat
rata-rata buah 7,5 gram, dipanen pada umur
75 hari setelah tanam didataran rendah, untuk
dataran tinggi panen mencapai 90-100 hari.
“Jenis cabai Hybrid TM-999 yang berasal
dari Hungnong, Korea dapat terus menerus berbunga
sehingga dapat dipanen dalam jangka panjang,
denga ukuran buah panjang 12,5 cm dengan berat
buah 5-6 gram, dipanen pada umumnya 90 hari
setelah tanam untuk dataran rendah dan 105
hari pada dataran tinggi, dengan hasil tanaman
0,8-1,2 kilogram perpohon,” imbuhnya.
Jenis lainnya, yakni Maraton, dapat ditanam
pada ketinggian 0-800 mdpl. Tahan terhadap
penyakit layu Pseudomonas, patek/antraknosa
dan bercak daun bakteri, baik ditanam pada
musim hujan dengan berat buah 12,5-14,3 gram.
Umur dapat dipanen 70-75 hari setelah tanam.uksi
1-1,5 kg/tanaman atau 18-27 ton/Ha. “Selain
itu juga ada jenis CTH-01, Home Flavor, Kunthi
dan Taro.
Dalam memilih lokasi ideal penanaman cabai,
KIPP Labuhanbatu, ujar Rajimin akan memberi
juklak dan juknis yang tepat bagi para petani
yang ingin berbudidaya cabai. “Lokasi
penanam merupakan unsur terpenting dan strategis
dalam menentukan kesuksesan usaha bertanam
cabai,” tegasnya.
Maka, pedoman awal yang dapat dijelaskan,
akunya, agar menghindari lokasi bekas lahan
tanaman solanaceae. Idealnya, dipilih bekas
tanaman padi, malah bukan bekas tanaman cabai
atau bekas tanaman famili solanaceae , seperti
tomat, kentang, terong dan sebagainya. Untuk
itu, usahakan lokasi mendapat penyinaran matahari
optimal. “Bertanam cabai jangan sampai
terlindung oleh pohon besar dan jangan ditempat
yang tergenang air,” tuturnya. Serta
hindari tanah liat dan masam, dengan PH tanah(derajat
keasaman yang dikehendaki berkisar 5,5-6,3,
sedangkan PH optimal 6,0-6,5. Tanaman cabai
dapat tumbuh pada ketinggian 0-1200 mdpl,
namun yang terbaik pilih ketinggian 200-600
mdpl.
JENIS
JENIS CABE
Saat ini telah banyak
benih cabe hibrida yang
beredar di pasaran dengan
nama varietas yang beraneka ragam dengan berbagai keunggulan yang dimiliki.
Genus Capsicum terdiri dari
30 spesies, lima diantaranya telah di budidayakan,
yakni : C. annuum; C. fritescens; C. pubenscense;
C. baccatum dan C. chinese. Yang paling banyak
di budidayakan di Indonesia adalah C. annuum
( cabe merah besar dan Cabai keriting ), kemudian
C. frutescense ( Cabai Rawit ).
Beberapa jenis cabe yang
telah dirilis adalah: Jet
set, Arimbi, Buana 07,
Somrak, Elegance 081, Horison 2089
, Imperial 308 dan
Emerald 2078. Dan untuk cabe hibrida keriting diantaranya,
Papirus, CTH 01, Kunthi 01,
Sigma, Flash 03, Princess 06
dan Helix 036, dan untuk cabe rawit hibrida adalah
Discovery.
a. Tanjung-1 •
Potensi hasil 18 ton/ha
• Warna buah merah
• Panjang buah 10 cm
• Cocok untuk dataran rendah
• Toleran terhadap hama pengisap daun
b. Tanjung-2 • Potensi hasil 12 ton/ha
• Cocok untuk dataran rendah
c. Lembang-1 • Potensi hasil 9 ton/ha
• Cocok untuk dataran tinggi |


|
JENIS CABAI
DAN KARAKTERNYA
Jenis |
Karakteristik |
| Cabai Besar |
Bunga putih , permukaan buah rata dan
halus, diameter sedang - besar , kulit
daging buah terbal, berumur genjah dan
dapat tumbuh di berbagai ketinggian |
| Cabai Keriting |
Bunga putih atau ungu, buah muda hijau
atau ungu, permukaan buah bergelombang,
kulit daging buah tipis, umur lebih dalam,
buah lebih tahan simpan dapat tumbuh pada
berbagai ketinggian. |
| Cabai Paprika |
Buah muda memiliki warna bervariasi
( kuning, hijau muda, hijau dan ungu,
buah kotakatau lonjong, permukaan rata,
kulit daging buah tebal , tidak pedas
dan cocok untuk datarang tinggi. |
| Cabai rawit |
Bunga berwarna putih kehijaan, buah
muda berwarna putih, kuning atau hijau,
daging buah lunak, rasa buah pedas. |
Syarat Tumbuh
Syarat Iklim
Pada umumnya cabai dapat ditanam
di dataran rendah sampai pegunungan (dataran
tinggi) + 2.000 meter dpl yang membutuhkan
iklim tidak terlalu dingin dan tidak terlalu
lembab. Temperatur yang baik untuk tanaman
cabai adalah 240 - 270 C, dan untuk pembentukan
buah pada kisaran 160 - 230 C. Setiap varietas
cabai hibrida mempunyai daya penyesuaian tersendiri
terhadap lingkungan tumbuh. Cabai hibrida
Hot Beauty dan Hero dapat berproduksi dengan
baik di dataran rendah sampai dataran tinggi
+ 1200 m dpl.
Sedangkan
cabai hibrida Long Chili lebih cocok ditanam
pada ketinggian antara 800 - 1500 m dpl. Khusus
untuk cabai Paprika umumnya hanya cocok ditanam
di dataran tinggi. Kisaran temperatur optimum
untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman
paprika antara 210 - 250 C, sedangkan untuk
pembentuk-an buah memerlukan temperatur 18,30.
Cabai paprika tidak tahan terhadap intensitas
cahaya matahari yang tinggi karena dapat menyebabkan
buah seperti terbakar (sunburn) dan juga hasil
akhir bobot buah akan sangat rendah. Pada
kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan,
tanaman paprika akan mengalami gugur tunas,
gugur bunga dan buah muda, serta ukuran buah
sangat kecil. Meskipun cabai paprika umumnya
cocok ditanam di dataran tinggi, tetapi dapat
pula dikembangkan di dataran menengah mulai
ketinggian 600 m dpl; yakni dengan cara memanipulasi
lingkungan. Alih teknologi budidaya paprika
di dataran menengah antara lain menggunakan
sungkup beratapkan plastik bening (transparan).
Iklim
• Curah hujan 1500-2500 mm pertahun dengan distribusi merata.
• Suhu udara 16° - 32 ° C
• Saat pembungaan sampai dengan saat pemasakan buah, keadaan sinar matahari cukup (10 -
12 jam).
Syarat Tanah
Hampir semua jenis tanah
yang cocok untuk budidaya tanaman pertanian,
cocok pula bagi tanaman cabai. Untuk mendapatkan
kuantitas dan kualitas hasil yang tinggi,
cabai menghendaki tanah yang subur, gembur,
kaya akan organik, tidak mudah becek (menggenang),
bebas cacing (nematoda) dan penyakit tular
tanah. Kisaran pH tanah yang ideal adalah
antara 5.5 - 6.8, karena pada pH di bawah
5.5 atau di atas 6.8 hanya akan menghasilkan
produksi yang sedikit (rendah). Pada tanah-tanah
yang becek seringkali menyebabkan gugur daun
dan juga tanaman cabai mudah terserang penyakit
layu. Khusus untuk tanah yang pH-nya di bawah
5.5 (asam) dapat diperbaiki keadaan kimianya
dengan cara pengapuran, sehingga pH-nya naik
mendekati pH normal.
Beberapa angka pH tanah (reaksi
tanah), terdiri atas :
Paling masam (< 4.0)
Sangat asam (4.0 - 4.5)
Asam (4.5 - 5.5)
Agak asam (5.5 - 6.5)
Netral (6.5 - 7.5)
Agak basa (7.5 - 8.5)
Basa (8.5 - 9.0)
Sangat basa (9.0).
Pada pH tanah asam, ketersediaan
unsur-unsur Fosfor, Kalium, Belerang, Kalsium,
Magnesium dan Molibdinum menurun dengan cepat.
Pada pH tanah basa akan menyebabkan unsur-unsur
Nitrogen, Besi, Mangan, Borium, Tembaga dan
Seng ketersediaannya relatif menjadi sedikit.
Cabai yang ditanam pada tanah asam pada umumnya
keracunan unsur Alumunium (Al), Besi (Fe)
dan Mangan (Mn). Sebaliknya pada pH basa,
jumlah unsur bikarbonat cukup banyak untuk
merintangi penyerapan ion lain, sehingga dapat
menghalangi pertumbuhan tanaman secara optimum.
Tanah
• Tanah berstruktur remah/gembur dan kaya akan bahan organik.
• Derajat keasaman (PH) tanah antara 5,5 - 7,0
• Tanah tidak becek/ ada genangan air
• Lahan pertanaman terbuka atau tidak ada naungan.
Pedoman Teknis Budidaya
Penyiapan Benih Benih cabe dapat dibuat sendiri dengan cara sebagai berikut:
• Pilih buah cabe yang matang (merah)
• Bentuk sempurna, segar
• Tidak cacat dan tidak terserang penyakit.
• Kemudian keluarkan bijinya dengan mengiris buah secara memanjang
• Cuci biji lalu dikeringkan.
• Kemudian pilih biji yang bentuk, ukuran dan warna seragam, permukaan kulit bersih, tidak
keriput dan tidak cacat.
Bila kesulitan membuat sendiri, benih cabe dapat dibeli di toko
pertanian setempat.
Benih yang akan ditanam diseleksi dengan cara merendam dalam air, biji yang terapung
dibuang.
PERSIAPAN
TANAM
Tahapan pengolahan tanah
dilakukan dengan tata cara sebagai berikut
:
Lahan dibersihkan dari sisa-sisa
tanaman atau perakaran dari pertanaman sebelumnya.
Tanah dibajak atau dicangkul sedalam 30 -
40 cm, kemudian dikeringkan selama 7 - 14
hari.
Tanah yang sudah agak kering segera dibentuk
bedengan-bedengan selebar 110 - 120 cm, tinggi
40 - 50 cm, lebar parit 60 - 70 cm, sedangkan
panjang bedengan sebaiknya lebih dari 12 meter.
Khusus pada tanah yang banyak mengandung air
(mudah becek), sebaiknya parit dibuat sedalam
60 - 70 cm.
Di sekeliling lahan kebun cabai dibuat parit
keliling selebar dan sedalam 70 centimeter.
Pada saat 70% bedengan kasar terbentuk, bedengan
dipupuk dengan pupuk kandang (kotoran ayam,
domba, kambing, sapi ataupun kompos) yang
telah matang sebanyak 1,0 - 1,5 kg/tanaman.
Pada tanah yang pH-nya masam, bersamaan dengan
pemberian pupuk kandang dilakukan pengapuran
sebanyak 100 - 125 gram/tanaman.
Pupuk kandang dan kapur pertanian dicampur
dengan tanah bedengan secara merata sambil
dibalikkan, kemudian dibiarkan diangin - anginkan
selama kurang lebih 2 minggu.
Catatan :
Jika populasi cabai hibrida
per hektar antara 18.000 - 20.000 tanaman
pada jarak tanam 60 x 70 cm, maka diperlukan
pupuk kandang 18 - 30 ton, dan kapur pertanian
1,8 - 2,0 ton.
PERSEMAIAN
Sebelum tanam di tempat permanen, sebaiknya benih disemai dulu dalam wadah semai yang dapat
berupa bak plastik atau
kayu dengan ketebalan
sekitar 10 cm yang
dilubangi bagian dasarnya
untuk pengaturan air(drainase).
Persiapannya adalah sebagai berikut:
1. Isikan dalam wadah semai
media berupa tanah pasir,
dan pupuk kandang dengan
perbandingan 1 : 1.
Untuk menghilangkan gangguan
hama berikan pestisida sistemik
di tanah dengan takaran
10 gr/m2. Media ini disiapkan
1 minggu sebelum penyemaian
benih.
2. Benih yang akan ditanam,
sebelumnya direndam dalam
air hangat (50 derajat
Celcius) selama semalam, Tambahkan
MiG- 6PLUS saat perendaman dengan dosis 10ml : 1 liter air.
3. Tebarkan benih secara merata di media persemaian, bila mungkin beri jarak antar benih 5 x
5 cm sehingga waktu
tanaman dipindah / dicabut, akarnya
tidak rusak. Usahakan waktu
benih ditanam diatasnya
ditutup selapis tipis tanah.
Kemudian letakkan wadah
semai tersebut di tempat
teduh dan lakukan penyiraman
secukupnya agar media semai
tetap lembab.
Pembibitan
• Benih yang telah
berkecambah atau bibit cabe
umur 10-14 hari (biasanya
telah tumbuh sepasang daun)
sudah dapat dipindahkan ke
tempat pembibitan. •
Siapkan tempat pembibitan berupa polybag ukuran 8 x 9 cm atau bumbungan dari bahan
daun pisang sehingga lebih
murah harganya. Masukkan ke
dalamnya campuran tanah,
pasir dan pupuk kandang.
• Pindahkan bibit cabe
ke wadah pembibitan dengan
hati-hati. Pada saat bibit
ditanam di bumbungan,
tanah di sekitar akar
tanaman ditekan-tekan agar
sedikit padat dan bibit
berdiri tegak. Letakkan
bibit di tempat teduh
dan sirami secukupnya untuk
menjaga kelembabannya.
Pembibitan ini bertujuan
untuk meningkatkan daya
adaptasi dan daya tumbuh
bibit pada saat pemindahan
ke tempat terbuka di
lapangan atau pada polybag
Pemindahan bibit baru dapat
dilakukan setelah berumur 30-40 hari.
Penyiapan
Benih dan Pembibitan
Bersamaan
dengan pembuatan bedengan kasar, dilakukan
penyiapan benih dan pembibitan di pesemaian.
Untuk lahan (kebun) seluas 1 hektar diperlukan
benih + 180 gr atau 18 bungkus kemasan masing-masing
berisi 10 gram. Benih dapat disemai langsung
satu dalam bumbung (koker) yang terbuat dari
daun pisang ataupun polybag kecil ukuran 8
x 10 cm, tetapi dapat pula dikecambahkan terlebih
dahulu. Sebelum dikecambahkan, benih cabai
sebaiknya direndam dulu dalam air dingin ataupun
air hangat 550 - 600 selama 15 - 30 menit
untuk mempercepat proses perkecambah-an dan
mencucihamakan benih tersebut. Bila benih
cabai akan disemai langsung dalam polybag,
maka sebelumnya polybag harus diisi dengan
media campuran tanah halus, pupuk kandang
matang halus, ditambah pupuk NPK dihaluskan
serta Furadan atau Curater. Sebagai pedoman
untuk campuran adalah : tanah halus 2 bagian
(2 ember volume 10 liter) + 1 bagian pupuk
kandang matang halus (1 ember volume
10 liter) + 80 gr pupuk NPK dihaluskan (digerus)
+ 75 gr Furadan. Bahan media semai tersebut
dicampur merata, lalu dimasukkan ke dalam
polybag hingga 90% penuh. Benih cabai hibrida
yang telah direndam, disemaikan satu per satu
sedalam 1,0 - 1,5 cm, lalu ditutup dengan
tanah tipis. Berikutnya semua polybag yang
telah diisi benih cabai disimpan di bedengan
secara teratur dan segera ditutup dengan karung
goni basah selama + 3 hari agar cepat berkecambah.
Bila benih dikecambahkan terlebih dahulu,
maka sehabis direndam harus segera dimasukkan
ke dalam lipatan kain basah (lembab) selama
+ 3 hari. Setelah benih keluar bakal akar
sepanjang 2-3 mm, dapat segera disemaikan
ke dalam polybag. Cara ini untuk meyakinkan
daya kecambah benih yang siap disemai dalam
polybag. Tata cara penyemaian benih ke dalam
polybag prinsipnya sama seperti cara di atas
hanya perlu alat bantu pinset agar kecambah
benih cabai tidak rusak. Penyimpanan polybag
berisi semaian cabai dapat ditata dalam rak-rak
kayu atau bambu, namun dapat pula diatur rapi
di atas bedengan-bedengan selebar 110 - 120
cm. Setelah semaian cabai tersebut diatur
rapi, maka harus segera dilindungi dengan
sungkup dari bilah bambu beratapkan plastik
bening (transparan) ataupun jaring net kassa.
Selama bibit di pesemaian, kegiatan rutin
pemeliharaan adalah penyiraman 1-2 kali/hari
atau tergantung cuaca, dan penyemprotan pupuk
daun pada dosis rendah 0,5 gr/liter air saat
tanaman muda berumur 10 - 15 hari, serta penyemprotan
pestisida pada konsentrasi setengah dari yang
dianjurkan untuk mengendalikan serangan hama
dan penyakit.
Cara serupa dalam
penyiapan bibit Cabai berdasarkan pengalaman
petani cabai , tetapi prinsipnya hampir sama
:
Dalam hal pembibitan cabai,
ujar Rajimin, sebaiknya dilakukan apabila
penyiapan lahan sudah 70% selesai. Hal ini
untuk menghindari dari bibit terlalu tua (terlambat
tanam), selain itu, persiapan media semai
terdiri dan tanah, pupuk kandang, pupuk SP-36
ditambah insektisida furadan. Perbandingan
2 ember tanah + 1 ember pupuk kandang + 165
gram SP-36 + 75 gram furadan. Untuk pembibitan
memakai polybag ukuran 8 x 10 cm, 6 x 10 cm,
untuk penanaman 1 ha dibutuhkan pembibitan
polybag sebanyak 20.000 polybag termasuk cadangan
untuk sisipan. Langkah selanjutnya, ungkapnya,
upaya mensterilkan media sesuai dengan fumigan,
dimana Media semai sebaiknya disterilisasi
terlebih dahulu dengan menggunakan fumigan
tanah (Basamid G). Tujuannya apabila Basamid
G terkena air akan mengeluarkan gas metil
isotiosianat yang dapat membunuh serangga,
cendawan, nematoda dan bakteri serta mematikan
benih gulma yang akan tumbuh. Dan, selanjutnya,
memberil perlakuan benih agar beban penyakit.
Sebelum benih ditebar dipembibitan /ditanam
dalam polybag, papar Rajimin, benih harus
diberi perlakuan. Ada dua cara pemberian perlakukan,
dimana pertama dengan perlakuan basah berupa,
yakni sebelum benih disemai terlebih dahulu
benih direndam dalam larutan air
yang diberi fungisida dan bakterisida (air
1 ltr + 1,5 ml previcurn + 1,2 gram Agrimycin)
selama 4-6 jam. Kemudian benih
dibungkus handuk/koran dibasahi lalu diperam
dalam kaleng biskuit yang diberi lampu 15
watt, selama 3—4 han benih berkecambah
0,5-1,0 mm dan siap disemaikan.
Sedangkan Perlakuan kering, lanjutnya, sebelum
benih disemai terlebih dahulu kemasan dibuka,
diberi fungisida Derosol 60 Wp satu sendok
dan Agrimycin setiap kemasan benih dan dikocok
sampai merata, kemudian benih siap disemai.
Pemeliharaan bibit
secara intensif
Selama bibit berada dalam rumah pembibitan,
diharapkan untuk tetap mendapat pemeliharaan.
“Untuk mendapatkan bibit siap tanam
yang berkualitas baik, jadwal pembukaan dan
penutupan sungkup, hendaknya dilakukan pada
pagi hari bibit perlu mendapat sinar matahari,
maka sungkup dibuka s/d jam 10.00 WIB, sungkup
ditutupkan kembali saat panas mulai terik
jam 10.00 – 16.00 WIB bila han hujan
sungkup tetap ditutup untuk menghindari dari
percikan air hujan,” jelasnya. Sedangkan
pola penyiraman dilakukan setiap hari, penyiangan
/ Gulma dilakukan pada musim hujan, karena
gulma mudah tumbuh, maka pembibitan perlu
disiangi dengan cara mencabut gulma yang turnbuh
pada areal pembibitan. 
Untuk tahap pemupukan cukup menggunakan pupuk
melalui daun (penyemprotan) dengan mempergunakan
pupuk daun, berdosis 1 gram atau 1 ml/ltr
air, selain itu dalam hal pengendalian H/P,
ujar Rajimin, hama yang menyerang biasanya
adalah ulat tanah ( Agrotis ipsilon). Hal
itu terlihat dengan tanda-tandanya bibit mati
terpotong, penyakit lainnya biasanya yang
meyerang tanaman cabai berupa cendawan ( Pythium
Aphanider Matum), untuk jenis ini tanda—tanda
serangan batang mudah layu. Mengantisipasinya
dapat dilakukan penyemprotan Insektisida yang
digunakan Decis, Fungisida yang digunakan
Dithane M.45 dosis 0,5 dan konsentrasi yang
biasa dilakukan, pengendalian dilakukan sebaiknya
3 hari sebelum pindah tanam, terang Rajimin.
Pemasangan
Mulsa Plastik Hitam Perak ( MPHP )
Sebelum MPHP dipasang untuk
menutupi permukaan bedengan, terlebih dahulu
dilakukan pemupukan pupuk buatan secara total
sekaligus. Jenis dan dosis pupuk yang biasa
digunakan untuk cabai hibrida adalah sebagai
berikut :
Untuk praktisnya dapat menghitung
pupuk per bedengan. Misalnya panjang bedengan
12 meter, jarak tanam 60 x 70 cm akan berisi
40 tanaman. Jadi, pupuk yang diperlukan sejumlah
+ 4 kg, yang terdiri atas perbandingan 3 ZA
: 1 Urea : 2 TSP : 1,5 Kcl, dengan catatan
tiap 100 kg pupuk campuran tadi ditambahkan
1 kg Borate dan 1,5 kg Furadan. Campuran pupuk
buatan ini disebar merata sambil diaduk dan
dibalikkan dengan tanah bedengan. Kemudian
bedengan diratakan kembali sambil dirapihkan,
dan setelah itu disiram air secukupnya agar
pupuk dapat larut ke lapisan tanah. Pemasangan
MPHP sebaiknya memperhatikan cuaca, yakni
pada saat terik matahari antara pukul 14.00
- 16.00 agar plastik tersebut memanjang (memuai)
dan menutup tanah serapat mungkin. Pemasangan
MPHP minimal dilakukan oleh 2 orang. Caranya
adalah : tariklah kedua ujung MPHP ke masing-masing
ujung bedengan arah memanjang. Kemudian dikuatkan
dengan pasak bilah bambu berbentuk "U"
yang ditancapkan di setiap sisi bedengan.
Berikutnya tarik pula lembar MPHP ke bagian
sisi kiri kanan (lebar) bedengan hingga nampak
rata menutup permukaan bedengan. Kuatkan dengan
pasak bilah bambu pada setiap jarak 40 - 50
cm. Bedengan yang telah ditutup MPHP dibiarkan
dulu selama + 5 hari agar pupuk buatan larut
dalam tanah dan tidak membahayakan (toksis)
bibit cabai yang ditanam.
Untuk menaikkan PH Tanah,
sebaiknya dilakukan pengapuran tanah, dengan
caranya, pada saat pengolahan tanah, diberikan
kapur pertanian yang menggunakan, Kalsit/Kaptan
CaCO3, Dalomite Ca Mg (CO) berdosis, 2 sampai
4 Ton/Ha atau 200-400 gram/m2.
Pemupukan bedengan, ujarnya, dilakukan pada
saat pemasangan Mulsa Plastik Hitam Perak
(MPHP) sebanyak 85% dan total pupuk yang akan
diberikan. Pada musim hujan pemberian N jangan
terlalu banyak akan menyebabkan batang tanaman
cabai banyak mengandung air (sukulen), tanaman
yang sukulen akan mudah terserang Hama / penyakit
Persiapan Media Tanam dalam Polybag
1. Siapkan polybag tempat penanaman yang berlubang kiri kanannya untuk pengaturan air.
2. Masukkan media tanam ke dalamnya berupa campuran tanah dengan pupuk kandang 2 : 1
sebanyak 1/3 volume polybag.
Tambahkan
pestisida sistemik 2-4 gr/tanaman
untuk mematikan hama pengganggu dalam media tanah.
3. Masukkan campuran tanah dan pupuk kandang ke dalam polybag setinggi 1/3 nya.
4. Tambahkan pupuk buatan sebagai pupuk dasar yaitu 10 gr SP 36, 5 gr KCl dan 1/3 bagian
dari campuran 10 gr Urea +
20 gr
ZA per tanaman (2/3 bagiannya untuk pupuk
susulan). Biarkan selama 3
hari , kemudian siram dengan
larutan pupuk hayati
MiG -6 PLUS dengan dosis
10ml : 1 liter air.
Penanaman di Lapangan
• Siapkan bedengan yang dicampur dengan pupuk kandang
• Jika pH tanah rendah
(4-5) maka lakukan terlebih
dahulu pengapuran. Pengapuran
dilakukan bersamaan dengan
pembuatan bedengan
sebarkan kapur, aduk rata,
biarkan selama 3 minggu.
• Semprotkan larutan pupuk hayati MiG-6PLUS
merata pada permukaan
bedengan. Tahap ini kebutuhan
pupuk hayati MiG -
6 PLUS adalah 2 liter
per hektar.
• Tutup bedengan dengan mulsa plastik.
• Gunakan kaleng yang diberi arang untuk melubanginya.
• Pindahkan hati-hati bibit ke dalam lubang tanam.
Penanaman
1. Pilih bibit cabe yang
baik yaitu pertumbuhannya
tegar, warna daun hijau,
tidak cacat/terkena hama penyakit.
2. Tanam bibit tersebut di polybag penanaman. Wadah media bibit harus dibuka dulu sebelum
ditanam. Hati-hati supaya
tanah yang
menggumpal akar tidak lepas.
Bila wadah bibit memakai
bumbungan pisang langsung
ditanam karena daun tersebut akan hancur sendiri.
Tanam bibit bibit tepat
di bagian tengah, tambahkan
media tanahnya hingga mencapai
sekitar 2
cm bibir polybag.
3. Padatkan permukaan media
tanah dan siram dengan
air lalu letakkan di
tempat terbuka yang terkena
sinar matahari langsung.
Penanaman
Waktu tanam yang paling baik
adalah pagi atau sore hari, dan bibit cabai
telah berumur 17 - 23 hari atau berdaun 2
- 4 helai. Sehari sebelum tanam, bedengan
yang telah ditutup MPHP harus dibuatkan lubang
tanam dulu. Jarak tanam untuk cabai merah
hibrida adalah 60 x 70 cm atau 70 x 70 cm,
sedangkan cabai paprika 50 x 70 cm atau 60
x 70 cm. Pembuatan lubang tanam dapat menggunakan
alat bantu khusus yang terbuat dari potongan
pipa besi diisi arang. Penggunaan alat ini
dengan cara menempelkan ujung bawahnya pada
MPHP sesuai dengan jarak tanam yang telah
ditetapkan. Dengan cara demikian MPHP akan
berlubang berupa bulatan-bulatan kecil berdiameter
+ 6 - 8 cm. Selain itu, dapat juga menggunakan
alat bantu bekas kaleng susu yang salah satu
permukaannya telah dipotong. Cara penggunaan
kaleng bekas susu ini adalah : tutupkan pada
calon lubang tanam yang telah ditetapkan,
kemudian putarlah sambil ditekan alakadarnya,
maka akan langsung terbentuk lubang kecil.
Cara lain adalah menggunakan pisau silet atau
pisau cutter dengan cara dikeratkan langsung
pada MPHP berbentuk bulatan kecil. Bibit cabai
hibrida yang siap dipindahtanamkan segera
disiram dengan air bersih secukupnya. Kemudian
bersama dengan polybagnya direndam dalam larutan
fungisida sistemik atau bakterisida pada dosis
0,5 - 1,0 gram/liter air selama 15 - 30 menit
untuk mencegah penularan hama dan penyakit.
Setelah media semainya cukup kering, bibit
cabai hibrida dikeluarkan dari polybag secara
hati-hati. Caranya : ambil polybag berisi
bibit sambil dibalikkan dan pangkal batang
bibit cabai dijepit oleh jari telunjuk dan
jari tengah. Bagian dasar polybag ditepuk-tepuk
secara pelan dan hati-hati, maka bibit cabai
akan keluar bersama akar dan medianya. Bibit
cabai hibrida siap langsung ditanam pada lubang
tanam yang tersedia.
Cara penanaman bibit cabai
adalah : mula-mula sebagian tanah pada lubang
tanam diangkat kira-kira seukuran media polybag;
kemudian bibit dimasukkan sambil diurug tanah
hingga dekat pangkal batangnya cukup padat.
Bibit cabai hibrida yang disemai dalam polybag
ini, begitu dipindahtanamkan langsung tumbuh
(segar) tanpa mengalami kelayuan (stagnasi).
Selesai tanam, segera disiram sampai tanahnya
cukup basah.
PEMELIHARAAN
TANAMAN
Kegiatan pokok pemeliharaan
tanaman meliputi : pemasangan ajir (turus),
penyiraman (pengairan), perempelan tunas dan
bunga pertama, pemupukan tambahan (susulan),
perempelan daun bawah di bawah cabang, pengendalian
hama dan penyakit. Khusus untuk cabai paprika
yang sifatnya peka terhadap sinar matahari
yang terik diperlukan naungan beratap plastik
bening (transparan). Pemasangan kerangka naungan
ini bisa tunggal per bedengan, atau 2 bedengan
bahkan tiap 4 bedengan; tergantung dari kepraktisan
maupun ketersediaan bahan.
Tata cara pemasangan sungkup
(naungan) untuk cabai paprika (atau cabai
hibrida di musim hujan), pada prinsipnya adalah
sebagai berikut :
a. Pasang tiang-tiang dari
bambu gelondongan setinggi 50 - 80 cm di bagian
pinggir bedengan; arahnya memanjang pada jarak
tiap 3-4 meter.
b. Pasang bilah bambu yang bentuknya dilengkungkan
setengah lingkaran setinggi 160 - 200 cm dari
permukaan tanah. Caranya adalah
dengan memasukkan ujung bilah bambu ke dalam
lubang bambu gelondongan yang letaknya berpasangan.
c. Hubungkan antara kerangka sungkup yang
satu dengan yang lainnya dengan bilah bambu
yang dipasang memanjang, kemudian ikat
dengan tali kawat, hingga akhirnya sungkup
(kerangka) naungan siap dipasang atap plastik
bening.
d. Pasang atap plastik bening, dan kuatkan
dengan tali pengikat agar tidak mudah lepas
oleh terpaan angin.
Kegiatan
pemeliharaan tanaman untuk semua jenis atau
varietas cabai hibrida umumnya meliputi :
Pemasangan
ajir (turus)
Cabai hibirida umumnya berbuah
lebat, sehingga untuk menopang pertumbuhan
tanaman agar kuat dan kokoh serta tidak rebah
perlu dipasang ajir (turus) dari bilah bambu
setinggi 125 cm, lebar + 4 cm dan tebalnya
+ 2 cm. Ajir dipasang (ditancapkan) tegak
tiap 3 tanaman cabai 1 ajir secara berjajar
mengikuti arah panjang bedengan. Antara ajir
dengan ajir lainnya dihubungkan dengan bilah
bambu memanjang (gelagar) tepat pada ketinggian
80 cm dari permukaan tanah. Pemasangan ajir
harus sedini mungkin, yakni pada saat tanaman
belum berumur 1 bulan setelah pindah tanam.
Hal ini untuk mencegah terjadinya kerusakan
akar tanaman cabai sewaktu memasang (menancapkan)
ajir. Khusus untuk cabai paprika, pemasangan
ajir setiap tanaman 1 ajir.
Pengairan
(Penyiraman)
Pada fase awal pertumbuhan
atau saat tanaman cabai masih menyesuaikan
diri terhadap lingkungan kebun (adaptasi),
maka penyiraman perlu dilakukan secara rutin
tiap hari, terutama di musim kemarau. Setelah
tanaman tumbuh kuat dan perakarannya dalam,
pengairan berikutnya dilakukan dengan cara
dileb setiap 3 - 4 hari sekali. Pengeleban
ini airnya cukup sampai batas antara tanah
bagian bawah dengan ujung MPHP. Setelah tanah
bedengan basah, airnya segera dibuang kembali
melalui saluran pembuangan. Tanah yang becek
atau menggenang akan memudahkan tanaman terserang
penyakit layu. Di lahan tertentu yang tidak
mungkin melakukan pengairan dengan cara dileb,
dapat menggunakan teknik kocoran melalui selang
yang dialirkan di antara 4 tanaman. Ujung
selang dimasukkan ke dalam lubang MPHP di
tengah-tengah bedengan. Tanaman cabai hibrida
di bawah 40 hari, memerlukan pengairan yang
intensif dan rutin. Sedangkan tanaman yang
sudah produktif (berbuah) tidak mutlak memerlukan
air banyak. Tetapi yang terpenting adalah
menjaga agar tanah tidak kekeringan.
Perempelan
Cabai hibrida umumnya bertunas
banyak yang tumbuh dari ketiak-ketiak daun.
Tunas ini tidak produktif dan akan mengganggu
pertumbuhan secara optimal. Oleh karena itu,
perlu dilakukan perempelan (pembuangan) tunas
samping.
Perempelan tunas samping
dilakukan pada tanaman cabai hibrida yang
berumur antara 7 - 20 hari. Semua tunas samping
dibuang agar tanaman tumbuh kuat dan kokoh.
Saat terbentuk cabang, maka perempelan tunas
dihentikan. Biasanya perempelan tunas ini
dilakukan 2 - 3 kali. Tanpa perempelan tunas
samping, pertumbuhan tanaman cabai akan lambat.
Ketika tanaman cabai mengeluarkan
bunga pertama dari sela-sela percabangan pertama,
maka bunga ini pun harus dirempel. Tujuan
perempelan bunga perdana ini adalah untuk
merangsang pertumbuhan tunas-tunas dan percabangan
di atasnya yang lebih banyak dan produktif
menghasilkan buah yang lebat. Kelak tanaman
cabai hibrida yang sudah berumur 75 - 80 hari
biasanya sudah membentuk percabangan yang
optimal. Daun-daun tua yang ada di bawah cabang
dapat dirempel, terutama daun yang terserang
hama dan penyakit. Daun tua tersebut sudah
tidak produktif lagi, bahkan seringkali menjadi
sumber penularan hama dan penyakit. Perempelan
daun-daun tua ini jangan terlalu awal, sebab
pertumbuhan cabang daun belum optimal. Kesalahan
perempelan daun tua, justru berakibat fatal,
yakni menyebabkan tanaman cabai tumbuh merana
dan produksinya menurun.
Pemupukan
Tambahan (susulan)
Sekalipun tanaman cabai hibrida
sudah dipupuk total pada saat akan memasang
MPHP, namun untuk menyuburkan pertumbuhan
yang prima dapat diberi pupuk tambahan (susulan).
Jenis pupuk yang digunakan pada fase pertumbuhan
vegetatif aktif (daun dan tunas) adalah pupuk
daun yang kandungan Nitrogennya tinggi, misalnya
Multimicro dan Complesal cair. Interval penyemprotan
pupuk daun antara 10 - 14 hari sekali, dengan
dosis atau konsentrasi yang tertera pada labelnya
(kemasan) pupuk daun tersebut. Pada fase pertumbuhan
bunga dan buah (generatif), masih perlu pemberian
pupuk daun yang mengandung unsur Phospor dan
Kaliumnya tinggi, misalnya Complesal merah,
Kemira merah ataupun Growmore Kalsium. Untuk
memacu pertumbuhan bunga dan buah, tanaman
cabai yang berumur 50 hari dapat dipupuk susulan
berupa NPK atau campuran ZA, Urea, TSP, Kcl,
(1 : 1 : 1 : 1) sebanyak + 4 sendok makan.
Cara pemberiannya adalah dengan melubangi
MPHP diantara 4 tanaman. Kemudian pupuk dimasukkan
melalui lubang tersebut sambil diaduk-aduk
dengan tanah dan langsung disiram air bersih
agar cepat larut dan meresap ke dalam tanah.
Pemupukan susulan berikutnya masih diperlukan,
terutama bila kondisi pertumbuhan tanaman
cabai kurang memuaskan atau karena terserang
hama dan penyakit. Jenis dan dosis pupuk yang
digunakan adalah NPK sebanyak 4-5 kg yang
dilarutkan dalam 200 liter air (1 drum). Pemberiannya
adalah dengan cara dikocorkan pada setiap
tanaman sebanyak 300 - 500 cc atau tergantung
kebutuhan. Cara pengocoran dapat dilakukandengan
alat bantu corong atau selang sepanjang 0,5
- 1,0 m dimasukkan ke dalam lubang MPHP dekat
pangkal batang tanaman cabai. Pengocoran pupuk
larutan ini dapat dilakukan setiap dua minggu
sekali. Varietas cabai hibrida umumnya bisa
berbuah cukup lama, sehingga dapat dipanen
beberapa kali (12 - 14 kali), terutama pada
hibrida Hot Beauty dan Hero. Setiap kali selesai
panen perlu dipupuk susulan untuk mempertahankan
produktivitas buah. Jenis dan dosis pupuknya
adalah berupa NPK atau campuran ZA, Urea,
TSP, KCl, (1 : 1 : 1 : 1) sebanyak 2 sendok
per tanaman yang diberikan di antara 2 tanaman
cabai bagian kiri dan kanan. Pada kondisi
pertumbuhan tanaman cabai cukup bagus, pemberian
pupuk susulan ini cukup sebulan sekali. Pemupukan
Nitrogen pada cabai hibrida dianjurkan 2 macam
sumber N, yaitu ZA san Urea. Pupuk ZA selain
mengandung unsur Nitrogen, juga kaya akan
unsur Belerang (S) yang diperlukan untuk pertumbuhan
cabai hibrida secara optimal.
Pemeliharaan Penyiraman
Lakukan penyiraman secukupnya untuk menjaga kelembaban media tanah.
Pemupukan
Lakukan pemupukan susulan :
• Pupuk Kimia
Umur 30 hari setelah
tanam : 5 gr Kcl per
tanaman. Umur 30 dan 60 hari Setelah
tanam : masing-masing 1/3
bagian dari sisa
campuran Urea dan
ZA pada pemupukan dasar.
• Pupuk hayati MiG-6PLUS
Pengulangan
pemberian pupuk hayati MiG-6PLUS
pada masa pemeliharaan adalah
setiap 3 minggu sekali
dengan dosis
yang di anjurkan adalah
2 liter MiG-6PLUS per
hektar.
Perompesan
Perompesan adalah pembuangan cabang daun di bawah cabang utama dan buang
bunga yang pertama kali muncul.
Pengendalian hama,penyakit,dan gulma
PENGENDALIAN
HAMA DAN PENYAKIT
Salah satu faktor penghambat peningkat-an
produksi cabai adalah adanya serangan hama
dan penyakit yang fatal. Kehilangan hasil
produksi cabai karena serangan penyakit busuk
buah (Colletotrichum spp), bercak daun (Cercospora
sp) dan cendawan tepung (Oidium sp.) berkisar
antara 5% - 30%. Strategi pengendalian hama
dan penyakit pada tanaman cabai diajurkan
penerapan pengendalian secara terpadu. Komponen
Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu
(PHPT) ini mencakup pengen-dalian kultur teknik,
hayati (biologi), varietas yang tahan (resisten),
fisik dan mekanik, peraturan-peraturan, dan
cara kimiawi.
HAMA CABAI
Hama
Untuk mengendalikan hama
lalat buah penyebab busuk
buah, pasang jebakan yang
diberi Antraxtan. Sedang
untuk mengendalikan serangga
pengisap daun seperti Thrips,
Aphid dengan insektisida.
Jenis-jenis hama yang banyak menyerang tanaman cabai antara lain kutu daun dan trips.Kutu daun
menyerang tunas muda cabai
secara bergerombol. Daun
yang terserang akan mengerut
dan melingkar. Cairan manis
yang dikeluarkan kutu, membuat
semut dan embun jelaga berdatangan.
Embun jelaga yang hitam ini sering menjadi tanda tak langsung serangan kutu daun.Pengendalian kutu daun
(Myzus persicae Sulz) dengan memberikan
pestisida sistemik pada
tanah sebanyak 60-90 kg/ha
atau sekitar 2 sendok makan/10 m2 area.
Apabila tanaman sudah tumbuh
semprotkan insektisida. Serangan
hama trips amat berbahaya
bagi tanaman cabai, karena
hama ini juga vector
pembawa virus keriting
daun.
Gejala serangannya berupa
bercak-bercak putih di
daun karena hama ini mengisap
cairan daun tersebut. Bercak
tersebut berubah menjadi
kecokelatan dan mematikan
daun. Serangan berat ditandai
dengan keritingnya daun
dan tunas. Daun menggulung
dan sering timbul benjolan
seperti tumor.
Hama trips (Thrips tabaci) dapat dicegah dengan banyak cara
yaitu:
• Pemakaian mulsa jerami
• Pergiliran tanaman
• Penyiangan gulma atau rumputan pengganggu, dan menggenangi
lahan dengan air selama
beberapa waktu.
• Pemberian pestisida sistemik
pada waktu tanam seperti
pada pencegahan kutu daun
mampu mencegah serangan
hama trip juga.
Akan tetapi, untuk tanaman
yang sudah cukup besar,
dapat disemprot dengan insektisida.
Ulat
Grayak (Spodoptera litura)
Serangga dewasa dari hama
ini adalah kupu-kupu, berwarna agak gelap
dengan garis agak putih pada sayap depan.
Meletakkan telur secara berkelompok di atas
daun atau tanaman dan ditutp dengan bulu-bulu.
Jumlah telur tiap betina antara 25-500 butir.
Telur akan menetas menjadi ulat (larva), mula-mula
hidup ber-kelompok dan kemudian menyebar.
Ciri khas dari larva (ulat) grayak ini adalah
terdapat bintik-bintik segitiga berwarna hitam
dan bergaris-garis kekuningan pada sisinya.
Larva akan menjadi pupa (kepompong) yang dibentuk
di bawah permukaan tanah. Daur hidup dari
telur menjadi kupu-kupu berkisar antara 30
- 61 hari. Stadium yang membahayakan dari
hama Spodoptera litura adalah larva (ulat).
Menyerang bersama-sama dalam jumlah yang sangat
besar. Ulat ini memangsa segala jenis tanaman
(polifag), termasuk menyerang tanaman cabai.
Serangan ulat grayak terjadi di malam hari,
karena kupu-kupu maupun larvanya aktif di
malam hari. Pada siang hari bersembunyi di
tempat yang teduh atau di permukaan daun bagian
bawah. Hama ulat grayak merusak di musim kemarau
dengan cara memakan daun mulai dari bagian
tepi hingga bagian atas maupun bawah daun
cabai. Serangan hama ini menyebabkan daun-daun
berlubang secara tidak beraturan; sehingga
menghambat proses fotosintesis dan akibatnya
produksi buah cabai menurun. Pengendalian
secara terpadu terhadap hama ini dapat dilakukan
dengan cara :
Mekanis, yaitu mengumpulkan
telur dan ulat-ulatnya dan langsung dibunuh.
Kultur teknis, yaitu menjaga kebersihan kebun
dari gulma dan sisa-sisa tanaman yang menjadi
tempat persembunyian hama, serta melakukan
rotasi tanaman.
Hayati (biologis) kimiawi,
yaitu disemprot dengan insektisida berbahan
aktif Bacilus thuringiensis seperti Dipel,
Florbac, Bactospeine, dan Thuricide.
Sex pheromone, yaitu perangkap ngengat (kupu-kupu)
jantan. Sex pheromone merupakan aroma yang
dikeluarkan serangga betina dewasa yang dapat
menimbulkan rangsangan sexual (birahi) pada
serangga jantan dewasa untuk menghampiri dan
melakukan perkawinan sehingga membuahkan keturunan.
Sex pheromone dari Taiwan yang di Indonesia
diberi nama "Ugratas" atau Ulat
Grayak Berantas Tuntas berwarna "merah"
sangat efektif untuk dijadikan perangkap kupu-kupu
dewasa dari ulat grayak (S. litura). Cara
pemasangan Ugratas merah ini adalah dimasukkan
ke dalan botol bekas aqua volume 500 cc yang
diberi lubang kecil untuk tempat masuknya
kupu-kupu jantan. Untuk 1 hektar kebun cabai
cukup dipasang 5-10 buah Ugratas merah, dengan
cara digantungkan sedikit lebih tinggi di
atas tanaman cabai. Daya tahan (efektivitas)
Ugratas ini + 3 minggu, dan tiap malam bekerja
efektif sebagai perangkap ngengat jantan.
Keuntungan penggunaan Ugratas ini antara lain
: aman bagi manusia dan ternak, tidak berdampak
negatif terhadap lingkungan, dapat menekan
penggunaan insektisida, tidak menimbulkan
kekebalan hama, dan dapat memperlambat perkem-bangan
hama tersebut.Kimiawi, yaitu disemprot insektisida
seperti Hostathion 40 EC 2 cc/lt atau Orthene
75 SP 1 gr/lt.
Kutu
Daun (Myzus persicae Sulz.)
Kutu daun atau sering disebut
Aphid tersebar di seluruh dunia. Hama ini
memakan segala jenis tanaman (polifag), lebih
dari 100 jenis tanaman inang, termasuk tanaman
cabai. Kutu daun berkembang biak dengan 2
cara, yaitu dengan perkawinan biasa dan tanpa
perkawinan atau telur-telurnya dapat berkembang
menjadi anak tanpa pembuahan (partenogenesis).
Daur hidup hama ini berkisar antara 7 - 10
hari. Hama ini menyerang tanaman cabai dengan
cara mengisap cairan daun, pucuk, tangkai
bunga ataupun bagian tanaman lainnya. Serangan
berat menyebabkan daun-daun melengkung, keriting,
belang-belang kekuningan (klorosis) dan akhirnya
rontok sehingga produksi cabai menurun.
Kehadiran kutu daun di kebun
cabai, tidak hanya menjadi hama tetapi juga
berfungsi sebagai penular (penyebar) berbagai
penyakit virus. Di samping itu, kutu daun
mengeluarkan cairan manis (madu) yang dapat
menutupi permukaan daun. Cairan manis ini
akan ditumbuhi cendawan jelaga berwarna hitam
sehingga menghambat proses fotosintesis. Serangan
kutu daun menghebat pada musim kemarau.
Pengendalian secara terpadu
terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara
:
Kultur teknik, yaitu menanam
tanaman perangkap (trap crop) di sekeliling
kebun cabai, misalnya jagung.
Kimiawi, yaitu dengan semprotan insektisida
yang efektif dan selektif seperti Deltamethrin
25 EC pada konsentrasi 0,1 - 0,2 cc/liter,
Decis 2,5 EC 0,04%, Hostathion 40EC 0,1% atau
Orthene 75 SP 0,1%.
Lalat
Buah (Dacus ferrugineus)
Serangga dewasa panjangnya
+ 0.5 cm, berwarna coklat-tua, dan meletakkan
telurnya di dalam buah cabai. Telur tersebut
akan menetas, kemudian merusak buah cabai.
Buah-buah yang diserang akan menjadi bercak-bercak
bulat, kemudian membusuk dan berlubang kecil.
Buah cabai yang terserang akan dihuni larva
yang pandai meloncat-loncat. Akibatnya semua
bagian buah cabai rusak, busuk, dan berguguran
(rontok). Daur hidup hama ini lamanya sekitar
4 minggu, dan pembentukan stadium pupa terjadi
di atas permukaan tanah.
Pengendalian secara terpadu
terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara
:
Kultur teknik, yaitu dengan
pergiliran tanaman yang bukan tanaman inang
lalat buah.
Mekanis, yaitu dengan mengumpul-kan buah cabai
yang terserang, kemudian dimusnahkan.
Kimiawi, yaitu dengan pemasangan
perangkap beracun "metil eugenol"
atau protein hydrolisat yang efektif terhadap
serangga jantan maupun betina. Dapat pula
disemprot langsung dengan insektisida seperti
Buldok, Lannate ataupun Tamaron.
Thrips
(Thrips sp.)
Spesies Thrips yang sering
ditemukan adalah T. tabaci yang hidupnya bersifat
pemangsa segala jenis tanaman (polifag). Serangga
Thrips sangat kecil, panjang + 1 mm, berkembang
biak tanpa pembuahan sel telur (partenogenesis)
dan siklus hidupnya berlangsung selama 7 -
12 hari. Hama Thrips menyerang hebat pada
musim kemarau dengan memperlihatkan gejala
serangan strip-strip pada daun dan berwarna
keperakan. Serangan yang berat dapat mengakibatkan
matinya daun (kering). Thrips ini kadang-kadang
berperan sebagai penular (vektor) penyakit
virus.
Pengendalian secara terpadu
terhadap hama ini dapat dilakukan dengan cara
:
Kultur teknis, yaitu dengan
pergiliran tanaman atau tidak menanam cabai
secara bertahap dengan selisih waktu cukup
lama karena tanaman muda akan terserang parah.
Kimiawi, yaitu dengan disemprot insektisida
Deltamethrin 25 EC 0,1-0,7 cc/lt, Triazophos
40 EC 0,5-2,0 cc/lt, Endosulfan 25 EC 0,5-2,0
cc/lt, atau juga Decis 2,5 EC (0,04%), Hostathion
20 EC (0,2%) maupun Mesurol 50 WP (0,1-0,2%).
Tungau
(Tarsonemus translucens)
Tungau berukuran sangat kecil,
tetapi bersifat pemangsa segala jenis tanaman
(polifag). Serangga dewasa panjangnya + 1
mm, bentuk mirip laba-laba, dan aktif di siang
hari. Siklus hidup tungau berkisar selama
14-15 hari. Tungau menyerang tanaman cabai
dengan cara mengisap cairan sel daun atau
pucuk tanaman. Akibat serangannya dapat menimbulkan
bintik-bintik kuning atau keputihan. Serangan
yang berat, terutama di musim kemarau, akan
menyebabkan cabai tumbuh tidak normal dan
daun-daunnya keriting. Pengendalian tungau
dapat dilakukan dengan cara disemprot insektisida
akarisasi seperti Omite EC (0,2%) atau Mitac
200 EC (0,2%).
PENYAKIT
CABAI
Penyakit
Untuk penyakit busuk buah
kering (Antraknosa) yang
disebabkan cendawan, gunakan
fungisida seperti Antracol. Dosis
dan aplikasi masing-masing
obat tersebut dapat dilihat
pada labelnya.
Adapun jenis-jenis penyakit
yang banyak menyerang cabai
antara lain antraks atau
patek yang disebabkan oleh
cendawan Colletotricum capsici
dan Colletotricum piperatum,
bercak daun (Cercospora
capsici) , dan yang cukup
berbahaya ialah keriting
daun (TMV, CMVm, dan
virus lainnya).
Gejala serangan antraks atau
patek ialah bercak - bercak
pada buah, buah kehitaman
dan membusuk, kemudian
rontok.
Gejala serangan keriting daun adalah:
• bercak daun ialah bercak-bercak kecil yang akan melebar
• Pinggir bercak berwama
lebih tua dari bagian
tengahnya. Pusat bercak ini sering
robek atau berlubang.
• Daun berubah kekuningan lalu gugur.
• Serangan keriting daun sesuai namanya ditandai oleh keriting dan mengerutnya daun, tetapi
keadaan tanaman tetap sehat
dan segar.
Selain penyakit keriting
daun, penyakit lainnya dapat
dicegah dengan penyemprotan
fungisida Dithane M 45,
Antracol, Cupravit, Difolatan.
Konsentrasi yang digunakan
cukup 0,2-0,3%. Bila tanaman
diserang penyakit keriting
daun maka tanaman dicabut
dan dibakar. Pengendalian keriting daun secara kimia masih sangat sulit.
Layu
Bakteri (Pseudomonas solana-cearum E.F. Smith)
Bakteri layu mempunyai banyak
tanaman inang, diantaranya adalah tomat, kentang,
kacang tanah dan cabai. Penyebaran penyakit
layu bakteri dapat melalui benih, bibit, bahan
tanaman yang sakit, residu tanaman, irigasi
(air), serangga, nematoda dan alat-alat pertanian.
Bakteri layu biasanya menghebat pada tanaman
cabai di dataran rendah. Gejala kelayuan tanaman
cabai terjadi mendadak, dan akhirnya menyebabkan
kematian tanaman dalam beberapa hari kemudian.
Bakteri layu menyerang sistem perakaran tanaman
cabai. Bila pangkal batang cabai yang diserang,
dipotong atau dibelah, kemudian direndam dalam
gelas berisi air bening, maka setelah beberapa
menit digoyang-goyangkan akan keluar cairan
berwarna coklat susu atau berkas pembuluh
batangnya berwarna coklat berlendir (slime
bakteri). Gejala yang dapat diamati secara
visual pada tanaman cabai adalah kelayuan
tanaman mulai dari bagian pucuk, kemudian
menjalar ke seluruh bagian tanaman. Daun menguning
dan akhirnya mengering serta rontok. Penyakit
bakteri layu dapat menyerang tanaman cabai
pada semua tingkatan umur, tetapi paling peka
adalah tanaman muda atau menjelang fase berbunga
maupun berbuah.
Pengendalian penyakit bakteri
layu harus dilakukan secara terpadu, yaitu
:
Perlakuan benih atau bibit
sebelum tanam dengan cara direndam dalam bakterisida
Agrimycin atau Agrept 0,5 gr/lt selama 5-15
menit.
Perbaikan drainase tanah di sekitar kebun
agar tidak becek atau menggenang.
Pencabutan tanaman yang sakit
agar tidak menular ke tanaman yang sehat.
Penggunaan bakterisida Agrimycin atau Agrept
dengan cara disemprotkan atau dikocor di sekitar
batang tanaman cabai tersebut yang diperkirakan
terserang bakteri P. solanacearum.
Pengelolaan (manajemen) lahan,
misalnya dengan pengapuran tanah ataupun pergiliran
tanaman yang bukan famili Solanaceae
Layu
Fusarium (Fusarium oxysporum Sulz.)
Layu Fusarium disebabkan
oleh organisme cendawan bersifat tular tanah.
Biasanya penyakit ini muncul pada tanah-tanah
yang ber pH rendah (masam). Gejala serangan
yang dapat diamati adalah terjadinya pemucatan
warna tulang-tulang daun di sebelah atas,
kemudian diikuti dengan merunduknya tangkai-tangkai
daun; sehingga akibat lebih lanjut seluruh
tanaman layu dan mati. Gejala kelayuan tanaman
seringkali sulit dibedakan dengan serangan
bakteri layu (P. solanacearum). Untuk membuktikan
penyebab layu tersebut dapat dilakukan dengan
cara memotong pangkal batang tanaman yang
sakit, kemudian direndam dalam gelas berisi
air bening (jernih). Biarkan rendaman batang
tadi sekitar 5-15 menit, kemudian digoyang-goyangkan
secara hati-hati. Bila dari pangkal batang
keluar cairan putih dan terlihat suatu cincin
berwarna coklat dari berkas pembuluhnya, hal
itu menandakan adanya serangan Fusarium.
Pengendalian penyakit layu
Fusarium dapat dilakukan dengan berbagai cara,
yaitu :
Perlakuan benih atau bibit
dengan cara direndam dalam larutan fungisida
sistemik, misalnya Benlate ataupun Derosal
0,5-1,0 gr/lt air selama 10-15 menit.
Pengapuran tanah sebelum tanam dengan Dolomit
atau Captan (Calcit) sesuai dengan angka pH
tanah agar mendekati netral.
Pencabutan tanaman yang sakit
agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman
yang sehat.
Pengaturan pembuangan air (drainase), dengan
cara pembuatan bedengan yang tinggi, terutama
pada musim hujan.
Penyiraman larutan fungisida
sistemik seperti Derosal, Anvil, Previcur
N dan Topsin di sekitar batang tanaman cabai
yang diduga sumber atau terkena cendawan.
Bercak
Daun dan Buah (Collectro-tichum capsici (Syd).
Butl. et. Bisby).
Bercak daun dan buah cabai
sering disebut penyakit Antraknose atau "patek".
Penyakit ini menjadi masalah utama di musim
hujan. Disebabkan oleh cendawan Gloesporium
piperatum Ell. et. Ev dan Colletotrichum capsici.
Cendawan G. piperatum umumnya menyerang buah
muda dan menyebabkan mati ujung. Gejala serangan
penyakit ini ditandai dengan terbentuknya
bintik-bintik kecil kehitaman dan berlekuk,
serta tepi bintik berwarna kuning. Di bagian
lekukan akan terus membesar dan memanjang
yang bagian tengahnya berwarna gelap. Cendawan
C. capsici lebih sering menyebabkan buah cabai
membusuk. Gejala awal serangan ditandai dengan
terbentuknya bercak coklat-kehitaman pada
buah, kemudian meluas menjadi busuk-lunak.
Pada bagian tengah bercak terdapat titik-titik
hitam yang merupakan kumpulan dari konidium
cendawan. Serangan yang berat menyebabkan
buah cabai mengkerut dan mengering menyerupai
"mummi" dengan warna buah seperti
jerami.
Pengandalian dapat dilakukan
dengan cara :
Perlakuan benih, yaitu direndam
dalam larutan fungisida berbahan aktif Benomyl
atau Thiram, misalnya Benlate pada dosis 0,5/lt,
ataupun berbahan aktif Captan (Orthocide)
dengan dosis 1 gr/lt. Lamanya perendaman benih
antara 4-8 jam.
Pengaturan jarak tanam yang sesuai sehingga
kondisi kebum tidak terlalu lembab. Pada musim
kemarau dapat menggunakan jarak tanam 50 x
70 cm, sedangkan di musim hujan 60 x 70 cm
ataupun 65 x 70 cm, baik sistem segi empat
atau segi tiga zig-zag.
Pembersihan (sanitasi) lingkungan
yaitu dengan cara menyiang gulma atau sisa-sisa
tanaman yang ada di sekitar kebun agar tidak
menjadi sarang hama dan penyakit.
Buah cabai yang sudah terserang penyakit dikumpulkan,
kemudian dimusnahkan (dibakar).
Penyemprotan dengan fungisida
seperti Kasumin 2 cc/lt, Difolatan 4 cc/lt,
Phycozan, Dithane M-45, Daconil, Topsin, Antracol
dan Delsen. Fungisida-fungisida tersebut efektif
menekan Antraknosa.
Rotasi tanaman, yakni pergiliran tanaman yang
bukan famili Solanaceae (tomat, kentang, terung,
tambakau). Tujuan rotasi tanaman ini adalah
untuk memotong siklus hidup cendawan penyebab
penyakit Antraknosa.
Bercak
Daun (Cercospora capsici Heald et Wolf)
Penyebab penyakit bercak
daun adalah cendawan Cercospora capsici. Gejala
serangan penyakit ditandai dengan bercak-bercak
bulat kecil kebasah-basahan. Berikutnya bercak
akan meluas dengan garis tengah + 0,5 cm.
Di pusat bercak nampak berwarna pucat sampai
putih dengan tepinya berwarna lebih tua. Serangan
yang berat (parah) dapat menyebabkan daun
menguning dan gugur, ataupun langsung berguguran
tanpa didahului menguningnya daun. Pengen-dalian
penyakit ini dapat dilakukan dengan cara menjaga
kebersihan kebun, dan disemprot fungisida
seperti Topsin, Velimek, dan Benlate secara
berselang-seling.
Bercak
Alternaria (Alternaria solani Ell & Marf)
Penyebab penyakit bercak
Alternaria adalah cendawan. Gejala serangan
penyakit ini adalah ditandai dengan timbulnya
bercak-bercak coklat-tua sampai kehitaman
dengan lingkaran-lingkaran konsentris. Bercak-bercak
ini akan membesar dan bergabung menjadi satu.
Serangan penyakit bercak Alternaria dimulai
dari daun yang paling bawah, dan kadang-kadang
juga menyerang pada bagian batang. Pengendalian
penyakit bercak Alternaria antara lain dengan
cara menjaga kebersihan kebun, dan disemprot
fungisida seperti Cupravit, Dithane M-45 dan
Score, secara berselang-seling.
Busuk
Daun dan Buah (Phytophthora spp)
Penyakit busuk daun dapat
pula menyebabkan busuk buah cabai. Gejala
serangan nampak pada daun yaitu bercak-bercak
kecil di bagian tepinya, kemudian menyerang
seluruh batang. Batang tanaman cabai juga
dapat diserang oleh penyakit ini, ditandai
dengan gejala perubahan warna menjadi kehitaman.
Buah-buah cabai yang terserang menunjukkan
gejala awal bercak-bercak kebasahan, kemudian
meluas ke arah sumbu panjang, dan akhirnya
buah akan terlepas dari kelopaknya karena
membusuk. Pengendalian penyakit ini dapat
dilakukan dengan cara pengaturan jarak tanam
yang baik, yaitu di musim hujan idealnya 70
x 70 cm, mengumpulkan buah cabai yang busuk
untuk dimusnahkan, dan disemprot fungisida
seperti Sandovan MZ, Kocide atau Polyram secara
berselang-seling.
Virus
Penyakit virus pada tanaman
cabai di pulau Jawa dan Lampung ditemukan
adanya Cucumber Mosaic Virus (CMV), Potato
Virus Y (PVY), Tobacco Etch Virus (TEV), Tobacco
Mosaic Virus (TMV), Tobacco Rattle Virus (TRV),
dan juga Tomato Ringspot Virus (TRSV).
Gejala penyakit virus yang
umum ditemukan adalah daun mengecil, keriting,
dan mosaik yang diduga oleh TMV, CMV dan TEV.
Penyebaran virus biasanya dibantu oleh serangga
penular (vektor) seperti kutu daun dan Thrips.
Tanaman cabai yang terserang virus seringkali
mampu bertahan hidup, tetapi tidak menghasilkan
buah.
Pengendalian penyakit virus
ini dapat dilakukan dengan cara :
a. Pemberantasan serangga
vektor (penular) seperti Aphids dan Thrips
dengan semprotan insektisida yang efektif.
b. Tanaman cabai yang menunjukkan gejala sakit
dan mencurigakan terserang virus dicabut dan
dimusnahkan.
c. Melakukan pergiliran (rotasi) tanaman dengan
tanaman yang bukan famili Solanaceae.
Pengamatan
Hama & Penyakit
a. Penyakit
· Rebah semai (dumping off), gejalanya
tanaman terkulai karena batang busuk , disebabkan
oleh cendawan Phytium sp. & Rhizoctonia
sp. Cara pengendalian: tanaman yg terserang
dibuang bersama dengan tanah, mengatur kelembaban
dengan mengurangi naungan dan penyiraman,
jika serangan tinggi siram GLIO 1 sendok makan
(± 10 gr) per 10 liter air.
· Embun bulu, ditandai adanya bercak
klorosis dengan permukaan berbulu pada daun
atau kotil yg disebabkan cendawan Peronospora
parasitica. Cara mengatasi seperti penyakit
rebah semai.
· Kelompok Virus, gejalanya pertumbuhan
bibit terhambat dan warna daun mosaik atau
pucat. Gejala timbul lebih jelas setelah tanaman
berumur lebih dari 2 minggu. Cara mengatasi;
bibit terserang dicabut dan dibakar, semprot
vektor virus dengan BVR atau PESTONA.
b. H a m a
· Kutu Daun Persik (Aphid sp.), Perhatikan
permukaan daun bagian bawah atau lipatan
pucuk daun, biasanya kutu daun persik bersembunyi
di bawah daun. Pijit dengan jari koloni kutu
yg ditemukan, semprot dengan BVR atau PESTONA.
· Hama Thrip parvispinus, gejala serangan
daun berkerut dan bercak klorosis karena cairan
daun diisap, lapisan bawah daun berwarna keperak-perakan
atau seperti tembaga. Biasanya koloni berkeliaran
di bawah daun. Pengamatan pada pagi atau sore
hari karena hama akan keluar pada waktu teduh.
Serangan parah semprot dengan BVR atau PESTONA
untuk mengurangi penyebaran.
· Hama Tungau (Polyphagotarsonemus
latus). Gejala serangan daun berwarna kuning
kecoklatan menggulung terpuntir ke bagian
bawah sepanjang tulang daun. Pucuk menebal
dan berguguran sehingga tinggal batang dan
cabang. Perhatikan daun muda, bila menggulung
dan mengeras itu tandanya terserang tungau.
Cara mengatasi seperti pada Aphis dan Thrip
Penyakit Fisiologis
Merupakan keadaan suatu tanaman
menderita sakit atau kelainan, tetapi penyebabnya
bukan oleh mikroorganisme. Beberapa contoh
penyakit fisiologis pada tanaman cabai yang
paling sering ditemukan adalah kekurangan
unsur hara Kalsium (Ca), dan terbakarnya buah
cabai akibat sengatan sinar matahari, terutama
pada cabai Paprika. Tanaman cabai yang kekurangan
unsur Ca akan menunjukkan gejala pada buahnya
terdapat bercak hijau-gelap, kemudian menjadi
lekukan bacah coklat kehitam-hitaman. Jaringan
di tempat bercak menjadi rusak sampai ke bagian
dalam buah. Bentuk buah cabai menjadi pipih
dan berubah warna lebih awal (sebelum waktunya).
Biasanya kekurangan Ca pada stadium buah rusak
akan diikuti tumbuhnya cendawan. Usaha pencegahan
kekurangan Ca dapat dilakukan dengan cara
pengapuran sewaktu mengolah tanah, diikuti
pemupukan berimbang, dan pengairan kebun secara
merata. Bila tanaman cabai atau paprika sedang
produktif berbuah tetapi baru diketahui kekurangan
Ca, maka dapat disemprot dengan pupuk daun
yang banyak mengandung unsur Ca, seperti Growmore
Kalsium. Cabai paprika tidak tahan terhadap
sinar matahari, sehingga bila mengenai permukaan
buah akan menyebabkan terbakarnya kulit dan
bagian dalam buah. Gejala yang nampak di bagian
luar adalah warna kulit buah berubah menjadi
keputih-putihan hingga kecoklatan dan mengkerut.
Meskipun tidak menjadi busuk basah, tetapi
warna buah menjadi jelek dan kualitasnya menurun
(rendah). Pengendalian terhadap sengatan sinar
matahari adalah melindungi tanaman dengan
sungkup beratapkan plastik transparan (bening).
Menurut penelitian, fungsi naungan plastik
bening selain dapat mengurangi (mereduksi)
intensitas cahaya matahari, juga dapat mengurangi
tingginya temperatur tanah dan defisit air;
sehingga dapat meningkatkan kelembaban relatif
tanah di sekitar pertanaman paprika. Di samping
itu, pengaruh naungan plastik bening dapat
meningkatkan hasil (bobot) buah total.
Panen dan Pasca Panen
Panen
Panen cabai yang ditanam
didataran rendah lebih cepat
dipanen dibandingkan dengan
cabai dataran tinggi. Panen
pertama cabai dataran rendah
sudah dapat dilakukan pada
umur 70 - 75 hari.
Sedang di dataran tinggi panen baru dapat dimulai pada umur 4-5 bulan. Setelah panen pertama,
setiap 3-4 hari sekali dilanjutkan
dengan panen rutin.
Biasanya pada panen pertama
jumlahnya hanya sekitar
50 kg. Panen kedua
naik hingga 100 kg.
Selanjutnya 150, 200, 250,
hingga 600 kg per hektar.
Setelah itu hasilnya menurun terus, sedikit demi sedikit hingga tanaman tidak produktif lagi.
Tanaman cabai dapat dipanen terus-menerus hingga berumur 6-7 bulan.
Cabai yang sudah berwama merah
sebagian berarti sudah dapat
dipanen. Ada juga petani
yang sengaja memanen cabainya
pada saat masih muda
(berwarna hijau).
Pemetikan dilakukan dengan
hati-hati agar percabangan/ tangkai
tanaman tidak patah. Kriteria
panennya saat ukuran cabai
sudah besar, tetapi masih
berwama hijau penuh.
Penentuan umur panen
Umur panen cabe biasanya
70-90 hari tergantung varietasnya,
yang ditandai dengan 60%
cabe sudah berwarna merah.
Untuk dijadikan benih
maka cabe dipanen bila buah
sudah menjadi merah semua.
KEUNTUNGAN
PENGGUNAAN PLASTIK HITAM-PERAK
Mulsa plastik yang dianggap baik di daerah
subtropis adalah yang berwarna hitam dengan
ketebalan 50 mikron. Mulsa Plastik Hitam (MPH)
sudah membudaya pada tanaman mentimun, tomat,
strawberri dan kubis bunga. Adaptasi atau
pengembangan teknologi sistem Mulsa Plastik
dirintis oleh Jepang dan Taiwan yang memperkenalkan
Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP). MPHP ini
memiliki dua muka dan dua warna, yaitu muka
pertama berwarna hitam dan muka kedua berwarna
perak. Warna hitam untuk menutup permukaan
tanah, warna perak sebagai permukaan atas
tempat menanam suatu tanaman budidaya.
Keuntungan bertani sistem
MPHP antara lain :
1. Pemberian pupuk dapat
dilakukan sekaligus total sebelum tanam.
2. Warna hitam dari mulsa menimbul-kan kesan
gelap sehingga dapat menekan rumput-rumput
liar atau gulma.
3. Warna perak dari mulsa dapat memantulkan
sinar matahari ; sehingga dapat mengurangi
hama aphis, trips dan tungau, serta secara
tidak langsung menekan serangan penyakit virus.
4. Menjaga tanah tetap gembur, suhu dan kelembaban
tanah relatif tetap (stabil).
5. Mencegah tercucinya pupuk oleh air hujan,
dan penguapan unsur hara oleh sinar matahari.
6. Buah cabai yang berada di atas permukaan
tanah terhindar dari percikan air tanah sehingga
dapat mengurangi resiko berjangkitnya penyakit
busuk buah.
7. Kesuburan tanah karena pemupukan dapat
merata, sehingga pertumbuhan dan produksi
tanaman budidaya relatif seragam (homogen).
8. Praktis untuk melakukan sterilisasi tanah
dengan menggunakan gas fumigan seperti Basamid-G,
karena fungsi MPHP mempercepat proses pembentukan
gas zat fumigan tanpa harus membeli plastik
khusus.
9. Secara ekonomis penggunaan MPHP dapat mengurangi
pekerjaan penyiangan dan penggemburan tanah,
sehingga biaya pengadaan MPHP dapat dialokasikan
dari biaya pemeliharaan tanaman tersebut.
10. Pada musim kering (kemarau), MPHP dapat
menekan penguapan air dari dalam tanah, sehingga
tidak terlalu sering untuk melakukan penyiraman
(pengairan).
kembali ke atas
PANEN
& PASCA PANEN
PANEN CABAI HIBRIDA
Panen cabai hibrida sangat
dipengaruhi oleh faktor jenis atau varietasnya,
dan lingkungan tempat tanam. Di dataran rendah,
umumnya cabai mulai dipanen pada umur 75-80
hari setelah tanam. Panen berikutnya dilakukan
selang 2-3 hari sekali. Sedangkan di dataran
tinggi (pegunungan), panen perdana dapat dimulai
pada umur 90-100 hari setelah tanam. Selanjutnya
pemetikan buah dilakukan selang 6-10 hari
sekali. Khusus untuk sasaran ekspor, panen
cabai dipilih pada tingkat kemasakan 85% -
90% saat warna buah merah-kehitaman. Di dataran
rendah, panen cabai untuk tujuan ekspor dapat
diatur 2 hari sekali ; sedangkan di dataran
tinggi antara 4-6 hari sekali. Pada cabai
paprika, persyaratan layak panen adalah bila
buahnya telah mencapai ukuran maksimal, hampir
matang tetapi warnanya masih hijau. Buah cabai
paprika yang dipanen terlalu muda bobotnya
akan menurun secara drastis dan kurang tahan
angkut (cepat rusak). Sebaliknya, buah cabai
paprika yang dipanen terlalu matang atau warnanya
sudah merah, maka kualitasnya kurang disukai
pasar (konsumen). Kecuali beberapa varietas
cabai paprika memang khusus untuk dipanen
buah merah ataupun buah kuning.
Cara panen cabai hibrida
adalah memetik buah bersama tangkainya secara
hati-hati di saat cuaca terang. Hasil panen
dimasukkan ke dalam wadah, kemudian dikumpulkan
di tempat penampungan. Pada pertanaman yang
baik, dapat menghasilkan produksi antara 20-40
ton/ha. Khusus cabai paprika minimal dapat
menghasilkan 5-10 ton/hektar, harga jualnya
lebih mahal dibanding dengan jenis-jenis cabai
lainnya.
PASCA
PANEN CABAI HIBRIDA
Cabai
Segar
Pemilihan buah (seleksi
dan sortasi)
Di tempat penampungan, buah-buah cabai dipilih
berdasarkan warna merah, masih kehitaman;
dan juga dipisahkan antara buah sehat dengan
buah sakit atau rusak (busuk).
Pengkelasan (klasifikasi)
Khusus untuk diekspor dilakukan pengkelasan,
yaitu dipilih buah-buah cabai yang panjangnya
minimal 11 cm, bentuk buah lurus, dan tidak
terlalu matang.
Pewadahan (pengemasan)
Untuk sasaran pasar lokal, pewadahan cabai
dapat dilakukan dalam karung plastik yang
tembus udara ataupun keranjang bambu.
Untuk sasaran pasar ekspor, buah-buah cabai
ditata rapi dalam kardus-kardus ukuran 30
x 40 x 50 cm berisi + 20 kg, dan berventilasi
atau dibuatkan lubang-lubang kecil.
Penyimpanan
Penyimpanan sementara sebelum dipasarkan,
sebaiknya di tempat (ruang) yang teduh dan
cukup lembab, serta sirkulasi udara baik.
Bila fasilitas penyimpanan memungkinkan, dapat
dilakukan dalam ruang dingin (cold storage)
yang suhunya rendah antara 2-15 derajat Celcius
dan kelembabannya tinggi sekitar 90%-95% agar
tetap segar selama + 20 hari.
Cabai Kering
Pemasaran cabai kering memiliki
beberapa keuntungan, diantaranya memudahkan
pengangkutan, produk-nya dapat dikemas secara
ringkas dan tahan lama.
Pembersihan
Buah-buah cabai dipilih yang sudah matang
(berwarna merah), kemudian dicuci bersih dan
tangkainya dibuang.
Pembelahan
Setelah buah cabai ditiriskan, segera dibelah
dan dibuang biji-bijinya.
Perendaman sesaat dalam air hangat
(blanching)
Buah-buah cabai segar segera dicelupkan ke
dalam air mendidih yang telah dicampur Kalium
Metabisulfit 0,2%. Lama perendaman + 6 menit,
kemudian disusul pencelupan ke dalam air dingin.
Tujuan blanching adalah untuk menambah ketahanan
warna buah sehingga tidak cepat berubah terjadi
coklat (browning).
Pengeringan
Pengeringan cabai dapat dilakukan secara alami
(sinar matahari) selama 7-10 hari, ataupun
dengan alat mekanis yang bersuhu 600 C sehingga
dapat kering selama 12-20 jam. Pengeringan
dengan alat mekanis memiliki beberapa keuntungan,
antara lain waktunya relatif singkat, bersih,
dan kadar air dapat seminim mungkin + 10%.
Penyimpanan
Cabai kering dapat dikemas dalam kantong ataupun
karung plastik tertutup rapat. Tempat penyimpanannya
yang baik adalah ruangan kering dengan kelembaban
70%.
BUDIDAYA CABAI PADA
MUSIM PENGHUJAN
Dari bulan November sampai
dengan April, sebagian besar petani cabai
di Brebes akan beralih ke komoditas padi.
Sebab lahan pertanian di sana akan tergenang
air. Bahkan tidak jarang areal pertanian itu
terlanda banjir. Petani Brebes yang pada musim
penghujan tetap bertahan menanam cabai, jumlahnya
hanya sedikit. Sebaliknya, pada bulan-bulan
November sampai dengan April, para petani
lahan kering di pegunungan, justru akan menanam
cabai. Mereka adalah petani tradisional yang
hasil produksinya rendah, atau petani modern
yang menggunakan benih unggul dan mulsa plastik
hitam perak. Tingkat kegagalan petani cabai
tradisional maupun modern di dataran tinggi
ini relatif besar. Penyebab utamanya adalah,
kondisi cuaca musim penghujan, yang memang
tidak ramah terhadap komoditas cabai.
Kegagalan petani tradisional,
kebanyakan disebabkan oleh rendahnya kualitas
benih. Biasanya mereka menggunakan benih buatan
sendiri, yang mutunya tidak sebaik benih impor.
Faktor lain yang menyebabkan kegagalan petani
tradisional adalah, kecilnya tingkat modal.
Rata-rata petani tradisional hanya mengeluarkan
modal di bawah Rp 5.000.000,- per hektar untuk
satu musim tanam. Hingga input pupuk serta
pestisida yang mereka berikan ke tanaman juga
sangat kecil. Akibatnya, tanaman akan mudah
terserang hama dan penyakit, terutama fusarium
dan pseudomonas. Kelebihan para petani tradisional
ini adalah, lahan yang mereka gunakan untuk
bertanam cabai, umumnya masih terbebas dari
cemaran cendawan fusarium dan bakteri pseudomonas.
Meskipun para petani cabai
modern mampu menanamkan modal antara Rp 40.000.000,-
sampai Rp 50.000.000,- per hektar per musim
tanam, namun tingkat kegagalan mereka juga
masih tinggi. Penyebab kegagalan mereka antara
lain adalah, lahan yang mereka gunakan untuk
bertanam cabai, umumnya berada di sekitar
jalan raya. Lahan dengan lokasi demikian,
kebanyakan sudah tercemar cendawan fusarium
dan bakteri pseudomonas. Modal mereka yang
relatif tinggi, di lain pihak juga menuntut
hasil yang tinggi pula. Pada musim penghujan,
umumnya intensitas sinar matahari tidak sebaik
pada musim kemarau. Hingga hasil yang diperoleh
dari budidaya cabai pada musim penghujan,
pasti tidak akan setinggi hasil dari penanaman
pada musim kemarau.
Teknik budidaya para petani
cabai modern umumnya sudah sesuai dengan standar
agribisnis internasional. Mereka menggunakan
benih impor, terutama dari Know You Seed,
Taiwan. Benih unggul ini menuntut penggunakan
mulsa plastik hitam perak yang juga diproduksi
oleh pengusaha Taiwan. Petani cabai kita tidak
pernah tahu, bahwa mulsa plastik hanya digunakan
pada budidaya cabai musim kemarau, dengan
teknik pengairan genangan maupun drip. Kalau
teknik pengairannya dengan penyiraman, maka
mulsa plastik justru akan menjadi penghambat
budidaya. Demikian pula halnya pada budidaya
musim penghujan, mulsa plastik yang berguna
untuk mempertahankan kelembapan tanah (selain
untuk mencegah tumbuhnya gulma), juga akan
tidak berfungsi. Sebab pada musim penghujan,
tanah sudah sangat lembap.
Tingkat kegagalan budidaya
cabai pada musim penghujan yang tinggi ini,
jelas akan memicu tingginya harga cabai pada
musim penghujan pula. Hingga rata-rata harga
cabai antara bulan Desember sampai dengan
Maret akan selalu lebih tinggi dibanding harga
rata-rata antara bulan Juli sampai dengan
Oktober. Itulah sebabnya apabila budidaya
cabai pada musim penghujan mampu menghasilkan
produksi normal, maka keuntungan yang akan
diraih petani, lebih tinggi daripada budidaya
pada musim kemarau. Normalnya, hasil cabai
pada petani tradisional adalah 6 ons per tanaman
per musim tanam (selama periode panen sekitar
3 bulan). Pada pertanian modern 1 kg. per
tanaman per musim tanam. Kalau hasil ini bisa
diraih, maka keuntungan petani akan cukup
baik.
Namun budidaya cabai pada
musim penghujan juga menuntut biaya yang tinggi
pula. Petani tradisional maupun modern, harus
mengeluarkan biaya ekstra untuk pembelian
pestisida. Terutama fungisida dan bekterisida
guna menanggulangi fusarium dan pseudomonas.
Intensitas penyemprotan ini pada puncak musim
penghujan akan sedemikian tingginya. Apabila
pagi hari sekitar pukul tujuh hujan, maka
pukul sembilan harus disemprot. Kalau kemudian
pada pukul sebelas kembali hujan, setelah
hujan reda harus disemprot kembali. Misalnya
pukul dua siang kembali hujan, maka pukul
empat sore harus kembali disemprot. Andaikata
hujan demikian terjadi terus-menerus selama
sekitar satu minggu, maka petani akan bangkrut
karena biaya pestisida tidak mungkin tertanggulangi
lagi dari hasil panen. Namun sebaliknya kalau
tanaman tidak disemprot juga akan mati terserang
penyakit.
Petani, baik petani tradisional
maupun modern, menyiasati kondisi demikian
dengan menaungi bedeng tanaman mereka dengan
plastik bening. Caranya, mereka membuat kerangka
bambu berbentuk melengkung dan memanjang sepanjang
bedengan cabai. Di atas kerangka bambu itu
dipasang plastik bening. Harga plastik bening
demikian (lebar 1,5 m sd 2,5 m), antara Rp
1.000,- sd. Rp 15.000,- per meter tergantung
kualitasnya. Petani yang rajin, akan membuat
konstruksi bambu dan tudung plastik ini bisa
dibuka dan ditutup. Hingga apabila hujan turun
dan juga pada malam hari, tudung plastik akan
ditutupkan. Sebaliknya pada siang hari ketika
panas, plastik dibuka. Hal demikian juga dilakukan
oleh para petani Taiwan untuk tanaman cabai
dan melon. Biaya plastik dan kerangka bambu
ini masih bisa tertanggulangi oleh hasil panen.
Para petani tradisional,
biasanya akan memilih plastik dengan harga
termurah, yakni Rp 1.000,- per m. yang diperkirakan
akan mempu menaungi antara 4 sd. 6 individu
tanaman. Ditambah dengan biaya bambu dan tenaga
kerja, biaya naungan per meternya akan mencapai
Rp 1.200,- Kalau biaya ini dibagi untuk empat
tanaman, maka jatuhnya per tanaman Rp 300,-
Kalau dibagi untuk 6 tanaman, maka jatuhnya
hanya Rp 200,- Biaya ini masih bisa ditutup
oleh hasil panen. Sebab dengan adanya tudung
plastik, maka biaya pestisida bisa diminimalkan.
Meskipun hujan turun terus sepanjang hari
selama satu minggu, tanaman cukup disemprot
sekali guna membebaskannya dari fusarium dan
pseudomonas. Para petani modern yang biasa
menggunakan mulsa plastik hitam perak, tinggal
mengalihkan biaya mulsanya menjadi biaya untuk
tudung. Hingga praktis para petani modern
tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan. Sebab
biaya untuk konstruksi bambu, bisa diambil
dari selisih harga antara plastik bening yang
murah, dengan mulsa hitam perak yang relatif
mahal.
Selain penggunaan plastik
bening sebagai tudung bedeng penanaman, budidaya
cabai pada musim penghujan juga masih perlu
memperhatikan beberapa hal. Pertama, sebaiknya
kita memilih jenis cabai yang relatif tahan
terhadap kelembapan udara. Jenis cabai keriting
misalnya, relatif lebih tahan kelembapan dibanding
dengan cabai merah besar. Lokasi penanaman
juga harus dipilih yang belum tercemar oleh
fusarium dan pseudomonas. Sebagai pedoman,
petani harus tahu betul bahwa petak lahan
tersebut selama paling tidak dua tahun terakhir,
tidak ditanami cabai, terung, tomat, kentang
dll. tanaman sejenis, yang kemungkinan bisa
menjadi sumber penyakit fusarium maupun pseudomonas.
Lahan juga berdrainase cukup baik. Seandainya
lahan terletak di lokasi yang berlereng, juga
tetap perlu dibangun terasering dan saluran
air untuk menghindari genangan. Lahan yang
bernaungan rumpun pisang, albisia atau tanaman
keras lainnya sebaiknya dihindarkan. Sebab
naungan itu akan meningkatkan kelembapan udara
yang potensial memicu datangnya penyakit.
Meskipun harga cabai pada
musim penghujan bisa relatif lebih tinggi
dibanding pada musim kemarau, namun pasokan
yang berlebihan juga akan tetap menjatuhkan
harga. Hingga strategi penanaman perlu dilakukan.
Kalau lahan yang akan ditanami cabai pada
musim penghujan ini mencapai luasan di atas
dua hektare, maka penanaman tidak bisa dilakukan
sekaligus. Secara bertahap lahan dibuka dan
ditanami 2.000 meter per angkatan setiap minggu.
Hingga panen tidak akan terjadi serentak.
Meskipun periode panen cabai dari tanaman
yang seumur pun, akan terjadi secara bertahap
selama sekitar tiga bulan. Namun dengan pentahapan
pola tanam demikian, saat mulai dan akhir
panen bisa diatur hingga hasilnya tidak melimpah
di pasaran. Kalau pada awal November kita
membuka lahan seluas 2.000 m, kemudian disusul
pada minggu berikutnya 2.000 m, maka lahan
dua hektare itu akan habis tertanami pada
pertengahan Januari. Areal penanaman Januari
ini akan habis dipanen pada bulan Mei ketika
harga cabai mulai merosot.
Volume buah cabai hasil penanaman
pada musim penghujan, relatif lebih kecil
dibanding dengan penanaman pada musim kemarau.
Namun bobotnya justru lebih tinggi. Sebab
kadar air buah cabai pada musim penghujan,
memang lebih tinggi dibanding buah yang dihasilkan
pada penanaman pada musim kemarau. Bobot yang
relatif lebih tinggi ini, akan memberikan
dampak keuntungan yang lebih besar bagi para
petani. Kelemahannya, daya tahan buah cabai
hasil penanaman musim penghujan, lebih rendah
dibanding buah cabai hasil panen musim kemarau.
Hingga penanganan pasca panen mulai dari pengemasan
dan pengangkutan, lebih memerlukan perhatian.
Yang jelas, resiko budidaya cabai pada musim
penghujan memang cukup tinggi. Namun resiko
itu juga diimbangi dengan harga yang umumnya
lebih baik dibanding harga cabai pada musim
kemarau.
Salam Tani
disarikan oleh :
Dwi
Hartoyo,SP
REFERENSI
BUDI DAYA CABAI
a.
http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-cabai.html
b.
http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-cabai.html
c.
http://id.wikipedia.org/wiki/Cabai
d.
http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-cabai.html
e.
http://kebunwhy.8m.com/cabai.html
f.
http://www.tanindo.com/budidaya/cabe/cabehibrida.htm
g.
http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/407624E9-
3D21 -471A -8099 -3812AC4ED2B/16053/ Budidaya
Cabai Merah
h.
http://migroplus.com/brosur/Budidaya%20Tanaman%20%20Cabe.pdf
i.
http://id.wikipedia.org/wiki/Cabai_rawit
j.
http://labuhanbatunews.wordpress.com/2007/09/08/budidaya-cabe-merah-ala-kipp-labuhanbatu/
k.http://www.mojokertokota.go.id/news/index.php?act=artikel_detail&p_id=ag2009052111595627
l.
http://wapedia.mobi/id/Cabai
m.http://id.shvoong.com/books/1867981-bertanam-cabai/
n.
http://wisata-buku.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1080&Itemid=1220
o.http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-cabai.html
p.
http://go-organik-2010.blogspot.com/2008/08/teknis-budidaya-cabai.html
q.
http://onlineku.com/budidaya-cabai-merah.html
r.
http://blog.ub.ac.id/apriliafitricarora/2010/06/01/budidaya-cabai/
s.
http://info.g-excess.com/id/info/Cara_Bertanam_Cabai%3A_Pengertian_Cabai.info
t.
http://wawan-satu.blogspot.com/2009/11/budidaya-cabai-hibrida.html
u.
http://foragri.blogsome.com/budidaya-cabai-pada-musim-penghujan/
v.
http://www.top-pdf-manuals.com/budi-daya-cabe-merah.html
w.
http://agrokita.com/in/budidaya/173-tehnik-budidaya-cabai-merah